Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
namsan park



  Di sinilah aku berdiri, di antara pepohonan yang rindang, sambil menatap sekeliling yang masih ramai oleh pengunjung, baiklah ternyata jimin membawaku ke taman namsan, sudah berapa lama aku tidak berkunjung ketempat ini, aku memang terlalu sombong untuk seorang warga negara korea, sehingga lupa dengan wisata negaranya sendiri.


   Aku hanya menatap kedua sepatu yang aku gunakan, ketahuilah hari ini aku menggunakan sepatu sneakers berwarna putih, celana denim robek robek dengan, dengan kaos berwarna kuning, kupikir jimin tak akan mengajakku jalan jalan.


  Dan sekarang aku menjadi pusat perhatian karena gayaku yang aneh.


  Sekali lagi aku mengehela nafas panjang, merasa sungkan untuk beranjak dari kursi yang tengah aku duduki ini, jimin sedang membeli es krim dan berbagai makanan, entah apa yang jimin inginkan, namun dia tidak membeberkan tujuannya mengajakku ke taman namsan ini.


   "Hai?" Aku menoleh sesaat setelah mendengar seruan dari seseorang, aku mencarinya dan yang ku lihat seorang anak kecil tengah menatapku.


   "Oh? Hei? Sedang apa kau di sini?" Aku mendekat ke arah anak lelaki berumur sekitar 5 tahun ini. Mensejajarkan tinggi tubuhku dengannya. "Noona... Aku tercecat." Ucap sang anak kecil dengan nada yang sangat menggemaskan, jika begini aku ingin mempunyai seorang anak.


  "Jinjja? Siapa nama orang tuamu? Kau mengingatnya?" Tanyaku, pada anak kecil itu, sekarang aku sudah menggenggam kedua bahu nya. "Aku tidak tahu. .." Lirih anak itu, aku kebingungan jika dia tak mengingat nama orang tuanya, bagaimana aku bisa membantu anak kecil ini.


  "Oh iya, siapa namamu?" Tanyaku


   "Namaku choi sanjin." Jawabnya pelan, mengangguk, berpikir untuk membawanya ke petugas ke amanan, agar segera bisa di temukan kedua orang tuanya.


   "Baiklah, sanjin tunggu, noona akan mengantarmu pada kedua orang tuamu, oke?" Ucapku kemudian berdiri mengambil tas ku yang berada di atas kursi yang aku duduki tadi.


   "Hyerin, siapa dia?" Aku menoleh ketika mendengar suara yang tak asing bagiku, suara jimin, dan yah ketika ku lihat ternyata itu jimin yang sudah membawa 2 cup ice cream.


  "Oh, dia sanjin, dia bilang dia tersesat dan terpisah dari kedua orang tuanya, maka dari itu aku akan mengantarnya ke petugas keamanan." Jawabku sambil memasangkan tas slempang yang ku gunakan.


   "Dia mengingat nama kedua orang tuannya?" Tanya jimin. "Tidak..." Jawabku sambil melirik sanjin yang masih terdiam menatap kami berdua.


  "Ya sudah kita antarkan dia ke petugas kemanan."


   "Sanjin! Sanjinnn!!" Aku mendengar suara seseorang memanggil nama sanjin, aku dengan Jimin yang juga mendengar suara itu meluaskan pandangan mencari asal suaranya.


  


  "Sanjin!" Aku dengan jimin terkejut saat seseorang telah memeluk sanjin dengan erat, yang kulihat dia seorang wanita dan tak lama seorang lelaki datang menuju ke arah kami.


   "Sanjin, kau darimana, eomma mencarimu." Perempuan ini melepaskan pelukannya pada sanjin, lalu dengan cepat mengecup kening sanjin, aku merasa gemas dengan sanjin karena pipinya yang merona alami.


  "Tadi sanjin tercecat eomma, lalu noona ini akan membantu sanjin." Ucapnya dengan logat yang sangat lucu, menunjuk ke arahku, aku tersenyum saat wanita yang kemungkinan adalah ibu dari sanjin menatapku dengan penuh rasa terimakasih.


   "Terimaksih yah... " Wanita itu bediri dengan cepat lalu menarik tanganku dengan sangat erat, ku lihat dia hampir saja menangis.


  


   "Tidak apa apa." Aku tersenyum kikuk sambil menggaruk garuk tengkuk ku.


  "Sanjin harus janji, sanjin tidak boleh berpisah lagi dari appa atau eomma, oke?" Giliran lelaki tadi, membawa sanjin dalam gendongannya.


  Jika begini aku teringat kedua orang tua, eomma appa mereka pasti merindukanku.


 


  "sanjin sangat imut, aku ingin segera mempunyai anak seperti sanjin." aku melotot dengan kedua wajah yang bisa dibilang konyol, menatap jimin horor, apa yang baru saja dia katakan? Mempunyai anak?


  "Jangan menatapku seperti itu." Kulihat jimin dengan serius menatap wajahku, lalu tersenyum manis, aku terdiam, merasakan Jimin tengah memberikan aliran rasa yang begitu dalam sehingga alat pacu pernapasan ku sedikit berkurang dalam performa bekerja, seperdetik kemudian aku tersentak dan sadar dari dunia arena pacu jantung yang membuat ku candu.


  "Ayo..." Jimin menarik lenganku, pelak membuatku kembali terkejut tak kala jimin membawaku menjauh dari tempat awal saat aku berdiri.


  "Kita akan kemana?" Tanyaku pada jimin dengan suara parau, masih berusaha berdiri tegap ketika jantung bermain dengan ritme yang mengacak.


  "Kita akan berwisata di taman namsan ini... " Jawabnya menatap kedua obsidian ku dengan sebuah senyuman yang tak kalah membuatku kembali mendapatkan serangan jantung dadakan.


  Aku mengangguk singkat mengikuti jalan langkah jimin yang masih setia dengan memengang lenganku, sementara tangannya yang lain memegang es krim yang masih dalam keadaan terbungkus.


***


Aku tersenyum pelan sambil menatap hamparan pepohonan yang tampak jelas dari atas sini, menunjukan betapa indahnya pemandangan kota seoul jika di lihat dari atas.


   Sibuk dengan pemikiranku, tak pelak membuat ku lupa bahwa ada seseorang di hadapanku yang tengah serius memperhatikan segala tingkah laku tengah ku lakukan.


   "Jim?" Aku melambaikan salah satu tanganku pada jimin yang masih terdiam dengan satu titik fokus yang terpusat padaku, aku ketakutan setengah mati, karena ku pikir jimin mengidap fobia takut ketinggian, karena sedari tadi dia tak mengedip atau mengucapkan sepatah kata.


  Ya, kami berdua berada di dalam gondola, ini bukan permintaan ku, tapi Jimin sendiri lah yang mengajakku untuk mencoba wahana permainan ini, jangan salahkan aku jika terjadi apa apa dengan jimin.


  "Jimin? Hey..." Aku dengan kasar memukul pipi jimin, lebih tepatnya menampar, karena ketakutan, sebab jimin tak mengucapkan sepatah katapun.


   "Yakkk! Jangan kasar, ini sakit..." Aku mengigit bibir bawahku pelan sambil mengerutkan alisku, meringis bisa dibilang karena melihat jimin kesakitan karena ulahku. "Maaf jimin, aku takut..." Lirihku sambil menundukan kepala, merasa bersalah dengan ulahku karena tanpa se izin jimin menampar wajahnya.


   "Ya sudah tak apa apa.. "Jawabnya megusap pucuk rambutku yang pendek, "Habis, kau membuatku ketakutan, kau mempunyai fobia ketinggian?" Tanya ku pada akhirnya pada sosok tampan yang berada di hadapanku ini.


   "Tentu saja tidak, aku tak mempunyai penyakit seperti itu." Elak nya sambil membuang nafas kasar, lalu memutar bola matanya malas, aku mendecih, jijik dengan tanggapan jimin.


  "Lalu? Kenapa kau terus terdiam jika tak ketakutan?" Aku menekankan semua pertanyaan kali ini, mengeluarkan seluruh upaya agar diriku bisa terlihat lebih garang dengan mata yang berusaha aku besar besarkan.


  "Tidak ada..." Jawabnya dengan santai, aku kembali mendecih membuang muka untuk tak menatap jimin sialan, yang mudah sekali membuat ku merasa di permainkan, apa yang dia pikirkan?


  Aku menyendokan es krim kedalam mulutku, ini adalah cup es krim kedua yang kumakan, sebenarnya satu cup ini adalah milik jimin, tapi aku memintanya jimin juga tak keberatan.


   "jangan marah... Aku terdiam tadi karena menatapmu, kau sangat cantik hari ini." Aku merasakan jimin menangkup kedua pipiku yang sedang melempar pandangan menuju jendela, hingga akhirnya mata ku bertemu dengan iris hazel milik jimin, membuat ku terdiam sejenak, melihat pantulah wajahku di antara kedua bola mata itu.


  "Sebenarnya tujuanku mengajak mu kemari, bukan karena untuk berwisata, melainkan karena kita sebelumnya tidak mengenal satu sama lain, kita langsung menikah, aku tahu kau merasa tidak nyaman, maka dari itu aku mengajak mu untuk berpacaran sekarang, agar kau bisa lebih mengenalku dan aku bisa mengenalmu lebih dalam." jelas jimin masih menangkup kedua pipiku, tak membiarkan pandanganku lepas dari kedua bola matanya, menghilangkan semua pikiran ku agar tetap berfokus pada ucapannya dan itu membuat ku candu seketika.


   "Kau mau?"


Ok gak bakal banyak bacot, insyaallah nanti bisa fast update:)