This Love

This Love
Memulai sandiwara



Alan masih menatap Kiara yang masih tertidur pulas. Semalam ia sempat bangun, bertanya hal konyol yang membuat Alan tertawa geli. Entah sejak kapan, tapi Alan mulai sering tertawa sekarang.


"Kau sudah bangun? " tanya Alan saat melihat Mata gadis di depannya mulai terbuka.


"Mas masih disini! kenapa tidak pulang saja. " ujar Kiara


"Mas sekalian jaga malam, jadi tidak mungkin pulang. " ucap Alan yang benar adanya.


"Apa kau lapar?Mas sudah membeli bubur untukmu. "


Kiara menggeleng cepat, ia sama sekali tidak lapar. Hanya saja ia merasa tubuhnya masih ngilu.


"Kalau begitu istirahat saja. Supaya kau cepat pulih dan cepat pulang. " ujar Alan


Kiara mengingat rencananya hari ini yang ingin ke desa sang ayah. Tapi mau bagaimna lagi, kondisinya tidak memungkinkan.


ting..!


Sering ponsel Kiara berbunyi. Gadis itu segera mengangkat nya.


"Ya, Sin. "


"Hmmm, aku baik. "


"Ya, mungkin aku tidak bekerja beberpa hari ini. "


"Entahlah, jika di pecat pun tidak masalah. "


"Baiklah, trimakasih. "


Kiara menutup sambungan ponselnya. Ia sudah pasrah jika Ia harus di pecat. Mau bagaimana lagi, kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja.


Sementara itu di sisi lain


Paris sedang berlari di lorong rumah sakit tanpa memperdulikan orang yang melihatnya dengan aneh. Pasalnya Alan berlari tanpa menggunakan alas kaki, ia juga masih menggunakan pakaian santainya. Jika di lihat-lihat, ia seperti orang gila saja. Tetapi untung saja parasnya yang tampan menyelematkan pandangan orang terhadapnya.


"brak! "


"Aya"


suara Paris benar-benar mengejutkan semua orang belum lagi Paris mendorong pintu dengan kerasa hingga mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.


Kiara yang sedang menerima suapan bubur dari Alan saja sampai menghentikan aktivitasnya. Keduanya melihat Paris dengan tatapan terkejut


Deru nafas Paris semakin terdengar takkala melihat Alan duduk di depan Kiara dengan tangan memegang sendok yang mengarah ke bibir Kiara.


wajahnya memerah seketika, semua orang tau jika Paris tidak suka melihat kedekatan keduanya. Meski ini baru pertama kali di lihat oleh Paris.


"Tenanglah, Kiara tidak apa-apa. " ujar Quin yang baru saja tiba di ruangan Kiara.


Paris mengabaikan Quinn, dan itu di lihat jelas oleh Alan dan Kiara. Alan mengepalkan satu tangannya dan Kiara terlihat tidak enak melihat sikap Paris terhadap calon istrinya.


"Kau tidak apa-apa Ay. " tanya Paris dengan penuh rasa khawatir


Bagaimana tidak, Paris baru mendengar Kiara masuk rumah sakit pagi ini. Padahal Kiara sudah sakit sejak semalam.


"Hmmm, aku tidak apa-apa. " jawab Kiara lemah.


Kiara memang sudah baik-baik saja, tapi tubuhnya masih lemah. Sejak semalam ia tidak makan apapun, hanya infus yang mengisi cairan tubuhnya.


"Kau sudah makan? kau ingin apa? biar aku suruh orang untuk membelinya. " ujar Paris.


"Apa kau tidak melihat jika aku sudah menyuapinya. " ujar Alan sinis


Paris tidak memperdulikan ucapan Alan dan masih fokus dengan Kiara.


"Ay, aku akan memesan makanan kesukaanmu ya. " ujar Paris tanpa perduli apapun.


Sementara itu Kiara melihat ke arah Quinn. Ia sangat merasa tidak enak pada wanita itu.


"Tidak usah Repot Ris, disini aku baik-baik. Mas Alan sudah merawatku dengan baik. Jadi kau tidak usah khawatir. " ujar Kiara agar Paris tidak terlalu mengkhawatirkan nya.


Jujur Kiara benar-benar tidak enak dengan Quinn. Gadis itu terlalu baik untuk di sakiti olehnya.


"Kau harus makan yang banyak, bukan hanya sekedar bubur." ujar Paris tidak mau kalah.


"Maaf Ris, tapi saat ini hanya itu yang boleh Kiara konsumsi. " ucap Alan.


"Aku tau kau dokter, tapi Kiara butuh asupan nutrisi yang baik. " balas Paris yang tidak mau kalah.


"Tapi sayangnya itu tidak perlu, lagi pula kau itu siapa! kau bukan Siapa-siapa nya Kiara, jadi tidak perlu terlalu khawatir. " ujar Alan dengan tatapan sinis.


"Kau tau aku ini siapa bagi Kiara! tapi kau sendiri! mungkin kau hanya seorang dokter yang harus menjaganya. Tidak lebih. " ujar Paris tanpa memperdulikan perasaan Quinn yang sejak tadi duduk di sofa memperhatikan mereka bertiga.


Kiara menarik nafas panjang, kali ini ia harus mengakhiri semuanya. Paris tidak bisa di hentikan jika ia tidak bertindak tegas.


"Mas Alan ini pacarku Ris. "


Satu kata itu cukup membuat semua orang terkejut, Alan menatap mata Kiara yang menatapnya. sementara Quinn hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Kalian pasti tau respon dari Paris.


Ya, pria itu seketika membeku di tempatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama, setelahnya ia malah tertawa terbahak sampai semua orang keheranan.


"Hahahahaha."


"apa kau sedang melawak Kiara! "


"Kau fikir bisa membodohiku dengan guyonan seperti itu! dan apa kau berfikir aku akan semudah itu percaya. " ujar Paris dengan tatapan tajam


"Cihhhh, apa kau perlu bukti nyata? " tanya Alan sambil menggenggam tangan Kiara.


Seketika itu rahang Paris mengeras, tanga pria itu sudah terangkat untuk menepis tangan Alan. Tetapi Quinn menghalaunya.


"Kau melupakan aku Paris! " ujar Quinn.


Hati wanita itu sangat rapuh, sekecil apapun ia menutupi rasa sakitnya, tetap saja akan terasa jika di gores terus menerus.


Paris menatap mata Quinn, ia tau jika wanita di depannya terluka.


"Semua sudah selesai, semua sudah berakhir sejak dulu Ris, dan aku mohon mengerti lah. Berhenti menjadi pria egois, karena itu bukan karaktermu. Jika kau masih tidak percaya dengan hubunganku dan Mas Alan, maka baiklah. Di hari dimana kau dan kak Quinn menikah, di hari itu pula aku dan Mas Alan akan melangsungkan pertunangan. "


Dor...!


Alan sangat terkejut mendengar ucapan Kiara, begitupun dengan Paris dan Quinn.


"Ki, kau tidak harus melakukan ini. " ujar Quinn sambil menggenggam tangan Kiara.


"Tidak kak, ini sudah benar. " ujar Kiara sambil menatap ke arah Alan


"Maafkan aku kak, aku sungguh terpaksa membawamu ke dalam masalahku. tapi aku berjanji, saat Paris bisa melupakan aku, aku akan mengakhiri sandiwara ini. " batin Kiara


"Tapi ki_"


"Tidak ada tapi-tapian kak. Mas Alan juga pasti setuju. Ia kan Mas Alan? " ujar Kiara sambil tersenyum ke arah Alan.


"Tentu saja, aku pun siap. " balas Alan.


Paris mengepalkan kedua tangannya. Rasa marah, kesal dan kecewa menjadi satu. Paris pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan Kiara.


Sementara itu Quinn mencoba menyusul Paris, ia sangat tau Paris kecewa dan marah. Tapi ia tidak mungkin memaksa Kiara dan menyakiti hatinya sendiri.


Di dalam ruangan


"Apa kau yakin melakukan ini? " tanya Alan setelah Quinn dan Paris pergi.


"Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud untuk memyeret Mas ke dalam masalahku. Tapi ini demi kebaikan Paris dan kak Quinn. " ujar Kiara.


"Hmmm, aku mengerti. jangan terlalu di fikirkan. Sekarang lebih baik kau istirahat, Mas mau memeriksa pasien lainnya. Jika ada sesuatu panggil suster saja. " ujar Alan yang langsung di angguki oleh Kiara.


Kiara menarik nafas panjang setelah Alan pergi, Kiara merasa sangat sesak. Ia tidak menyangka jika hidupnya akan menjadi serumit ini.


Kiara sudah lelah, sangat lelah dengan semua urusan hidup yang menyangkut pria. Ibunya memang benar, jika cinta sudah hadir maka semua akan terasa sulit untuk dijalani.


.


.