
"Hye, ayo makan." Aku hanya menatap jimin malas, tak berminat untuk menuruti apa permintaannya.
"Nanti saja jim." Jawabku.
"Ayolah, sesuap saja." Pintanya dengan wajah memelas.
Aku dan dia kini tengah berada didalam kamar, setelah permintaan maaf yang diberikan oleh jimin, aku memutuskan untuk istirahat sebentar tubuhku terasa begitu lemas, padahal niatku adalah pergi ke kantor setelah berbicara dengan jimin. Namun nyatanya tubuhku lemah.
"Hye, nanti kau sakit." Paksanya lagi.
Aku termenung seketika mendengar ucapan jimin, tentang 'sakit'. Dengan segera aku meraba perutku, merasa bodoh karena lupa bahwa ada nyawa yang tengah aku kandung dan dengan santainya aku mengabaikan kesehatan ku.
"Jim, kemarikan biar aku makan." Pintaku pada jimin.
Dengan senyuman lebar jimin memberikan sepiring makanan padaku, berisi lauk pauk, nasi dan juga sayur-sayuran. Aku menerimanya, dan mulai memakan semua yang ada diatas piring dengan lahap, aku tak boleh mengabaikan kesehatan anakku, dia tak bersalah, aku tak pantas membuatnya terluka karena salahku dan juga jimin.
"Kau belum makan dari kemarin?" Tanyanya dengan wajah khawatir.
"Tidak, pagi tadi aku makan." Jawabku jujur, setelahnya kembali sibuk dengan makanan ku.
Entah kenapa tapi aku merasa sangat kelaparan, padahal tadi pagi aku baru saja makan. Tapi sekarang aku sudah makan lagi, mungkin ini faktor kehamilan? Aku tidak pernah tahu soal hal itu, mungkin nanti akan ku searching dan mencari tahu soal kehamilan.
"Ini jim." Aku menyodorkan piring yang sudah kosong, jimin yang masih duduk di samping tempat tidur tersenyum melihat piring berisi makanan itu kosong.
"Ingin tambah lagi?" Tanyanya, aku dengan cepat menggeleng, gila. Berat badanku bisa naik jika aku menambah porsi makan lagi.
"Baiklah." Jawabnya, mulai membersekan seluruh piring, gelas sisa makanku lalu beranjak pergi dari tempat duduknya meninggalkan kamar.
Aku belum bisa memikirkan apa yang akan aku putuskan untuk hubungan ku dengan jimin kedepannya, aku masih sangat ragu untuk mengambil keputusan, mungkin butuh beberapa waktu agar aku dapat memantapkan hati dengan pilihanku nanti.
Tring.
Aku menoleh pada nakas yang berada disamping tempat tidur, dengan cepat mengambil benda pipih yang aku taruh diatas nakas. Aku membuka room chat, untuk melihat isi pesan dari seseorang yang sudah lama tak ku jumpai.
Lai guanlin
[hye, besok aku akan kembali ke seoul, sampai jumpa esok]
Pesan dari guanlin itu membuat aku menghela nafas panjang, tak sanggup memberitahukan pada guanlin kalau aku tengah hamil anak jimin. Apa tanggapan lelaki itu, apakah dia akan marah lalu meninggalkan ku lagi? Kuharap saja tidak.
Aku keluar dari room chat, langsung menuju pencarian google, disana aku mengetik berbagai hal yang dibutuhkan oleh ibu hamil. Setelah keluar hasil pencarian, aku membacanya dengan seksama, mulai dari susu hamil, juga tentang perhatian seorang suami saat istri tengah mengandung.
Aku hanya bisa menatap sendu perutku yang masih rata, tak sanggup jika suatu saat nanti anak ku tahu bahwa aku tidak pernah memberitahu ayahnya bahwa ibunya sedang mengandung karena sebuah masalah yang memaksanya untuk tetap bungkam.
Setelah membacanya referensi tentang kehamilan tadi, aku memutuskan untuk pergi memebeli susu hamil, karena memang sedari kemarin aku belum membeli susu hamil. Kasian anakku didalam sana, anak ini begitu malang karena memiliki ibu yang tak tahu apapun sepertiku.
"Hye, mau pergi kemana?" Tanya jimin ketika melihat aku keluar dari dalam kamar.
"Bukan urusanmu." jawabku dengan nada jutek, aku tak memperdulikan keberadaan jimin dengan terus berjalan menuju pintu keluar.
"Hye, katakan terlebih dahulu kau ingin pergi kemana?" Tanyanya lagi, yang kini malah mengjegal tangan kananku.
"Lepas jim!" Aku menepis kasar genggaman jimin, kemudian menatapnya nyalang.
"Katakan terlebih dahulu, kau akan pergi kemana?" Tanyanya lagi tak mau kalah.
Aku menghela nafas panjang, lupa bahwa seseorang yang berada dihadapan ku kini memiliki sifat keras kepala. "Aku akan pergi ke supermarket, ingin berbelanja beberapa cemilan." Jelasku pada akhirnya merasa jimin perlu tahu.
"Aku akan mengantarkan mu kesana." Pintanya lagi yang kini sudah mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja ruang tamu.
"Ya, baiklah." Jawabku pasrah, menolak lagipun percuma, jimin aku selalu berusaha membuat ku setuju dengan segala cara.
"Ah, aku lupa mengambil handphone, kau tunggu didepan saja jim." Ucapku berpura-pura meraba saku celanaku.
"Ya, aku menunggu mu didalam mobil hye." Jawabnya berlalu meninggalkan ku.
Dengan segera aku berlari masuka kedalam kamarku untuk mengambil sebuah tas yang cukup besar, aku tak mungkin membawa susu ibu hamil dihadapan jimin, bisa gawat kalau sampai dia tahu kalau aku hamil.
Setelah menemukan sebuah tote bag bergambar bunga, aku segera turun untuk menemui jimin didalam mobil. Begitu keluar dari pintu utama, aku sudah melihat sebuah mobil terparkir, tanpa pikir panjang aku segera masuk kedalam mobil itu dan menemukan sosok jimin duduk di kursi pengemudi.
"Ayo jalan jim." Perintahku yang sekarang duduk disampingnya.
***
"Aku akan menunggu mu disini saja hye." Ucap jimin yang masih duduk di kursi supirnya.
"Oke." Jawabku, kemudian berlenggang pergi memasuki supermarket yang sangat besar.
Aku bersyukur berkali-kali karena jimin tak memaksa untuk ikut masuk kedalam Supermarket, kalau sampai dia tahu kalau aku hendak membeli susu ibu hamil, apa tanggapan jimin? Kaget pasti.
Aku berjalan menyusuri rak makanan ringan, begitu melihat makanan ringan berjejer rapih aku sungguh tergiur dan entah kenapa aku malah tertarik pada makanan berbungkus panjang berwarna warni itu. Namanya kalau tidak salah marshmallow, aku tidak pernah mencoba makanan itu lagi setelah beberapa tahun, karena menurutku makanan itu tidak enak, kenyal aneh dengan rasa manis yang berlebihan, tapi kali ini rasanya aku ingin memakan marshmallow itu, tanpa berpikir panjang, aku mengambil troli belanja yang berada disamping rak, dan mulai memasukan beberapa jenis marshmallow kedalam troli.
Makanan ringan lainnya juga, termasuk susu kotak rasa pisang. Aku kembali mendorong troli belanjaan ku menuju rak khusus susu, disana aku menemukan banyam jenis susu hamil, jujur aku kebingungan karena tak tahu harus membeli yang mana. Aku sempat melirik kearah samping kanan dan kiri, untuk melihat adakah orang yang bisa membantuku memilih jenis susu hamil.
Tak lama, aku melihat seorang pegawai yang membawa stok lewat dengan sekali teriakan pegawai tersebut berhenti dan menatapku.
"Mba, bisa bantu saya memilihkan susu hamil? Saya tidak tahu jenis dan mana yang enak untuk di minum." Jelasku, pegawai yang tampang lebih tua dariku itu tersenyum meletakan troli berisi barang-barang stoknya dan berjalan menghampiri ku.
"Usianya baru berapa bulan?" Tanya wanita itu.
"Baru 4 minggu." Jawabku.
Perempuan yang memakai seragam tadi, tersenyum tipis lalu menatap rak khusus susu ibu hamil, beberapa menit dia sempat menatap rak tersebut sampai tangannya mengambil satu kotak susu ibu hamil berukuran sedang dengan rasa cokelat.
"Ini, cocok dengan usia kandungan mu yang masih sangat muda." Perempuan itu menyodorkan kotak susu yang sebelumnya ia genggam padaku, aku menerimanya sempat menatap kotak susu itu dengan bingung.
"Ah baiklah, Kamsahamida eonnie-sshi. " Jawabku, tak lupa menyunggingkan senyuman ramah.
"Ne, senang bertemu denganmu." Jawabnya, lalu kembali berjalan mendorong troli yang sebelumnya dia bawa.
Aku menatap kotak susu itu, tanpa berpikir panjang aku langsung menaruh kotak susu itu kedalam troli miliku, lalu kembali berjalan untuk mencari barang yang lain.
"Maaf telah membuat mu menunggu." Jawabku ketika sudah duduk di samping jimin, lelaki itu masih setia duduk di kursi pengemudi.
"Tidak apa-apa, kau banyak sekali membeli makanan." Ucapnya begitu melihat tas belanja yang ku taruh pada kursi belakang.
Aku mengabaikan pertanyaan jimin dan lebih memilih mengambil salah satu tas belanjaku yang berisi marshmallow tadi, untuk susu, aku sudah menyimpannya dalam totebag miliku yang sebelumnya aku bawa, dan aku menyimpan tote bag itu disampingku.
Aku membuka plastik yang membungkus marshmallow yang berbentuk bulat tapi panjang itu, sempat menekan marshmallownya untuk sekedar tahu bagaimana tekstur, makanan yang banyak disukai anak-anak ini.
Aku mencoba mengigit marshmallownya, mengunyahnya dengan pelan menikmati rasa dari makanan itu. Setelah habis mengunyah marshmallow, aku merasa mual baru aku sadari bau marshmallow ini sangatlah kental, bau cokelat dan juga strawberry yang sangat kuat.
"Kenapa? Rasanya tidak enak?" Tanya jimin padaku begitu melihat ekspresi ku yang ingin muntah.
"Tidak." Jawabku singkat kembali mengambil bulatan marshmallow berikutnya, aku lagi-lagi memandang marshmallow itu lekat-lekat sebersit ide muncul di kepalaku.
"Jim buka mulutmu." Pintaku padanya.
"Jangan banyak bertanya, ayo buka mulutmu." Perintahku sambil mendesis karena jimin yang banyak bertanya.
Karena melihat aku menggeram jimin dengan segera membuka mulutnya lebar-lebar, walau padangannya tetap fokus pada jalanan. Aku langsung memasukan potongan marshmallow tadi kedalam mulut jimin yang terbuka lebar. "Kunyah." Perintahku lagi dengan nada menuntut.
Jimin hanya bisa pasrah, lalu mengunyah habis marshmallow yang aku suapkan padanya tadi. Aku tertawa renyah, sangat suka ketika pipi jimin sedikit mengembung karena kunyahannya pada marshmallow yang kenyal.
"Kenapa tertawa?" tanyanya lagi, aku mendengus jimin dengan segala rasa penasarannya dan juga sifat keras kepalanya.
"Bukan urusanmu." Jawabku ketus, namun aku kembali mengambil potongan marshmallow selanjutnya, lalu menyuapkannya lagi pada jimin.
Jimin tak lagi berkomentar, dia menikmati ketila aku menyuapinya marshmallow. Sambil menyetir jimin terus ku suapi sampai marshmallow yang berukuran 30cm itu habis.
"Tcih, sepertinya kau ke enakan." Ucapku dengan sinis.
Jimin malah tertawa terbahak-bahak, suaranya begitu menggelegar didalam mobil. Aku memutar bola mata malas, kemudian membuang bungkus marshmallow tadi pada sebuah plastik sampah yang berada didalam mobil.
"Kau lucu sekali hye." Kekeh jimin lagi, lelaki itu juga dengan sengaja mengusap pelan rambutku walau selanjutnya ku tepis dengan sangat kasar.
Karena malas berdebat, aku tak mengucapkan apa-apa lagi setelah tepisan kasar yang aku berikan pada jimin, sempat hening beberapa menit karena jimin kembali fokus pada jalanan dan aku yang berdehem canggung.
Karena bosan, aku mengambil tas belanja tadi, mencari-cari sebuah barang yang sekiranya dapat mengurangi rasa bosanku. Dan setelah aku menemukan benda itu, aku mengambilnya, membuka plastik yang masih membungkus benda itu.
Aku memainkan benda itu dengan cara meremas-remas dengan sangat erat, kata kasir nama mainan ini adalah squishy, mainan yang banyak di minati oleh anak-anak karena berbagai bentuknya yang lucu dan aku memilih membeli squishy berbentuk kue Ulang tahu lucu yang sederahan, ketika aku meremas squishy itu tercium juga aroma kue ulang tahun yang begitu semerbak.
"Hye? Kenapa kau bermain squishy?" Tanya jimin heran ketika melihat aku asik meremas squishy.
"Bukan urusanmu." Jawabku lagi dengan nada ketus, tak lupa dengan wajah sinis padanya.
Jimin kembali bungkam, lelaki satu itu tak lagi mau berkomentar dengan apa yang tengah aku lakukan. Baguslah, setidaknya jimin tahu, bahwa aku bukan gadis lemah yang akan selalu luluh dengan ucapan manisnya, inilah aku kim hyerin yang akan selalu menang dengan caraku sendiri.
***
Aku kembali bermalas-malasan diatas ranjang, sambil menikmati cemilan yang ku beli tadi, sambil asyik menonton tv pura-pura tak peduli dengan keberadaan jimin yang kini tengah menatap laptopnya.
Hari sudah mulai sore, tapi aku sangat malas hari ini, aku belum mandi dan sedari tadi aku belum menemukan waktu yang pas untuk meminum susu, dikarenakan jimin yang masih berada disini. Sudah ku coba mengusir dirinya berkali-kali namun tetap saja, jimin keras kepala, ya aku bahkan hampir lupa dengan kenyataan itu.
"Hye, kau tidak ingin mandi duluan?" Tanyanya yang kulihat sudah membereskan pekerjaan kantornya.
"Tidak, kau duluan saja." jawabku mencoba terlihat garang.
"Baiklah." Jimin bangkit dari duduknya, berjalan masuk kedalam kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar ini.
Melihat jimin sudah masuk kedalam kamar mandi, dengan gerakan kilat aku turun kebawah untuk menyeduh susu hamilku, sempat berlari menuruni tangga walau tetap hati-hati agar tak terpeleset dan membahayakan nyawa anaku.
Saat sampai didapur, aku dengan segera mengambil kotak susu yang ku simpan didalam rak, menyeduh susu itu agar bisa segera ku minum. Setelah selesai, aku langsung meminum susu itu, meneguknya dengan cepat karena aku membuat es susu agar rasanya lebih nikmat.
Sesudah meminum habis es susu tadi, aku langsung menyembunyikan kotak susu pada tempatnya lagi, kemudian berlari menuju kamarku, berbaring pada tempat semula.
Namun, baru saja aku ingin merebahkan tubuh, dering telefon membuat niatku urung ku laksanakan. Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, aku menghampiri meja kerja yang berada dikamar ku, melihat siapakah yang menelfon jimin.
Begitu melihat layar ponsel jimin yang menyala, aku sudah memprediksi siapa yang menelfon itu, jikalau bukan dia siapa lagi?
Jung yeonji is calling
Aku hanya tersenyum miris, mengabaikan dering ponsel itu dan kembali keatas tempat tidurku aku tak memiliki hak untuk menjawab telefon yeonji, lagi pula itu urusan jimin aku tak ingin mencampurinya dan membuatnya tambah semakin rumit. Ya, lebih baik aku berpura-pura tak tahu apa-apa, ketibang mengetahui sesuatu hal yang dapat membuat hatiku semakin sakit.
Aku menutupi tubuhku dengan selimut, mengistirahatkan tubuhku yang terasa sangat sakit, semenjak hamil rasanya tubuhku begitu lemah, ingin sekali rasanya aku terus berbaring diatas ranjang.
Tak lama, aku melihat jimin keluar dari kamar mandi, dirinya sudah lengkap dengan menggunakan kaos polos berwarna hitam juga celana training berwarna senada, rambutnya basah tengah ia keringkan menggunakan handuk.
Aku pura-pura tak memperhatikan jimin, walau sangat sulit mengalihkan pandangan ku dari sosok jimin yang sangat mempesona. Lalu, jimin berjalan menuju sofa biasa yang ia gunakan untuk mengerjakan tugas kantornya, aku tak bergeming masih terus memperhatikan gerak-geriknya termasuk ketika jimin mengambil laptop miliknya.
"Jim, kau ingin mengerjakan tugas kantor disini?" Akhirnya aku bersuara begitu tahu niat jimin.
"Ya, sambil menemani mu." jawabnya bersama dengan kekehan kecil.
"Bisakah kau mengerjakan tugas kantor diluar saja?" Pintaku sambil menatapnya tajam.
"Kenapa? Apa aku berbuat salah?" Tanyanya dengan wajah kebingungan.
Aku menghela nafas panjang, jimin melakukan kesalahan apapun, hanya saja aku merasa membutuhkan waktu sendiri, untuk merenungkan apa yang harus aku lakukan kedepannya.
"Aku... Ingin sendiri." Jawabku lirih.
Ku lihat jimin tersenyum tipis, dia terlihat paham dengan kondisi ku sekarang, tak menjawab ucapanku jimin langsung melengos keluar dari kamar sambil membawa beberapa berkas juga laptop miliknya.
Baru jimin hendak menutup pintu kamar, aku bersuara memanggil nama lelaki itu lagi yang seketika membuat jimin berhenti ditempat.
"Jimin!" Panggilku sedikit keras.
Lelaki dengan rambut hitam itu menoleh, menyatukan kedua alisnya bingung karena panggilan ku padanya.
"Kemari..." Perintahku dengan nada parau.
Aku sendiri bingung, kenapa aku meminta jimin untuk kembali, padahal jelas-jelas aku menyuruhnya pergi tadi. Jimin berhenti dihadapanku yang masih menyandarkan punggungku pada daun tempag tidur.
"Sini." Ucapku sambil menggeserkan tubuhku menuju ruang kosong yang berada disampingku. Membiarkan jimin untuk mengisi ruang yang sebelumnya ku gunakan.
Jimin tak banyak berbicara, lelaki itu hanya menuruti apa yang aku lakukan, dirinya duduk diatas tempat tidur, masih dengan wajah yang kebingungan. "Temani aku tidur." Lirih ku dengan wajah memelas.
Jimin hanya menurut dan kini sudah merebahkan tubuhnya disampingku, aku juga sama ikut merebahkan tubuhku disamping jimin, kami saling bertatapan karena posisi tidur kami yang menyamping.
Aku mengambil tangan kekar jimin, membawanya masuk kedalam baju yang ku kenakan, aku meletakan tangan jimin diatas perutku. Tak ada reaksi dari jimin, lelaki itu masih bingung dengan tindakan yang ku lakukan. "Jim, usap perutku." Pintaku lagi.
Lagi dan lagi, jimin tak banyak berkomentar, dia dengan halus mengusap-usap perutku yang masih rata. Aku juga dengan sengaja mendekatkan tubuhku pada jimin, entahlah tiba-tiba aku merasa rindu dengan lelaki ini.
"Jim, salahkah aku, jika memberikan kesempatan untuk kesekian kalinya kepadamu? Aku ingin memberikan itu padamu, tapi aku tak sanggup jika suatu saat nanti, kau kembali membuat luka di hatiku." Ucapku parau, dalam pelukan pelukan jimin walau tangannya yang satu sedang mengusap pelan perut rataku.
"Aku seharusnya memberi mu berjuta-juta kesempatan jika memang aku tak takut terluka lagi, tapi sayangnya ketakutan ku jika suatu hari nanti, kau akan melakukan hal yang sama, membuatku ragu. Jim, aku ternyata mencintaimu, benar-benar mencintaimu sampai aku tak rela jika kau bahagia bersama orang lain. Anggaplah aku egois, karena begitu bahagia ketika kau memilih diriku ketibang gadis itu, namun jim, bisakah aku mempercayaimu." Lirihku lagi dengan suara nada pelan.
"sekarang mungkin aku bisa melepaskan mu dan membiarkan mu bahagia bersama gadis itu,
Tapi, jika aku memberikan kau kesempatan lagi, dan kau mengkhianati nya di kemudian hari, apakah bisa aku membiarkan mu pergi, jika hatiku sudah terlalu dalam untuk mencintai dan menyayangi."
"Apakah, aku bisa jim, apakah aku bisa."
"Jika satu kesempatan ini sangat berarti untuk mu, maka akan ku berikan jim. Aku memaafkan mu."
Setetes air mata jatuh di pipi ku, aku tak tahan menahan semua ini lagi, aku semakin mengeratkan pelukanku pada jimin, lelaki itu pun sama, memelukku dengan sangat erat sambil menciumi pucuk rambutku.
***