
Aku membuka kedua mataku karena cahaya matahari yang menelusup pada kedua mataku. Aku mencoba menahan jeritan ketika merasa sakit yang teramat luar biasa pada miliku.
Mendudukan tubuhku pada kasur sambil meremat selimut yang masih menutupi tubuhku. Aku mengedarkan pandangan ku untuk mencari keberadaan jimin, dan aku mendapatkan lelaki itu masih tertidur di sampingku. Ku lirik jam dinding yang ada di kamar ku dan aku terkejut karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Tidak seperti biasanya aku bangun terlambat seperti ini. Apa jimin tidak akan pergi ke kantor?
Tubuhku sungguh sangat ngilu, mengingat permainan jimin semalam membuat ku meringis, jimin sangat brutal semalam hingga membuatku benar benar menghabiskan seluruh tenagaku.
Dan sekarang aku kelelahan, aku ingin beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil pakaian ku yang tercecer di lantai. Sungguh ini memalukan, tapi aku tidak sanggup untuk sekedar menggerakan kakiku karena rasa sakit yang teramat besar.
Mencoba mengacuhkan rasa sakitnya dengan memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur. Tapi lagi-lagi aku tidak sanggup hingga membuatku terjatuh diatas tempat tidur.
Aku terkesiap ketika merasakan sebuah tangan kekar melingkar di bagian perutku membuat tubuhku kembali ambruk di atas tempat tidur. Aku tahu siapa pelakunya yang tidak lain adalah jimin, setelahnya yang kurasakan adalah degup jantung jimin dan juga deru nafasnya yang begitu pelan, menggelitik leherku.
Tangan kekar jimin masih setia mendekap tubuhku, jimin juga tidak segan untuk menaruh dagunya pada bahuku. Aku hanya menutup mata mendapati kejadian pagi ini, merasa tidak enak dengan sikap jimin karena aku dan dirinya sama sekali belum menggunakan sehelai pakaianpun. Aku takut hal semalam akan terulang kembali, dan aku sungguh geli jika membayangkan hal itu.
"Jim... Aku ingin mandi." Ucapku sambil menarik tangan jimin dari pinggangku.
"Biarkan seperti ini hyerin, aku tahu rasanya sakit sekali." Bisik jimin dengan suara halus yang membuat darahku berdesir. Suara sungguh seksi.
"Tapi jim-"
"Sstt... Aku yang akan membantu mu. Kau sekarang beristirahat saja, aku tahu itu sakit." Tanpa aba-aba jimin membalikan tubuhku sehingga membuat posisi ku saling berhadapan dengan jimin.
Aku terdiam terus memperhatikan wajah damai jimin yang tengah memejamkan matanya, jujur lelaki yang ada di hadapanku ini adalah lelaki yang sempurna, dia tampan, dia pintar, dia juga kaya.
Dan kenapa nasibnya harus buruk? Dengan menikah dengan seorang wanita sepertiku, yang jelas dia tidak akan bahagia.
Aku terkejut saat tangan jimin meraih tanganku lalu menyimpannya di pipinya, membiarkan diriku merasakan hangat dari tubuhnya.
"Terimakasih hyerin, kau telah percaya padaku." Jimin langsung mencium keningku, aku merasa pipiku sangat panas jimin berhasil membuatku bulshing.
"Aku tahu semua ini berat bagimu, tapi ku yakinkan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencintaimu."
Aku tersenyum tipis langsung membalas pelukan jimin padaku. Aku akan mencoba memberikan kepercayaan ku padamu, walau aku tahu selamanya kau tidak akan pernah tulus mencintaiku.
***
"Jim, kau benar tidak akan bekerja?" Tanyaku sambil berjalan menuruni tangga dengan hati-hati, rasanya masih saja perih padahal aku sudah memakaikan salep agar rasa sakitnya hilang.
Jimin yang tengah membawa sebuah nampan langsung meletakan nampan itu pada sebuah nakas yang tersedia di sampingnya. Dengan cepat menghampiriku.
"Sudah ku katakan, kau beristirahat saja." Jimin membopong langkahku untuk menuruni tangga.
Aku tersenyum tipis dengan sikap jimin yang pengertian padaku. "Padahal aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Jimin masih menuntun langkahku.
"Maaf, aku merasa tidak betah jika terus berada di dalam kamar." Aku terkekeh pelan mengingat sikapku sendiri yang tidak akan betah jika berada di dalam kamar.
"Ya sudah. Masih sakit ya?" Tanyanya memberikan lirikan pada miliku dengan segera aku memukul dadanya pelan, jangan sampai miliknya bangun, sudah cukup sewaktu malam dan pagi tadi dia membuatku merasakan surga dunia lagi.
Dan aku sudah sangat kelelahan untuk melayani keinginan jimin.
"Sakit." Jimin meringis karena pukulanku pada dadanya yang cukup keras.
"Jaga matamu, aku sudah tidak sanggup jika harus melakukan hal itu lagi." Jelas ku sambil menatap kedua mata jimin.
"Ya. Aku tahu." Jimin memberikan sebuah senyuman manis padaku, dan saat itu pula jimin mengangkat tubuhku seperti koala agar bisa dengan cepat melewati tangga ini.
Setelahnya jimin menurunkan tubuhku dari gendongannya, mendudukan ku di kursi meja makan.
"Sekarang kita sarapan."
"Apakah kau yang memasak semua ini?" Tanyaku ketika mendapati makanan yang terjejer rapih di atas meja makan.
"Tentu saja." Jawab jimin dengan nada suara yang terdengar angkuh dan menyombongkan diri.
Aku tertawa pelan bagaimana seorang park jimin bisa berbohong di saat semuanya jelas bahwa ahjumma jiena lah yang memasak.
"Ya, terserah." Karena tidak ingin membuat masalah dan berdebat lebih panjang dengan jimin, aku akhirnya mengalah.
Setelahnya suasana meja makan kembali hening, kami berdua sibuk dengan makanan masing-masing. Tidak ada pembicaraan maupun hal yang perlu di obrolkan.
***
Aku bersama jimin tengah menonton sebuah film di layar televisi, film action yang sangat aku sukai. Tapi, entah dengan jimin karena lelaki itu sama sekali tidak berkomentar dengan cerita yang sedang kami tonton.
Tanganku tidak berhenti menyuapkan popcorn kedalam mulutku. Sebelumnya aku sangat ingin sekali menonton film di bioskop tapi dengan keadaan ku yang sekarang tidak akan memungkinkan aku untuk pergi ke bioskop. Jadilah aku menonton film di rumah, bersama dengan jimin.
"Kau suka filmnya?" Tanyaku tidak mengalihkan pandanganku dari layar televisi.
"Tidak terlalu." Jawabnya jujur aku hanya ber-oh ria karena yang ingin menonton film adalah aku, bukan jimin.
"Kau suka film action seperti ini?" Tanyanya, aku hanya mengangguk mantap masih fokus pada filmnya.
Setelah aku menjawab Jimin tidak bertanya apa-apa lagi, aku pun memutuskan untuk fokus pada filmnya.
Sampai suara dering ponsel membuyarkan ketenangan ku bersama dengan jimin. Jimin dengan segera mengambil handphone miliknya yang berdering mengangkatnya lalu berjalan menjauh dari ku, aku mencoba tidak peduli dengan urusan jimin kembali menatap layar televisi.
Tak berselang lama aku melihat jimin kembali dengan wajah yang sangat ketakutan, aku menyeritkan alis bingung kenapa dengan jimin?
"Hyerin aku harus segera pergi. Ada urusan kantor mendadak." Jelasnya, tanpa mendengarkan jawaban ku jimin sudah berlalu dengan mengambil jaket miliknya.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah jimin yang aneh, tidak lagi berpikiran negatif dan meneruskan acara menonton filmku.
Walau sebuah rasa sakit menghujam hatiku, karena tahu bahwa pekerjaan lebih penting dari pada diriku.
***
Pada pagi ini jimin sudah berangkat menuju kantor. Ya, seperti rutinitas ku biasanya aku selalu menyiapkan sarapan untuk jimin, menyiapkan pakaian kerja untuknya dan juga air panas tentunya.
Aku terdiam di pinggir meja kerja kedua orang tua ku dulu, mengusap wajah kasar karena diriku lupa membawa berkas tentang data pribadiku yang ku simpan di kantor.
Padahal aku sedang membutuhkan data-data itu untuk kepentingan pengembangan tentang desain bajuku.
Aku berpikir sebentar, sambil mengetukan kuku ku pada meja kerja appa. Sepertinya aku harus kekantor untuk mengambil berkas itu. Walau aku bisa meminta tolong pad jimin tapi dia sibuk, dan aku membutuhkannya sekarang.
Dengan langkah cepat aku mengganti baju ku, sebenarnya aku hanya menambahkan rok mini karena saat ini aku tengah menggunakan kemeja kebesaran. Tidak perlu memakai make up tebal aku hanya memberikan sebuah lipstik pada bibir naturalku.
Dan selesai aku hanya memiliki gaya simple ini untuk menuju kantor, sudahlah lagi pula aku bukan lagi karyawan disana.
Untuk menuju kantor aku mengeluarkan mobil purchase miliku dari dalam bagasi, kebetulan mobil ini sudah jarang di gunakan oleh ku.
Sesampainya di parkiran bawah tanah perusahaan kedua orang tua ku, aku segera memasuki pintu utama yang sangat besar. Hal yang pertama aku lihat adalah minji resepsionis I.D.C. Grup yang sudah lama bekerja disana.
Minji yang melihat kedatangan ku langsung menyapa ku dengan sebuah senyuman. "Annyeong haseyo."
"Ne. Annyeong haseyo minji-ahh" sapaku juga aku mendekat pada minji untuk sekedar membiarkan sebuah senyum.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya minji, aku menggeleng karena memang aku tidak membutuhkan bantuan minji.
"Tidak ada, saya di sini hanya ingin mengambil beberapa berkas milik saya yang tertinggal" Jelasku pada minji, minji hanya menangguk paham.
"Ingin saya antar?" Tawar minji dengan segera aku menggeleng menolak tawarannya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Jawabku, aku tersenyum sambil meninggalkan tempat minji berada.
Berjalan menuju lift untuk menuju lantai atas dimana itu adalah ruangan kerja ayahku.
Sesampainya di ruangan tempat appa ku dulu, aku melihat eunwoo tengah membereskan beberapa barang-barang yang ada di atas meja kerja.
Aku langsung berlari untuk menyapa eunwoo, sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya lagi. Karena eunwoo sibuk dan aku pun menyibukkan diri dengan urusan rumah tangga.
"Eunwoo!!" Teriak ku pada lelaki dengan wajah yang sangat tampan itu.
Eunwoo yang mendapatkan teriakan kencang dari ku langsung menatap ku dengan tatapan tajam, lalu memutar bola mata jengah karena tingkahku.
"Hyerin, astaga kau sudah berumah tangga tapi sikap mu tetap seperti ini." Omel eunwoo, aku mengabaikan ucapan euwnoo dan langsung memeluknya erat.
"Rinduu" Ucapku masih memeluk eunwoo dengan erat.
Aku melepaskan pelukan ku sambil menatap eunwoo lekat-lekat. "Aku tidak berbohong saat aku mengatakan bahwa aku benar-benar merindukan mu, woo dan juga sehun." Jelasku.
Ku lihat sebuah senyum mengembang dari wajah eunwoo. Eunwoo langsung mengusap rambutku. "Ya. Aku juga merindukanmu hyerin." Ucap eunwoo aku tertawa hingga menujukan deretan gigiku.
"Lalu ada apa kau datang kemari?" Tanya eunwoo, aku mengabaikan pertanyaan eunwoo terus mencari berkas data diriku pada lemari arsip perusahaan.
"Ketemu!" Aku berteriak senang saat menemukan berkas itu, aku memeluknya dengan sangat erat karena memang ini yang sangat aku butuhkan.
"Apa itu?" Tanya eunwoo saat melihat diriku membawa map.
"Beberapa data akademik tentang diriku." Jawabku, eunwoo hanya menangguk paham kembali meneruskan tugasnya.
"eunwoo? Bukankah kau harus ikut rapat dengan jimin?" Tanyaku, pada saat berangkat dari rumah jimin berkata akan ada rapat bersama investor dalam sebuah proyek terbarunya.
Tapi kenapa sekarang eunwoo tidak ikut dengan jimin?
"Tidak ada hye? Hari ini tidak ada jadwal rapat penting." Jawab eunwoo.
Aku menatap eunwoo sambil membelalakan kedua mataku, bagaimana bisa jimin pergi rapat sedangkan pada jadwal eunwoo tidak ada rapat.
Ayo berpikir positif hyerin, berpikir positif mungkin yang jimin maksud adalah perusahaan keluarganya.
"Ah mungkin yang jimin maksud adalah perusahaan milik keluarganya." Jelasku pada eunwoo.
Eunwoo tidak menanggapi ucapanku, aku juga tidak ingin berpikiran jelek tentang jimin. Cukup percaya jika dia memang berbohong suatu saat aku yakin, semua akan terbongkar dan ini semua akan segera berakhir.
"Hyerin kenapa kau tidak lagi bekerja di sini?" Tanya eunwoo.
Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal, tersenyum canggung untuk menjawab pertanyaan eunwoo. Berjalan pelan menuju sofa yang ada di ruangan appa ku, aku merebahkan tubuhku disana tanpa peduli bahwa aku hari ini tengah memakai rok mini.
"Jimin melarang ku, dia bilang takutnya aku tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga." Aku menjelaskan pada eunwoo.
"Kenapa? Hanya karena hal itu? Padahal dirimu sendiri tidak merasa nyaman bukan menjadi seorang ibu rumah tangga?"
Aku hanya mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh eunwoo, aku memang belum merasa nyaman untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.
"Kau bisa memintanya pada jimin, aku yakin jimin pasti memberikan izin pada mu." Saran eunwoo, aku sempat berpikir bahwa apa yang dikatakan eunwoo benar adanya.
Segala pekerjaan rumah tangga sudah di lakukan oleh ahjumma jiena, aku tidak ada memiliki tugas apapun lagi.
"Ya, aku akan mencoba mengatakannya pada jimin."
***
"Jim? Bolehkan aku kembali bekerja do perusahaan? Aku merasa bosan, semua tugas ku sudah di lakukan oleh ahjumma jiena." Jelasku sambil menatap manik mata jimin.
Malam ini aku bersama dengan jimin tengah berbincang-bincang antara suami dan istri. Sepertinya seperti itu, aku melihat di internet bahwa biasanya suami istri akan melakukan pembahasan sebelum tidur dan itu sedang ku lakukan dengan jimin.
Jimin melirik ke arahku, lalu menatap mataku dengan cukup intens.
"Kau merasa bosan?" Tanyanya
Aku menganggukkan kepala. "Aku hanya takut kau tidak bisa membagi waktu mu dengan pekerjaan. Kau tahu bukan? Aku sekarang mulai bergantung padamu." Jelas jimin sambil menarik pinggangku, lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat.
"Aku yakin aku bisa membagi waktu jim." Ucapku lirih masih dalam dekapannya yang hangat.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin mengekang mu. Tapi jika kau memang merasa bosan kau bisa kembali bekerja." Jawab jimin, aku tersenyum tipis menatap senang pada jimin.
"Benarkah?"
"Ya. Asal kau mau merubah nama panggilan mu padaku hye, aku lebih tua dari mu 2 tahun."
"Hmm panggilan seperti apa? Contohnya oppa begitu?" Tanya ku. Jimin mengangguk antusias dengan tawaranku..
"Oke, baiklah jimin oppa." Aku terkekeh sendiri mendengar diriku menyebutkan nama itu.
Padahal sungguh aku sangat tidak suka memanggil seseorang dengan panggilan oppa, menurutku itu sangat menggelikan.
"Bagus, dan satu lagi." Jimin menunjukan smriknya padaku.
Aku tertegun melihat smrik jimin langsung berpikir bahwa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.
"Cium aku." Pintanya, seketika aku merasa pipiku sangat panas.
Aku mengigit bibir bawahku, menatap ragu pada jimin. Apa jimin gila meminta ku untuk menciumnya, aku saja sangat bodoh soal ciuman.
Aku menelan saliva memberanikan diri untuk menatap jimin, dengan keyakinan penuh aku mengecup sekilas bibir tebalnya. Hanya sebentar karena aku memang tidak bisa melakukan ciuman yang agresif.
Jimin tersenyum kecil membawaku pada alam mimpi, berharap ini semua tidak akan berakhir sia-sia.
Aku berharap diriku bisa mengendalikan diri agar tidak jatuh cinta pada jimin. Karena selamanya dia tidak akan pernah menjadi milikku.
***
Aku terbangun saat mendengar suara dering telefon berbunyi, dengan segera aku membuka mata dan mencari handphone siapa yang berbunyi malam-malam seperti ini.
Dan yang ku lihat adalah handphone milik jimin, yang terletak di atas nakas. Aku mengambilnya dan melihat siapakah yang menelefon, aku terkejut saat nama yang tertera pada layar handphone adalah nama 'Yeonji' nama itu adalah nama yang di gumamkan oleh jimin saat dia demam.
Aku menggaruk rambutku gusar. "oppa, oppa ada telefon untuk mu." Aku menggoyang goyangkan tubuh jimin yang masih tertidur pulas di sampingku.
"oppaaa." Teriak ku sekali lagi tapi panggilan ku seakan tidak membuat jimin beranjak dari alam mimpinya.
Sedangkan handphone milik jimin terus saja berdering, mungkin adalah panggilan penting dan juga yeonji ini mungkin adalah rekan bisnis jimin, bisa saja kan? Aku tidak akan berpikiran buruk tentang jimin.
Jadi aku segera mengangkat telefonnya.
"Yeoboseyo?"
Aku terdiam ketika mendengar suara seorang perempuan di sebrang sana. "Ne, yeoboseyo" Ucapku pelan.
"Ah, bisa berbicara dengan jimin-yya?"
"Jimin tidak ada." Jawabku.
"Kau sekertaris jimin bukan? Kim hyerin? Handphone miliknya tertinggal padamu?"
Aku terdiam sambil membulatkan kedua mataku, apa katanya dia bilang aku adalah sekertaris jimin? Bagaimana bisa? Apa jimin yang memberitahu ini pada gadis bernama yeonji?
"Ne, aku adalah sekertarisnya."
Jawabku pelan aku meremas seprai untuk menahan isakan yang sebentar lagi akan lolos dari mulutku.
"Kalau begitu, jika sudah bertemu dengan jimin katakan aku menelefonnya."
"Nde."
"Kamsahamida hyerin-ah"
Aku langsung menutup panggilan dari yeonji, aku yang sudah tidak tahan menangis dalam diam tidak ingin menganggu jimin.
Aku menutup mulutku tidak percaya akan apa yang baru saja ku dengar, perempuan dengan nama yeonji ini mengatakan bahwa aku adalah sekertaris jimin?
Apakah jimin yang memberitahu perempuan itu? Tapi kenapa? Sebegitu buruknya diriku? Hingga jimin tidak mau mengakui bahwa aku adalah istri sahnya.
Tetesan air mata terus mengalir membasahi wajahku, aku kemabli membaringkan tubuhku di samping jimin.
Menatap nanar punggung jimin, ya. sejauh apapun aku mencoba, sekuat apapun aku mengejar, hati jimin tidak akan pernah untuk ku. Tidak akan pernah.
Setidaknya aku melakukan ini semua untuk kebahagian eomma dan appa walau aku sendiri tidak bahagia untuk menjalaninya.
Ingatkan aku bahwa aku tidak akan pernah memberikan hati ku pada jimin, ataupun mencoba mencintainya.
***
**Maaf yah telat update, hehehe:v sekarang aku usahain untuk sekalinya up lebih dari 2000 kata. Untuk chap yang ini juga udah 2510 kata yang kalau aku bagi dua bisa jadi 2 chap:v tapi karena up nya seminggu sekali kadang lebih jadi ku kasih langsung aja.
Maaf yah kalau nge-bosenin.
Kalian lihat sifat jimin di sini tuh kaya gimana sih**?