
"Aku tahu kau memiliki masalah kan?" Tanya eunwoo sambil meminum minuman yang berada dihadapannya, aku tersenyum getir haruskah aku menceritakan ini pada eunwoo? Atau tetap diam dan cukup aku yang merasakannya?
"Jangan takut atau merasa sungkan hye... Kau tahu bukan aku sudah menanggap dirimu sebagai adik ku sendiri." Ujar eunwoo membuat sebuah senyum diwajahku mengembang, ya aku memang tak tahan jika harus menanggung semuanya sendirian, aku butuh seseorang yang mampu menjadi tempat berbagi segala kesedihan yang kurasakan.
"Aku tak kuat jika harus terus seperti ini." Ucapku pada akhirnya walaupun belum mengutarakan segala langsung masalahku pada eunwoo.
"Yah aku mengerti, tapi aku yakin eomma dan appa melakukan yang terbaik untukmu hyerin, mereka hanya ingin kau bahagia bersama dengan orang yang tepat, yang mampu menjaga dirimu." Jelas eunwoo, aku hanya bisa menundukan kepala menyembunyikan segala air mataku dari eunwoo.
"Aku tahu... Hanya saja perjodohan ini tak adil untuk diriku dan jimin, jimin tak bisa bersama terus denganku sementara dirinya memiliki orang yang sangat ia cintai." Lirihku pelan, sejujurnya aku ingin menangis jika mengingat malam itu, malam dimana aku mengetahui bahwa jimin sama tersiksanya seperti diriku.
"Maksudmu?" Tanya eunwoo aku hanya terdiam, tak mungkin eunwoo tak paham dengan apa yang aku ucapkan bukan?
"Maksudmu jimin mempunyai seorang kekasih?" Terka eunwoo kemudian, aku tak berani menjawab karena memang belum ada bukti akurat tentang jimin yang mempunyai kekasih, tapi aku yakin 100% nama yang jimin sebutkan dalam tidurnya adalah seseorang yang sangat istimewa dalam hidupnya.
"Tidak mungkin hyerin... Itu tidak mungkin." eunwoo tampak tertawa garing sambil menggeleng kepalanya, tak mempercayai ucapanku tentang jimin.
"Bagaimana mungkin hye... Bagaimana mungkin." eunwoo menggeram frustasi dia mengacak-acak rambutnya tampak kaget dengan ucapanku.
"Bisa saja... Hal itu bisa terjadi, lelaki mana yang mau menikahi seseorang yang tidak pernah ia kenali sama sekali... " Aku terisak kecil saat mengingat hal hal yang ku alami ketika berpisah dengan guanlin, jimin dan gadisnya juga pasti merasakan hal yang sama denganku, terluka dan tersiksa.
"Lalu jika itu memang benar, kau akan melakukan apa?" Tanya eunwoo kemudian, aku menatap eunwoo sendu berusaha terlihat tegar dengan sebuah senyuman kecil yang mewakilkan bahwa aku baik-baik saja.
"Aku akan pergi dan membuatnya bahagia bersama orang yang dia cinta." Ya itu akan kulakukan ketika saatnya tiba dimana waktu ku tak lagi bisa kuberikan pada jimin, dia butuh kebahagiaan.
***
Setelah acara makan makan bersama dengan eunwoo dan sehun aku kembali kerumah, sebenarnya hendak diantar oleh sehun namun aku menolak, karena aku tahu lelaki itu juga memiliki kesibukan yang lebih padat dari pada diriku.
Namun saat aku kembali kerumah, aku tidak menemukan jimin sama sekali ahjumma bilang jimin pergi keluar setelah menerima telefon dari seseorang.
Aku hanya tersenyum masam, siapapun orang itu pasti akan sangat penting untuk Jimin, sehingga dia mau membuat waktu istirahatnya terganggu.
Karena diriku sudah dalam fase lemah, aku memutuskan untuk membiarkan ahjumma memasak makan malam, sementara diriku sendiri akan mencoba menenangkan pikiranku dengan berendam diair hangat sejenak, sekiranya itu dapat membantuku melepaskan rasa penatku.
Setelah hampir 30 menit berendam aku sudah selesai, dan jam sudah menunjukkan saatnya makan malam namun jimin belum juga kembali, karena menunggu jimin aku memutuskan untuk tidak memakan dulu makan malamnya.
Karena terlalu khawatir aku mencoba mengirim pesan pada jimin.
Kim hyerin
[Jim kau dimana? ]
Terkirim
Aku menunggu jimin menjawab pesanku, namun setelah beberapa menit jimin tak kunjung membalas pesanku, aku semakin khawatir dengan keadaan jimin apakah jimin terluka atau terjadi sesuatu pada jimin?
Tapi, apa peduliku? Jimin sudah dewasa dia pasti mengetahui apa yang dia lakukan, aku tak perlu sekhawatir ini jika jimin bisa menjaga dirinya sendiri.
Karena sudah terlalu penat aku memutuskan untuk pergi kekamarku, melewatkan makan malam karena nafsu ku yang sudah hilang tak lagi berselera ketika melihat makanan.
Mencoba merebahkan diri diatas kasurku, menerawang langit langit kamarku yang berwarna putih sambil memikirkan hal yang sudah lama menjadi unek unek ku selama ini.
Sampai karena terlalu fokus memikirkan itu aku tertidur dengan perasaan campur aduk antara bertahan atau meninggalkan.
***
Aku menggeliat merasakan ruang disebelahku masih kosong, kemana jimin? Dia sudah pulang atau sudah bangun terlebih dahulu?
Dengan segara aku membawa diriku menuju dapur mencari keberadaan jimin, ini masih pagi tak mungkin jimin berangkat bekerja dipagi hari seperti ini.
Melihat atensi ahjumma jiena yang sedang memasak sarapan aku mendatanginya untuk bertanya keberadaan jimin.
"Selamat pagi ahjumma? Apakah ahjumma melihat jimin kembali?" Tanyaku pada ahjumma jiena yang membuat menoleh padaku sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi juga non hyerin, untuk tuan jimin satpam bilang dia belum kembali dari semalam." Jelas ahjumma aku hanya ber oh ria, berpura-pura tidak khawatir padahal hatiku ketakutan dan kebingungan.
Kemana lelaki itu pergi? Bahkan dia tidak kembali.
Mencoba tak peduli lagi dengan jimin, aku membantu ahjumma jiena membuat sarapan pagi dengan masih menggunakan piyama tidur dan rambut yang kubiarkan terikat asal.
"Hyerin-yya...." Aku menaikan kedua alisku bingung, mendapati seseorang dengan suara tak asing lagi memanggilku dari ruang tengah, sambil membawa mangkuk bersiri sayuran aku mencari arah suara itu berasal, memastikan bahwa telingaku tak salah mendengar bahwa itu adalah suara nyonya park.
"Eomma?!" Kagetku, benar saja wanita paruh baya dengan tubuh gempal itu sudah berada dihadapanku sambil tersenyum lebar, aku tak percaya nyonya park sudah kembali dari luar negeri dan datang kemari tanpa memberitahukan ku.
"surprise hyerin-yya..." nyonya park terkekeh, aku juga ikut tertawa pelan lalu dengan sigap membantunya membawakan barang-barangnya, entah apa karena paper bag yang ia bawa cukup banyak.
"Kau sedang memasak hyerin?" tanya nyonya park padaku, aku mengangguk memberikan mangkuk berisi sayuran itu pada ahjumma jiena, kebetulan aku sedang belajar memasak padanya.
"Kau bisa memasak?" Nyonya park menatap penuh tanya padaku, aku menggeleng tidak membenarkan apa yang ia katakan.
"Tidak eomma, aku tidak terlalu pandai memasak hanya kini aku tengah belajar memasak bersama ahjumma." Jelasku sambil tersenyum, nyonya park hanya menunjukkan senyum tulusnya padaku.
"Kemana jimin? Eomma tak melihatnya." Satu pertanyaan nyonya park membuat diriku bungkam, aku bingung haruskah aku berkata jimin tidak kembali semalam, atau berbohong menyelamatkan nama jimin.
"Ee itu— Jimin sedang pergi jogging eomma, yah jogging." Aku tersenyum kaku menjawab pertanyaan nyonya park, sekali lagi aku harus berbohong pada orang tua.
"Hah jogging? Apakah dia tidak bekerja hyerin?"
Skak aku tak tahu lagi harus menjawab apa, aku menggigit bibir bawahku ragu dengan jawaban yang harus aku berikan.
"Itu kemarin jimin jatuh sakit eomma, dia tidak bekerja kemarin dan pagi ini dia pergi jogging agar tubuhnya kembali bugar." Aku berbicara dengan sedikit gugup dan terbata-bata yang aku takutkan nyonya park tak percaya dengan ucapanku.
"Benarkah? Jimin sakit apa?"
"Dia kelelahan eomma, jimin sangat giat bekerja." Jawabku, nyonya park hanya mengangguk paham berjalan kemudian mengelilingi ruang tamu yang masih bersih.
"Kalian berdua tidak memiliki masalah bukan?"
Dan yah pertanyaan nyonya park membuatku bingung antara harus jujur dan kembali berbohong menyembunyikan masalah diantara kami berdua, atau berpura-pura semuanya baik baik saja.
***
Noh kan gaes ku double update😂 jadi aku tuh update novel sesuka mood, kalau mood bagus suka fast update kalau mood jelek kadang suka berpengaruh ke ceritanya:) jadi ayo komen yg banyak kadang komenan kalian buat aku semangat♡ karena tanpa dukungan dari kalian aku gak akan bisa sering sering upate hehehe♥♡