
Kiara mengerjapkan matanya saat sinar mentari masuk di sela-sela jendela dan membuat matanya silau. Kiara bangkit dari tempat tidurnya dengan malas, hari ini Kiara mendapat siff pagi, jadi ia tidak bisa kembali tidur.
Kiara mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi dengan malas lalu masuk ke dalam. 30 menit kemudian Kiara keluar dengan wajah segar. Selesai mandi Kiara segera bersiap, dengan buru-buru Kiara mengambil tas dan segera keluar dari rumahnya. Tidak lupa ia mengunci pintu rumahnya sebelum di tinggalkan.
Kiara berjalan sedikit terburu mengingat jm sudah menunjukan pukul setengaj delapan pagi. Kiara tidak ingin menjadi karyawan yang tidak patuh dengan peraturan, meski ia tidak pernah telat sekalipun.
"Pagi Sin. " sapa Kiara kepada teman siff nya yang begitu setia.
"Ehhh, pagi Ki." sapa balik Sinta yang sedang membereskan meja.
"Gue telat ya? " tanya Kiara saat mengambil lembaran kertas siff nya sambil terburu-buru memasukkannya di sebuah mesin berbentuk kotak.
"Hehehe.Lo itu benar-benar karyawan yang takut telat. " ujar santi sambil tertawa kecil.
"Ya mau gimana lagi, gue harus bersyukur karena ada orang baik yang mau mempekerjakan gue disini. " ujar Kiara.
"Gue naruh tas dulu ya. " imbuhnya sambil berjalan ke belakang.
Setelah menaruh tasnya di loker, Kiara segera mengambil beberapa alat untuk membersihkan lantai. Ia membantu Sinta di depan sembari menunggu konfirmasi dari temannya yang ada di belakang. Setelah semuanya siap, akhirnya cafe pun buka.
Hari ini Kiara ditugaskan di bagian kasir, karena yang biasanya disana tidak masuk. Entah kenapa pagi ini ada beberapa yang tidak bekerja, pastilah membuat Kiara dan yang lainnya lebih kewalahan.
pukul 9 pagi sudah mulai nampakan beberpa pengunjung yang datang, dan pastinya kelelahan pun dimulai.
Kiara membantu Sinta mncatat beberpa pesanan dari pelanggan karena memang hanya mereka berdua yang ada di depan.
"Ki, lo beberapa hari ini kemana? kok tiba-tiba gak kerja gitu? " tanya sinta de sela-sela aktifitas mereka.
"Gue ke rumah lama, soalnya ada yang mau beli rumahnya. " jawab Kiara
"Ohhh, gue kira rumah lama lo udah kejual. " ujar Sinta
Kiara menggeleng. " Belom Sin, dulu emang ada yang mau. tapi kemurahan, jadi gue cansel aja dulu"
" ohhh gitu, tapi kenapa lo gak tempatin aja Ki. Kan sayang kalau di jual. " ujar Sinta
"Duuhh, ngerawat rumah sebesar itu perlu modal besar juga Sin. uang darimana gue. Makan aja pas-pasan. " ucap Kiara.
"Iya juga sih. Ehhh ada pelanggan noh. Lo ambil ya. " ucap Sinta
Kiara melihat ke depan, ternyata benar ada seorang wanita cantik duduk di tempat yang Kiara pernah melihat Paris disana.
Kiara mengangguk lalu mengambil buku menu.
"Slamat pagi Nona, anda mau pesan apa? " tanya Kiara pada seorang wanita cantik yang terlihat sedang menunggu seseorang.
Wanita itu menoleh pada Kiara lalu tersenyum. Kiara sedikit terkejut saat melihat wanita itu.
"Dia kan. " Kiara membatin.
Kiara tidak salah, wanita yang tersenyum di depannya itu yang memanggil Paris dengan sebutan sayang.
"Bisa saya pesan nanti saja mbak, saya masih menunggu tunangan saya. " ujar Quinn
"Ahhh, ya. Tidak masalah. Nona bisa memanggil saya atau teman saya jika sudah mau pesan. " ujar Kiara ramah.
"Baik, trimakasih. " balas Quinn.
Kiara tersenyum lalu kembali ke tempatnya. Di depan kasir Kiara menundukan Kepalanya, benar-benar sial jika memang benar Paris akan datang ke kafe ini.
"Tapi benarkah mereka sudah bertunang." batin Kiara
"Hayoooo, mikirin apa lo?" Sinta datang dengan mengagetkan nya.
"Astaga Sin, lo ya! bikin kaget Gue aja." ucap Kiara
Sementara Sinta hanya tertawa melihat ekpresi wajah Kiara yang terlihat kesal.
"Habis lo ngelamun. Mikirin apa sih? "
"Gue gak mikirin apa-apa. Cuma mikir kapan gaji kita turun. " canda Kiara
"Hehehe, gak juga. iseng aja gue. " ujar Kiara
"Hmmmm, serah lo deh. Ehhh, lo liat gak cewek sama cowok yang duduk di dekat jendela disana?" Sinta menunjuk kearah Quinn dan Paris. Membuat Kiara seketika menghela nafas panjang.
Ternyata Paris benar datang.
"Hmmm, kenapa mereka? " tanya Kiara malas.
"Mereka itu sering banget kesini lo, bahkan hampir setiap hari. Cuma kemarin doang sing mereka gak kesini. " ujar Sinta.
"Bukannya bagus ya, itu berarti mereka suka datang kesini. " ujar Kiara santai.
Sinta mengangguk memyetujui ucapan Kiara. Hanya saja ia bingung dengan sikap Kiara yang sedikit cuek, karena biasanya Kiara akan bersikap sedikit kepo, tidak seperti ini, cuek dan seperti tidak perduli.
"Mbak." Paris melambaikan tangan kepada Sinta, beruntung Kiara tidak terlihat karena di halangi oleh komputer di depannya.
"Ehhh mereka manggil. " ujar Sinta. Ia dengan sigap mengambil buku catatan menunya dan berjalan menuju keduanya.
"Mau pesan apa Mas, Mbak? " tanya Sinta
"Biasa ya Mbk. " ujar Quinn
Sinta mencatat beberapa menu yang biasa di pesan keduanya. Setelah selesai Sinta segera membawa pesanannya ke belakang. Sementara itu Pandangan Paris terus saja mengarah ke kasir, ia tau jika Kiara ada disana.
" Kau sudah bicara kepadanya? " tanya Quinn saat melihat arah pandang tunangannya.
"Hmmm, sudah. " jawab Paris
"Lalu apa? Kenapa dia seperti menghindarimu? "
"Kau tidak mengenal Kiara, Quinn. Dia tidak akan merusak hubungan seseorang. " Paris terus menjatuhkan pandangannya pada sosok yang tengah duduk di depan komputer.
Quinn mengikuti tatapan Paris. " Apa dia tau? "
"Tentu saja, apa dia sebodoh itu sampai dia tidak sadar akan kedekatan kita disini" ucap Paris
Quinn mengangguk tanda mengerti.
"Apa kau sangat mencintainya? " tanya Quinn dengan suara sendu.
"Hahhhh." Paris menarik nafas panjang. Ia menggenggam tangan Quinn sambil tersenyum.
Tidak mungkin Paris terus menerus menyakiti hati Quinn. Walau pertanyaan Quinn itu akan mendapat jawaban, Iya dari Paris.
"Aku sudah berjanji akan selalu membuatmu bahagia bukan, jadi jangan memikirkan apapun Quinn. " ujar Paris.
"Kalau begitu busakah kau menjauhinya? "
Paris seketika melepas genggaman tangannya kepada Quinn.
"Kau tidak bisa Ris." ucap Quinn
"Kau tau Ris, pria dan Wanita tidak akan pernah bisa bersahabat. Apalagi kau pernah memiliki perasaan terhadapnya. Mungkin aku akan percaya pada mu, tapi sampai kapan Ris? sampai kapan aku harus melihat calon suami ku memperhatikan wanita lain! " ujar Quinn
Gadis itu tidak salah, bagaimanapun ia ingin mengerti. Tetap saja dia hanya seorang manusia biasa yang memiliki rasa sakit.
Quinn tidak lah bodoh untuk tidak bisa melihat pandangan mata dari kekasihnya itu.
katakanlah Quinn egois.
Quinn hanya berharap ia tidak akan menjadi buta karena cinta.karena siapa yang tau hati manusia di esok hari.
.
.
.