Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
wounded



    Aku membuka mata pelan merasakan ruang di sampingku sudah kosong, yang artinya jimin sudah terbangun. Aku mengucek kedua mataku, memperhatikan sekeliling apakah jimin sudah berangkat bekerja?


   Aku sebenarnya sudah terbangun dari pagi, aku juga melihat jimin terbangun saat mendengar suara dering telefonnya yang ku yakin itu dari yeonji. Tapi, aku pura-pura tertidur sambil terus mendengarkan percakapan mereka.


  Dan semuanya benar sesuai dengan apa yang ku duga, yeonji itu bukanlah rekan bisnis jimin ataupun temannya. Melainkan kekasihnya, aku tidak bisa marah ataupun melarang jimin karena disini akulah yang mengambil kebahagiaan yeonji dan jimin.


   Sedari awal memang ini semua tidak terjadi, aku merasa sangat bersalah pada yeonji. Apakah tuhan marah padaku? Apakah tuhan masih mau memaafkan ku karena telah mengambil kebahagiaan seseorang?


  Kuharap ya, karena sejujurnya aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Di sini aku juga terluka, aku juga merasa tersiksa karena kebahagiaan ku di pertaruhankan.


Aku menyibak selimut yang berantakan di atas kasur, menapakan kaki ku di atas lantai kayu yang terasa sangat hangat di pagi hari yang cukup dingin ini.


  Aku berjalan meninggalkan ruang tidur untuk melihat keadaan jimin, dan saat sampai di ruang makan aku melihat jimin tengah memakan sarapannya.


  Aku tidak menyapa jimin, tapi aku tengah berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan jimin. Menganggap seolah tidak terjadi apa-apa, aku yany memilih diam dan tidak menjelaskan apapun.


  Menarik salah satu kursi meja makan untuk ku duduki, aku melihat menu sarapan pagi ini adalah roti lapis dengan isi ikan tuna.


  Aku hanya menatap beberapa potong roti lapis itu dengan tatapan tidak minat. "Hyerin, kau sudah bangun?" Tanya jimin sambil meletakan roti lapis yang sebelumnya tengah ia makan.


  "Ya, oppa." Jawabku seadanya, aku mengambil roti tawar yang tersedia diatas meja lalu mengoleskannya dengan selai cokelat.


   "Kau tidak memakan roti lapis itu?" Tanya jimin menunjuk roti lapis yang berada di piring.


  Aku menggeleng mengatakan bahwa aku tidak ingin memakannya. "Kenapa?" Tanyanya lagi penasaran.


  "Aku sedang tidak ingin memakan makanan gurih." Jawab ku jujur, rasanya aku ingin memakan yang manis-manis agar mood ku kembali lagi.


   Jimin hanya ber-oh ria, aku mencoba tidak peduli dengan terus memakan roti milikku. Aku sekarang tengah berusaha menjaga jarak dengan jimin, agar aku tidak terlalu terbawa perasaan dan ini semua bisa berjalan dengan lancar.


   Ya. Kita kembali pada rencana awalku yang sebelumnya. Yaitu, hamil anak jimin setelah melahirkan aku akan memberikan anak itu pada nyonya park ataupun jimin dan aku akan bercerai dengan jimin.


  Sepertinya itu mudah, dan aku akan berusaha untuk tidak membawa perasaan dalam permainan ini.


  "oppa, semalam seseorang bernama yeonji menelfon mu." Jelasku pada jimin.


  "Mwo? Yeonji?" Tanya jimin dengan suara yang cukup kaget.


  "Iya, dia mengatakan jika aku sudah bertemu dengan mu, kau harus meneleponnya lagi." Jelasku, aku memberikan sebuah senyuman tipis yang mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


   "Apa yeonji tidak mengatakan apa-apa lagi?" Tanya jimin yang sepertinya sangat ketakutan.


  "Tidak oppa." Jawabku kecil lalu kembali fokus pada roti yang berada dalam mulutku.


  "Hyerin, aku akan pergi bekerja." Ucapan jimin membuat ku menoleh dengan pandangan terkejut padanya.


  Aku lalu mengangguk pelan sambil memberikan sebuah senyum pada jimin. "Ya oppa, hati-hati." Ucap ku menatap kedua matanya nanar.


  "Ya kau juga akan bekerja hari ini bukan? Hati-hati di jalan." Jimin menarik bagian leher ku, lalu dia mencium keningku dengan sangat lama.


  "Aku mencintaimu hyerin, sangat." Kata jimin sebelum pergi dari ruang makan, meninggalkan aku sendirian dengan perasaan bimbang yang tidak karuan.


  Kenapa dia mengatakan bahwa dirinya mencintaiku sedangkan dirinya bersama perempuan lain? Apakah ucapannya tadi hanya sebuah pemanis di pagi hari? Atau dia menyadari sesuatu hal yang berubah dari ku.


  Aku lupa mungkin itu hanya pencitraan, karena jimin ingat bahwa statusnya di rumah adalah suamiku, sedangkan di luar adalah kekasih orang.


 


***


   Aku merapihkan rambut yang sudah sedemikian rupa aku tata dengan rapih, aku juga mengusap rok mini berwarna hitam yang aku gunakan.


  Aku melihat kembali penampilan ku didepan kaca, make up pas, baju oke dan rambut sudah tertata dengan rapih. Dan aku sudah siap untuk berangkat bekerja menggunakan baju santai ini.


   Aku berjalan dengan langkah besar menuju garasi mobil untuk mengeluarkan mobil kesayangan miliku. Mobil Roll's Royce panthom milikku yang sudah sangat jarang aku gunakan.


  Aku membuka pintu mobil itu, lalu melempar tas milik ku asal, menyalakan mesin mobil setelahnya menancapkan gas meninggalkan halaman garasi menuju tempat kerja.


   ***


    Aku memberikan sebuah senyuman tipis pada beberapa karyawan yang menyapaku, pagi ini kantor terlihat begitu ramai seperti biasanya, mereka tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


  Aku memang sengaja datang terlambat, lagi pula aku belum mendapatkan kewenangan penuh untuk memberikan perintah pada karyawanku, karena jimin belum mengurus hal itu.


  Aku membuka pintu ruanganku sambil tersenyum tipis, wangi ini. Sungguh aku merindukannya, wangi lavender yang sangat semerbak di pagi hari membuat suasana hati terasa tenang.


  Aku melihat eunwoo tengah membuka jendela ruanganku, posisinya kinia dia sedang membelakangi ku. "selamat pagi eunwoo." Sapaku mengabaikan adanya eunwoo lalu dengan santai meletakan tas ku di atas meja.


  Aku duduk di kursi kerja ku, bersandar pelan untuk merelaxsasikan tubuhku yang terasa sangat pegal.


  "Selamat pagi juga hyerin." Jawab eunwoo yang sekarang malah ikut duduk di kursi yang ada di hadapanku.


  "Bagaimana? Sudah ku katakan bukan? Jimin pasti mengizinkan dirimu untuk kembali bekerja." Ucapnya dengan nada sombong.


  "Ya, terserah." Jawabku dengan nada cuek, aku membuka latpop milik ku yang berada di atas meja.


  "Kau sudah berapa bulan menikah dengan jimin?" Tanya eunwoo, aku melirik lelaki itu sebentar sambil mengingat sudah berapa bulan aku membangun bahtera rumah tangga bersama dengan jimin.


   "Kurang lebih 5 bulan, memang kenapa?" Tanyaku bingung, karena menurutku sangat aneh eunwoo bertanya hal seperti itu padaku.


  "Tidak ada, hanya saja rasanya cepat sekali." Jawab eunwoo sambil tertawa kecil.


  Aku menatap eunwoo bingung, tidak paham kenapa eunwoo bisa tertawa dan apa yang membuatnya seperti itu. Padahal menurutku tidak ada hal yang lucu atau perlu untuk di tertawakan.


  "Sudahlah, bekerja yang benar." Ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja ku.


  "Aneh." Gumam ku menggeleng pelan melihat sikap eunwoo pagi ini.


  Aku mencoba tidak peduli dengan terus menatap latar latpop yang ada di depanku, sebenarnya aku bukan sedang mengerjakan tugas, tapi aku sedang melihat siaran langsung sebuah balapan formula one yang tengah berlangsung di paris.


  Sudah lama sekali aku ingin melihat secara langsung pertandingan f1 tapi hal itu belum terwujud sampai sekarang, karena banyaknya tugas yang membuat diriku tidak bisa meluangkan waktu untuk berlibur dulu.


  Dan sekarang? Aku tidak mungkin pergi sendirian keluar negeri sementara aku mempunyai seorang suami yang membutuhkan diriku.


  Ah, tunggu. Jimin tidak pernah membutuhkan diriku, jika aku pergi pun dia masih mempunyai gadis bernama yeonji itu untuk menemaninya. Kenapa aku harus takut jimin kenapa-kenapa, oh sadarlah hyerin, dia bahkan berkata bahwa kau adalah sekertarisnya.


  Aku memang buruk untuk di akui sebagai seorang istri, cantik tidak, penampilan tidak stylish sangat jauh dari kata sempurna. Dan siapapun akan malu jika bersama dengan ku, mungkin saja tapi selama aku berteman dengan eunwoo, sehun dan guanlin, tidak ada yang mengkomen diriku dengan sebutan jelek atau tidak pantas bersama dengan mereka.


  Atau orang yang melihat ku bersama dengan mereka bertiga tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak pantas? Entahlah aku pusing, mengingat hal ini membuat mood turun dan aku merasa marah.


Aku menghela nafas berat, lalu menutup layar laptop ku dengan cukup keras. Aku memukul meja kerja ku pelan, walau timbul suara yang cukup kencang aku tidak peduli.


  Aku mengambil tas jinjing yang ku bawa, berjalan keluar dari ruang kerja. Mungkin, hari ini aku akan membolos untuk mencari suasana baru dan juga untuk mengembalikan mood yang sudah terlanjur hancur.


  Saat sampai di ruangan eunwoo, lelaki tampan itu menatap ku dengan heran. "Kau mau kemana?" Tanyanya, berhenti mengerjakan tugas yang sedang ia kerjakan.


  "Aku akan mencari angin, mungkin aku tidak akan kembali ke kantor." Jelasku, eunwoo menggelengkan kepalanya padaku, pertanda tidak mengerti dengan apa yang aku inginkan.


  "Aku merasa suntuk berada di kantor, kau mengerti bukan?" Tanyaku, ku lihat eunwoo hanya mengangguk pasrah lalu memijit pelipisnya pelan.


  Ya. Mungkin saja eunwoo lelah dengan sikapku. Terserah karena ku yakin eunwoo tahu keadaan ku sekarang.


 


   Aku berjalan pelan mencoba memperhatikan keadaan tempat ini, sepi, kotor, itu lah yang aku dapatkan dari sirkuit tempat dimana aku berlatih.


   Aku berjalan menuju sebuah paviliun kecil yang berada di ujung jalan, pembatas antar jalan dan juga lapangan kecil. Aku mendengar suara gaduh dari paviliun itu, dengan segera aku mendatanginya.


    Dan benar saja, didalam paviliun itu aku melihat dua orang insan tengah bertengkar yang jelas ku tahu hal itu pasti bukanlah hal besar yang patut  untuk di perebutkan.


  Aku tersenyum tipis melihat mereka berdua, serasi sekali tetapi di antara mereka tidak ada yang ingin mengungkapkan perasaan kalau mereka berdua sama sama cinta dan takut kehilangan.


  Aku menggebrak pintu paviliun merasa pertengkaran mereka tidak akan pernah selesai jika tidak ada yang melerai.


  Mereka berdua terkesiap ketika mendengar suara gebrakan pintu yang aku lakukan, pertengkaran antara mereka berdua pun terhenti, mereka berdua langsung menatap horor satu sama lain.


  Saling bertanya suara apa tadi, aku yang masih berada di luar terkekeh dengan sangat keras hingga mereka berdua melihat diriku.


  Hal yang pertama aku dapatkan bukanlah sebuah sambutan atau sebuah senyuman melainkan sebuah kaleng minuman yang sengaja mereka lemparkan padaku. Aku semakin tertawa terbahak-bahak karena tingkah konyol mereka berdua.


  "Maaf, maafkan aku, aku tidak berniat untuk menakuti kalian berdua." Ucap ku lalu duduk di sebuah kursi kayu yang tersedia disana.


  "Sialan! Ku pikir kau hantu." Umpat seorang lelaki dengan wajah blasteran.


   "Aku baru tahu jika seorang callum takut pada hantu." Ledekku pada lelaki dengan nama lengkap callum drew.


   "Aku juga hanya seorang manusia." Jawabnya lalu ikut duduk di samping ku.


  "Hyerin, kau baru mengunjungi tempat ini setelah sekian lama?" Tanya seorang wanita dengan kulit eksotis juga dengan warna mata cokelat gelap.


  "Oh ayolah, kau tahu aku sangat sibuk bukan?" Ucapku pada wanita itu yang naman lengkapnya ada choi zoena, aku biasanya memanggil dengan nama zoe.


  "Terutama setelah kematian eomma ku." Tambahku lagi pada mereka berdua.


  Callum menepuk bahuku pelan, aku menoleh padanya sambil menampilkan sebuah senyum. "Aku turut berduka cita hyerin, tapi kau tahu pada hari pemakaman eomma, aku, callum dan andrew datang. Pada saat itu aku ingin menemui mu, tapi andrew bilang biarkan saja." Jelas zoe, aku hanya tersenyum tipis.


  Andrew memang seperti itu akan selalu dingin tapi jika kalian tahu andrew adalah orang yang paling mengerti keadaan seseorang.


  "Oh ya. Dimana andrew?" Tanyaku saat menyadari tidak adanya kehadiran andrew di tengah-tengah mereka berdua.


  "Andrew sedang kembali ke canada, dia bilang ada urusan yang harus dia selesaikan." Jelas callum yang kini sedang memainkan sebuah rubik yang ada di tangannya.


   "Lalu? Kenapa tempat ini sepi? Apa kalian meliburkan latihan?" Tanyaku pada mereka berdua.


  Callum maupun zoe mengangguk serempak, aku hanya menghela nafas panjang. Andrew, callum, dan zoe adalah pendiri komunitas drifting yang ada di korea, walau peminat drifting di negara ini masih sangat sepi. Tapi mereka bertiga tidak pernah patah semangat.


  Andrew sebagai founder dan juga pelatih disini sangatlah yakin bahwa akan banyak orang yang menyukai drifting. Dan asal kalian tahu aku adalah murid pertama mereka, pada saat itu andrew sangat bersemangat karena diriku yang ingin belajar drifting dengan sangat sungguh-sungguh.


  Tapi sampai saat ini komunitas drifting mereka hanya di minati oleh beberapa orang tertentu saja, bahkan pesertanya tidak sampai tiga puluh orang.


   "Yah. Padahal aku ingin sekali mengasah skill ku ini." Aku membuang nafas kecewa karena tujuanku kemari adalah untuk bermain drifting.


  Tapi apalah daya hari ini mereka libur. "Bagaimana kalau hari ini aku mentraktir kalian berdua? Sebagai tanda minta maaf ku pada kalian karena tidak latihan beberapa bulan ini." Ajaku sambil merangkul kedua bahu mereka.


  "Benarkah? Kau mau mentraktir kami?" Tanya callum penarasan, aku hanya menjawabnya dengan sebuh anggukan mantap.


  "Ya. Tentu saja." Aku lalu berjalan sambil menarik kedua tangan mereka, menggandeng mereka layaknya anak kecil.


Selain eunwoo, sehun dan guanlin mereka bertiga juga adalah teman yang sangat baik, terutama mereka yang memiliki sifat yang sangat cocok denganku. Jadi, aku sangat nyaman berteman dengan mereka.


   ***


    "Kau membawa kami ke sebuah restoran yang sangat mewah hyerin." Teriak callum dengan wajah yang di buat-buat, seakaan dia terkejut saat aku menbawanya ke sebuah restoran mewah.


  "Jangan membuat aku malu callum!" Bentak zoe pada callum, callum hanya mendecih sebal karena bentakan zoe padanya.


  Semua orang yang berada di dalam restoran menatap aneh pada callum dan juga zoe, aku mengerti kenapa mereka berdua menjadi tatapan banyak orang. Karena pakaian mereka berdua jauh dari kata 'layak'. Zoe yang hanya menggunakan kaos dan celana jeans robek-robek dan juga sebuah kemeja kotak-kotak yang sengaja dia ikat di pinggangnya.


  Sedangkan callum dia sangat kontras dengan jaket denim juga celana jeans sejenis dengan milik zoe. Penampilan mereka memang terlihat seperti gelandangan dengan pakaian ini, terutama karena gaya mereka yang urakan.


  Padahal jika kalian tahu, mereka berdua adalah orang luar biasa. Callum lelaki itu adalah anak dari seorang perdana menteri di paris, sedangkan zoe dia adalah anak dari pemilik tambang emas terbesar di dunia.


  Penampilan mereka memang jauh dari kata sewajarnya sebagai seorang anak dari orang kaya, tapi mereka bilang mereka nyaman dengan posisinya saat ini. Karena kekayaan tidak menjamin sebuah kebahagiaan.


  Mereka nyaman dengan keadaan mereka, dimana semua orang memandang mereka sebagai orang biasa.


  Callum dan zoe benci sebuah kemunafikan karena ketika mereka berteman, mereka berdua hanya di manfaatkan.


"Kalian ingin memesan apa?" Tawarku saat kami bertiga sudah mendapatkan tempat duduk.


  "Kau benar-benar ingin mentraktir kami di sini?" Tanya callum lagi dengan wajah yang konyol.


  "Kau diam! Sungguh memalukan." Zoe memijat pelipisnya karena melihat tingkah callum.


  Callum hanya tertawa kecil dia memang sengaja melakukan hal bodoh seperti itu yang memang kadang membuat semua orang tertawa.


  "Sudahlah, jadi kalian ingin memesan apa?" Tanyaku lagi yang muak dengan sikap mereka berdua yang kekanak-kanakan.


 


  "Pelayan!" Aku memanggil pelayan untuk memesan makanan.


  Tidak lama pelayan datang lalu menunjukan menu yang restoran mereka sediakan. "Pilih saja apa yang kalian mau." Ucapku membiarkan mereka memilih makanan keinginan mereka.


  Aku terdiam sebentar karena melihat sebuah pemandangan yang sangat membuat diriku terkejut. Bagaimana tidak? Aku melihat seorang park jimin tengah bersama seorang wanita, mereka berdua sepertinya tengah makan siang bersama.


  Aku lagi-lagi mencoba berpikir positif mungkin saja mereka berdua adalah rekan bisnis, tapi apakah rekan bisnis harus berpegangan tangan bahkan wanita itu menyuapi jimin.


  Aku mengalihkan pandanganku agar jimin tidak melihat diriku, kenapa harus selalu aku yang melihat kejadian menyakitkan ini? Kenapa jimin harus bertemu dengan ku disaat dia tengah bersama wanita lain.


  Walau aku berusaha untuk tidak mencintai jimin dan tidak peduli dengan keadaannya, tapi perasaanku mengatakan hal lain, hati ku sakit saat melihat jimin bermesaraan bersama wanita lain.


  Aku menatap nanar jimin yang sepertinya tidak menyadari kehadiran ku di restoran ini, disana jimin terlihat bahagia apalagi aku melihat dirinya tertawa bahagia bersama wanita itu.


  Sedangkan jimin tidak pernah sebahagia itu saat bersama diriku, apa yang harus aku lakukan?


  "Hyerin! Hei?!" Aku tersentak ketika mendengar bentakan zoe padaku.


  Aku menatap mereka berdua heran karena  sentakan zoe padaku. "Kau melamun? Kau ingin makan apa?" Tanya zoe, aku hanya menggelengkan kepala ku tidak ingin memesan makanan apapun.


  Selera makanku hilang setelah melihat jimin bersama wanita lain, ingin sekali rasa aku mendatangi jimin dan melabrak wanita itu, tapi aku sadar dengan posisi ku yang tidak pernah berarti untuk jimin.


   ***


Maaf yah telat update lagi, aku memang gak bisa bagi waktu buat nulis.


happy reading