
Aku mengerang, sesekali memicingkan mata ketika merasakan sebuah sinar membuat silau kedua mataku, aku menguap menyadari ini sudah siang, tapi aku tetap saja diam dalam posisi ku yang awal, entahlah aku terlalu malas hari ini, tak bersemangat.
Tapi aku teringat sesuatu, sesegera mungkin aku mengusap kedua mataku mengedarkan pandangan mencari jimin, dan yah dia tak ada di sampingku, menyampirkan selimut yang menutupi tubuhku, aku turun dari ranjang untuk mencari jimin, mungkin dia sudah meminta sarapan pada staff.
Aku memutuskan untuk membersihkan wajahku terlebih dahulu, yang kuyakin tidaklah baik, setelah selesai membersihkan wajah, aku keluar dari kamar ku dan yang ku saksikan pemandangan dipagi ini adalah jimin dengan santainya hanya menggunkan celana training berwarna hitam, sedangkan tubuh bagian atasnya di biarkan shirtless, dan arghhh aku melihat tubuh bagian atasnya sangat atletis, aku tidak munafik tapi ini benar benar membuatku gila.
Tapi dengan sekuat tenaga, aku berusaha terlihat santai dengan raut wajah yang, em, mungkin sudah memerah, entahlah aku tak bisa mencari cermin untuk sekidar melihat betapa merahnya wajahku.
Aku berjalan mendekati jimin yang masih asik dengan ponselnya, oke dia tak menyadari kedatanganku sampai dia melirikku lalu tersenyum, meletakan handphonenya. "Selamat pagi." Ucap nya menyapaku, aku menjawab sambil tersenyum, sebenarnya aku sedang menahan malu yang luar biasa, astaga aku memang seorang gadis normal yang akan terangsang jika melihat ini.
"Kau memasak sarapan?" Tanyaku ketika melihat beberapa makanan kecil berada diatas meja makan yang cukup minimalis, sebenarnya hotel ini tak terlihat seperti hotel, seperti apartemen pun bukan, bagaimana yah? Fasilitas disini terlalu berlebihan untuk dibilang hanya hotel, dan tempat ini kurang memadai untuk dikatakan sebagai apartemen, kalian memahami maksudku? Ahh sudahlah.
"Beberapa staff tadi mengantarkannya kemari." Jawab jimin masih menatap kearahku, aku mengangguk lalu ikut duduk disampingnya, gaya ku pagi ini mungkin aneh, aku masih menggunakan baju tidurku dan membiarkan rambut pendekku tak terurus, mungkin itulah yang membuat jimin terus memperhatikanku.
"Maaf yah." Aku tecekat sambil menunduk, menatap bayangan ku yang tampak dari meja makan yang transparan, aku baru saja meminta maaf pada jimin. "untuk?" Tanya sambil mengerutkan keningnya, pasalnya aku baru saja meminta maaf tanpa ada kesalahan yang aku perbuat, oke mungkin itu pikiran jimin. Tapi tidak dengan pemikiranku.
"Maaf karena pagi ini aku belum bisa bangun lebih awal darimu, aku bahkan tak bisa menyiapkan sarapan pagi untukmu, aku terlalu bodoh untuk menjadi seorang istri." Aku tersenyum kecut, mendeklarasikan pada jimin tentang diriku yang memang bodoh, lebih tepatnya, karena tak bisa mengurus seorang suami.
Yang kudengar selanjutnya hanya kekehan jimin yang aneh, hey? Kenapa dia tertawa aku sedang serius. "Tidak apa apa, aku mengerti... Tidak usah mengkhawatirkan diriku, aku bisa melakukan hal itu sendiri." Jimin mengelus elus rambut pendekku sambil mengulas sebuah senyum tipis, tak terlihat tipis karena bibir tebalnya.
Tapi dimataku ucapan jimin tadi seperti sebuah sindiran bahwa dia bisa hidup sendiri tanpa bantuan dariku, yang ku pikiran jimin tak membutuhkan bantuanku, dan kuharap hipotesa ku tadi adalah salah.
"Sudah, sarapanlah karena setelah ini kita akan pergi menuju rumah eomma." Jimin berdiri lalu pergi meninggalkanku sendiri di meja makan ini, tarik nafas panjang keluarkan, sabarlah kim hyerin karena ini adalah cobaan.
Aku sekali lagi mencelos dalam hati kenapa pagiku seburuk ini? Apakah dia marah? Heol? Siapa yang ingin ditinggalkan sarapan sendirian disini, cukup besabar hyerin.
Δ_Δ
Di sinilah aku, sedang menikmati sarapan untuk yang kedua kalinya, karena nyonya park terus memaksaku untuk sarapan masakan buatan dirinya sendiri, jimin juga sepertinya memberikan kode untuk menurut saja apa kata nyonya park.
Pagi ini kami sarapan tanpa kehadiran tuan park jungsin, nyonya park bilang tuan park pergi kekantor pagi pagi sekali karena akan mendatangi sebuah rapat yang sangat penting, dan rapat itu tidak bisa diwakilkan, sehingga tuan park tak bisa ikut berkumpul disini, membicarakan banyak hal, ucap nyonya park tadi.
Dan aku menyuapkan beberapa odeng kedalam mulutnya dengan malas, padahal perut ku sudah sangat penuh dengan makanan sarapan tadi. "Bagaimana malam pertama kalian?" Tanya nyonya park menatap kami berdua dengan sangat intens, mengintimidasi lebih tepatnya.
"Seperti itu eomma" Jimin berucap sambil menegguk segelas teh hangat yang disediakan oleh nyonya park. "Seperti apa?" Tanya nyonya park sambil menaik turunkan kedua alisnya, menantang dan menggoda. "Tidak mungkin kami harus menceritakan bagaimana kronologinya bukan?" Tukas jimin, sambil tertawa kecil aku ikut tertawa juga setelahnya nyonya park ikut tertawa tapi sangat keras.
"Oke, maafkan eomma, itu benar benar tidak lucu." Nyonya park terkekeh, sambil kembali menatap kami berdua, sampai kami lupa bahwa sedang menikmati sarapan karena nyonya park yang sudah menginterogasi.
"Baiklah, itu akan tetap menjadi rahasia kalian berdua, tapi kalian tahu bukan eomma tak mau kalian menunda untuk memiliki anak." nyonya tersenyum, senyum yang sangat telus, seperti berharap dan aku merasa bersalah karena telah membohongi nyonya park yang sangat baik.
Aku hanya tersenyum miris mendengar ucapan nyonya park, aku tak tahu kapan aku akan siap memiliki anak dari jimin, tapi aku masih ingin bermain dengan dunia ku, aku masih belum merasa puas dengan dunia yang aku rasakan, aku ingin dunia baru.
"Lalu kalian akan tinggal dimana?" Oke nyonya park seperti seorang wartawan yang sangat penasaran dengan kehidupan orang lain, bedanya nyonya park sedang bertanya pada pasangan suami istri baru.
"Dirumah lamaku saja, aku tidak akan menjualnya itu peninggalan orang tuaku, aku ingin kita berdua untuk mengisi rumah itu." Ucapku pada akhirnya bersuara, jangan sampai rumah milik eomma dan appa dijual begitu saja, aku tahu rumah itu adalah saksi perjuangan mereka dari nol hingga sebesar itu.
"Eomma setuju, rumah itu adalah properti milik tuan Kim dan nyonya Kim, mereka pasti memberikan itu untuk hyerin." Ucap nyonya park, jimin hanya mengangguk pelan menyetujui apa yang dikatakan oleh aku dan nyonya park.
"Baiklah, kami berdua akan tinggal disana dan sepertinya eomma akan aku pergi dengan hyerin, tak apa bukan?" Tanya jimin, aku menoleh menatap jimin, aku tak tahu bahwa hari ini dia akan mengajakku pergi? Tapi kemana? Dan untuk apa, tentunya.
Nyonya park tersenyum lalu mengangguk mantap "Nikmati waktu kalian berdua."
***
"Kita akan kemana?" Tanyaku pada jimin yang masih tersenyum misterius, sedari tadi dia membawaku menjauh dari hiruk pikuk kota seoul, aku sendiri tak tahu dia akan membawaku kemana.
"Jim! Kita akan kemana?" Tanyaku lagi dia dengan sedikit senatakan, oh, ayolah jika memang dia ingin memberi kejutan setidaknya jangan membuat ku berpikiran aneh dan membuatku takut.
"Sstt sudahlah, kemanapun itu kau pasti suka." Jawab jimin tak menolehkan pandangannya sedikit pun padaku, karena dirinya sibuk menyetir.
Aku mendecih mengalihkan pandanganku menuju jendela mobil, suasana disini mulai sepi karena sekali lagi kukatakan jimin membawaku keluar dari daerah perpusatan kota seoul.
Dan aku tak tahu jimin akan membawa ku kemana?