Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
more




***


Aku masih berusaha mati matian untuk menolak permintaan jimin, yang lebih tepatnya ketika dia meminta aku untuk makan. Saat ini tenggorokan ku terasa sangat kering dan sangat sulit untuk ku menikamati rasa makanan.


Aku terdiam saat mendengar pintu ruang kamar ku terbuka, di sana ku lihat tuan park jungsin dengan nyonya park yunhyen. Apakah aku tidak salah lihat? Mereka berdua datang untuk menjenguk ku? Oh yah aku lupa, aku adalah calon istri jimin, pastilah mereka akan menjenguk ku.


Mereka berdua menatapku sambil tersenyum, semuanya terlihat sangat tulus apalagi senyuman yang di berikan oleh nyonya yunhyen yang ku lihat begitu ramah.


"Hai hyerin? Bagaimana keadaan mu?" Tanya tuan park sambil meletakan parsel berisi buah buahan di atas nakas di samping tempat tidurku.


"Aku baik.. " Jawab ku sambil mengukir senyum, itu ku usahakan karena yang ku tahu mereka sangat baik.


"Appa...Eomma...Lihatlah hyerin tidak mau makan!" Aku menatap bingung jimin, astaga dia sangat manja, apa hal seperti itu harus dia adukan pada kedua orang tuanya?


Tuan park menatap ku sebentar, lalu kemudian nyonya park juga ikut memperhatikan ku, astaga jimin semua ini ulahmu.


"Hyerin... Ayo makan kau tidak boleh seperti itu." Nyonya park segera mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan jimin.


Nyonya park mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan jimin, perintah untuk jimin pergi dari tempat duduk itu.


Jimin mengerti lalu dengan segera dia berdiri dan di gantikan dengan nyonya park yang sudah duduk sambil menatap ku.


"Ayo makan... " Nyonya park menyuapkan bubur kedalam mulutku, aku sebenarnya tidak ingin makan tapi aku tidak bisa menolak permintaan nyonya park.


"Kau jimin! Sebagai calom suami harus pandai merayu istrimu!" Ku lihat tuan park menatap jimin tajam, aku hanya terkekeh melihat jimin yang diam sambil menahan malu karena di marahi oleh ayahnya.


"Nyonya park sudah kemarikan aku bisa memakannya sendiri." Ucapku sambil menahan tangan nyonya park untuk berhenti menyuapkan bubur kedalam mulutku.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu hyerin, aku ini ibu mu, panggil aku eomma." perintah nyonya park padaku sambil menggoyang kan jari telunjuknya.


Aku tertawa pelan, nyonya park memang sangat baik, beruntunglah jimin bisa memiliki orang tua sebaik dan sekaya nyonya park dan tuan park.


"Baik e-eomma" Ucapku gugup, aku sungguh malu Bagaimana tidak jimin dan tuan park sedang berbisik bisik tentang kedekatan ku dengan nyonya park.


"Hyerin kau sudah tahu tentang perjodohan itu?" Tanya tuan park mengalihkan atensi ku dari suapan nyonya park.


"Aku sudah tahu, Tu-"


"Appa hyerin...Panggil aku appa." Ucapan ku terpotong oleh tuan park yang sekarang benar benar meminta ku untuk memanggilnya appa.


Aku mengangguk tanda mengerti, walau aku sedikit canggung dengan panggilan itu.


"Jadi kapan kau akan memutuskan untuk menikah?" Tanya tuan park sambil menatap aku bergantian lalu menatap jimin yang sedari tadi hanya diam.


"Mung-"


"Jangan terlalu terburu buru appa, hyerin belum sembuh, dia juga baru kehilangan orang yang dia sayang.. Kita tunggu hyerin siap yah?" Potong jimin sambil menatap wajahku, entah apa yang mereka katakan melihat wajahku yang mungkin sudah sangat kusut dan pucat ini.


"Jadi kapan kau siap hyerin?" Kini semua orang di dalam ruangan menatapku, aku mengerutkan dahiku, aku bingung? Apa harus secepat itu? Aku belum siap untuk menikah.


Heyy umurku baru saja menginjak 28 tahun, umur yang masih sangat muda untuk aku menikah, lagi pula niatku adalah menikah pada umur 30 tahun dengan lekaki yang seumuran.


Dan ini? Aku akan menikahi seorang park jimin yang umurnya 2 tahun lebih tua dariku, aku yakin aku tidak akan sanggup!


"Kau baik hyerin?" Aku terkejut, bodohnya diriku! Aku melamun di hadapan mereka, astaga kau bodoh kim hyerin! Bodoh!


"Ahh eomma appa aku baik, mm mungkin setelah aku sembuh." Jawab ku pelan, sebenarnya aku ingin menolak tapi lihatlah aku tak tega dengan tuan park dan juga nyonya park yang terlihat sangat berharap.


"Baguslah, appa juga tidak ingin menundanya lagi, apa ingin segera menimang cucu." Ucap tuan park yang memang terlihat sangat berharap, yah bukan hanya tuan park yang ingin segera menggendong cucu, tapi eomma ku juga, hanya saja tuhan berencana lain untuk membuat eomma pergi.


Mungkin tuhan sudah terlalu rindu dengan eomma sehingga dia sangat mengharapkan eomma ada di sampingnya.


"Segeralah sembuh hyerin-ya" Ucap nyonya park, aku menangguk menerima nasib ku yang memang sangat sial.


Aku terdiam sambil meremas jari jariku pelan, setelah tuan park dan nyonya park pergi, aku merasa canggung dengan jimin, rasanya ah- tidak menyukai nya.


"Apa kau yakin akan menikah dengan ku secepat itu?" Jimin sepertinya merasakan kecanggungan ku, dia membuka obrolan setelah hampir 20 menit saling bertanya dalam diam.


"hmm, aku yakin.. " Jawab ku lirih, ku harapkan jimin tidak curiga atau pun mengetahui bahwa aku berbohong, karena setahuku jimin adalah orang yang sangat peka.


***


"Kau sudah tidak menanggap kami sebagai sahabatmu?" Aku diam tidak menjawab ucapan eunwoo dan juga sehun, aku tidak menyangka mereka akan semarah ini saat aku memberi kabar bahwa aku baru saja sembuh dari sakit.


Salahku memang tidak memberitahukan pada mereka, hanya saja aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan ku, aku sudah cukup sering membebankan mereka.


"Bukan seperti itu! Aku hanya tidak sempat menggenggam handphone, aku sedang sakit tak mungkin bukan aku bermain handphone saat seperti itu." Elak ku, memang benar adanya aku tidak membawa handphone.


Bahkan aku tidak tahu apa kabar dengan handphone atau perusahaan appa.


"Ya sudah aku minta maaf." Ucapku sambil menatap kedua sahabatku yang sudah mengerucut kan bibirnya.


"Kau janji tidak akan melakukan itu lagi?" Tanya sehun, aku hanya mengangguk pelan, aku tidak bisa berjanji akan hal seperti itu sehun.


Tapi kali ini ku usahakan saja, agar mereka tidak lagi marah padaku.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya ku, sehun tak perduli dengan pertanyaan ku, ya karena dia dan aku beda perusahaan. Sedangkan eunwoo adalah sekertaris ku di kantor.


"Baik..selama kau tidak ada jimin membantu keuangan perusahaan." Jawab Eunwoo sambil menyesap teh yang sudah di siapkan oleh ahjumma jiena.


"Kau akan menikah?" Aku tersontak, dan tahu kah kalian siapa yang berbicara? Dia oh sehun, astaga aku masih tidak menyangka berita itu akan tersebar luas.


"Kau tahu?" Tanya ku masih terkejut dengan pertanyaan sehun, sehun orang yang sangat dingin dan cool tapi di balik sifat acuh dan dinginnya, dia adalah orang yang sangat perhatian dan juga lucu.


"Yah, tuan park menyebarkan seluruh beritanya pada rekan bisnisnya, termasuk kepada ku... " Jawab sehun, aku mengerti hal ini adalah hal yang membahagiakan bagi tuan park.


Tapi bagi ku tidak, Arghhh aku sudah cukup frustasi dengan semua ini.


"Tidak apa apa bukan?" Tanya ku sambil tersenyum canggung, aku tahu eunwoo dan sehun akan sangat sensitif jika mengetahui aku mempunyai sebuah hubungan dengan laki laki.


Ya..Karena mereka berdua sudah banyak mengetahui masa lalu ku yang tak terlalu indah.


Klek


Aku menoleh ke arah suara, di balik pintu kulihat jimin yang masuk kedalam ruang tamu sambil membawa beberapa bungkus plastik.


Eunwoo dan sehun menatap sinis jimin, aku sudah memperkirakan ini, bahwa sekarang perang dunia ke 3 sudah di mulai.


Boleh vomment biar aku tambah semangat up nya><



papi able bangett