This Love

This Love
Sesal tak berujung



Dua Hari sudah berlalu setelah kejadian itu, Kiara menghilang bagai di telan bumi. Gadis itu tidak ada dimana pun.


Paris bahkan sudah mencari Kiara kesana kemari, ia juga mencari gadis itu dirumahnya, tetapi ia tidak ada disana. Paris bertanya pada para tetangga, mereka mengatakan jika Kiara belum pulang sejak dia Hari yang lalu.


"Kemana kau Ay? " Paris berjalan mondar-mandir di ruangannya, ia sudah menyuruh orangnya untuk mencari keberadaan Kiara, tapi sampai saat ini belum ada kabar apapun.


clak


Suara pintu terbuka seiring dengan sapaan yang datang.


"Sayang." Quinn masuk ke dalam ruangan Paris. Sejak tadi ia mencari pria itu, tapi tidak ada yang tau dimana keberadaan nya. Dan insting Quinn tidak salah, calon suaminya itu berada disini.


"Apa kau sudah makan? " tanya Quinn sembari duduk di sofa yang ada di ruangan itu, menatap pria yang ia cintai sedang berdiri menghadap jendela


"Hmmm, aku sudah makan. " jawab Paris tanpa menoleh.


"Apa ada masalah? sepertinya serius! aku bisa membantumu?" Quinn menatap punggung Paris yang masih berdiri di tempatnya.


"Tidak, aku hanya sedang lelah. Apa pekerjaan mu banyak? bagaimana pasien mu, apa mereka rewel? " tanya Paris sambil berbalik menuju kursinya


"Tidak se rewel dirimu. " canda Quinn


"Aku bawakan makanan favorit mu. Makanlah, aku sudah bersusah payah. " ucap Quin sambil menyodorkan tangannya kotak makan.


"Baiklah, nanti akan aku makan. " balas Paris


"Ris, mencari keberadaan seseorang itu memerlukan tenaga. Jika kau sangat mengkhawatirkannya, maka makanlah." ujar Quinn yang membuat Paris terkejut.


"Apa kau memata-mataiku? " tanya Paris dengan tatapan tidak suka.


"Tidak, aku hanya tidak suka jika calon suamiku berbohong. "


"Cihhhh. Kau seharusnya tidak melakukan ini Quinn. " desis Paris.


"Lalu apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus membiarkan mu menemui wanita lain." teriak Quin.


"Ok, baiklah. Dia masa lalumu. Tapi ingatlah Ris, kita sudah bertunang. Seharusnya kau menjaga perasaanku. " ujar Quin dengan nada semakin melunak.


Paris menarik nafasnya dalam, kata yang diucapkan Quinn memang benar. tapi tidak seharusnya Quinn melakukan itu kepadanya.


"Pergilah Quinn, biarkan Aku sendiri. " ujar Paris tegas.


Quinn menetralkan nafasnya. Ia memang mengerti kondisi Paris, tapi dia juga seorang perempuan yang memiliki hati nurani.


"Baiklah. Tidak masalah, bukankah itu sudah menjadi resiko untukku. " Tangan Quinn membenarkan dasi milik Paris. " Makanlah, aku akan ke rumah sakit karena ada operasi yang harus dilakukan malam ini. "


Paris hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Sebenarnya Paris merasa menyesal karena berbicara kasar kepada Quinn, tapi Paris juga tidak bisa m3nutup mata akan sikap Quinn yang semakin hari semakin tidak bisa Paris mengerti.


Sementara itu orang yang Paris cari kini tengah duduk merenung di sebuah tepi kolam. Kiara sengaja menghindar dari Paris karena ia tidak ingin berurusan dengan pria itu. Kiara tau ini salah, tapi Kiara tidak ingin menyakiti siapapun termasuk dirinya. Karena jujur, Kiara sudah mencintai Paris sejak dulu. Hanya saja Kiara menyangkal semuanya karena rasa trauma yang berlebihan.


Kiara mengambil ponselnya lalu melihat jam disana, ternyata saat ini sudah pukul 9 malam. Kiara kembali meletakkan ponselnya di dalam tas lalu bangkit dari tempatnya. Kiara harus pulang, karena tidak mudah mencari taksi jika lewat dari pukul 10 malam.


Kiara berjalan keluar dari area itu menuju jalan utama, beruntung Ia langsung menemukan taksi dan tidak perlu menunggu terlalu lama. Setelah masuk ke dalam taksi Kiara langsung memberitahu supir menuju alamat rumahnya.


ting!


Notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi, dengan cepat Kiara membuka pesan itu yang ternyata dikirim oleh Dian.


"Lo dimana? " Dian


"Gue di dijalan, mau pulang. Kenapa? " Kiara


"Ohh, gak ada sih. Cuma pengen tahu aja, soalnya sore tadi gue ke rumah lo dan lo gak ada. " Dian


"Hmmm, gue habis dari makam nyokap, tapi gak langsung pulang. Mampir dulu gue. " Kiara


"Ok Deh, kalau lo udah nyampe chat gue lagi ya. " Dian


Kiara memasukkan ponselnya kembali saat percakapan mereka selesai. Entah kenapa Dian sekerang lebih perhatian kepadanya. Tapi Memang Kiara rindu sih sa'at mereka duduk di bangku SMA.


"Neng, sudah sampai. " ujar supir taksi


"Ohhh, maaf pak saya gak ngeh. "


"Gak apa-apa neng. "


"Ini uangnya Pak, terimakasih. " ujar Kiara sambil menyodorkan uang untuk pembayaran.


"Sama-sama Neng. "


Setelah taksi pergi Kiara bergegas masuk ke dalam. Tapi, saat ia ingin membuka pintu rumahnya tiba-tiba ada tangan besar yang mencekal pergelangan tangannya. Kiara menoleh ke samping, begitu jelas dan nyata. Paris berdiri dengan wajah datar tanpa ekpresi.


"Lepas." ujar Kiara sambil mencoba melepas genggaman tangan Paris.


"Kenapa kau menghindar? " tanya paris tanpa menghiraukan ucapan Kiara.


"Aku tidak menghindar!"


"Lalu, apa namanya ini jika bukan menghindar! "


Kiara menarik nafas panjang lalu menarik tangannya dengan keras sampai genggaman tangan Paris terlepas. Ia menatap mata Paris dengan tajam


"Pergilah seperti dulu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. " ujar Kiara sambil mendorong pintu rumahnya.


Tetapi sebelum Kiara masuk tangan besar Paris kembali menghelangi.


"Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu Ay, kenapa kau masih tidak bisa mengerti! "


"Kau yang tidak bisa mengerti, kenapa kau selalu saja egois. Kau tidak seharusnya kembali Paris, kau tidak seharusnya kembali. " teriak Kiara


Paris mendorong pintu rumah Kiara sampai gadis itu terdorong kebelakang dan hampir saja terjatuh. Beruntung Paris dengan sigap menangkap tubuh Kiara.


"Kau tidak apa-apa Ay? " tanya Paris khawatir.


"Plak." Kiara menepis tangan Paris yang ingin memegangnya


"Pergilah Ris, Aku mohon. Jangan menggangguku lagi. " ucap Kiara memohon.


"Kau tau aku sangat mencintaimu Ay. Kenapa kau tidak pernah mau mengerti itu." ucap Paris begitu dalam.


Kiara mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepala.


" Tidak Ris, semua sudah berakhi. Pergilah, pergilah seperti dulu kau meninggalkan ku. "


"Ay, plis buka pintunya. Dengarkan aku dulu Ay, plis bicara denganku, jangan abaikan aku seperti ini. " ujar Paris sambil menggedor pintu kamar Kiara.


Gadis itu sudah masuk ke dalam kamar nya dan menguncinya dengan rapai.


Paris masih terus berusaha tapi Kiara tidak kunjung keluar. Paris juga bisa mendengar isak tangis Kiara yang membuat hatinya begitu perih.


Seandainya Paris dulu tidak egois, mungkin Sekarang mereka sudah bahagia. Harusnya Paris menunggu lebih sabar lagi, harusnya Paris bisa mengerti kala itu. Tapi tidak, Paris pergi meninggalkan duka untuk Kiara. Paris pergi dengan rasa benci yang teramat dalam, sehingga saat dia kembali, semua sudah terlambat.


Paris membuat keputusan yang Ia sesali seumur hidup nya.


.


.


.


.


.