
***
Aku mengikuti lelaki itu dari belakang karena jujur sebenarnya aku masih tidak bisa fokus, aku masih teringat akan kematian ibuku. Sampai ku lihat lelaki itu berhenti di depan sebuah mobil BMW berwarna hitam mengkilap iya dan ku yakini mobil ini milik lelaki itu.
Benar saja dia membukakan pintu mobil untuk ku, dia menyuruh ku duduk di depan, tak apalah yang terpenting aku tidak ingin sendirian dan terus memikirkan ketiadaan ibuku.
Di dalam mobil aku hanya bisa terdiam sambil menatap jalanan yang basah karena di siram air hujan, aku sangat menyukai hujan, aku suka aroma tanah yang bercampur dengan asap saat hujan turun, aku suka suara gemercik air yang terdengar seperti alunan melodi yang indah, jujur hujan dapat membuat aku tenang.
Di dalam mobil tidak ada yang berani memulai pembicaraan, lelaki itu fokus pada jalanan sedangkan aku tetap diam dalam pikiran ku, sampai aku tersadar bahwa aku mempunyai pertanyaan yang harus di jawab oleh lelaki itu, akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara. "Mmmm ohh yah sebenarnya aku belum mengetahui siapa dirimu... ?" Tanyaku dengan banyak jeda, gugup sekali aku berbicara padanya.
Aku melihat kedua sudut bibir lelaki itu melengkung, aku menatap heran kepada lelaki itu "Namaku park jimin..Maaf aku baru mengenalkan diriku.." Jawab lelaki itu tanpa menoleh kearahku, aku memakluminya karena kondisi jalanan saat ini sedang basah karena tersiram air hujan.
Aku sempat kaget karena aku mengenal namanya, dia adalah anak dari tuan park? Kenapa dari awal dia tidak mau mengenalkan dirinya, aishhhh apakah sikapku padanya membuat dia merasa sakit hati? Kuharap tidak dan kuharap dia bisa memaklumi sikap ku yang sebelumnya sangat acuh padanya, semoga dia mengerti tentang perasaan ku yang baru saja kehilangan orang yang paling spesial di hidupku.
"Kamu anak tuan park?" Tanyaku pelan dia hanya menjawab dengan anggukan kecil, lalu aku tersenyum kecil jujur dia sangat lah tampan dan aku menyukai bibir seksinya, ASTAGA!! Tolong hilangkan pikiran kotor ini dari otakku...
"Bagaimana kamu bisa ada pada saat ibu di rumah sakit?" Tanyaku lagi dia kembali menaikkan kedua sudut bibir nya.
Uhhh berhentilah tersenyum ke arah ku itu membuatku diabetes karena senyummu sangatlah manis.
"Hari itu aku disuruh oleh eommanim untuk datang kerumahnya, saat sampai dirumah aku disuruh menunggu di ruang tamu oleh ahjumma, setelah menunggu lama ahjumma berteriak histeris dari arah ruang kerja eommanim, sontak aku berlari menuju ruangan eommanim dan saat ku lihat eommanim sudah terkulai lemas di lantai kamar mandi lalu aku membawanya ke rumah sakit."
Aku mengangguk paham mendengar cerita jimin, hatiku kembali teringat akan kepergian ibu seharusnya aku tidak bertanya tanya lagi tentang ibu.
Mobil BMW milik jimin berhenti di depan gerbang rumah orang tuaku yang tepatnya rumah itu sudah menjadi milikku, seluruh kekayaan yang di miliki oleh appa dan eomma sudah di pindah namakan menjadi namaku, entahlah aku tidak peduli bahkan aku lupa bahwa sekarang perusahaan tidak memiliki pemimpin.
Aku turun dari mobil jimin lalu tersenyum kearahnya yang masih duduk di kursi kemudi "Tidak mampir?" Tanyaku pelan jimin hanya menggeleng, aku paham dan tersenyum kecil sampai mobil jimin mulai menjauh dari kediaman ku.
Aku melangkah gontai masuk kedalam rumahku, aku benci halaman rumah ku yang sangat luas sehingga cukup lama untukku memasuki rumah dan biasa di dalam rumahku hanya terdengar suara percikan air dari aliran air mancur yang terpajang di ruang tengah dari rumah ini.
Kulihat ahjumma jiena sedang membereskan barang barang yang bertebaran di ruang tamu, ahjumma tersenyum tipis saat melihat kedatangan ku, aku membalasnya seadanya diriku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
"Non mau makan?" Tanya ahjumma menghentikan aktivitasnya, "Nanti saja bi.. Saya masih ada urusan." Jawab ku bohong, aku hanya tidak mood untuk menyuapkan sedikit makanan kedalam mulut ini.
Setelah berjalan melewati tangga aku berjalan menuju kamarku, namun langkah ku terhenti saat melihat pintu ruangan kerja ibuku yang terbuka dengan rasa penasaran akhirnya aku memutuskan untuk masuk kedalam ruang kerja ibuku, padahal sebelumnya aku memang sering keluar masuk keruangan ini, bahkan selalu tapi kadang ibu melarang ku untuk menyentuh berkas berkas yang tersusun rapih di dalam rak buku.
Namun saat ku lihat ke meja kerja ibu, beberapa berkas tergeletak begitu saja data data dan juga beberapa dokumen tercecer berantakan di atas meja ibuku, aku menarik nafas panjang berusaha untuk tidak marah atas apa yang aku lihat ini, sebenarnya bisa saja aku menyuruh ahjumma untuk membereskan ini semua tapi ibu tidak pernah mengizinkan ahjumma untuk membereskan barang barang di dalam ruangannya, bukan karena takut kehilangan barang berharga namun ibu tidak mau dokumen dokumen milik perusahaan di taruh sembarangan dan hilang. Jika ibu setakut itu kehilangan barang berharga, ibu pasti tidak akan mengizinkan ahjumma untuk bebas masuk kedalam kamarnya ibu sangat percaya pada ahjumma karena ahjumma sudah menjadi pembantu di rumah ibuku saat aku masih bayi.
Dan pada akhirnya aku membereskan dokumen dokumen itu, walau dengan setengah hati karena jujur saat ini aku masih sangat lelah dan ingin beristirahat. Jadi dengan terpaksa aku membereskan ini semua.
Saat aku membersekan seluruh dokumen dokumen milik perusahaan, aku tak sengaja menjatuhkan salah satu dokumen ke lantai hingga jatuh berantakan, saat hendak ku ambil kembali aku melihat sebuah amplop berwarna putih jatuh dari salah satu lembaran dokumen, aku sedikit penasaran karena kulihat di depan amplop itu tertulis sesuatu
Untuk anakku tercinta kim hyerin
Aku yang melihat tulisan itu langsung mengetahui bahwa itu adalah tulisan tangan ibuku, dengan terburu buru aku merobek amplop itu dan melihat isinya selembar kertas cukup membuatku terheran heran. Tanpa panjang lebar aku langsung membacanya.
*Kim hyerin anak ku tercinta.
Hai sayang? Apa kabar? Mungkin saat kamu membaca surat ini, eomma sudah tidak ada didunia, ku harap kamu tidak bersedih dengan kepergian eomma.
Eomma menulis ini sesaat sebelum eomma pergi, karena eomma merasa waktu eomma sudah tidak lama lagi.
Di sini eomma ingin mengatakan bahwa kamu harus menjaga perusahaan peninggalan appa mu, kamu tahu bukan bagaimana kerja keras appa mu untuk mendirikan perusahaan itu, sekarang kamu harus menjaganya baik baik.
Sebelumnya eomma dan appa sudah memikirkan ini, jika eomma dan appa sudah tidak ada siapa yang akan mengurusimu? Jadi eomma dan appa sudah memutuskan untuk menjodohkan mu dengan anak dari tuan park jungsin, yaitu park Jimin tuan dan nyonya park pun menyetujui nya, maka dari itu eomma tidak pernah merestui hubunganmu dengan mantanmu yang sebelumnya, karena saat kalian berdua masih SMA kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian.
Eomma harap kamu mau melaksanakan apa yang eomma dan appa rencanakan, jika kamu tidak menyukai jimin kamu bisa mulai mencintainya setelah kalian berdua menikah, anggap saja ini sebagai permintaan terakhir appa dan eomma, jaga nama baik keluarga kim, menurutlah pada jimin, eomma dan appa akan sangat sedih jika sampai kamu tidak menikah dengan park jimin, jangan terlalu sedih karena eomma dan appa tidak ada lagi di sisi mu, eomma dan appa di sini sudah bahagia sekali, jika kamu tidak ingin melihat appa dan eomma menangis kamu terus kan hidupmu dengan baik, eomma dan appa yakin kamu dan jimin bisa bahagia*.
Eomma dan appa menyayangi mu kim hyerin
Setetes air mata jatuh di pipiku, aku sudah tidak sanggup menahan ini lagi apa lagi saat mengetahui aku di jodoh kan dengan jimin? Park jimin yang hanya ku tahu namanya? Kepala ku terasa pusing dan berat, aku menangis di sudut ruangan sambil memeluk kedua kakiku, aku menangis tanpa suara menenggelamkan kepalaku di antara kedua kakiku, air mataku semakin deras mengalir, kepala ku makin terasa berat mataku sakit dan saat itu pula aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena pandangan ku kabur.
Kuharap aku bisa menyusul appa dan eomma di surga sana jika memang pada akhirnya aku harus ikut dengan mereka berdua.
Vomment pliss☺
Tuberculosis❤