
Hari ini Kiara sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah cukup baik. Selama berada di rumah sakit, Paris sedikitpun tidak pernah mengunjungi Kiara lagu. entahlah, mungkin pria itu marah dengan ucapan Kiara. Atau bisa jadi ia mulai sadar dengan semua yang terjadi.
"Kau sudah siap? " tanya Alan yang sudah bersiap membawa tas milik Kiara
"Hmmm, sudah. " ujar Kiara sambil tersenyum
Alan mengangguk lalu berjalan mendahului Kiara. Entah kenapa sejak kejadian itu sikap Alan juga sedikit berubah, lebih cuek dan pendiam. Tapi Kiara tidak ingin terlalu mempermasalahkan itu, karena semua yang ia jalani hanya sebatas sandiwara.
Kiara masuk ke dalam mobil Alan, setelah Alan selesai meletakan tas milik Kiara, Pria itu segera memacu mobilnya menuju rumah Kiara.
Di dalam perjalanan Kiara hanya diam, begitupun Alan. keduanya seperti orang yang berbeda.
Setengah jam perjalanan kini mobil yang di kendarai Alan tiba di rumah Kiara. Pria itu menurunkan barang milik Kiara dan membawanya masuk ke dalam.
"Kau bisa sendiri kan? " tanya Alan setelah Kiara turun.
"Hmmm, apa Mas sibuk? " tanya balik Kiara
"Ya, ada yang harus aku kerjakan. Kalau begitu aku pergi dulu. " ujar Alan.
Pria itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa mendengar balasan Kiara. entah kenapa, tapi seperti ada yang aneh.
"Mungkin dia benar-benar sibuk, atau mungkin lelah karena mengurusku. " gumam Kiara lalu masuk ke dalam rumahnya.
Kiara merebahkan tubuhnya yang lelah, ia sangat merindukan kamarnya itu. Meski kecil, tapi itu tempat ternyaman bagi Kiara.
...****************...
Hari begitu cepat berlalu. Sudah satu minggu ini setelah kepulangan Kiara, Alan sedikitpun tidak pernah lagi muncul. Kiara bahkan merasa sangat heran, dan lagi acara pernikahan Paris dan Quinn sudah sangat dekat. Kiara berharap tidak ada lagi masalah untuk pernikahan mereka.
tok...!
tok...!
Suara pintu di ketuk. Kiara bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah pintu. Saat pintu di buka Kiara sedikit terkejut dengan siapa yang datang.
"Pa_Paris." gumam Kiara.
Ya, pria itu tengah berdiri di depan Kiara dengan wajah datar.
"Boleh aku masuk? " tanya Paris dengan nada datar.
"Silahkan." balas Kiara dengan membukakan pintu selebar mungkin.
Paris masuk ke dalam dan langsung duduk di kursi ruang tamu, di ikuti oleh Kiara.
"Ay, aku tidak akan basa-basi tentang apapun. Karena aku tau kau sudah lelah dengan semuanya. Aku sadar jika semua ini sudah berakhir dan aku berjanji tidak akan memaksamu lagi." ucap Paris sambil menatap mata Kiara.
"Tapi bolehkan aku bertanya? benarkah kau sudah baik-baik saja? benarkah aku sudah tidak bisa lagi menjagamu seperti dulu? Apa tidak bisa kita menjalani kehidupan kita seperti dulu saat dimana masalah yang aku ciptakan muncul! Maafkan aku Ay, maafkan aku. " ujar Paris dengan suara bergetar.
Pria kuat dan egois itu kini menangis, ia sudah benar-benar kalah. Karena takdir memang sudah tidak mengijinkannya kembali pada cintanya.
Kiara menarik nafasnya dalam. Ia menggenggam tangan Paris erat, sama seperti dulu saat Kiara juga menguatkan pria itu.
"Jika Tuhan memang menjodohkan kita, tidak akan seperti ini jalannya. Aku tau kau pria yang mudah mengerti, tapi kenapa kau harus se egois ini untuk memahami jalan takdir. Sejak dulu kita bersahabat, sekarang pun ia. Aku tidak pernah membencimu karena semua yang terjadi adalah salahku. Tapi sekarang aku lega Ris, akhirnya kau bisa menerima dan mau mengakuinya." ujar Kiara sambil tersenyum
Paris mengusap air matanya, Kiara memang tidak pernah berubah. Ia selalu sama di mata Paris.
"Boleh aku minta sesuatu sebelum aku menikah? " tanya Paris dengan wajah sendu
"Hmm, katakanlah dan akan aku kabulkan. " ujar Kiara
"Bisa kau bawa aku ke makam ibumu, aku ingin menemuinya dan meminta maaf kepadanya. " ujar Paris
Kiara menatap Paris dengan terkejut. Tapi setelahnya Kiara mulai memperlihatkan senyumnya.
"Baiklah, besok bersiaplah sepagi mungkin. Aku tunggu kau menjemput ku. " ujar Kiara
"Baiklah." balas Paris
"Ohhh ya, jangan lupa beritahu kak Quinn. Aku tidak ingin dia salah paham terhadapku. "
Quin masuk ke dalam rumah Kiara dengan senyum merekah. Gadis itu sebenarnya datang bersama Paris, tetapi ia sengaja tidak menampakan dirinya agar Paris dan Kiara tidak merasa canggung.
"Kak Quinn, kau. Sejak kapan_"
"Aku datang bersama Paris. Hanya saja aku tidak ingin mengganggu sahabat yang sudah lama tidak saling bertemu. " potong Quinn
" Maaf kak. " ujar Kiara
"Jangan terlalu sungkan Kia, Aku sudah menganggap mu adikku. Jadi jangan merasa sungkan seperti itu. "
"Dan baiklah, besok kalian bisa pergi. Dan kau Paris, jaga adikku ini. Karena di pernikahan kita, dialah yang akan menjadi keluargaku Satu-satunya. " ujar Quinn dengan nada serius.
"Hahhhh, baiklah. aku akan menjaga adikmu ini. " ujar Paris sambil mengacak rambut Kiara dengsn gemas.
Sudah lama Paris tidak bercanda dengan Kiara bebas seperti ini. Seharusnya Paris bersyukur menemukan kekasih seperti Quinn, gadis yang cantik, pintar dan juga pengertian. Mungkin selama ini Parislah yang terlalu egois. tapi sekarang Paris menyadari jika jodoh memang tidak bisa di paksa.
...****************...
Pukul 6 pagi Kiara sudah bersiap untuk mengantarkan Paris ke makam ibunya. Kiara berharap semua akan berjalan seperti keinginannya. Tidak ada lagi suka, karena Kiara sudah sangat lelah.
Sembari bersenandung Kiara mengambil tasnya dan jaketnya di dalam lemari. Kiara melihat keluar jendela, ternyata pagi ini mendung.
"Semoga tidak turun hujan. " ucap Kiara sambil menutup gorden kamarnya.
Kiara berjalan keluar rumah, tidak lupa ia mengunci pintu rumahnya. Setelah selesai Kiara menunggu Paris datang sambil duduk santai di teras depan.
Tak lama kemudian Mobil Paris tiba, Tanpa menunggu Paris turun Kiara langsung masuk ke dalam mobil pria itu.
"Kau sudah lama? " tanya Paris
"Tidak, baru saja keluar. " jawab Kiara
"Baiklah, pasangan pengamanan dan kita berangkat. " ujar Paris.
Kiara memasang seatbelt nya lalu Paris pun melakukan mobilnya kearah tujuan mereka.
Tempat pemakaman Adel cukup jauh, karena berada di kota sebelah. butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan. Selama perjalanan itu Kiara hanya duduk terdiam, ia masih tidak menyangka jika kini ia dan Paris sudah baik-baik saja. Bahkan sebentar lagi pria itu sudah akan menikah.
Kiara benar-benar bahagia.
"Kau memikirkan sesuatu? " tanya Paris membuka pembicaraan
"Ya, aku hanya bahagia kau akan menikah. " jawab Kiara
"Ya, aku juga tidak menyangka. " ujar Paris.
"Ki? " panggil Paris dengan suara sendu
Kiara menoleh ke arah Paris, ini pertama kalinya Paris memanggil nama panggilannya.
"Maafkan aku karena aku tidak ada di sampingmu saat kau terluka dan hancur. " ucap Paris.
Pria itu sungguh merasa sangat bersalah
Kiara tersenyum. " Sudahlah, semua sudah menjadi masa lalu. Aku juga menerimanya dengan iklas." ucap Kiara
Paris menggenggam tangan Kiara dengan erat lalu berkata. " Aku berjanji Ki, Aku akan menjagamu seperti dulu. Meski Aku sudah menikah tapi kau akan tetap menjadi sahabatku. Tidak akan aku biarkan kau menderita lagi. " ucap Paris
Kiara tersenyum hangat. ia senang jika Paris sudah berubah menjadi seperti dulu. Tapi Kiara juga tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam pernikahan Paris. Meski Paris menganggap nya Sahabat dan Quinn menganggapnya sebagai adik. Tetap saja pada kenyataan nya Pria dan wanita tidak bisa bersahabat.
.
.
.
.
.