Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
honey moon



   "Hanya 2 minggu, sudahlah tidak ada salahnya." Aku mencoba acuh pada seorang lelaki dengan setelan jas formal yang ia gunakan.


   "Tapi hye, 2 minggu terlalu lama." Keluhnya lagi dengan wajah memelas, aku yang sedari tadi sedang membereskan pakaian ku kedalam koper menghentikan aktivitas ku, lalu menatapnya.


   "Sehun, kau bahkan pernah ku tinggalkan sampai bertahun-tahun." Jawabku lalu membuang nafas.


  "Ya aku lupa, setiap minggu kau mengunjungi ku." Tambahku lagi menatap sehun.


"Lagi pula untuk apa kau ke maldives?" Tanyanya dengan nada menuntut.


   "Aku akan berbulan madu sehun, kurang jelas bagianmana lagi?" Jawabku mulai kesal dengan sifat sehun yang kekanak-kanakan.


  "Jika kau bertanya untuk apa berbulan madu, maka akan ku tendang wajahmu." Ucapku lagi pada sehun, sehun yang seperti sudah bersiap untuk bertanya hal seperti itu terdiam.


    Wajahnya masam sekali, tak bersemangat. Aku yang melihatnya iba, sehun memang seperti itu, dia tak bisa jauh dariku. Sepertinya sehun kecanduan, padahal tak ada untungnya bagi sehun saat bersama dengan ku. Sehun, lelaki itu akan selalu mencari keberadaanku dimanapun. Katanya dia tidak tahan jika tidak bertemu dengan ku sekali saja dalam seminggu.


  Entahla aku juga bingung dengan pemikiran sehun, aku menatapnya lalu mendekat ke arahnya.


   "Sehun, aku sudah dewasa, dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tahu kau khawatir, tapi sekarang ada jimin aku yakin dia pasti bisa menjagaku." Aku menatap mata sehun, memberikan dirinya keyakinan bahwa aku akan baik-baik saja.


   "Baiklah, hati-hati." ucapnya lalu mengusap pelan surai rambutku, aku terkekeh dan mencubit perutnya.


  "aw."


  "Sudah sana, aku akan mengganti baju." Aku mendorong tubuh sehun keluar dari kamarku.


Aku menutup pintu kamarku lalu menguncinya, dengan segera aku mengambil baju yang telah ku siapkan.


  Ya, sesuai rencana, aku dan jimin akan pergi ke Maldive's untuk 2 minggu kedepan. Dan sekarang aku tengah bersiap karena beberapa jam lagi adalah pemberangkatan menuju Maldives.


  Tapi sayangnya, sehun datang saat ku beri tahu bahwa aku akan pergi. Dia memang lelaki aneh, aku tak habis pikir dengan sehun.


   Setelah selesai mengganti pakaian, aku keluar dari kamar sambil membawa koper miliku yang sudah rapi, aku hanya memakai kaos pendek dengan scraf yang sengaja ku ku taruh di pundak menutupi bahu ku yang sedikit terbuka.


  Saat turun kebawah aku melihat nyonya park yang tengah berbincang bersama dengan jimin.


   "Maaf telah membuat kalian menunggu." Ucapku ketika sampai di bawah.


  "Tidak apa-apa, kau sangat cantik hari ini." Puji nyonya park, aku tersenyum tipis menganggapi pujian nyonya park.


  "Kemana sehun?" Tanyaku begitu tak melihat keberadaan sehun.


   "Dia bilang akan menunggu di bandara." Jawab jimin, aku mengangguk paham.


  Jujur ini sangat merepotkan padahal aku dengan jimin hanya ingin berbulan madu, tapi kenapa nyonya park sampai ikut mengantarkan ku ke bandara.


  Sehun juga, lelaki itu sampai rela tidak menghadiri rapat penting hanya untuk mengantarkan ku ke bandara, terlalu berlebihan.


  "Kemari, biar aku bawakan koper milikmu." Jimin mengambil koper yang sedari tadi ku bawa.


  "Ayo, sebentar lagi keberangkatan kalian." Nyonya park menarik pergelangan tanganku pelan, sementara jimin sudah duluan sambil membawa koper milikku.


  Aku, jimin dan nyonya park menaiki mobil yang sudah di siapkan menuju bandara Incheon yang tak jauh dari kediaman rumahku.


  Sebenarnya aku juga tak yakin dengan acara bulan madu ini, tapi ya seperti apa yang ku pikirkan ini adalah rencana nyonya park. Lagi-lagi aku berpikir bahwa ini adalah inisiatif jimin, mungkin dia juga sama malasnya denganku.


  Sesampainya di bandara Incheon, aku turun duluan bersama dengan nyonya park disana juga sudah ku lihat sehun yang sangat tampan dengan setelan jas nya.


   "Kenapa kau pergi duluan." Protesku pada sehun, lelaki yang menjadi objek protesan ku itu tersenyum.


   "Tak apa." Jawabnya, nyonya park hanya menggeleng melihat tingkah aku dan sehun yang kekanak-kanakan.


  Tadi, nyonya park bahkan memarahi sehun karena meminta ikut ke Maldives bersama kami berdua. Tentu saja nyonya park marah.


   "Ayo, Kita harus segera check in." ucap jimin, aku mengangguk paham.


  "Eomma, aku berangkat." Ucapku lalu memeluk nyonya park dengan sangat erart.


   "Jangan lupa, bawa kabar bahagai setelah pulang dari sana, oke?" Ucap nyonya park dalam pelukanku, aku tersenyum tipis tidak meng-iyakan permintaannya.


  Aku melepaskan pelukaku pada nyonya park, lalu menatap sehun. "Oh come on big baby" Ejek ku pada sehun yang menampakan raut wajah kesal.


  "Jangan lupa bawa kabar bahagia." Ucapnya, aku mengangguk lalu pergi bersama dengan jimin yang sudah berpamitan dengan nyonya park dan juga sehun.


 


     ***


  Aku merebahkan tubuhku diatas kasur berukuran king size, kepalaku sangat pusing sekali. Mungkin aku mengalami jet lag setelah menempuh hampir 10 jam perjalanan, setelah sampai di bandara pun aku langsung pergi ke pulau cocoa dimana jimin memesan hotel disana.


   "Tidak mengganti baju?" Tanya jimin yang baru saja keluar dari kamar mandi.


  "Tidak, kepalaku sangat pening, aku akan langsung tidur." Jawabku, lalu menyembunyikan wajahku di sela-sela bantal.


  Sejujurnya aku malu, jimin keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutup bagian pinggangnya dan membiarkan dadanya terekspos.


  Aku menghela nafas panjang, wangi bunga sangat semerbak di kamar ini. Beberapa kelopak bunga pun bertebaran di atas kasur, tapi aku tidak berniat membersihkannya. Ada beberapa lilin aromatik yang menyala, semakin membuat harum kamar ini, ah iya aku lupa, jimin memesan kamar honey moon suit. Dasar jimin.


   Aku menutup mataku, mengurangi rasa pening yang sedari tadi ku rasakan, pusing dan ada sedikit rasa mual yang berusaha aku tahan. Sebelumnya aku tidak pernah separah ini mengalami jet lag, apa mungkin ini efek aku sudah jarang menaiki pesawat? Ya, mungkin saja dan dengan mengistirahatkan diri, rasa pusing ini bisa hilang.


  "Istirahat yang cukup, besok kita akan mengeksplorasi pulau ini." Ucap jimin yang entah dari kapan sudah ikut berbaring sampingku.


  Aku tak menjawab ucapan jimin dan memilih untuk memejamkan mata, aku sudah sangat lelah. Baru saja aku memejamkan mata, suara jimin membuat aku terpaksa membuka mata.


  "Hye... Handphone mu berbunyi." Ucapnya sambil menggoyangkan tubuhku, aku menggeliat malas, berpikir siapa yang menelefon ku malam-malam seperti ini.


  Dengan gerakan cepat aku mengambil handphoneku yang berada diatas nakas, menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan, bahkan saking malasnya aku tidak melihat siapa yang menelefon ku.


   "Heum, siapa?" Tanyaku dengan suara parau.


  "Hallo hye, kau sudah sampai?"


  Suara berat yang tak asing ini membuatku tahu siapa yang berani menelefon dikala sedang berlibur.


  "Aku baik-baik saja sehun." Jawabku dengan nada malas, sehun berlebihan.


  "Apa kalian sedang melakukan hal 'itu'? Jika iya maaf mengganggu waktu mu."


  "Yak!! Oh sehun apa kau gila!! Aku baru saja datang dan kau berpikir aku?!! Argh." Aku menggeram kesal dengn sehun, apa yang ada didalam otak lelaki itu? Kenapa dia terus berpikir hal yang kotor seperti itu.


  "Maaf, maaf, aku tidak tahu. Kau mengalami jet lag?"  Tanyanya.


 


   "Hm, parah sekali, sebelumnya aku tidak pernah separah ini." Jawabku, walau masih dengan posisi berbaring memunggungi jimin.


   "Kalau begitu istirahatlah, makan sup agar rasanya lebih baik."


  "Hm"


  "Kalau begitu aku tutup, dah."


  "dah


  Lalu sambungan telepon terputus, aku melatakan handphone kembali di atas nakas, setelahnya membenarkan posisi tidurku agar lebih nyaman.


  "Sehun sepertinya sangat khawatir padamu." Ucapnya jimin, aku melirik kearahnya tak berminat untuk menjawab pertanyaan jimin.


   "Dari temanmu yang lain, sehun orang yang sampai rela meninggalkan rapat penting hanya untuk mengantar mu kebandara." Jelas jimin lagi, aku tahu maksud perkataan jimin. Tapi, hei? Sehun selalu seperti itu dan aku tidak pernah merasa risih.


  "Ya, seperti itu sehun. Ketiga sahabatku itu memiliki sifat yang berbeda-beda, oppa tidak akan mengerti." Jawabku, berusaha agar tak tersulut emosi, biasanya jika bersangkut paut dengan sahabat ku, akan ada saja hal yang jimin riburtkan.


  Aku menatap langit kamar yang berwarna putih terang, dengan sebuah lampu gantung yang remang.


  "Aku dan mereka bertiga sudah berteman sejak SMA, mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah aku temui." Jawabku dengan jujur, pikiran ku melana pada memori awal aku bertemu dengan sehun dan eunwoo juga dengan guanlin.


   "Bukankah sehun dan eunwoo lebih tua darimu?" Tanya jimin penasaran.


  "Ya, dulu mereka adalah kakak kelas ku, tapi setelah kejadian hari itu aku dan mereka bertiga menjadi teman baik, bahkan sehun dan eunwoo memutuskan untuk tinggal kelas selama 2 tahun agar bisa terus bersama aku." Jelasku dengan sebuah tawa kecil.


  "Mereka tinggal kelas? Demi dirimu?" Tanya jimin dengan wajah yang sangat amat terkejut.


  "Hm, sehun dan eunwoo adalah lelaki incaran para wanita di sekolah, sehun dan eunwoo juga sangat pandai. Pokoknya mereka berdua adalah lelaki sempurna yang semua wanita idam-idamkan. Tapi sehun dah eunwoo memilih berteman dengan gadis seperti ku. Nakal, sering membolos dan juga sering membuat onar." Jelasku lalu tertawa, rasanya lucu sekali mengingat kisah ku di sma.


   "Lalu?" Tanya jimin penasaran.


  "Lalu eunwoo, sehun berubah menjadi anak nakal setelah berteman denganku. Guanlin yang notabene nya adalah teman sebangku ku, pun ikut berubah." ujarku.


  Ku dengar jimin tertawa pelan, bahkan lelaki itu mengubah posisi tidurnya sedikit miring agar bisa melihat wajahku.


  "Kau pernah tidur dirumah sehun? Guanlin maupun eunwoo?" Tanya jimin lagi.


  Aku terdiam senejak, mengingat pernahkah aku tidur dirumah mereka bertiga.


   "Aku pernah tidur dirumah sehun, saat kabur dari rumah ketika aku di beri tahu bahwa aku di jodohkan." Jelasku, ya, malam itu adalah malam terlucu bagiku.


  "Kau kabur?"


  "Iya, orang tua ku bilang aku di jodohkan dan mereka bilang aku tidak boleh berpacaran dengan siapapun. Padahal saat itu aku tengah berpacaran dengan guanlin, karena syok dan tidak terima aku memutuskan kabur dari rumah dan pergi ke rumah sehun." Jelasku lagi.


  "Setakut itu? Sampai harus kabur?"


  "Ya, bagaimana dengan oppa? Perasaan oppa saat tahu bahwa oppa di jodohkan?" Tanyaku.


  Jimin tersenyum, manis sekali hingga matanya menyipit .


 


  "Eomma dan appa sudah memberi tahu bahwa aku di jodohkan, saat aku kelas 1 smp." Jawab jimin.


  Aku terperangah, jadi jimin sudah tahu tentang perjodohan ini saat dirinya masuk bangku smp. Lalu bagaiamana denganku yang masih menganggap hal itu lelucon sampai eomma dan appa ku meninggal.


   "Apa oppa terkejut?" Tanyaku lagi.


  "Sebenarnya ya, tapi aku sebagai anak satu-satunya harus menurut pada kedua orang tua ku, aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali mereka. Setidaknya aku bisa membahagiakan mereka dengan cara seperti ini." Jawabnya dengan nada yakin.


  Aku tersenyum tipis, hanya tanggapan terhadap jawaban jimin.


   "Apakah oppa pernah menjalin hubungan dengan seseorang, walau tahu oppa dijodohkan?" Tanyaku, jujur ini pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan pada jimin.


  Aku hanya butuh kejujurannya saja, tapi jika dia tidak mengakuinya, ya sudah aku tidak akan memaksa.


  "Hm, ya. Aku pernah memiliki hubungan dengan seorang gadis saat sma dulu, tapi sekarang tidak lagi." Jawabnya.


  Aku tersenyum kecut, 'Tidak lagi' apakah maksdunya? Tidak lagi berhubungan dengan gadis itu atau sebaliknya?


  Benar, jimin jujur bahwa dia pernah memiliki kekasih, tapi dia tidak jujur bahwa sampai sekarang dia masih berhubungan dengan wanita itu.


  Wanita yang telah membuat perasaan ku hancur.


"Hm, baiklah oppa, aku akan tidur, selamat malam" Aku mengubah posisi tidurku, yang tadinya terlentang dan kini membelakangi jimin.


  Sakit, rasanya sama, Sakit. hatiku merasa lelah, jimin terus terusan membohongiku dan aku pun begitu. Aku terus membohongi perasaan ku sendiri. Dan sepertinya aku mulai mencintai jimin.


  Dan aku mengaku, bahwa aku kalah.


  ***


     Aku mengusap wajahku dengan air mengalir dari keran, lalu menatap diriku dipantulan kaca. Kacau, satu kata yang dapat mewakili diriku saat ini.


  Mataku sembab, hidung ku memerah dan aku merasa mual yang parah sekali, aku masih berpikir ini adalah jet lag, mual dan pusing yang ku rasa terus-terusan terjadi sejak pagi tadi.


   "Hye, kau baik-baik saja?" Aku mendengar pintu kamar mandi yang di ketuk berapa kali.


  "Ya, Sebentar." Jawabku hendak membuka kan pintu untuk jimin, namun baru beberapa langkah perutku kembali bergejolak, rasanya seperti ingin mengeluarkan sesuatu tapi saat aku berusaha mengeluarkannya tidak ada.


  "Huek..." Aku kembali memuntahkan cairan berwarna putih.


  "Hye!!" Jimin semakin keras mengetuk pintu kamar mandi, karena malas aku dengan cepat membuka pintu kamar mandi.


  Jimin berdiri di ambang pintu dengan raut wajah khawatir. "Kau kenapa? Ada yang sakit?" Tanyanya, aku menggeleng.


  Tapi tanganku terus memengang perutku yang masih mual. "Kau muntah-muntah?" tanyanya dengan nada sedikit aneh.


  Aku menatap jimin tak percaya, tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil, pasti jimin menduga hal itu.


  "Tidak, aku jet lag. " Jawabku lalu menggeser tubuh jimin dari pintu agar aku bisa lewat.


  "Coba periksa saja hye." Ucapnya lagi mengikuti langkahku.


  "Aku baru selesai datang bulan kemarin, tidak mungkin aku hamil." Ucapku dengan nada menyakinkan.


  "Oke, sepertinya kau memang jet lag, mau ku pesanku sup?" Tanyanya lagi, aku mengangguk meng-iyakan.


  Dengan segera jimin mengambil telefon kabel yang berada diatas nakas, aku mencoba tidak peduli. Aku dengan cepat meninggalkan jimin dan memutuskan untuk mandi.


   Aku tidak ingin jimin menyadari wajah sembab ku ini karena menangis, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan jimin. Aku yakin semua ini akan segera berakhir.


  ***


   Aku membuka pintu kamar mandi, dan melihat jimin tengah duduk di pinggir ranjang sambil memainkan smartphone miliknya.


  Aku memutar bola mata malas, pasti jimin sedang menelfon kekasihnya. Siapa itu aku lupa namanya, yang mengatakan bahwa aku adalah sekertaris jimin.


   "Hye, lihat ini sup nya, jangan lupa dimakan, aku akan mandi." Jelasnya, aku yang masih menggunakan bathrobe hanya mengangguk.


  Jimin beranjak dari tempat tidur, meletakan ponsel miliknya di atas nakas lalu pergi menuju kamar mandi. Aku mengambil alih tempat yang sebelumnya jimin duduki.


  Mengambil sebuah mangkuk yang berisi sup panas, aku mencobanya dan rasanya enak sekali. Perutku juga terasa sangat hangat, aku menyantap sup itu dengan lahap, mungkin ini juga efek aku belum makan.


   Saat sedang asyik menyantap sup, aku melihat ponsel jimin bergetar. Karena penasaran aku mengambilnya dan melihat siapa yang menelfon jimin di saat dia tengah berlibur.


   Ketika aku membuka lockscreen smartphone jimin, aku melihat sebuah notifikasi pesan dari seseorang bernama yeonji.


  Lagi dan lagi, gadis itu. Karena aku penasaran dan ingin mengetahuinya dengan segera aku membuka smartphone jimin. Tapi sayangnya, handphone milik jimin diberi password, aku berpikir sejenak apa yang akan jimin jadikan sebagai password handphonenya.


  Mungkinkah tanggal lahirnya? Dan saat ku coba hasilnya gagal. Atau mungkin tanggal pernikahan ku dan jimin? Langsung ku ketikan tanggal pernikahan ku dan jimin, dan hasilnya nihil, salah.


  Putus asa, aku mengetik asal nama yeonji. Dan betapa terkejutnya aku. Sebab password handphone jimin adalah nama gadis itu. Berarti wanita dengan nama yeonji ini sangat istimewa, pasti.


  Tak membuang waktu, aku langsung melihat pesan yang dikirimkan oleh yeonji. Sungguh, aku benar-benar menyesal karena membuka pesan itu, aku mengutuk rasa penasaran ku sendiri, dan pada akhirnya aku harus menahan rasa sakit yang teramat dalam di hatiku.


Jung yeonji


[Aku juga sangat menyayangi mu jimin, sangat i love you so much]


   ***