
Aku membuang nafas kasar, ketika menyadari hari ini aku berjalan dalam diam tanpa seorang pun yang mendampingiku, hari ini aku memutuskan untuk pergi keluar rumah, meninggalkan aktivitas rutin yang biasa kulakukan.
Cuaca kota seoul cukup dingin siang ini, diawal bulan desember ini yang kuharapkan salju akan datang, karena hal itulah yang kutunggu sedari awal tahun kemarin, salju.
Sambil menatap langit aku duduk disalah satu bangku yang berada dipinggir sungai han, entahlah aku tiba tiba merasa rindu dengan sungai ini, penuh kenangan dan banyak cerita yang tak terlupakan.
Setelah hari dimana aku menjawab, mau, lebih tepatnya menerima ajakan jimin untuk berpacaran, semuanya berjalan seperti biasanya, aku menjalankan aktivitas ku sebagai seorang suami, aku memberikannya sarapan, mencuci pakaiannya, memasak, menyiapkan air hangat, dan yah rutinitas lain yang biasa dilakukan oleh seorang istri.
Hanya saja satu hal yang tak pernah kulakulan pada jimin untuk memenuhi kewajibanku, yaitu memberikan seluruh diriku untuk jimin, biarkan, jimin juga tak terlalu memaksa, aku belum siap dengan semua ini.
Aku belum siap jika menyerahkan seluruh milikku pada jimin, mungkin waktu yang akan menjawabnya.
Aku menengguk americano latte yang kubeli dipinggir jalan tadi, rasanya hangat dan tenang sekali aku merasa seluruh beban ku terangkat, selama berhubungan dengan jimin sebagai suami istri aku tak pernah merasa ketenangan yang seperti ini, eunwoo benar aku memang membutuhkan me time untuk diriku sendiri.
Ngomong ngomong soal eunwoo, aku sudah tak lagi bekerja, jimin melarang ku dan sekarang dia yang mengambil alih seluruh unit perusahaan, lagi pula aku memang tak terlalu tertarik dengan bisnis, dan yah sekarang pekerjaan ku hanya menjadi seorang istri.
"Hai?" aku menoleh ketika merasa ada seseorang yang duduk disamping ku, aku melihatnya wajahnya tak terlalu jelas karena tertutup masker yang ia gunakan dan juga topi yang menutupi separuh matanya.
"Siapa?" Tanyaku sambil memperhatikan setiap inci wajahnya walaupun hanya bagian mata yang terlihat. "Ini aku..." lelaki itu membuka masker yang dipakai olehnya dan betapa terkejutnya aku karena lelaki ini adalah lai guanlin.
"Alin?" Aku terkejut sambil menatap guanlin dengan serius, guanlin hanya tersenyum lalu membuang nafas kasar, mengalihkan pandangannya pada indahnya sungai han.
"Kenapa kau ada disini? Bagaimana kalau paparazzi melihatmu? Kau gila alin." Kataku ketakutan, oh hei? Guanlin adalah seorang model dan aktor terkenal, mempunyai banyak fans, bagaimana jika sesaeng ataupun media melihat ini semua, hancur sudah karir guanlin.
"Tak apa, itu tidak akan terjadi jika kau mau menutup mulut." Jawab guanlin dengan angkuh tanpa menatapku. "Cih, dasar" aku memutar bola mata malas, kenapa dia masih begitu santai, lelaki gila.
"Lalu apa tujuanmu kemari?" Tanyaku, aku tahu guanlin memiliki tujuan lain menemui ku disini. "Hanya sekedar menemani seseorang yang merasa bosan dengan kehidupan." jawab guanlin, aku melebarkan kedua mataku, apa sebenarnya mau guanlin, apakah dia gila? Perkataannya tidak masuk akal.
"Hyerin..." lirih guanlin, dia mengalihkan pandangannya padaku, menatap ku dengan lembut, aku terenyuh sejujurnya aku rindu tatapan ini, tatapan yang lembut yang seolah mengatakan bahwa aku adalah miliknya seorang.
"Aku tahu kau tidak bahagia dengan pernikahanmu, aku tahu semua ini hanya keterpaksaan karena wasiat kedua orang tuamu." Ucap guanlin tak lepas dari padangannya padaku, aku hanya diam ikut hanyut dalam perkataan guanlin.
"kau tahu? Kita berpisah hanya gara gara kedua orang tua mu tak merestui hubungan kita, tapi sejujurnya aku masih mencintai mu hyerin, bahkan hingga sekarang... Semua rasa cintaku tak pernah sedikitpun berkurang padamu." Jelasnya, aku hanya diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh guanlin selanjutnya.
"Aku tahu kau bahkan belum melakukan kewajibanmu pada suami mu, benarkan?" Tanya guanlin, aku melotot kaget, apakah terlalu kentara sehingga orang lain bisa mengetahui bahwa aku belum melakukan hubungan dengan suami ku?.
"Jadi benar? Padahal aku hanya asal menebak." Jawab guanlin, ah sialan guanlin menipuku, kupikir dia benar - benar mengetahuinya.
"Kalau begitu, aku akan langsung mengatakannya, jika kau merasa lelah kau bisa datang padaku, aku akan menerimamu, jika kau memang ingin meninggalkan jimin aku akan membantumu, karena sejujurnya aku masih benar benar mencintaimu hyerin." setelah mengatakan hal itu guanlin memelukku dengan erat, aku hanya terdiam mencerna segala kalimat yang di ucapkan oleh guanlin.
Semua yang di ucapkan olehnya benar, aku tak bahagia dengan hubungan ini, aku tak menyukainya, aku lelah dengan hubungan ini, aku juga masih memiliki rasa pada guanlin.
"Aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik." Guanlin beranjak dari duduknya, lalu mengusap pelan pucuk rambutku. "Kau mau kemana?" Tanyaku kemudian, guanlin melirikku kembali tersenyum dengan manis. "Aku akan pergi ke luar negeri, urusan bisnis." Jawabnya, setelahnya pergi meninggalkan ku sendirian, dengan keadaan yang tidak baik baik saja.
Lihatlah bahkan tuhan masih saja membuat kehidupanku begitu rumit dengan berbagai pilihan yang tak dapat ku tentukan, apa yang harus ku pilih bertahan atau berpaling.
Bersama dengan seseorang yang sudah di tangan, atau mengejar seseorang yang membuat kenyamanan?
Aku belum menemukan jawabannya, mungkin waktu akan memberi tahu segalanya, segalanya.
***
"Aku pulang... " Aku melirik ke arah ruang tamu ketika mendengar suara jimin, mungkin dia sudah datang, aku segera menemui jimin untuk membantu membawakan barang barangnya.
Dan benar saja, itu jimin, dengan kemeja berwarna biru mudanya, dia meletakan asal tas hingga sepatunya, aku menggeleng lalu mengambilnya satu persatu.
"Bagaimana harimu?" Tanyaku pada jimin yang tengah menyandarkan kepalanya disandaran sofa. "Cukup melelahkan." Jawabnya singkat, aku mengangguk mendekati jimin untuk mengambil jas dan dasi yang masih mengikat dikerah kemejanya.
"Mau mandi dengan air hangat? Atau dingin?" Tanyaku lagi, tapi yang kulihat jimin diam tak menjawab apa apa, dia hanya memejamkan matanya, aku kebingungan aku menatap jimin, ikut duduk sampingnya. "Hei? Kau kenapa?" Aku memegang dahi jimin, dan rasanya hangat.
"Aku baik-baik saja... "Paraunya, aku tahu bahwa jimin tidak baik-baik saja, aku berlari menuju dapur untuk mengambil air panas, untuk mengkompresnya.
Dengan sedikit panik aku menyuruh jimin untuk membaringkan tubuhnya di sofa, aku segara mengkompres dahinya dengan air panas, kenapa dengan jimin?
"Yeonji... Yeonjiii..." Aku mendengar jimin menyebutkan nama seseorang, aku terdiam sebentar dan ternyata jimin sedang mengigau, "Yeonjiii....yeonjii jangan pergi.." Tiba tiba aku melepaskan kain itu di dahi jimin, berjalan meninggalkan jimin untuk mengambil selimut untuknya.
Aku merasa sesuatu seperti menikam hatiku, yeonji? Siapa yang jimin maksud? Siapakah yeonji? Aku menepis segala pikiran negatif ku tentang gadis bernama yeonji, lagi pula itu bukan urusanku, aku tak peduli dengan jimin, ini hanya pernikahan yant tidak pernah ku inginkan, tak perlu dianggap serius.
Menyelimuti tubuh jimin, menatapnya sebentar, entah apa yang terjadi dengan diriku, air mata ini tidak bisa kutahan, kenapa otak dan hati ini saling berbeda pendapat.
Otakku berkata, ini tak ada sangkut pautnya denganku, aku tidak peduli dengan jimin.
Tapi mengapa hatiku merasa kan sebuah sakit yang teramat dalam.
Aku berjalan meninggalkan jimin, sambil mengusap air mata ku yang sudah membasahi kedua pipiku, aku membutuhkan seseorang untuk menenangkan perasaanku. Yang seperti sudah terlalu terluka.
Aku menggunakan hoddie ku lalu berjalan menuju balkon kamarku dan jimin, malam ini bintang bersinar dengan terang, aku duduk menatap langit, menghapus kasar air mataku yang tak berhenti-henti menggenangi kedua mataku.
aku lelah jujur aku sudah tak sanggup, bersembunyi dibalik pernikahan ini, aku tak bisa, aku tak bisa untuk tidak mencintai jimin, semua ini terlalu rumit, guanlin benar aku tak akan sanggup menjalani ini semua, aku benar benar tak sanggup.
Haruskah aku menyerah?