Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
chapter bonus



  Hari ini aku sudah berdandan sangat cantik, ya kata guanlin aku selalu cantik setiap hari, tapi aku tak percaya dengan hal itu. Lagi, kesekian kalinya aku menatap diriku pada pantulan kaca, membenarkan poni rambutku yang sedikit bernatakan. Memiliki rambut panjang memang merepotkan.


  Setelah dirasa aku sudah sangat sempurna, ku langkahkah kakiku keluar dari kamar. Menuju ruangan lain yang di isi oleh anakku, park seana, lebih suka di panggil dengan sebutan sea, yang artinya lautan. Lautan biru yang dalam, dan indah.


  Aku membuka pintu kamarnya, melihat apakah sea sudah selesai dengan pakaiannya. Dan benar saja, disana sudah ada lai guanlin yang sangat telaten membantu sea mengikat rambut panjangnya yang berwarna cokelat. Sea duduk didepan meja rias, sedangkan guanlin berdiri dibelakang sea, menyisir rambutnya.


   Tersenyum miris, merasa tak berguna menjadi seorang ibu. Walau sangat sulit bagiku untuk menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus untuk sea, terkadang aku menyesela telah beranggapan bahwa pernikahan adalah sebuah permainan, hingga akhirnya membuat sea menjadi korban.


   Maafkan momy sea.


  Berusaha tak menangis, sayang pula dengan make up yang telah ku pakai, akhirnya aku memutuskan untuk menutup pintu kamar sea, tak menimbulkan suara agar kedua orang itu tak terganggu. Lebih baik aku menunggu sea diluar, ketibang harus merasakan sakit lebih dalam lagi.


   Aku mendudukan tubuhku diatas sofa ruang keluarga, pening sendiri. Hari ini aku berencana untuk bertemu dengan nyonya park dan tuan park, sekedar menyapa dan makan siang bersama denagn mereka. Dan pastinya mereka sangat ingin bertemu dengan sea.


  Sekaligus aku akan meminta restu pada nyonya park dan tuan park, bahwa aku akan menikah dengan guanlin beberapa hari lagi. Ya, aku sudah bulat dengan keputusanku, aku ingin membangun bahtera rumah tangga bersama dengan guanlin. Lelaki yang selalu mengerti perasaanku, yang selalu ada disampingku, guanlin memang benar-benar mencintaku.


   Aku tak akan menyia-nyiakannya lagi.


  "MOMY! LOOK AT ME!"


   Aku menoleh pada arah suara keras itu, mendapati sea tengah berlari dengan senyuman lebar diwajahnya. "Hati-hati sea, nanti jatuh." Peringat guanlin yang mengikuti lari sea dari belakang.


  Sea menghambur pada tubuhku, memeluk diriku dengan sangat erat. Aku hanya bisa tersenyum tipis membalas pelukan tulus yang diberikan sea padaku.


 


   Sea mengurai pelukannya, menatapku dengan sebuah cengiran khas anak-anak dengan gigi susunya yang terpajang rapih, sangat imut, dan matanya yang berwarna cokelat tak bisa mengingatkan aku dengan siapapun, karena menurutku wajah sea sangat asing, kedua orang tuaku adalah asli korea, tidak tahu dengan keluarga jimin.


   "Mom, look, dad mengikat rambutku seperti princess anna. Dad bilang aku sangat mirip dengan dia." Girang sea, memutar-mutar tubuhnya, dia memang sangat cantik dengan gaun selutut berwarna biru yang ia gunakan.


   "Wah, sea cantik sekali." Pujiku, mengusap punggung sea pelan.


   "Mau ku antar kesana?" Tanya guanlin.


   "Tidak perlu, aku bisa menaiki mobil. Bukankah kau ada pemotretan? Lebih baik bergegas berangkat." Jawabku, menepuk bahu guanlin yang lebar. Dia sudah sangat tampan dengan kemeja santai yang is kenakan.


   "Baiklah, hati-hati hm?" Peringat guanlin, tersenyum padaku lalu beralih pada sea, mencium kedua pipi gadis itu secara bergantian.


   "Sea jangan nakal yah? Dengarkan apa kata momy." Nasihat guanlin, bagaikan seorang ayah. Ah—aku lupa, guanlin memang sudah menjadi ayah karena selalu mengurusi sea sedari kecil.


   "Baik dady, sea kan anak baik." Jawabnya dengan senyuman yang manis, menenangkan.


  "Dady percaya pada sea, jaga momy yah." Tambah guanlin.


  Aku memutar bola mata malas, bisa-bisanya guanlin berkata seperti itu. Dia pikir aku anak kecil yang perlu dijaga? "Aku berangkat, bye!" Pamitnya, melambaikan tangan padaku dan sea, aku membalasnya dengan malas sambik menunjukan wajah meledek pada guanlin. Membuat lelaki yang masih melambaikan tangannya dengan posisi berjalan mundur itu terkekeh.


    Setelahnya aku menatap sea, siap tak siap aku harus membawa sea untuk menemui nyonya park dan tuan park. Mereka harus tahu, bahwa sea adalah anak ku dan jimin.


  ***


    Aku berhenti sebentar didepan pintu rumah yang sangat besar, sesekali aku tertawa masam begitu mengingat banyak kenangan dari rumah ini. Rasanya sudah lama aku tak datang kemari, aku merindukan nyonya park dan tuan park. Kehangatan yang selalu mereka berikan padaku, tawa mereka dan segala cinta yang tak aku dapatkan setelah kepergian kedua orang tuaku.


   "Mom, kenapa kita berdiri disini?"


  Aku menoleh pada sea yang kini tengah ku gandeng, tampaknya sea kebingungan karena aku tak kunjung masuk kedalam rumah ini dan memilih berdiam diri didepan pintu. Aku membuang nafas panjang, berusaha kuat dengan apa yang ku dapatkan nanti didalam, aku tak boleh goyah.


   "Ya, ayo masuk."


  Menekan bel rumah itu, menunggu selama beberapa detik hingga seorang maid berseragam membukakan pintu untuk kami berdua.


  "Siapa?" Tanyanya begitu pintu rumah itu terbuka.


   "Kim hyerin." Jawabku.


  Maid yang merupakan seorang wanita itu menyerngit kebingungan, mungkin dia tak tahu siapa diriku. "Kau bisa bertanya pada nyonya mu. Katakan, bahwa kim hyerin datang." Jelasku.


  Sang maid mengangguk paham, kemudian kembali masuk kedalam rumah itu, kembali menutup pintu rumah. Aku hanya bisa bersabar, sudah lima tahun aku tak kemari, mungkin saja itu adalah pegawai baru jadi dia tak tahu bahwa aku adalah mantan istri park jimin.


   "Mom, sebenarnya ini rumah siapa?" Tanya sea.


Aku memang belum memberi tahu kemana aku akan mengajaknya. Tapi yah, sudahlah nanti sea pasti paham dengan apa yang terjadi, lagi pula ini sudah waktunya, aku tak boleh lari lagi. Tak lama pintu rumahnya terbuka lagi, kini lebih lebar, terbuka dua sisinya.


  Aku tertegun, sebab orang yang pertama kali ku lihat adalah park jimin. Lelaki itu yang membukakan pintu untukku, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, karena jujur aku gugup sekali, melihat jimin yang sangat tampan walau hanya dengan kaus v neck. Bibirku terasa rapat sekali, sulit untuk bergerak, semilir angin menerbangkan sebuah wangi yang sudah lama tak ku Hirup, minyak wangi ini, sangat khas dengan jimin.


    Jimin juga tak melakukan apapun, dia hanya menatapku sendu sama seperti apa yang aku lakukan, saling bertatapan dalam diam.


   "Hyerin!"


  Aku tersentak, langsung memutus kontak mataku dengan jimin. Bergerak salah tingkah karena ketahuan saling bertatapan dengan jimin. Berdehem canggung, berpura-pura melihat sea yang ternyata sudah menatapku dengan wajah yang tak dapat ku artikan.


   Aku melihat nyonya park, yang kini sudah berdiri disamping jimin tersenyum padaku dengan wajahnya yang menunjukan raut terkejut. Nyonya park langsung berlari ke arahku, memeluk diriku dengan sangat erat, terdengar helaan nafas yang nyonya park keluarkan. Setelahnya sebuah isakan mengiringi.


  "Maafkan eomma nak, maaf." Ucapnya beberapa kali.


   "Eomma, aku baik-baik saja. Jangan meminta maaf." Kataku yang merasa tak enak hati, karena memang nyonya park tak memiliki salah apa-apa padaku.


   "Maafkan eomma, maaf." Ucapnya lagi masih dibarengi dengan isakan kecil yang terdengar.


   Aku mengurai pelukanku dengan nyonya park, menatapnya dengan sebuah senyuman tipis, agar dirinya tak terus bersedih. "Eomma, jangan meminta maaf."


   Nyonya park membalas senyumanku, lalu mengusap rambut ku yang panjang. "Kau semakin cantik hye." Pujinya, aku terkekeh menjawab pujian nyonya park.


   "Kau baik-baik saja kan?" Tanya nyonya park.


  Ketahuilah, kami semua masih berada didepan pintu rumah. Untungnya saja, gerbang rumah nyonya park sangat jauh dari pintu utama sehingga orang lain tidak akan melihat kejadian ini. "Seperti apa yang eomma lihat, aku baik-baik saja bukan?" Jawabku menunjukan sebuah senyuman lebar yang berusaha terlihat ceria.


  Nyonya park mengangguk senang, kemudian pandangannya beralih pada sea yang terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi. Lalu, nyonya park menyamakan tinggi tubuhnya dengan sea, menatap sea dengan lekat, terdiam tak melakukan apa-apa.


   "Eomma, dia adalah park seana. Anaku." Ucapku.


  Setelahnya nyonya park kembali terisak, kini lebih kencang dari tadi. Memeluk tubuh kecil sea terlampau erat. Aku yang melihatnya hanya bisa menahan rasa nyeri dalam hatiku, sejahat itukah diriku?


   "Mom." Lirih sea sedikit bergetar.


   Aku menatap anakku satu-satunya itu, berusaha menenangkannya agar menerima pelukan nyonya park. "Maafkan nenek, tak bisa menjagamu."


  Lagi dan lagi, rasa nyeri itu kembali menyambar. Sebesar itu luka yang kuberikan pada nyonya park karena kepergian. Apakah dia benar-benar terpukul? Apakah aku salah telah memisahkan mereka? Jika nyonya park seterpuruk ini, bagaimana dengan jimin? Apakah dia merasakan hal yang sama?


  Entahlah, aku tidak pernah bertanya akan hal itu.


   Nyonya park melepaskan pelukannya, menggengamnya kedua tangan mungil sea. "Kau sangat mirip dengan ibuku." Ucap nyonya park, aku yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyum, ternyata wajah bule sea turunan dari keluarga jimin.


   "Hei, ayo masuk. Lihatlah, para pembantu menatap kalian semua."


  Aku melihat tuan park yang baru saja keluar, tersenyum tipis pada tuan park, yang dibalas dengan cengiran lebar khas dirinya. Lalu tuan park memelukku erat, selayaknya seorang ayah pada anak perempuannya. Itulah yang aku rasakan.


   "Ah hyerin, kau semakin dewasa."


Tuan park melepaskan pelukannya padaku. "Kau hidup dengan sangat baik sepertinya." Ucap tuan park.


  Aku hanya membalasnya dengan kekehan, tak berniat menjelaskan juga yang pasti tuan park tahu kehidupanku selalu tercukupi, sekalipun aku bangkrut ketiga sahabat ku tidak akan membiarkan aku mati kelaparan. Apalagi oh sehun.


   "Ayo, masuk." Titah tuan park pada nyonya park dan juga jimin yang masih berdiri diambang pintu, tak mengucapkan sepatah kata apapun sedari tadi.


   "Eomma, berikan aku sedikit waktu."


  Aku cukup terkejut karena sekarang jimin mengutarakan permintaannya pada nyonya park. Ku lihat nyonya park menerima permintaan anaknya itu, kini sudah berjalan bersama dengan tuan park meninggalkan aku dan sea juga jimin disini.


   "Bolehkah?" Tanyanya.


  Aku mengangguk memperbolehkan apa yang ia minta. Aku tahu apa yang maksudkan adalah seana, pasti jimin ingin memeluk anaknya. Anak kandungnya yang sengaja ku pisahkan hampir selama 5 tahun. Dan benar saja, jimin langsung memeluk tubuh kecil seana, benar-benar lama, terlihat sangat tulus.


     Aku tak bisa melakukan apapun lagi, hanya bisa memandangi anak dan ayah yang saling berpelukan. Terlihat sangat mengharukan untuk di pandang. Pun tahu apapun, sea memilih diam, menerima pelukan jimin karena aku sudah memberikan isyarat pada anak itu agar tenang dan menurut saja.


    Jimin melepaskan pelukannya, sejurus kemudian dirinya mengecup kedua pipi sea dan terakhir dikeningnya. "Kau pasti park seana?" Tanya jimin.


   "Ya, kau siapa?" Jawab sea yang bingung juga dengan sosok jimin yang asing bagi dirinya.


   "Sea, dia dady mu. Dady jimin." Potong ku dengan cepat sebelum jimin berkata hal aneh yang semakin membuat sea tak mengerti keadaan ini.


  Sea menoleh padaku, menatapku dengan mata yang melotot lebar, seperti tak percaya dengan apa yang ku katakan. "Benarkah?" Tanyanya dengan wajah polos, lugu.


   Aku mengangguk, memastikan. Dan setelahnya sea langsung berhambur dalam pelukan jimin, kini memeluk jimin lebih erat ketibang tadi. "Appa, appa jimin." Ucap sea dengan nada lirih, membuat hatiku tersayat mendengarnya.


  Ku lihat jimin tersenyum lebar, membalas pelukan sea. Terutama setelah melihat anaknya itu mengakui dirinya sebagai ayah.


  "Terimakasih hyerin."


  ***


     Aku menghela nafas panjang, menikmati udara malam kota seoul yang sangat aku rindukan, suara aliran sungai terdengar mengalun, mengiringi kesunyian ku bersama malam, juga terangnya sinar sang rembulan.


    Kali ini aku tengah berada disungai han, kembali mengenang histori tempat ini sangat memilukan, ketika harus dikatakan bahwa aku belum bisa melupakan kenangan indah dimasa lampau. Esok adalah hari pernikahan ku dengan guanlin, karena itu malam ini aku akan berusaha melupakan segala hal yang tak dapat ku hilangkan. Tentang jimin dan segala hal yang membuatku mencintainya, mencoba menghapus semua itu secepatnya.


   Namun semuanya terasa sangat semu, bahkan aku tak tahan mengingat apa yang terjadi, bagaimana aku bertemu dengan jimin, tentang segala kisah yang ia berikan padaku, semuanya masih terekam begitu jelas.


   Terlalu frustasi, akhirnya aku mengusap wajahku kasar. Benar-benar tak tahan, sangat sulit untuk melupakan semuanya, karena sampai detik ini aku masih mencintai jimin.


   "Seharusnya kau tidak ada di sini. "


  Aku yang sedang merenung, memiringkan kepala menemukan sosok lelaki yang sedari tadi berada didalam pikiranku. Park jimin, lelaki itu duduk di sampingku, mengisi ruang kosong disana.


   "Sedang apa kau disini?" Tanyaku mengintimidasi, pasalnya tadi sorensea bilang ingin menginap bersama dengan jimin dan aku mengizinkannya. Tapi sekarang?


   "Eomma dan appa tidak membiarkan aku bermain bersama dengan sea. Mereka bahkan membawa anakku masuk kedalam kamar mereka untuk diajak bermain bersama." Jawab jimin dengan wajah kesal, bersungut-sungut ketika menjelaskan.


   Aku yang mendengar penjelasan jimin seketika tertawa, sudah terbayangkan dalam pikiran ku bagaimana hebohnya nyonya park dan tuan park. Tapi itu wajar, dan aku bersyukur masih banyak orang yang menyanyangi sea.


   "Kau sendiri kenapa berada disini? Bukannya kau harus bersiap untuk pernikahan mu besok?" Tanya jimin, yang memang sudah tahu tentang pernikahanku


  Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa, pasalnya yang dikatakan jimin memang benar, harusnya aku beristirahat. "Hanya ingin bermain sebentar." Jawab ku berbohong, tak mungkin aku menjelaskan disini aku untuk mengenang kenangan.


   "Aku tahu kau berbohong." Ucapnya.


  Memang benar, aku tidak pantai berbohong, bodoh sekali. "Hye, sudah hampir 5 tahun."


  Aku melirik jimin, ku lihat dirinya sedang menatap bulan dengan wajahnya yang sendu terlihat banyak kesedihan. "Aku tidak menyangka kita akan berakhir seperti ini. Apakah aku terlalu bodoh?"


   "Setiap malam diriku terus menangis, menyesali segala hal yang telah aku lakukan padamu. Terkadang aku berpikir, mungkinkah ini karma untuk ku karena telah menyakitimu. Hingga akhirnya aku merasakan sakit yang luar biasa, kehilangan, kesepian dan rasa bersalah terus menghantui ku setiap hari. Tentang kenyataan bahwa aku mencintaimu bahkan hingga sekarang."


   "Aku akan selalu egois, menginginkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Tapi karena nyatanya aku tidak dapat hidup tanpamu. Tentang cinta ini, yang apakah jika ku tahan akan hilang, atau semakin ku pendam malah bertumbuh."


   "Hyerin, aku tahu kesempatan ku sebagai park jimin telah habis. Tapi bisakah kau memberikan aku kesempatan kedua sebagai seorang ayah dan suami yang mencintai istrinya?"


  Aku terdiam menatap jimin yang kini ikut memberikan sebuah senyuman lembut padaku. Semakin ragu hatiku menentukan pilihan dimalam terakhir ini, akankah aku menetap atau berpindah?


  Tapi setelahnya air mataku mengalir tanpa ku sadari, membasahi pelupuk mataku dengan deras. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Namun aku langsung membawa jimin dalam pelukanku, menangis semakin menjadi karena akhirnya aku tidak dapat membohongi perasaan ku, tentang bagaimana aku mencintai jimin. Masih mencintainya.


    ***


    "Wah, yang mau menikah untuk kedua kalinya." Pekik sahabatku kegirangan.


  Aku langsung mendecih, memukul bahunya pelan. Mulutnya memang tidak dapat dijaga. "Seharusnya kau cepat menyusul jennie." Ucapku menasehati, ingin sekali aku menceramahi sehun agar segera membawa jennie menuju pelaminan.


  Ah iya, asal kalian tahu jennie dan sehun sudah bertunangan. Entah bagaimana tadinya, jennie hanya berkata bahwa dia gagal menikah dengan pilihan kedua orang tuanya dan bertemu dengan sehun. Saling menjalin hubungan, hingga setelah tiga hari dekat, sehun langsung melamar jennie. Sebutlah sehun gila, karena melamar seseorang yang hanya ia kenal selama 3 hari. Tapi ia berkata itulah kekuatan cinta.


   Sedangkan eunwoo. Dia dekat dengan hyulhyun, belum ada status hanya saja kata eunwoo jalani dulu. Aku juga bingung dengan lelaki yang satu itu.


  "Jen, apakah aku sudah cantik?" Tanyaku lagi.


   Jennie terkekeh, menertawakan aku yang terlalu parno. "Sudah kok, sudah." Jawabnya lagi, walau aku tidak seratus persen percaya.


   "Baiklah, apakah eunwoo sudah datang?" Tanyaku.


  "Belum, sepertinya dia sedang menjemput kekasihnya itu." Jawab jennie tak acuh. Sebenarnya jennie sedikit tak suka dengan hyulhyun, jennie berkata gadis itu terlalu rempong.


   "Hm, baiklah."


  Sebenarnya hari ini eunwoo yang harus menjadi wali pernikahan ku, tapi sepertinya dia akan telat mungkin aku akan meminta sehun menggantikannya. Hari ini pernikahan akan dilakukan secara sederhana, disebuah gereja. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang datang, tak seramai saat pertama kali aku menikah.


     Braak


  Aku dan jennie sama-sama terkejut begitu pintu ruangan ganti ku terbuka dengan sangat keras. Aku sempat menoleh dan menemukan sosok eunwoo yang datang Terengah-engah dengan nafas memburu, wajahnya penuh oleh peluh. Berantakan dengan tuxedo yang membalut tubuhnya.


   "jeongmal mianhae, aku akan benar-benar menjauh dari hyulhyun." Gumamnya dengan raut wajah yang menunjukan kekesalan.


   "Hei, ada apa?" Tanya yang bingung juga karena tiba-tiba eunwoo mengatakan akan menjauh dari hyulhyun.


   "Tidak ada, sudahlah." Jawabnya.


   "Ayo, sebentar lagi acara dimulai." Eunwoo memberikan telapak tangannya padaku, aku menerimanya. Lalu berjalan bergandengan bersama dengan eunwoo menuju altar.


  Diruangan itu ku lihat hanya beberapa orang yang mengisi kursi. Termasuk jimin, sehun, hyulhyun, jennie, tentunya nyonya park dan tuan park. Aku sempat melihat kebelakang disana ada seana dan hyunseo yang menjadi pembawa bunga. Aku terharu melihat tingkah seana, yang memang tak mengerti apa-apa tentang pernikahan.


   Walau rasanya sangat gugup terutama ketika aku berjalan melewati para tamu undangan, tapi rasanya tak segugup saat pertama kali aku menikah dengan jimin. Ini sedikit berbeda, mungkin karena untuk kedua kalinya?


  Diatas altar, aku melihat guanlin yang sudah berdiri bersama dengan pendeta, dia sangat tampan dengan setelan jasnya yang berwarna cream. Wajahnya berseri, begitu tampan walau ku lihat dari kejauhan. Sesampainya didepan altar, eunwoo menyerahkan tanganku pada guanlin. Tersenyum manis pada sahabatnya itu.


  Guanlin menerima tanganku, membantu diriku menaiki altar karena gaun pengantin ku yang begitu panjang. Sementara aku melihat seana dan hyunseo berdiri disampingku dan guanlin, masing-masing dari kedua anak itu membawa sebuket bunga yang sudah dihias.


   "Apakah kalian sudah siap?" Tanya pendeta.


  Aku dan guanlin mengangguk bersama. Tapi tepat dari sini aku bisa melihat sosok jimin yang tengah menatapku dengan sendu, pandangan kami sempat bertemu, dia tersenyum. Namun sedikit aneh karena seperti dipaksakan. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi semalam, karena yang jelas aku tidak dapat menerima jimin lagi, ini semua sudah terlambat.


  Sebenarnya aku tak rela jika harus meninggalkan jimin, setiap hariku selalu dipenuhi oleh bayang-bayang jimin. Mengharapkan dirinya baik-baik saja dengan perginya aku dari kehidupannya.


  Terkadang aku berusaha melupakan setiap kenangan indah yang pernah ku buat bersama dengan jimin. Namun setiap kali teringat, aku selalu tak kuat. Melupakan dan mengingat kenangan itu adalah kesalahan. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain mencoba meski akhirnya aku selalu gagal.


   Dan kini, ketika semuanya terkuak, aku tidak dapat mempertahankan apa yang ingin kudapatkan. Semuanya hilang, sama seperti sebelumnya, tak dapat ku gapai.


  Benar seperti awal, aku dan jimin memang harus saling merelakan. Bahkan ketika kami saling mencintai, semuanya sudah terjadi.


  Suara pendeta yang terus mengucapkan janji suci, terdengar begitu keras memenuhi aula gereja ini. Tapi hal itu tak membuatku mengalihkan pandangan dari jimin, yang sama tengah menatapku dengan penuh kesedihan yang tergambar jelas di wajahnya.


    "Kim hyerin apakah anda bersedia menerima lai guanlin sebagai suami anda?"


   "Kim hyerin."


   "Hye... "


  "Hyerin."


  Aku tersentak langsung memberikan tatapan pada guanlin yang tadi menyentuh bahuku. Aku bingung, memandang sekeliling, tak tahu dengan apa yang terjadi. Apakah ucapan janji suci sudah diutarakan? Aku tidak mendengarkan karena terlalu sibuk menatap jimin.


   "Kim hyerin apakah anda bersedia menerima lai—"


   "Berhenti."


   Aku dan pendeta sama-sama terkejut begitu guanlin meminta pendeta untuk berhenti mengucapkan janji suci. Dirinya langsung turun dari altar, berjalan dengan tergesa-gesa menuju kursi yang diduduki oleh jimin, menarik lengan pria itu hingga membawanya ke atas altar.


    Semua tamu semakin kebingungan dengan tingkah guanlin yang sangat mengejutkan. Menatapnya penuh tanya, namun yang aku dapatkan adalah sebuah tatapan tajam yang diberikan guanlin untuk ku.


    "Hyerin, katakan. Jawab jujur. Apakah kau mencintai ku?" Tanyanya sambil memegang kedua bahuku.


   Pertanyaan itu sukses membuat aku bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Aku terus menyembunyikan wajahku dengan menundukan kepala. Benar-benar tak berani untuk melihat wajah guanlin.


   Sampai beberapa menit aku terdiam, guanlin memberikan tanggapan. "Aku sudah tahu jawabannya."


   Dan ketika ucapan itu terlontar, aku akhirnya pecah. Terisak dengan wajah yang masih ku sembunyikan. Bahuku bergetar, aku kalah, aku tidak bisa membuat guanlin terluka. Tangisan ku semakin terdengar, begitu memilukan.


   "Hyerin... Aku tidak bisa memaksakan dirimu. Aku tak ingin kau bersamaku hanya karena rasa kasihan mu padaku. Aku ingin kau bahagia jika hidup bersama denganku hyerin, bukan tersiksa."


  "Kupikir kau benar-benar mencintaiku, tapi kini aku tahu jawabannya."


   "Kau berhak untuk bahagia setelah apa yang terjadi padamu selama ini."


   Aku masih tidak berani menatap guanlin, tidak berani pula memberikan tatapan pada jimin yang berada diatas altar bersama denganku.


   "Jimin. Aku tahu, kau mencintai hyerin bukan? Mungkin besarnya cintamu tak sebesar cintaku pada hyerin. Tapi karena besarnya cintaku pada hyerin, aku merelakan dirinya untukmu. Aku bisa saja egois dengan memaksa hyerin untuk bersama denganku. Namun sayangnya aku tak bisa membuat hyerin terluka. Karena itulah cinta."


  Kini aku berani mendongak menatap kedua lelaki yang masih saling bertatap. Jimin yang diam tak dapat berkata-kata, dan aku yang terisak penuh pilu. Guanlin menyatakukan tanganku dan jimin. Kemudian aku melihatnya tersenyum dengan sangat lebar, tulus walau matanya terlihat sayu.


   "Kalian harus bersatu, bahagia bersama." Uvap guanlin yang benar-benar menyayat hatiku. Kenapa ada lelaki setulus guanlin?


   "Tap—"


   "Sekuat apapun aku berusaha. Lelaki yang dicintai hyerin adalah dirimu jim, jaga dia baik-baik untukku."


   Setelahnya suara riuh tamu undangan membuat suasana didalam gereja tak sesedih tadi. Aku sempat melihat keseliling menemukan nyonya park yang kini sudah membawa sea dalam pangkuannya menangis haru. Sehun dan eunwoo, kedua orang tua guanlin yang tersenyum menatapku.


   Ternyata benar aku tidak pernah sendiri disini. Bahkan disaat kedua orang tua ku telah pergi, banyak sekali orang yang ingin aku bahagia. Termasuk guanlin.


   "Lin—"


   "Hye, ini aku lakukan. Karena aku mencintaimu."


   Aku hanya bisa menahan rasa haru, memberikan sebuah senyuman pada guanlin. Tidak menyangka akan berakhir seperti ini, dan setelahnya aku berpelukan dengan jimin.


   Perjuangan ku dan jimin selama ini tidak sia-sia, rindu yang selalu ku tahan. Tentang aku yang selalu menangisi jimin setiap malam, bahkan ketika aku tertawa yang ku ingat hanya bagaimana aku bisa bahagia bersama jimin di masalalu.


  Tapi kini semuanya terbayar, segala kesakitan yang kurasakan berakhir menjadi kebahagiaan. Sea berlari kearahku, memeluk ku dan jimin tak kalah erat. Lengkap sudah keinginan yang selama ini ku pendam. Sebuah kehangatan yang tak pernah sea rasakan.


   Terimakasih tuhan, atas semua cobaan yang kau berikan, hingga membuat kami berdua sadar. Bahwa kami saling membutuhkan dan tak sanggup saling kehilangan.


   "Aku mencintai kalian berdua."


  ***


**Udah udah gak usah baper😭


Huhuhu guanlin kalau gitu sama ara aja sini, ara baik dan gak kalah cantik dari hyerin kok.


/plaak


Auto ditampar guanlin stan wkwkwkw😂😤


    sekali lagi ara mau mengucapkan terimakasih untuk yang sudah membaca try for love. Maaf mungkin alurnya agak ngablur ara masih belajar soalnya wkwkwk😂


See you in new project soon.


Big luv from ara♡**