Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
jealous




***


Aku memang bodoh, malah sangat bodoh, bisa bisanya aku mengajak lelaki yang saling menatap dengan sinis untuk makan bersama?


Astaga ada kah yang mentolerir perilaku ku ini? Jujur aku menyesal, apa yang harus aku lakukan.


"Jimin? kenapa tiba tiba datang kemari?" Aku akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan setelah hampir beberapa menit saling berdiam, saling menatap sinis mencaci tak bersuara.


Reflek eunwoo dan juga sehun melirik ke arah jimin, jadi sekarang posisinya aku duduk di kursi tengah sedangkan eunwoo dan juga sehun duduk di samping kanan aku sedangkan jimin di samping kiri ku.


"Aku hanya ingin memberikan makan siang, dan melihat kondisi mu.. " Jawab jimin singkat yang hanya di balas anggukan oleh ku.


"Sudah minum obat?" Tanya jimin, aku juga hanya mengangguk pelan, sambil terus fokus mengunyah makanan yang sebelumnya di bawakan oleh jimin.


"Hyerin.. " Aku mendengar suara eunwoo yang menanggil namaku, dengan segera aku melirik eunwoo.


"Kenapa?" Tanyaku oada eunwoo, aku sedikit kesal pada mereka, cara mereka menatap jimin serasa hendak memakan atau menelannya.


"Aku harus kembali ke kantor.. "


"Ya sudah habiskan dulu makannya, woo biar gak laper.. " Ucapku dan eunwoo langsung menghabiskan makan siangnya.


"Aku juga hye.. Ada rapat dadakan.." Sehun sudah berdiri sambil membawa jas yang di lepas olehnya.


"Cepat sembuh.." Sehun mendekat ke arahku, lalu mengacak acak pucuk rambut ku, sambil tersenyum tipis.


Aku juga hanya membalasanya dengan senyuman manis, hal seperti ini sudah biasa aku rasakan, bukan lagi sesuatu yang aneh untuk kami berdua.


Aku hendak berdiri untuk mengantar sehun ke depan pintu, namun tanganku segera di tahan oleh sehun.


"Tidak apa apa aku bisa sendiri, makan saja yang benar dan jangan lupa minum obat." Perintah sehun lalu pergi dari ruang makan.


Aku menghela nafas panjang, ku lihat wajah jimin mulai terlihat murung dia sepertinya tidak suka hubungan ku dengan sehun, seharusnya dia paham aku dan sehun sudah berteman lama tidak ada lagi alasan untuk kami saling menyimpan rasa.


Eunwoo juga meninggalkan ruang makan setelah menghabiskan makan siangnya, meninggalkan aku berdua dengan jimin, aku malas membuka percakapan, aku kecewa dengan sikap mereka yang seperti anak kecil dalam menghadapi hal ini.


"Apakah mereka teman teman mu?" Tanya jimin yang masih sibuk dengan segelas teh hangat yang di sediakan oleh pelayan, cuaca di seoul sekarang sangat dingin, mengingat sebentar lagi adalah hari natal, dan cuaca mulai tidak karuan.


"Iya mereka teman temanku, kau mengenalnya?" Ucapku sambil berbasa basi, jika aku hanya membalas seadanya kami berdua akan kembali diam.


"Ya, aku mengenal mereka, eunwoo adalah sekertaris di perusahaan ayahmu bukan? Dan sehun.. Dia adalah pemilik perusahaan oh company, aku tidak menyangka kau bisa berteman dengan mereka, yang nyatanya sifatnya sangat buruk." Sindir jimin yang langsung membuat ku tersedak, apa ucapannya tidak ada yang lebih baik?


Hey? Secara tidak langsung dia telah menyindir sahabat ku, tahu apa dia tentang sahabatku? Dasar menjijikkan.


"Kau tak apa?" Tanya jimin yang melihat aku terus terbatuk, aku menggeleng menolak minuman pemberian nya.


"Aku akan pergi untuk beristirahat, aku lelah..." Aku beranjak pergi menuju kamarku meninggalkan jimin sendirian, biarkanlah aku sudah mulai benci dengan seseorang yang suka Menjudge orang lain tanpa tahu hal yang sebenarnya.


Aku mendengar suara mesin mobil yang mulai menghilang, sepetinya jimin sudah pulang, itu membuat ku tenang.


Kadang aku berfikir apakah aku terlalu egois? Karena memang aku mau menerima perjodohan ini karena dengan begitu perusahaan ayah ku akan tetap berjalan dan perusahaan jimin akan dengan senang hati membantu ku.


Itu memang pikiran ku, nyonya park menginginkan cucu aku bisa memberikan nya, tapi aku memutuskan untuk bercerai dengan jimin setelah mempunyai anak, kau tak akan bisa merasakan posisiku, di satu sisi aku butuh bantuan keluarga jimin, dan di satu sisi aku juga tak mau hidup dengan seseorang yang tak aku cintai.


Hidup ku terlalu rumit hingga diriku sendiri tak bisa memahaminya, ingatkan aku untuk tidak menanggapi perhatian dari jimin, karena aku tak ingin pada akhirnya aku menyesal telah menyetujui perjodohan ini.


***


Aku tersenyum pada karyawan yang menyapa ku, sesekali mereka menanyakan bagaimana kabarku dan ada juga yang ikut berduka cita karena kepergian ibuku, aku hanya menjawab seadanya.


Aku sudah merasa cukup pulih untuk bekerja kembali, sebenarnya jimin tidak mengizinkan ku untuk bekerja, dia bilang aku masih butuh istirahat, namun bukan aku namanya jika menurut pada seseorang apalagi jimin, jadilah aku memutuskan untuk pergi ke kantor.


Kebetulan suhu kota seoul cukup mendukung, tidak terlalu panas dan juga tak terlalu dingin, entah kenapa bulan natal ini tak seistimewa natal ku yang lain, mungkin karena tak ada lagi orang tua ku? Atau memang mood ku sedang tidak baik? Entahlah, aku bingung.


Aku berjalan menuju ruang kerja ku yang berada di lantai 3, di sana kulihat eunwoo yang sedang sibuk dengan berbagai berkas dan juga data, mungkin beberapa jadwalku yang sudah lama menumpuk karena aku menunda seluruh pertemuan dengan para investor maupun kolega.


"Selamat pagi eunwoo-yya." Aku menyapa eunwoo yang masih sibuk berkutat dengan segala berkasnya, ayahku memang tak salah dalam memilih karyawan, buktiknya eunwoo sudah di percaya hampir 5 tahun untuk menjadi sekertaris di perusahaan saat usia nya masih sangat muda.


"Pagi hyerin... Kau kenapa bekerja? Bukannya masih harus beristirahat?" Tanya eunwoo yang sekarang menatap ku tajam, apa semua orang akan seserius itu jika mengenai kondisi kesehatan ku.


"Aku baik woo, tak usah khawatir aku sudah sehat lagi pula aku terlalu bosan terus berada di rumah." Jawab ku sambil tersenyum menunjukan deretan gigi ku, mungkin eunwoo tidak akan lagi marah jika melihat senyuman ku yang sangat manis.


Ku dengar eunwoo menghela nafas pelan, aku merasa ada sedikit rasa ragu dan juga kekhawatiran yang enwoo tunjukan.


"Hyerin, aku bukannya melarang hanya saja aku takut kondisi mu semakin memburuk." Ucap eunwoo yang kini sudah berdiri dan menatap ku hangat.


"Gomawo eunwoo-yya, hanya saja aku sudah merasa lebih baik... " Bela ku agar eunwoo percaya bahwa aku benar benar baik baik saja, memang itu kenyataan, aku baik dan aku sudah sehat.


Mungkin hanya butuh istirahat tapi aku merasa sudah lebih baik.


Aku memutuskan untuk memasuki ruang kerja ku, sebenarnya ruangan enwoo berada di depan ruangan ku, jadi begini, sebelum ruangan ku pasti akan melewati ruangan eunwoo, agar mempermudah eunwoo untuk melihat siapa saja orang yang datang menemuiku.


Aku duduk di kursi kerja ku, aku menatap tumpukan dokumen yang kuyakin dari beberapa perusahan yang meminta persetujuan atau surat lamaran kerja, tugas sudah sangat menanti.


"Jika kau lelah jangan di paksakan, aku bisa membantu tugas mu." Aku cukup terkejut melihat enwoo yang sudah duduk di hadapanku, sambil dengan cekatan membersekan beberapa berkas yang berantakan.


"Tidak usah eunwoo! Kau selesaikan tugas mu saja, oke? Aku bisa melakukan nya sendiri." Aku menarik beberapa berkas yang di pegang oleh eunwoo dan ikut membersekan nya.


"Sekarang panggilkan aku hyulhyun, ada beberapa dokumen yang ingin aku lihat." Perintah ku pada eunwoo, eunwoo mengulum senyum lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kerja ku.


Aku membuang nafas kasar, untuk urusan membagi waktu aku memang tak terlalu pandai, tapi untuk perusahaan atau hal kantor lainnya aku sudah cukup lihai, lagi pula aku dulu kuliah mengambil jurusan ilmu bisnis jadi tak terlalu sulit untuk ku memahami sistem di sebuah perusahaan.


Vomment aja yang banyak biar bisa fast updatešŸ˜™


Tbcā¤