Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
happy wedding



  Setelah kejadian dimana aku di buat blush oleh jimin, sekarang aku lebih menjaga jarak, pasalnya karena hal itu aku jadi memikirkan hal yang tidak tidak pada pernikahan ku kelak.


Misalnya aku dan jimin saling mencintai?


  Tapi aku langsung mengubah pikiranku, karena hal itu tak mungkin untuk aku dan jimin lakukan, ya sedari awal tujuan ku menikah dengan jimin adalah untuk mempertahankan perusahaan keluarga, hanya itu.


Terserah kalian ingin bilang aku egois, karena memang itu kenyataannya, mungkin jimin pun tahu.


  Sedari tadi aku hanya diam menatap jalanan, setelah selesai fiting gaun pengantin, jimin mengajakku untuk ke rumahnya, karena nyonya park ingin bertemu denganku.


  Entah apa yang ingin nyonya park katakan, yang jelas aku hanya tinggal datang kerumahnya dan mendengar segala ucapannya.


Setelah sampai dirumah keluarga park, aku turun bersama dengan jimin yang menggandeng tanganku, menyebalkan memang, kalau bukan akan bertemu dengan nyonya park, aku pasti menolak genggaman tangan jimin.


Aku tahu jimin juga tak ikhlas menikah denganku, rencana ku setelah menikah adalah membuat perjanjian dengan jimin.


Ya, seperti itu bayangannya.


"Hyerin-yya kau cantik sekali." Nyonya park memeluk ku erat, aku juga hanya membalas pelukannya sambil tersenyum.


  "Bagaimana kabarmu? Sudah lebih baik?" Tanyanya selepas memelukku.


"Aku sudah baik eomma, jangan khawatir." Aku tersenyum meyakinkan nyonya park bahwa aku memang baik baik saja.


"Kalian berdua sudah memilih cincin dan gaun pengantin?" Tanya nyonya park sambil mengajakku untuk duduk di sofa.


  "Sudah eomma." Jawabku sambil melirik jimin, yang sedari tadi terus diam, kenapa dengan anak ini? Kenapa dia tidak ingin berbicara atau sekedar menyapa eommanya?


"Baguslah, kau juga sudah tahu tentang rencana pernikahanmu?" Tanya nyonya park, aku pun mengangguk membenarkan pertanyaan nyonya park.


  "Jadi apakah kau setuju?" Tanya nyonya park lagi, pun aku hanya bisa menjawabnya dengan mengangguk, percuma saja menolak itu tidak akan terwujud.


"Eomma sangat senang sekali, kalian berdua bisa segera menikah." Ucap nyonya park sambil mengenggam kedua tanganku, membawanya keudara.


  Sesenang itukah nyonya park?


"Tentu saja eomma, aku juga senang." Bohong ku, tentu saja siapa yang ikhlas di nikahkan dengan lelaki yang tidak di cintai, itu lucu.


"Jimin Bagaimana denganmu? Kau juga ikut senang bukan?" Tanya nyonya park pada jimin, namun yang kulihat jimin hanya diam termenung sambil menatap cangkir berisi teh.


"Hey! Jimin! Apa kau tidak mendengarkan apa kata eomma!?" nyonya park membentak jimin, yang langsung membuat jimin terkesiap kaget.


  "Bu-bukan begitu eomma... Hanya saja aku kesal eomma lebih senang berbicara dengan hyerin dan mengabaikan ku... Aku cemburu eomma." Jimin mengpoutkan bibirnya, aku terkekeh jimin ternyata sangat manja, astaga! Dia cemburu padaku karena telah merebut perhatian eomma nya.


Ini kabar yang menggemparkan.


"Eomoni! Kau cemburu? Jangan seperti itu jimin, kau sudah besar! Pada eomma mu saja kau cemburu, apalagi nanti pada hyerin, jangan terlalu posesif." Nasehat eomma yang membuatku menahan tawa, aku tak tahan, air mataku sudah mengalir karena berusaha menahan tawa.


  Yang kulihat jimin hanya cemberut sambil menunjukan ekspresi masam, hahahah sebuah hiburan tersendiri yang sangat lucu.


Sepertinya aku sudah mulai menerima keluarga ini, tidak buruk aku menyukai mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


  Aku menatap pantulan tubuhku di depan kaca, terlihat sangat anggun dengan balutan gaun berwarna putih, wajahku sangat cantik karena sedikit diberi sapuan make up, rambutku yang di ikat dan hiasan bunga di bibir poniku, membuatku sedikit takjub.


Karena aku sendiri baru melihat diriku seperti ini. Aku tersenyum manis membuat lengkungan bulan sabit yang terpancar dari bibir merahku, ini adalah hari yang di tunggu tunggu, hari yang paling bahagia bagi keluarga park tak terutama aku dan jimin.


Hari ini kami akan melaksanakan janji suci pernikahan, setelah tiga hari menyiapkan kebutuhan pesta dengan sangat tergesa gesa. Tapi untungnya nyonya park bergerak cepat dengan telaten memesan semua kebutuhan untuk pesta pernikahan.


"Hyerin-yya! Kau cantik sekali, ahjumma memang tak pernah salah memilih!" Aku terkejut saat melihat juon sudah berada dibelakangku, gadis ini sungguh merepotkan dia akan menjadi pengantar bunga di acara ucap janji suci.


  "Terimakasih juon-yya." Aku membalikan tubuhku menatap juon yang sama anggunnya dengan balutan dress berwarna putih pula.


  "Hyerin... Kau adalah gadis paling beruntung yang mendapatkan lelaki seperti oppa jimin, walau memang kelihatan sangat nakal tapi dia sangat baik, aku percaya itu." Jelasnya, aku menjawab dengan anggukan keyakinan.


  "Hyerin-yya?" Aku membalikkan tubuhku ketika mendengar suara yang tak lagi asing bagiku, aku tersenyum menatapnya lalu memeluknya erat.


Cha eun woo, sahabat yang sudah kuanggap sebagai kakak itu, yang akan mengantarkan ku menuju altar. Appa bilang wali yang akan mewakili beliau adalah eunwoo, lelaki ini.


  "Hey? Apa ini hyerin? Gadis dengan gaya tomboy itu?" tanya eunwoo sambil menatapku, aku yang merasa di sindir langsung mencubit perut eunwoo.


  "Sakit!" Jerit eunwoo, memang benar cubitanku tidak ada yang mengalahkan.


  "Walau gaya yang berbeda, tapi sikap sama saja! Kasar." Bentak eunwoo aku hanya bisa tertawa garing, mendengar keluhan eunwoo tentang sikapku.


  "Sudahlah... Aku sedang tak ingin berdebat." Ucapku sambil mengabaikan eunwoo.


"Hyerin.. Aku tak menyangka kau sudah akan menikah." Ucap eunwoo sambil menarik tubuhku agar bisa berdekatan dengannya.


  "Kau bahkan melangkahi ku. Aku pikir perbuatan eomma dan appa sudah benar hyerin, jika mereka tidak menjodohkan mu bagaimana dengan masa depanmu? Jangankan mencari kekasih, mengurus hidup sendiri saja tidak becus!" Eunwoo tersenyum sambil mengusap usap pucuk rambutku.


  "Kau juga gadis yang sangat beruntung hyerin, mendapatkan lelaki sebaik jimin yang pasti sangat siap untuk mengurus mu, jangan anggap pernikahan ini sebagai permainan. Kau harus serius menjalani hidup bersama dengan jimin. Oke?" Jelas eunwoo sambil menatap ku di pantulan cermin.


  "Baik oppa eunwoo, yang tidak berkaca pada hidupnya sendiri! Sampai sekarang pun belum mempunyai kekasih." Ledekku sambil tertawa pelan.


  "Aku harap kau bahagia hidup bersama dengan jimin." Eunwoo memelukku erat, mengalirkan kehangatan di setiap deru nafas yang ku dengar. Eunwoo adalah seorang kakak, sekertaris, koki, sahabat, sekaligus musuh yang sangat berarti dalam hidupku.


  "Aku menyayangi mu eunwoo." Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Eunwoo yang juga di balas sama olehnya.


  "Aku juga menyayangi mu hyerin."


***


  Aku berjalan di antara kerumunan tamu undangan yang menatapku dengan penuh rasa penasaran, berjalan pelan dengan segala keanggunan yang sebisa mungkin aku ciptakan, ya.. Karena kalian pasti tahu aku lebih memilih berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai kedepan altar.


Namun sekali lagi ini adalah pesta pernikahanku, dan aku harus menciptakan kemistri bahwa aku bahagia dengan pernikahan ini. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada eunwoo, berusaha menghilangkan rasa gugup yang melanda secara tiba tiba, karena tatapan banyak orang terpusat pada diriku.


  Eunwoo yang merasakan kegugupanku, memberikan kontak mata agar aku tetap tenang dan menarik nafas pelan. Aku mengangguk menuruti permintaan eunwoo, menarik nafas panjang agar rasa gugup ku hilang.


  Aku sudah sedikit tenang, aku kembali berjalan menuju altar untuk menemui jimin yang sudah menunggu disana, dengan tuxedo berwarna hitam putih, jimin sungguh sangat tampan, tak pelak hal itu membuatku menerbitkan sebuah senyum.


Eunwoo memberikan telapak tangan ku pada jimin yang sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut tanganku, sambil tersenyum menatapku jimin membuatku terpesona.


  "Jaga dia baik baik." Ucap eunwoo berjalan pergi meninggalkan aku dan jimin di atas altar.


  Juon yang mengikuti langkah ku bersama dengan eunwoo tadi, memposisikan dirinya di samping pendeta sambil memegang seikat bunga yang sudah di tata sedemikian mungkin.


"Kau sudah siap?" Bisik jimin pelan padaku, aku mengangguk mantap sebagai jawaban pertanyaan jimin.


  Setelahnya acara pengucapan janji suci di mulai, pendeta membacakan janji suci yang harus di sanggupi oleh jimin sebagai suamiku.


  "Apakah hyerin bersedia menerima jimin sebagai pendamping hidupmu?" Tanya pendeta padaku.


  "Saya bersedia." Jawabku gugup karena pandangan jimin yang sangat terpaku penuh padaku.


  "Silahkan kalian bertukar cincin." pernitah pendeta, jimin mengeluarkan kotak merah dari saku jasnya, jimin mengambil satu cincin dan menyematkan nya di jari manisku. Aku pun sebaliknya menyematkan cincin couple itu di jari manis jimin.


Sebagai tanda bahwa aku dan jimin sudah sah menjadi suami istri.


   Aku sudah menikah


   Dengan lelaki yang tak kukenal sebelumnya, mengarungi hidup bersama tanpa rasa cinta.


   Begitulah hidupku yang penuh dengan drama.


   Tersenyum pun hanya sebatas pura pura.


   "Mempelai pria bisa mencium mempelai wanita." Perintah pendeta yang langsung membuat mataku melotot, apakah harus begitu? Aku tak tahu.


Tapi yang kulihat tamu undangan bersorak sorai dengan penuh semangat, aku semakin gugup, pasalnya ini adalah ciuman pertamaku?


  Aku berani bersumpah! Selama 28 tahun hidup aku belum pernah berciuman dengan lelaki, dan kali ini? Aku harus berciuman dengan lelaki yang tak pernah aku cintai? Tak adil rasanya!


  Tapi yang kulihat jimin sudah menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan, tak lama jimin menempelkan bibirnya seksinya kebibirku, aku tidak tahu cara berciuman jadi aku memutuskan untuk diam menerima ciuman jimin.


Yang kutahu jimin hanya menempelkan bibirnya, tak melumat atau memaksaku untuk membalas ciumannya.


Mungkin jimin tahu bahwa aku tak bisa berciuman, persetan dengan belajar berciuman, aku merasa sesak nafas karena jimin belum melepas pangutannya dari bibirku.


  Ini gila! Aku bisa mati.


Aku menarik jas yang digunakan oleh jimin, memberi tahu aku sudah tak kuat dan aku butuh oksigen.


  Jimin melepas ciumannya dan itu dimanfaatkan olehku untuk mengambil nafas sebentar, selain tampan jimin juga sangat agresif.


.


SAH! akhirnya jimin sama hyerin udah nikah:) bahagia aku, btw nih jimin ciuman didepan umum aja agresif nya minta ampun, apalagi nanti pas malem pertama:v ups!


Rahasia dong, pokonya bab depan bakal ada cerita malam pertama jimin dan hyerin.


Jangan lupa vomment yang guy's:)