Try For Love | Park Jimin

Try For Love | Park Jimin
goodbye



Jangan hujat aku yah, heheh:v


  ***


  Ingin tahu bagaimana keadaan ku sekarang? Kelihatannya aku akan selalu baik-baik saja, tersenyum dihadapan semua orang, bertingkah seakan ini bukanlah hal berat, tapi kenyataannya, aku masih sering menangis ketika malam hari, saat semua sunyi, aku sangat sering menumpahkan rasa penyesalan juga sakit yang terus ku rasa sampai sekarang.


  Melihat seseorang yang disayang bahagia bersama orang lain bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipandang, bahkan ketika mereka tersenyum ada rasa sakit yang kembali terbongkar dalam lubuk hatiku yang selama ini berusaha aku pendam sendirian.


  Menangis adalah jalan satu-satunya, meluapkan semua amarah yang aku tahan selama ini, dalam jeritan kecil yang tertahan berusaha agar semua orang tak mendengar rintihan tangis ku yang begitu memilukan, penuh dengan kesakitan dan perih.


  Luka dihati ini tak mungkin sembuh dengan cepat, aku sendiri tak tahu sampai kapan aku akan terus merasakan luka ini, luka hati yang tidak akan pernah sembuh dengan obat apapun, karena selamanya luka hati akan selalu berbekas meninggalkan kenangan buruk yang begitu menyeramkan.


   Ini sudah 2 bulan sejak kejadian aku meminta bercerai dengan jimin, dan awal bulan kemarin aku dan jimin resmi bercerai. Jimin benar, dia tak menyulitkan dalam proses perceraian ini, dia benar-benar mengakui segala kesalahannya, walau kami tak berpisah secara baik-baik, karena sampai sekarang aku masih tak mau bertemu dengan jimin.


  Selama dua bulan ini pula, hanya bayi ku, anak yang ku kandung yang dapat menjadi semangat baruku untuk menjalani hidup. Aku sudah berniat membesarkannya sejauh mungkin dari jimin, aku bukan jahat, hanya aku tak ingin anakku akan menjadi perusak kesenangan jimin dan istri barunya jung yeonji.


  Ya, mereka berdua sudah menikah 2 minggu yang lalu, aku datang ke acara pernikahan mereka, berpura-pura kuat dihadapan semua orang. Aku tak menyalahkan siapapun atas hal ini, karena aku sadar bahwa ini memang takdirku, takdir yang harus aku jalani.


  Sampai sekarang pula, jimin tak pernah tahu bahwa aku hamil, termasuk nyonya park dan tuan park. Aku memilih untuk menyembunyikannya, karena lagi-lagi ini dapat menjadi penghambat jimin untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


    Dan hari ini, aku benar-benar memutuskan untuk pergi dari sini, memulai kehidupan baru bersama anakku kelak, hanya berdua. Biarkan aku memberinya cinta yang banyak, sampai dia tak membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya. Aku tak ingin anakku tahu, kalau ayahnya tak pernah setia pada ibunya.


  Aku menarik koper yang sudah penuh terisi oleh baju-baju milikku, barang-barangku yang lain sudah dibawa oleh pengawal milik sehun. Pindahan ini juga di campur tangani oleh ketiga sahabatku yang benar-benar mendukung keputusan ku agar pergi dari sini, supaya kehamilan ku tak terganggu, aku setuju dengan mereka, selama aku masih berada disini dan melihat kebahagiaan jimin dan Yeonji, luka lama ku tidak akan pernah hilang, sekeras apapun aku mencoba, mungkin setiap harinya akan bertambah.


   Tapi, aku berusaha mengikhlaskan karena sejatinya, aku memang yang tiba-tiba datang dalam kehidupan jimin dan merusak segala kebahagiaannya dengan yeonji.


  Aku menutup pintu kamarku, setelah hampir satu jam berdiam disana, mengenang segala kisah yang terukir di kamar itu, kamarku dan jimin, walau jimin sudah pergi, masih terasa dihatiku hal-hal yang aku lakukan bersama dengannya.


  Setelah mengusap sisa air mata, aku memutuskan untuk segera turun, karena setengah jam lagi adalah waktu pemberangkatan ku menuju amerika. Ya, aku akan memulai hidup baru disana, bersama dengan guanlin karena dia memaksa ingin menemani ku.


  Saat aku menuruni tangga, ku lihat nyonya park yang menunggu diujung anak tangga, nyonya park sangat manis dengan dress polos selutut dengan kalung berlian yang bertengger dilehernya.


  Aku tersenyum manis pada nyonya park, walau aku dan jimin sudah berceria tapi aku masih menganggap nyonya park sebagai eommaku.


  "Hyerin—maaf."


  Kata itulah yang pertama kali terucap begitu aku berdiri dihadapannya, setelah perceraian antara aku dan jimin nyonya park terus menyalahkan dirinya sendiri, dia marah besar pada jimin karena mengkhianati kepercayaannya, aku sendiri sudah mengatakan pada nyonya park bahwa ini bukan salahnya, aku tak keberatan dengan perpisahan ini.


  "Eomma, sudahlah itu sudah berlalu." Jawabku mengambil kedua tangan nyonya park lalu mengelusnya pelan.


  "Tapi hye—eomma merasa bersalah karena menjodohkan kalian." Ucap nyonya park lagi yang sudah terisak dengan air mata.


  "Eomma. Sudah ku katakan ini bukan salah eomma, aku bahagia pernah mengenal jimin dan menjadi bagian dalam hidupnya dan aku tak pernah menyesal eomma." Jawabku masih berusaha menenangkan nyonya park.


  Nyonya park terus menangis, kali ini lebih kencang dan wanita berumur setengah abad itu membawaku dalam pelukannya, menangis sejadi-jadinya seakan tak rela akan kepergianku.


  "Maafkan eomma hyerin, eomma gagal menepati janji eomma pada eommamu." Katanya masih sesegukan dalam pelukanku.


  Jujur, aku juga ingin menangis namun aku muak, aku sudah tak ingin membahas dan mengingat apapun tentang jimin yang sudah berbahagia dengan istri barunya.


  Tiba-tiba nyonya park dengan tergesa-gesa melepaskan pelukannya padaku, aku cukup terkejut karena gerakan tiba-tiba itu, saat aku menatap nyonya park bingung, yang aku dapatkan malah sebuah pandangan horor nyonya park.


  "Hyerin! Katakan jujur pada eomma, kau hamil?" Tanya nyonya park sambil melotot.


  Aku tersentak sampai sadar akan sesuatu hal, nyonya park pasti merasakan perubahan bentuk perutku yang membesar sekarang, mungkinkah saat berpelukan denganku tadi dia merasakannya?


  "Ayo hyerin, jujur pada eomma." Ucapnya setengah memaksa.


  Aku hanya bisa menunduk, tak berani mengatakan apapun pada nyonya park, aku sendiri tidak tahu bahwa pada akhirnya nyonya park akan mengetahuinya.


  Aku menangis, menangis dengan isakan pelan walau berusaha aku tahan dengan beberapa kali mengusap air mata ini. Aku menangis, karena tak sanggup mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada nyonya park, tentang kehamilan ku yang selama ini aku sembunyikan.


  "Hyerin... Katakan pada eomma, katakan dengan jujur." Suara nyonya park melemah, dia kini berusaha untuk melihat kedua mataku.


  "Maaf eomma, aku tak jujur, aku memang hamil." Jelasku pada akhirnya.


Setelah ucapan singkat dariku itu, tangis nyonya park pecah dia sampai terjatuh ke atas lantai, berteriak histeris sambil menangis yang sangat memilukan ditelinga ku. Aku sendiri tak dapat melakukan apapun, aku juga sama seperti nyonya park, menangis dengan sangat kencang karena pada akhirnya aku gagal menyembunyikan hal ini.


   "Sejak kapan hyerin?! Sejak kapan... " Nyonya park menarik kedua tanganku, menggengamnya dengan sangat erat masih dengan suara tangisannya.


  Aku mendongak, mengusap wajahku sendiri dengan kasar tidak peduli jika make up yang ku pakai luntur. "Maaf eomma, maaf." Hanya itu yang dapat aku katakan, aku tak sanggup jika harus menjelaskan padanya sekarang.


  "Hyerin, eomma mohon jangan pergi, eomma akan membantu mu kembali pada jimin hyerin, demi anak ini, demi cucu eomma." Katanya yang kini sudah berlutut dihadapanku.


  Aku dengan cepat menggeleng, menolak tawaran nyonya park karena sedari awal aku tak berniat untuk merusak hubungan jimin dan yeonji.


  "Tidak bisa eomma, sedari awal akulah yang menjadi parasit dihubungan jimin dan yeonji, aku tak ingin merusaknya lagi untuk kedua kali. Aku akan pergi eomma, membesarkan anak ini sendirian." Jawabku yang tak sanggup untuk menatap nyonya park yang masih berlutut dihadapanku.


  "Maaf eomma."


  Aku melepaskan genggaman tangan nyonya park pada kedua tanganku, kemudian berjalan pergi dengan air mata yang berusaha aku tahan. Aku tak perlu berpamitan pada ahjumma jiena, dia sudah tersenyum memandang ku dari arah dapur, memintaku untuk segera pergi.


  Aku tahu Ahjumma jiena hanya ingin yang terbaik untukku, jadi aku memutuskan untuk mengikuti keinginannya, pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal pada ahjumma jiena.


  Dengan gerakan cepat, sambil menarik koper ku, aku masuk kedalam mobil yang telah disediakan oleh sehun, disana ada supir pribadinya yang langsung menjalankan mobil.


  "HYERIN!! JANGAN PERGI!!" Aku menoleh pada kaca belakang mobil, melihat nyonya park yang tengah berusaha mengejar mobil yang ku tumpangi dengan suara tangisnya yang masih terdengar.


  Dari sini aku dapat melihat nyonya park terjatuh, dihalaman depan, dia masih berusaha mengejar mobilku walau begitu susah untuknya kembali berjalan. Aku tak tega melihat keadaan nyonya park, tapi ini harus aku lakukan, benar-benar memutuskan segala hal yang berkaitan dengan keluarga park.


  Agar aku bisa melupakan luka yang begitu meremukan hati ku.


  ***


   "Hey, jangan terus menangis hm?"


Aku tersenyum getir pada lelaki yang akan menemaniku ke amerika, lai guanlin dia yang memaksa agar bisa bersamaku selama di amerika nanti, dia juga yang menyarankan agar aku pindah kesana, membangun karir bersama dengan guanlin.


  "Ya." Jawabku lagi dan lagi menghapus air mata yang terus tumpah.


  "Hati-hati disana hyerin, aku akan sangat merindukanmu." Ucap sehun lalu mengelus perutku yang mulai membesar.


 


   "Dady akan Sering-sering mengunjungi mu kesana." Katanya seperti berbicara pada bayiku didalam perut sana.


  Aku tersenyum miris, andaikan yang mengatakan itu adalah jimin bukan sehun, pasti rasanya akan sangat membahagiakan untukku.  "Jaga kesehatan mu hyerin." Kini sehun menatapku lalu mengusap pucuk rambutku dengan tangannya.


  Aku berusaha tersenyum dihadapan ketiga sahabatku, mencoba kuat dengan berpura-pura lupa dengan kejadian dirumah tadi. "Hyerin, jadilah ibu yang baik, jangan stress, jaga pola makan jangan sampai kau sakit." Kini giliran eunwoo yang memberikan aku pesan agar menjaga diri baik-baik selama di amerika nanti.


  "Hei, ada aku yang akan mengingatkan hal itu pada hyerin." Bela guanlin yang dibalas cemoohan oleh sehun maupun eunwoo, aku yang melihatnya hanya bisa terkekeh karena mereka memang lucu dan penghibur yang baik.


  Soal perusahaan, aku sudah memberikan surat perpindahan kekuasaan pada eunwoo sepenuhnya, aku sudah sangat percaya pada Eunwoo dan yakin bahwa lelaki yang satu itu dapat dipercaya.


  "Iya oppa-oppa ku." Jawabku dengan cengiran.


  Mereka bertiga memeluk ku serentak dengan sangat erat, aku sangat bersyukur pada tuhan karena memiliki mereka bertiga dalam hidupku, orang yang akan selalu mengerti keadaan ku ketibang siapapun.


  "Lepas, kasian dedek Bayinya." Ucapku yang sebenarnya merasa pengak dengan pelukan mereka.


  Mereka akhirnya melepaskan pelukannya padaku, aku tersenyum simpul pada mereka, dan akhirnya memutuskan pergi menuju ruang tunggu untuk menunggu keberangkatan ku.


  "Aku akan merindukan kalian berdua!!" Teriak ku yang semoga terdengar oleh mereka berdua.


Tanganku digenggam erat oleh guanlin, yang ikut memberikan lambaian tangan pada Eunwoo dan sehun. Aku akan benar-benar merindukan sosok oppa pada dua orang itu.


  ***


Author side


  Setelah berusaha membujuk istirnya, lelaki yang identik dengan bibir tebalnya itu langsung menancapkan gas menuju rumah mantan istrinya, park hyerin, ralat kim hyerin. Jimin mendengar dari eommanya jika hyerin akan pergi dari korea hari ini, niatnya ingin mengucapkan salam perpisahan pada hyerin harus gagal karena sikap manja yeonji padanya.


  Setelah hampir setengah jam merayu yeonji akhirnya gadis yang tengah mengandung itu menurut dan membiarkan jimin pergi. Sepanjang perjalanan, jimin berharap, berdoa dalam hatinya semoga tuhan masih memberikan dirinya kesempatan untuk meminta maaf kepada seseorang yang sangat dia cintai itu.


  Walau jimin yakin kata maaf saja tidak cukup untuk menutup segala luka hati yang ia sebabkan.


  Begitu memasuki pekarangan rumah hyerin, jimin terkejut melihat eommanya yang tengah bersimpuh diatas tanah sambil menangis pilu, dengan cepat jimin mendatangi eommanya bertanya apa yang sebenranya terjadi dan kenapa eommanya bisa menangis sekeras itu, bahkan terdengar oleh jimin dari dalam mobil.


   "Eomma, apa yang terjadi kemana hyerin?" Tanya jimin tergesa-gesa.


Yunhyen tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang anak, dia terus menangis tanpa berniat menjelaskan apa yang terjadi pada anaknya, yunhyen sudah sangat kecewa dengan jimin, dan dia membiarkan agar jimin menanggungnya dosa ini sendirian.


   "Eomma, katakan apa yang terjadi?" Paksanya lagi.


  Setelahnya yunhyen mendongak, menatap tajam pada sang anak sebelum akhirnya mengatakan sebuah ucapan yang menusuk pada jimin.


   "Tanggulah dosa ini sendirian jimin, kau akan menyesal." Ucap yunhyen yang kini berusaha bangun dan meninggalkan jimin yang kebingungan.


   "Ahjumma, sebenarnya ada apa?" Tanya jimin.


   Jiena hanya membuang nafas kasar, dia tak berniat menjelaskan apapun tapi jiena mengeluarkan sebuah amplop dari dalam kantung apron yang ia gunakan, amplop yang kusut itu jiena berikan pada jimin, setelahnya jiena pergi masuk kedalam rumah sambil menutup pintu utama rapat-rapat.


  Jimin memandang amplop yang berada ditangannya itu kebingungan, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini, baik eommanya maupun jiena tidak ada yang menjelaskan secara rinci kejadian yang sesungguhnya pada jimin.


  Karena penasaran jimin langsung membuka amplop kusut itu, membuka sebuah lembaran kertas yang di lipat dengan sangat rapih, sampai ketika jimin membacanya, saat itu juga ia terjatuh, mencengkram dengan sangat erat selembar kertas yang diberikan jiena tadi.


  Surat pernyataan kehamilan hyerin, dua bulan yang lalu. Dan saat itu pula, dunia jimin serasa runtuh seketika.


  ***


 


"Kau harus siap hyerin." Ucap guanlin yang merasakan kegugupanku, inilah alasan ku tak mau memberi tahu nyonya park, dia pasti akan menahan kepergianku.


  "iya lin." Jawabku berusaha tampak baik-baik saja di hadapan guanlin.


  Aku sangat bersyukur karena guanlin yang sangat mendukung untuk aku pergi dari jimin, dia berkata tak ingin melihat aku terus-terusan menangis karena ulah jimin.


   "Ayo hye." Ajak guanlin sambil menarik tanganku.


   Untuk masuk keruang tunggu sambil menunggu keberangkatan pesawatku. Sebelum aku benar-benar berjalan menjauh dari tempat ku semula, sayup-sayup aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku dengan cukup kencang, aku sempat mengedarkan pandanganku untuk mencari asal suara yang semakin lama semakin dekat.


  "HYERIN!! TUNGGU!"


  Aku langsung memberhentikan langkahku, membuat guanlin yang sedang menarik tanganku ikut memberhentikan laju langkahnya.


  "Ada apa hyerin?"


  Aku mengabaikan pertanyaan guanlin, memilih untuk mencari asal suara itu. Aku terkejut ketika dari kejauhan aku melihat jimin berlari melewati keramaian dengan sangat cepat, berteriak memanggil-manggil namaku dengan sangat kencang.


  "Hye, ayo." Ajak guanlin lagi yang sepertinya sadar dengan kedatangan jimin yang semakin dekat ke arahku.


  "Biarkan aku bicara dengan jimin lin, ini tidak akan mengubah apapun." Ucapku padanya.


  Hanya helaan nafas yang dibalas oleh guanlin, setelahnya dia melepaskan genggaman tangannya padaku.


  Aku terdiam menatap seseorang yang baru saja datang dengan nafas yang memburu, keringat bercucuran diwajahnya, rambutnya berantakan. Berdiri dihadapanku lalu berlutut didepanku.


  Aku tak terkejut dengan apa yang dilakukan jimin, aku yakin nyonya park sudah memberitahukan segalanya pada jimin termasuk tentang kehamilanku.


  "Jangan pergi..." Katanya dengan nada lirih.


  Jimin yang sebelumnya menundukan kepalanya kini mendongak, menatap mataku dengan sendu, kemudian mengambil kedua tanganku menciumnya beberapa kali dan menaruhnya diwajahnya.


  "Aku harus pergi jim." Kataku berusaha tegar.


  "Hye, apakah kau tidak kasihan pada diriku hye. Anakku, hye." Ucapnya, aku terdiam sambil merasakan basah pada tanganku, air mata jimin membasahi kedua tanganku yang berada diwajahnya.


  "Maaf jim."


  "Hye, kembalilah padaku hye, maafkan aku seharusnya aku tak melakukan ini, seandai—"


  "Semua ini sudah jalan nya jim, kita tak bisa berbuat apa-apa." Katakku lagi dengan suara bergetar.


  "Tapi, haruskah kau pergi hye, bagaimana dengan ananku hye." Isak Jimin masih setia menggenggam tanganku.


  "Aku harus melakukannya jim, aku terlalu mencintaimu, sampai tak rela jika melihat mu bahagia bersama wanita lain. Dan dia akan tetap menjadi anakmu walau aku tak bersama denganmu." Jelasku, yang akhirnya ikut menangis bersama dengan jimin.


  "Jika kau mencintaiku, tetap disini hye, ayo kita bersama mengurus anak kita hye." Tangis jimin semakin terdengar, suaranya bergetar menandakan kesedihan yang benar-benar dalam.


  "Kau punya yeonji jim, jaga dia dan anaknya, jangan biarkan dia sendiri."


  Jimin menggeleng lagi, aku menutup kedua mataku menahan air mata yang turun lagi. "Jim, pada akhirnya kita akan selalu berpisah, dari awal ini semua adalah sebuah kesalahan jim, kita memang sudah ditakdirkan untuk berpisah, kau tidak bisa memaksa jim, jalan kita sudah berbeda."


  "Maafkan aku hye. Maaf."


  "Hye ayo." Guanlin yang sedari tadi masih berdiri dibelakang ku, memperingati sepertinya sebentar lagi pemberangkatan kami akan dimulai.


  "Jim, jaga dirimu baik-baik, suatu saat nanti aku akan kembali, membawa anak ini dan aku yakin dia akan menerima mu apapun yang terjadi." Ucapku berusaha melepaskan kedua tanganku yang digenggam oleh jimin.


  "Aku harus pergi jim." Kataku lagi.


  Jimin tak menjawab, dia terus menunduk bersama tangisnya yang tak berhenti terdengar, begitu rapuh di indera pendengaranku.


  "Hye, biarkan aku menyentuhnya untuk yang terakhir kali." Pinta jimin sambil mengusap air matanya kasar.


  Aku mengangguk meng-iyakan permintaan lelaki itu, bagaimana pun anak yang ku kandung kini merupakan darah daging jimin, aku tak bisa memisahkan mereka berdua selamanya. Aku menggenggam tangan jimin, meletakan tangannya pada perutku yang sudah membesar sambil menangis pilu.


  "Maafkan appa sudah menjadi ayah yang buruk untukmu, jangan benci appa, jaga eomma mu disana, dimanapun kau berada nanti, ketahuilah bahwa appa sangat menyayangimu." Jelasnya mengusap pelan perutku yang sudah membesar.


  Aku masih menangis, tak tahan dengan apa yang aku lihat sekarang. Memisahkan jimin dengan anaknya merupakan satu-satunya jalan yang harus ku tempuh, untuk kebaikan ku dan anak jimin kelak.


  Aku tak ingin dia terluka, jika tahu ayahnya memilih wanita lain ketibang istri sah nya sendiri.


  "Aku mencintai kalian berdua, eomma mu dan dirimu nak." Jimin mencium sekilas perutku, kemudian dia berdiri lalu mencium keningku lama sekali.


  "Maafkan aku hye."


  Aku mengangguk, mengusap wajahku kasar untuk menghapus jejak air mata yang masih mengalir kemudian berjalan pergi meninggalkan jimin bersama dengan guanlin.


  Sebenarnya ada banyak mimpi ku yang belum terwujud, termasuk hidup bahagia bersama park jimin, memiliki sebuah keluarga kecil, melakukan piknik diakhir pekan juga mengantarkan anak-anak saat pertama kali masuk sekolah.


  Mimpi yang akan selalu menjadi angan-angan setiap orang jika sudah berkeluarga, tapi tak akan terwujud denganku karena yang ku harapkan, bisa mewujudkan semua mimpi itu bersama dengan jimin, seseorang yang sangat aku cintai.


  Tak banyak yang dapat aku katakan tentang kehidupan ku kedepan tanpa sosok jimin dihidupku, mungkin ada banyak yang akan berubah, tentu saja. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas hal ini, baik kedua orang tuaku, maupun kedua orang tua jimin, karena semuanya berawal dari aku dan jimin yang tak benar-benar berniat untuk menjalani rumah tangga ini.


 


  Hingga semuanya kacau pada bagian awal, ketika aku sibuk dengan duniaku dan jimin dengan janjinya pada yeonji. Semuanya sibuk, sampai tak sadar jarak semakin merenggang, semakin melebar.


  Walau akhirnya, aku dan jimin sudah berusaha untuk memulai segalanya, namun terlambat. Seharusnya kekacauan dalam hubungan ini dihentikan sejak pertama kali, tapi aku dan jimin gagal dan pada akhirnya aku dan jimin harus berpisah.


  Kembali hidup dengan jalan masing-masing seperti semula. Aku dengan guanlin, jimin dengan yeonji, semuanya kembali pada tempat awalnya kecuali perasaan ku pada jimin yang sudah berubah.


  Aku begitu mencintainya, walau sadar semuanya telah berakhir, sampai kini tak ada yang merubah rasa cintaku pada jimin, entah luka yang telah ia perbuat, ataupun tangis yang terus ia ciptakan. Hal itu tidak akan pernah merubah perasaan ku pada jimin.


Karena aku tetap mencintainya.


  Jika suatu saat nanti aku kembali lagi, aku berjanji akan mengatakan pada anakku kelak bahwa ayahnya merupakan sosok yang sangat pengertian dan sosok ayah yang sangat menyenangkan.


Akan ku pastikan anak ini akan merasa bangga memiliki ayah seperti jimin, walau kami tak bisa bersama.


  Terimakasih atas segalanya jim, aku mencintaimu, sangat.


THE END


   ***


YUHUU SELESAI!!!


Kalian boleh kritik atau Curcol nihh tentang jimin sama hyerin, menurut kalian gimana sih? Dan endingnya, ya emang kaya gini, mereka pisah karena sedari awal mereka yang merubah takdir mereka sendiri. Semua  kembali ke tempatnya semula.


Disini yeonji bukan pelakor, karena emang awalnya dia mau nyerah, tapi jimin yakinin dia kalau semua ini bakal berakhir baik-baik. Seperti rencana awalnya, nikah, punya anak, pisah, tapi nyatanya gak kaya gitu.


Termasuk guanlin, dia juga pernahkan nawarin hal yang gak di dapat hyerin dari jimin? Tapi guanlin, lebih milih nunggu dan gak maksa, mau ikhlasin juga.


Dari awal ini, novel ku buat pas aku lagi sedih banget, aku pengen kasih tahu ke kalian semua buat ikhlasin sesuatu yang emang ditakdirkan bukan untuk kalian, kaya yeonji sama guanlin, walau awalnya mereka pisah sama kekasihnya masing-masing tapi pada akhirnya kalau mereka emang jodoh balik lagi ye kan:v


Jangan maksa sesuatu untuk kalian milikki, pada akhirnya kaya jimin sama hyerin kan? Sama-sama terluka karena perasaan mereka masing-masing.


Gimana ngerti gak? Kalau gak ngerti ya udah😂😏


Sekarang aku tinggal fokus sama dear love school aja, baru aja tamat satu:( masa iya aku udah punya 4 kerangka novel yang mau ku buat nanti😭😤


Dahlah, aku tunggu kritik dan sarannya ayang-ayang♡