Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
request



"Tentu saja tidak eomma, kami tidak memiliki masalah apa-apa." Aku tersenyum manis pada nyonya park, menyembunyikan senyuman kecut dari wajahku mengingat aku kembali berbohong demi mempertahankan hubunganku dengan jimin yang jelas-jelas pasti akan berakhir.


"Baguslah." Jawab nyonya park, setelahnya ia duduk disofa sambil mengambil beberapa majalah lalu membacanya.


"Eomma aku akan kembali membantu ahjumma jiena untuk memasak." Izinku pada nyonya park, nyonya park hanya mengangguk aku juga memutuskan pergi kedapur untuk membantu ahjumma jiena.


Tak lama setelah aku memasak, terdengar suara nyaring nyonya park dari ruang keluarga, aku yang masih menggunakan apron segera berlari melihat keadaan nyonya park.


"Kenapa eo-" Ucapan ku terhenti ketika melihat jimin yang sudah berdiri dihadapan nyonya park, dengan nyonya park yang menatap galak pada jimin.


"Kau ini dari mana saja? Jogging dan baru kembali sekarang?" Nyonya park marah pada jimin, aku yakin marahnya bukan yang bersungguh-sungguh, mungkin dia hanya menakuti jimin.


Jimin menatap ku, memberikan interupsi padaku tentang apa yang dikatakan nyonya park tentang jogging.


Aku mengangguk meng-iyakan bahwa memang benar jogging adalah alasanku, agar jimin tidak mendapatkan masalah.


"Aku sempat pergi beolahraga dulu eomma." Jawab jimin sambil menyisir rambutnya yang basah, aku terdiam rambut jimin basah? Apakah dia sudah mandi?


"Ya sudah, kau ini sama sekali tidak menghargai istrimu sendiri." Omel nyonya park lagi sambil mencubit perut jimin, membuatnya mengaduh kesakitan.


"Aduh sakit eomma." Jimin menggerutu namun tidak lama dia pergi meninggalkan aku dan nyonya park yang sudah menggeleng gelengkan kepalanya, pening dengan tingkah anaknya.


Aku yang melihat kepergian jimin ikut menyusulnya untuk sekedar meminta penjelasan.


Kulihat dia sedang mendudukan tubuhnya diatas ranjang, jimin terlihat sangat kelelahan, raut wajahnya begitu menampakkan bahwa dia tidak baik-baik saja.


"Kau baik?" Tanya ku menghampiri jimin, dia sempat mendongak untuk menatap ku tapi setelahnya dia membuang muka.


"Kau yang mengatakan pada eomma bahwa aku pergi jogging?" Tanya jimin pada akhirnya, aku mengangguk mencoba meraih selimut yang berada diatas ranjang lalu melipatnya.


"Aku tidak mempunyai alasan yang masuk akal untuk membohongi eomma." Aku tersenyum getir, sejujurnya semalaman aku sangat khawatir dengan jimin lelaki ini tidak kembali dan tidak memberikan ku kabar sedikitpun.


"Maaf aku lupa mengabarimu." ucapnya dengan suara parau, aku hanya tersenyum kembali berkutat membereskan baju jimin yang berserakan.


"Tidak apa, itu hak mu untuk pergi kemanapun yang kau mau." Jawabku tanpa menatap jimin dan diriku masih terfokus pada pekerjaanku.


"Mau ku siapkan air hangat?" Aku bertanya pada jimin yang terlihat melamun, membuang nafas kasar aku ikut duduk disamping jimin.


"Kau baik-baik saja?" Aku menyentuh pundak jimin, membuatnya tersentak kaget dia kembali gusar mengusap wajahnya kasar.


"Aku baik, apa yang ingin kau katakan?" Aku memutar bola mata jadi, sedari tadi dia tidak mendengarkan ucapanku sama sekali.


"Kau mau mandi tidak? Aku akan menyiapkan mu air hangat." Tawar ku lagi untuk kedua kalinya, jimin nampak berfikir namun setelahnya ia menjawab.


"Tidak usah aku sudah mandi, siapkan saja baju kemeja ku." Jawab jimin, aku menelan saliva kasar, berfikir lah positif hyerin, mungkin jimin pergi menuju rumah temannya, mungkin semalam jimin menginap dihotel.


Bisa saja kan?


Aku hanya mengangguk samar, berjalan menuju lemari milik jimin yang telah kusediakan khusus agar dirinya tak kesulitan saat mencari baju atapun celana.


Membuka lemari kayu itu dengan pelan sambil memilih berbagai kemeja dan jas yang biasa jimin gunakan kekantor, mungkin hari ini dia akan pergi kekantor.


"Jim... Kau mau kekantor?" Tanyaku sambil menolehkan kepala pada jimin yang masih terduduk diatas tempat tidur.


"Ya aku akan pergi kekantor." Aku mengangguk paham, kembali memilihkan kemeja dan jas untuk jimin.


Setelah mendapatkan setelan jas untuk jimin aku meletakannya diatas tempat tidur, masih tak melepaskan pandanganku dari jimin yang masih terdiam.


"Aku akan turun menemani eomma, jika kau sudah selesai jangan lupa sarapan pagi." Jelasku hendak berjalan pergi meninggalkan jimin, aku tidak mau lagi bertanya tentang keadaan jimin, mungkin dia sedang mempunyai masalah.


"Hyerin... Tunggu." Jimin mencekat lenganku sebelum aku berjalan menuju pintu untuk pergi.


"Ya kenapa?" Aku berbalik mengurungkan niatku untuk pergi kebawah, menatap jimin dengan tatapan bingung.


Tanpa aku sadari jimin menarikku dalam pelukannya, aku terkejut dengan apa yang dilakukan oleh jimin aku terdiam dalam pelukan jimin tidak menolak dari pelukan jimin.


"Jim... Kau kenapa?" Tanya ku dengan suara pelan, masih berada dalam dekapan seorang jimin yang bersikap sangat aneh.


"Maafkan aku hyerin... Maaf... " Ucap jimin dengan suara pelan, dia terus mencium pucuk rambutku tanpa henti jimin juga mengusap punggungku dengan lembut, seperti tak rela untuk melepaskan diriku dalam pelukannya.


"Maaf... Maaf kan akuu maaf... " Tambah jimin dengan nada yang semakin membuatku khawatir.


Aku tak berani mengatakan apapun hanya bisa terdiam, ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh jimin.


"Maaf sekali lagi hye maaf."


Setelah dirasa cukup jimin melepaskan pelukannya padaku, aku tersenyum menatap nya dengan tatapan sendu mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.


"Sudah? Kalau begitu cepat pakai baju mu, aku akan menemani eomma dibawah." Ucapku sambil pergi meninggalkan jimin yang masih terpaku diam ditempat.


Entah mungkin perasaanku, tapi aku merasa ada yang jimin sembunyikan apapun itu kuharap tidak akan pernah membuat salah satu diantara kami terluka.


Dibawah kulihat nyonya park sedang meminum teh sambil menonton televisi, aku sempat merasa bersalah pada nyonya park karena meninggalkannya terlalu lama.


Aku ikut duduk disamping nyonya park, "Sudah bermesraannya? Lama sekali sampai eomma pikir kalian lupa batas." ujar nyonya park dengan nada sedikit kesal, tentu saja ia kesalkan dirinya dibiarkan menunggu disini.


"Maaf eomma... Tadi aku menyiapkan baju jimin terlebih dahulu." Jawabku jujur, yah memang kami berdua tidak melakukan apa-apa.


"Ya sudah eomma paham, sekarang mana jimin?" Tanya eomma, belum sempat menjawab sudah kulihat jimin turun dari tangga, kemejanya masih belum terkancing seluruhnya hingga membuat dada bidang jimin terlihat, jasnya yang ia sampirkan dibahu kanannya dan dasinya yang ia ikat di bagian telapak tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk untuk mengakancingi lengan kemejanya.


Aku yang melihat keadaan jimin dengan cepat menghampirinya, lalu mengambil dasi yang ia lilit ditelapak tangannya, membenarkan kerah kemejanya yang berantakan, merapihkan kancing jimin, setelahnya aku memakaikan dasi pada jimin.


Mengusap dasi itu pelan setelah dengan bagus terpampang rapi dikemejanya, aku juga memakaikan jas milik jimin lalu merapihkannya lagi agar tidak kusut.


Jimin sedari tadi hanya tersenyum kecil melihat kesiggapan ku dalam mengurus keperluannya, walau baru beberapa bulan menjadi seorang istri untuk hal seperti itu sudah sering kulakukan pada appa ku.


Setelah beres merapihkan keadaan jimin, jimin mencium keningku dihadapan nyonya park, oh tidak jimin! Nyonya park memperhatikan kita.


Aku tersenyum kikuk, setelahnya memukul dada jimin pelan dasar dia itu penggoda yang mencari kesempatan, tidak malu padahal sedang berada dihadapannya nyonya park.


Jimin menghampiri nyonya park lalu mencium keningnya, sama seperti yang ia lakukan padaku.


"Eomma senang jim, pekerjaan eomma dulu sudah digantikan oleh hyerin..." Senyum nyonya park terpancar jelas, bahkan dia menatapku dengan terang-terangan menyatakan bahwa ia senang karena sekarang jimin sudah memiliki pendamping.


"Iya semua ini berkat eomma." Jawab jimin ia juga melirikku yang masih terdiam dengan sebuah senyuman yang berusaha aku tahan.


***


Kami bertiga sudah berada dimeja makan untuk menyantap sarapan pagi, meja makan pagi ini cukup hangat karena beberapa candaan yang dilontarkan oleh nyonya park dan jimin yang membuat meja makan menjadi riuh.


"Eomma senang kalian berdua sangat harmonis, eomma pikir hubungan kalian tidak akan pernah baik mengingat kalian menikah sangat mendadak."


Aku tertawa garing, heol seandainya nyonya park hubungan kami tidak pernah dari kata 'Baik' yah walau setidaknya aku sudah mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan jimin.


Jimin memang tidak pernah menggamblangkan secara langsung kalau dirinya keberatan dengan pernikahan ini, tapi aku jimin tidak pernah tulus dalam menjalin hubungan ini.


Walau jimin mencoba mengajakku untuk berhubungan seperti berpacaran, tapi rasanya akan selalu berbeda karena diantara kami berdua tidak ada rasa cinta.


"Oh yah, apa selama beberapa bulan ini menunjukan sesuatu? Seperti mual atau muntah dipagi hari?" Tanya nyonya park pada kami berdua, karena pertanyaan itu membuat ku paham, seketika suasana ruang makan sukses menjadi hening.


Jimin tidak membuka suara dan aku memilih diam, aku tahu nyonya park bertanya apakah aku hamil, tapi itu tidak mungkin jangankan untuk hamil melakukan hubungan saja aku tidak pernah.


"Kalian tidak menunda program kehamilan bukan? Eomma dan appa ingin segera menimang cucu." Ucap nyonya park lagi membuat aku semakin merasa bersalah, jujur aku masih tidak sanggup jika harus menyerahkan seluruh kebahagiaan ku pada jimin.


"Eomma kenapa appa tidak ikut kesini?" Tanya jimin yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya, appa bilang dia harus pergi kekantor karena urusan mendadak." Jawab nyonya park membuat aku menghela nafas panjang, untung saja jimin segera mengalihkan pembicaraan ini, jika tidak bisa berakibat panjang.


Setelahnya kami bertiga kembali sibuk dengan makanannya masing-masing.


***


Setelah nyonya park pergi, jimin dan aku kini sedang duduk diruang keluarga, ini kemauan jimin dan entah apa yang ingin ia bicarakan yang jelas aku tidak tahu.


"Jim ada apa?" Tanyaku melihat raut wajah serius jimin, tatapannya seperti mengisyaratkan sesuatu hal tapi sama sekali tidak bisa kutebak.


"Hyerin... Apa kau memikirkan yang dikatakan oleh eomma?" Tanya jimin setelah hampir 10 menit kami berdua saling berdiam diri.


"Maksudmu?" Tanya ku tidak paham dengan pertanyaan yang dia berikan padaku.


"Maksduku, kau seharusnya segera mengambil keputusan, sepertinya eomma sudah sangat tidak sabar dengan kehamilan mu hyerin." Jelas jimin.


Entah kenapa ucapan jimin malah membuat rasa sakit menjalar diseluruh hatiku, ucapan seperti mengatakan bahwa aku seorang wanita yang telah menghambat kebahagiaan nyonya park.


Dan juga terkesan aku ini wanita jalang, aku tidak tahu namun aku merasa seperti itu.


Ucapannya jimin juga menjadi sebuah tamparan bagiku, bahwa aku tidak akan pernah bisa memperbaiki hubungan dengan jimin, ataupun mencintainya karena sedari awal kita memang hanya saling memanfaatkan.


***