
Malam resepsi pernikahan Quinn dan Paris akhirnya tiba, kedua pasang suami istri Paris dan Quinn sudah berada di pelaminan. Tamu undangan pun mulai berdatangan seiring waktu yang terus berjalan.
tepat pukul 10 malam Paris melihat sosok yang beberapa hari ini tidak terlihat.
Senyum Quin dan Paris mengembang saat Alan dan Kiara berjalan mendekat.
grep
Quin langsung memeluk Kiara yang terlihat masih pucat dan sedikit lebih kurus.
"Kau sudah sembuh?" tanya Quin lembut.
"Iya, sudah mendingan kak. " ucap Kiara dengan nada lemah dan senyum di wajahnya.
Paris memeluk sahabat yang sudah ia anggap adik itu.
"Wajahmu masih pucat, kenapa harus memaksakan diri datang ke sini. " ucap Paris khawatir.
"Tidak apa, aku tidak ingin melewatkan pernikahan sahabatku. " ucap Kiara dengan senyum di wajahnya
"Apa kau tidak apa-apa? " tanya Paris lagi
"Ya, aku sudah baik-baik saja. " jawab Kiara
"Ris, selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan. " ucap Alan sambil memeluk suami sahabatnya.
"Terimakasih, sama-sama. semoga kau juga. " ucap Paris.
"Quinn, selamat ya. semoga selalu bahagia. " ucap Alan kepada sahabatnya itu.
"Terimkasih Al, kau juga ya. " ucap Alan
"Bi, selamat ya. Maaf Kia tidak bisa membantu Bibi menyiapkan semua ini. " ucap Kiara pada Asya.
Asya mengelus pipi Kiara, sungguh hatinya merasa sedih jika mengingat bagaimana penderitanya selama ini.
"Tidak masalah syang, Bibi hanya ingin kau sehat dan bahagia. " ucap Asya
"Bahagialah nak, semua yang terjadi sudah takdir yang diatas. jangan sungkan menganggap paman sebagai ayahmu ya. " ucap Papa Paris.
"Hmm, trimakasih Paman. " ucap Kiara.
Acara resepsi itu di tutup pukul 12 malam. Seluruh keluarga besar kedua mempelai sudah kembali ke hotel untuk beristirahat. Kiara dan Alan pun sudah pulang ke rumah mereka.
"Kamu lelah? " tanya Alan saat mereka masuk ke dalam kamar mereka.
"Hmm, sedikit. " jawab Kiara.
"Yasudah, tidurlah. ini sudah sangat larut, Mas mau ke ruang kerja dulu. " ucap Alan
"Kenapa Mas juga tidak beristirahat? " tanya Kiara
Alan tersenyum tipis, ia bersyukur karena istrinya kini mau berinteraksi dengannya.
"Ada sedikit pekerjaan yang harus Mas selesaikan malam ini juga. Kamu tidurlah, tidak usah menunggu Mas. " ucap Alan lalu mencium pucuk kepela Kiara.
Kiara mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kiara melihat ke arah pintu yang baru saja di tutup Alan. Memikirkan sesuatu yang entah apa itu.
...****************...
Pukul 7 pagi Alan menggeliat saat cahaya matahari masuk ke sela- sela jendela kamarnya. Alan meraba ke sisi kanan tempat tidur.
blam
Mata Alan terbuka lebar saat ia tidak menemukan Istrinya di sana.
"Kemana dia? " batin Alan
Alan mengambil kaos nya di lemari lalu dengan tergesa-gesa Alan turun ke bawah untuk mengecek apakah Kiara ada disana.
"Kia." panggil Alan tapi gadis itu tidak menyahut.
"Ki_." ucapan Alan tertahan saat melihat istrinya tengah berada di dapur, sepertinya sedang memasak sesuatu.
"Hmmm, pergilah. " ucap Alan
Alan berjalan mendekati Kiara yang tengah sibuk membuat sarapan.Alan menarik nafas panjang sebelum ia masuk ke dalam dapur.
"Kenapa kamu repot membuat sarapan. Bukankah sudah ada pelayanan yang bisa membuat itu, kau itu masih lemah. Jangan menyiksa dirimu seperti ini Kia. " ucap Alan berdiri di sebelah Kiara
Kiara menoleh sekilas lalu kembali fokus pada nasi gorengnya.
"Aku hanya tidak ingin suamiku memakan masakan pelayanan. Makanya aku membuat sendiri, lagi pula tugas istri kan seperti ini. " ucap Kiara
Deg....! jantung Alan berdetak tak karuan, satu senyum tersungging di wajahnya. Ucapan Kiara seperti sebuah angin segar bagi rumah tangganya yang dimulai dari sebuah perjodohan.
"Tapi Kia, kamu kan masih sakit, kamu perlu banyak istirahat. " ucap Alan
"Setelah pekerjaan ini selesai aku akan kembali tidur seharian. " ucap Kiara.
Semalam Kiara berfikir tentang apa yang harus ia lakukan dengan rumah tangganya karena ia sama sekali tidak mencintai Alan. Tetapi Kiara tidak ingin mengecewakan ayahnya yang sudah berjuang untuknya. Jadi Kiara memutuskan untuk mencoba menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Karena ada yang mengatakan Cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan itu berlangsung.
Dan ini lah yang Kiara lakukan untuk langkah pertamanya, menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Pergilah mandi, aku sudah menyiapkan pakaian yang akan Mas kenakan hari ini. Setelah selesai Mas langsung turun untuk sarapan. " ucap Kiara.
Alan tersenyum senang, ia berharap ini tidak sementara.
"Baiklah, mas naik dulu." pamit Alan
Di lain tempat Paris dan Quinn masih tertidur pulas. Malam pertama yang mereka lalui dengan panas dan ganas membuat keduanya kelelahan. Seluruh keluarga Quinn dan Paris sudah bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing, tapi pengantin baru kita malah masih molor.
"Biarkan saja anak-anak kita disini. Mungkin mereka leleh, biar nanti menyusul. " ucap Asya kepada besan mereka.
Quinn memang tidak memiliki orang tua, tapi ada Ok dan tantenya yang merawat dirinya sejak kecil. Jadi merekalah wali sah bagi Quinn.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit. Semoga kita bisa berkumpul kembali. " ucap sang besan.
Asya mengangguk, mereka pun memutuskan untuk pulang meninggalkan pengantin baru di kamarnya.
"Emmmm." Quinn menggeliat saat Paris mengerahkan peluknya pada perut ramping istrinya.
"Sayang, bangun. Ini sudah siang. " bisik Paris
"Sebentar lagi Mas, aku masih ngantuk. " ucap Quin dengan mata masih terpejam
"Tapi kita harus segera pulang. " ucap Paris lagi
"Nanti saja, badanku sakit semua karena ulahmu semalam. Lagi pula belum tentu juga aku bisa berjalan dengan benar setelah apa yang kamu lakukan padaku. " ucap Quin
Paris tersenyum saat mengingat pertempuran malam pertama mereka.
"Sayang, kita mandi yuk. " ajak Paris mesum
plak...!
Quinn memukul tangan Paris yang mulai kembali nakal.
"Jangan Coba-coba atau tidak akan aku beri jatah selama sebulan. " ancam Quinn
Nyali Paris langsung menciut, ia langsung melepas pelukannya.
"Jangan mengancam seperti itu, aku pasti akan tiada jika sampai itu terjadi. " ucap Paris.
Quinn menahan tawanya melihat ekpresi Suaminya itu. " Kalau begitu cepat mandi, setelah Mas selesai baru aku. " ucap Quin
Quin masih merasakan nyeri pada selangkangannya. Karena ini bukan di dunia hayalan yang banyak orang membuat cerita pertempuran di ranjang sampai berkali-kali.
"Ya, ya. Baiklah tuan putri. " ucap Paris
Quinn terkekeh melihat wajah suaminya. Quinn tidak menyangka jika ia kan mendapat cinta Paris seutuhnya.
"Al, Kia. Semoga kalian juga bahagia, semoga tidak ada lagi cobaan yang menimpa kalian. Dan semoga hati Kiara cepat terbuka untuk Alan. " Batin Quinn penuh dengan doa.