
Aku menatap tamu undangan yang tersenyum senang sambil menyapa ku dan jimin, setelah acara ciuman yang panas tadi selesai, aku dan jimin sedang menyambut tamu undangan yang datang.
Aku tak tahu siapa saja tamu undangan yang meyalami ku dan jimin, aku hanya bisa tersenyum karena aku tahu mereka semua memiliki hubungan dekat dengan keluarga jimin baik bisnis maupun saudara, jimin juga tak memperkenalkannya, toh aku juga tak butuh dia menjelaskan.
Kadang aku sendiri masih sangat kesal jika mengingat ciuman pertamaku diambil oleh jimin, kadang masih ada rasa tak rela dan marah pada jimin, walau memang ini bukan salah jimin sepenuhnya.
Aku hanya mengundang tiga sahabat ku, tentunya eunwoo, sehun, dan guanlin mereka akan menjadi orang yang paling istimewa bagiku, walau kadang menyebalkan.
"Hyerin! Kau mendahului oppa mu!" Sehun mendecak menatap ku tajam, aku hanya tersenyum sambil mengatakan agar dia tak marah di saat acara seperti ini.
"Jangan marah oppa kau tampan." Aku terkekeh sambil menarik dasi berwarna hitam yang digunakan oleh sehun.
"Cih! Lepas hyerin!" Aku tiba tiba terbahak ketika mendengar keluhan jimin yang melihatku menggoda lelaki lain, apa dia cemburu? Heol? Ada apa dengan dunia.
"calm down, dude. She know, it's just kidding." Sanggah sehun, aku melihat eunwoo dan guanlin yang berada disamping kami ikut tertawa melihat pertengkaran kecil ini.
"well, ujian rumah tangga sudah dimulai." Guanlin menggeser tubuh sehun agar menjauh dari hadapan ku, sehun sempat melotot menatap tajam pada guanlin, setelahnya guanlin hanya tersenyum simpul.
"Happy wedding, my lovely." Aku tersenyum kikuk mendengar ucapan selamat dari guanlin, apa dia harus menggunakan kata lovely ketika dihadapan jimin? Jimin berdehem menatap tak suka kearah kami berdua.
"Apa aku tidak akan diberikan ucapan selamat?" Tanya jimin mengalihkan pembicaraan ku dengan guanlin, ya kulihat jimin cemburu.
Tentu saja jimin cemburu, ini hari pernikahannya apakah ada orang yang senang jika melihat istri barunya di goda oleh pria lain?
"Ohh sure, congratulations, you so lucky have hyerin in your life. Love her like love you self too." guanlin menjabat tangan jimin, yang menyambut nya dengan senang hati.
"Thanks, it's my promise to her," aku tersenyum manis melihat jimin mengatakan itu, tapi satu hal yang membuat ku penasaran dia tidak benar benar serius bukan dengan ucapannya? Kuharap ya.
Aku melihat seorang wanita dengan dress berwarna putih menghampiri ku dia tersenyum manis melihat dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hyerin!" Dia memelukku erat, sangat erat aku membalasnya juga karena dari harum minyak wangi yang ku cium aku tahu siapa wanita ini.
Jimin, sehun, eunwoo dan guanlin hanya menatap bingung kearah ku dan perempuan ini, pasalnya dia sangat memelukku dengan erat, apa sungguh dia sangat rindu padaku?
"Jennie... Lepas aku tidak bisa bernapas." Ucapku pada wanita yang sedari tadi memelukku ini, ya dia adalah jennie sahabat perempuan pertama ku.
"Hyerin.. I'm late, sorry tadi penerbangan diundurkan karena cuaca kota london yang buruk." Jennie melepas pelukannya padaku, aku mengangguk kecil mencoba tak mempermasalahkan kenapa jennie datang terlambat kepesta pernikahanku.
"it's okay, aku sudah senang kau bisa datang kemari." Aku menatap jennie yang masih sama cantiknya ketika kami berpisah dulu, bahkan kecantikannya bertambah.
"Mm, makasihh hyerin." Dia menggenggam kedua bahuku, aku masih terpesona dengan kecantikan jennie, sebenarnya jennie juga yang mengajarkan cara bermake up kepada ku, ketahuilah jangankan untuk bersolek menata diri saja tidak bisa.
Aku memang sangat bodoh menjadi seorang wanita, hal sekecil itu saja aku tak tahu.
"Ehem." Aku melirik kearah sumber suara, dan yang kutangkap itu adalah suara guanlin, lelaki ini masih saja genit.
Aku mengangguk paham lalu mengenalkan jennie pada teman temanku, "Oh yah, kenalkan ini teman temanku, dia oh sehun." Aku melirik sehun, jennie tersenyum lalu mengajak sehun untuk berjabat tangan "Kim jennie." Ucapnya lalu melepaskan tautan tangan mereka.
"Cha eun woo." Aku menunjuk eunwoo yang berada disamping jimin, sebelah kiri ku. "Kim jennie." Aku melihat jennie melakukan hal yang sama seperti pada sehun, tersenyum dan menjabat tangannya.
"Dia lai guanlin." Aku menunjuk guanlin yang tampak membenarkan jas yang dia gunakan, oke aku paham guanlin sedang berusaha terlihat mempesona di hadapan jennie.
"Kim jennie." Jennie tersenyum pada guanlin lalu melepasakan tautan tangan mereka. "gosh, lai guanlin? He is actor international, right? And he is your friend?" Tanya jennie berbisik di dekat ku, aku mengangguk meng-iyakan pertanyaan jennie.
"Kau salah satu fans nya?" Tanya juga dengan suara yang pelan. "Nope! Just feel surprise" Jawab jennie sambil bergidik, tak mengidahkan pertanyaan ku.
"Dan ini suami ku, park jimin." Aku memperkenalkan jimin yang berada disamping ku pada jennie. "Congratulations, happy wedding." Ucap jennie pada jimin, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh jimin.
"He is your husband? So handsome and.... Sexy i like he lip, thick..." aku terkekeh saat mendengar penuturan jennie tentang jimin, yah memang siapa yang tidak akan tergoda dengan bibir tebal milik jimin.
"oh my God! Jennie!" Aku terbelalak kaget sambil tertawa pelan, jennie juga dia hanya menjawab dengan tawa kecil yang sangat pelan.
"Aku tidak bisa berlama lama, aku harus segera pulang." Ucap jennie padaku "Why?" tanyaku penasaran, pasalnya dia baru saja datang apa akan langsung pergi kembali ke london.
"Mobil jemputan keluarga ku sudah menunggu didepan, mereka ingin segera bertemu denganku." Jelas jennie, aku mengangguk sambil tersenyum senang. "Jadi, kau tidak akan kembali ke london?" Tanya kembali "Mmm bisa di bilang begitu, aku rindu tanah air." Ucapnya, sambil berjalan pergi "Bye! Hyerin! See you next time" Jennie melambaikan tangannya padaku dan juga pada teman temanku, dia sangat ramah, dan yah maka dari itu aku suka berteman dengan jennie.
"Dia cantik, hye." Aku menoleh mencari sumber suara itu dan ternyata milik lelaki jangkung yang manis tapi sayang aku dulu pernah cinta.
"Dia sudah bertunangan." Jawab ku, yang membuat desahan panjang keluar dari mulut guanlin, dia kecewa.
"Dia satu satunya teman wanita mu hyerin?" Tanya jimin padaku, aku mengangguk mantap karena memang kenyataannya seperti itu, tidak tahu apakah akan bertambah sahabat wanita lagi, aku sudah nyaman bersama dengan tiga lelaki ini.
***
Aku terdiam sambil mengusap usap rambut pendek ku dengan handuk kering, tak menggubris bahwa jimin sedang menatap ku lekat lekat, setelah selesai acara resepsi malamnya di susul dengan pesta pernikahan yang cukup mewah, atas permintaan nyonya park dan tuan park, yang cukup melelahkan.
Aku menghela nafas lelah, jujur hari ini banyak sekali menguras tenaga, mataku juga sudah mulai buram, seperti nya sudah tidak kuat menahan kantuk.
Aku baru saja selesai mandi, jimin juga
Maksudnya kami mandi bergantian, tidak bersama aku hanya meluruskan agar pikiran kalian tidak terbang kemana mana.
Setelah selesai acara pesta tadi, aku bersama dengan jimin pergi kehotel yang sudah di siapkan oleh nyonya park, sebuah hotel dengan ranjang yang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar, wangi lilin aroma terapi dan juga ranjang king size dan tambah kagetnya diriku saat melihat kamar mandi yang dindingnya terbuat dari kaca, transparan. Heol? Sangat menakjubkan bukan kerja keras nyonya park.
Karena sudah cukup lelah untuk mengeluh kami akhirnya saling keluar dari kamar saat kami sedang mandi, jadi ketika aku mandi jimin pergi dari kamar dan begitu sebaliknya.
Untungnya nyonya park tak menyuruhku untuk menggunakan lingerie gosh! Bayangkan saja.
Aku duduk di samping kasur setelah beres mengeringkan rambut, jimin masih diam dengan pemikiran kami tak saling berbicara, tapi karena sudah tak kuat aku membereskan bantal untuk ku, lalu merebahkan tubuhku di tempat tidur.
"Aku mengantuk jim, aku tidur terlebih dahulu, selamat malam." Aku menguap sebelum berusaha menutup mataku, rapat rapat.
Tapi tiba tiba aku mersakan, kasur ini bergoyang jimin seperti nya sedang memposisikan untuk merebahkan tubuhnya, tapi tiba tiba aku tercekat, karena merasakan sebuah nafas menderu pelan mengenai wajahku.
Aku diam, sepertinya Jimin sedang tidur dengan posisi berhadapan denganku, aku gugup jelas jantungku sudah tak seirama lagi sejak tadi.
"Aku tahu kau belum tidur? Aku tak memaksa mu untuk 'Melakukan'itu sekarang, aku akan menunggu sampai kau siap dan kau sendiri yang memintanya, kau tahu aku tak suka bergairah sendirian." Jimin terkekeh tangannya tak tinggal diam membawa pinggangku dalam rengkuhannya.
"Selamat malam hyerinnn."
Kecewa gak ada nc+ (?) Sorry belum ada di part ini ≧∇≦ kayaknya pas part kalau hyerin udh siap aja, btw my husband waktu hari minggu ultah, uhuhuhuhu makin kolot dia, ehe:) tapi makin sayang(╥﹏╥).
Eh btw bahagia banget nih, temen sekelas pada bucin jimin berjamaah gara2 di novel punya gue, dia jadi ******* ehe>_< tapi menggemaskan😝 pokonya lagi happy banget lah.
Sorry juga banyak banget bahasa campuran indo-inggris, feel untuk ngegambar sifat jennie di sini tuh, ngomong nya gak paseh paseh amat bahasa korea, jadi agak kucampur dengan indo inggris, walau aku sebenarnya masih tolol soal bahasa inggris(╥_╥) sorry aja kalo ada kata bahasa inggris yang aneh. You should know i was attempted to give my best feel.
Gitu aja yah, byeeee