This Love

This Love
Takdir Kehidupan



Hari ini Kiara resmi menjadi Nyonya Alandra Devano Sanjaya. Menjadi istri seorang dokter muda bukanlah menjadi cita-cita Kiara, bahkan ia tidak pernah bermimpi untuk menikah Di usia ini dan dengan cara seperti ini.


Memang benar yang di katakan tetua jaman dulu, jika takdir sudah berucap manusia hanya bisa pasrah dan menjalaninya.


...----------------...


Kiara sedang menunggu di depan ruang operasi bersama Paris dan Dian. Sejak tadi Kiara tidak berhenti mondar-mandir dan mengucapkan permohonan agar operasi ayahnya dilancarkan. Meski Kiara tahu kemungkinan berhasil cukup sedikit. Tapi bukankah harapan itu selalu ada?


"Ki, duduk saja. Operasi masih sangat lama, ntar lo lelah. " ujar Dian.


Gadis itu tau jika sahabatnya sangat khawatir akan kondisi ayahnya. Tapi jika Kiara terus seperti itu ia bisa pusing.


"Gue khawatir Di. " ujar Kiara


"Gue takut banget. " imbuhnya lagi.


"Gue tau, lo serahin aja semua sama yang diatas. Lagian suami lo sedang berusaha di dalam bersama Quinn. Jadi lo tenang ya. " ucap Dian


Kiara menarik nafas panjang lalu duduk bersama Dian. Kata-kata Dian tadi membuatnya semakin tertekan, apalagi mendengar kata suami. Ingin sekali rasanya Kiara berteriak.


Kiara menatap Paris yang sejak tadi diam, mungkin pria itu memikirkan pernikahannya.


"Ris, kalau kamu capek. Kamu pulang saja. " ucap Kiara


Paris menoleh lalu tersenyum. " Tidak, aku gak capek kok. "


"Apa kamu mikirin pernikahan kamu? " tanya Kiara


"Hmmm, iya juga. Tapi aku tidak sepenuhnya memikirkan itu. " ucap Paris


"Lalu? "


"Aku hanya tidak menyangka jika kau sudah menjadi istri seorang dokter. " Paris tersenyum aneh. " Aku benar-benar belum bisa menerima itu Ki, mungkin aku sudah iklas akan hubungan kita. Tapi kau, secepat ini. "Paris menggeleng. " Rasanya seperti mimpi. " lanjutnya


"Hmmm aku juga merasa ini seperti mimpi. Sekarang kau sudah menjadi seorang istri Kia. Ahhhh rasanya sulit di percaya. " imbuh Dian


"Entahlah, akupun merasa aneh." ucap Kiara


"Kalau Amel mengetahui ini dia pasti akan marah besar sama lo Ki." ucap Dian


Kiara mengangguk setuju. Tapi mau apalagi, semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa Kiara lakukan lagi saat ini selain menjalani semuanya


Beberapa jam kemudian Quinn dan Alan keluar dari dalam ruang operasi, sangat terlihat jika mereka sangat lelah. Belum lagi Quinn yang akan menjalani pernikahan 4 hari lagi. Sungguh, Kiara sangat tidak enak.


Kiara mendekati keduanya dan mencoba untuk tenang dengan apapun hasilnya.


"Kak, bagaimana? " tanya Kiara pasa Quinn


"Operasinya berjalan lancar, tapi. " Quinn menjeda ucapannya sambil menunduk


Alan mendekati Kiara dan langsung memeluk gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.


"Ayah mengalami Koma Sayang. Maafkan Mas. " ucap Alan.


Pria itu memeluk erat Kiara yang tidak merespon sama sekali ucapannya.


Dian mendekati Kiara lalu mengelus pundak sahabatnya itu.


"Ki, apa kau dengar. Jangan seperti ini Kia, lo harus kuat. Paman hanya Koma, pasti masih ada harapan. " ujar Dian


"Kami tidak akan berhenti berusaha Kia, kami akan terus mengawasi kondisi Ayahmu. " imbuh Quinn


Kiara melepaskan pelukan Alan darinya lalu berjalan mendekat ke ruang operasi. Dari luar ia bisa melihat beberapa suster sedang memasang alat bantu untuk ayahnya.


Ingin rasanya Kiara berteriak dan menyalahkan takdir hidupnya, tapi Kiara sudah tidak punya tenanga lagi. Mungkin semua ini ujian, tapi kenapa? kenapa harus seberat ini.


Bahu Kiara bergetar, Kiara menangis dengan Diam. Sungguh hal itu sangat menyesakan.


Sebuah tangan menarik tubuh Kiara lalu memeluknya dengan erat.


"Menangis lah nak, jangan kau tahan. Maafkan bibik yang tidak pernah menemuimu selama ini, membuat kamu menderita karena Bibik gagal meyakinkan Paris dulu. Tapi kau harus tau jika banyak yang menyayangimu. Kami Tidak akan meninggalkan kamu lagi sendiri mulai saat ini. " Asya mengeratkan pelukan nya.


Dulu Asya sangat dekat dengan Kiara karena Paris sering mengajak Kiara kerumahnya. Tapi sejak Paris kecewa dengan Kiara mereka menjadi putus hubungan.


Kiara mengenali suara itu, Kiara mencoba menahan tangisannya tapi gagal. tangisnya kembali pecah, saat ini Kiara begitu rapuh.


"Menangislah sampai kamu puah nak. " ucap Asya lagi.


Setelah hampir satu jam Kiara menangis akhirnya gadis itu sudah kembali tenang. Sang ayah juga sudah di pindahkan ke ruang ICU.


Asya masih mendampingi Kiara karena hanya sosok seorang ibu yang bisa menenangkan anaknya.


"Maafkan Kiara Bi, Kiara jadi menyusahkan Bibik. " ucap Kiara saat keduanya berada di depan ruang ICU.


"Tidak apa-apa nak. Kamu sudah Bibi anggap sebagian putri bibi sendiri, jadi jangan sungkan. " balas Asya.


"Terimakasih karena sudah membawa BiBik kesini Ris, maafkan aku karena sudah menyusahkan mu juga. " ucap Kiara pada Paris.


"Kau itu, apa kau tidak mendengar ucapan ibuku. Kau itu sudah dianggap anak olehnya, itu berarti kau adalah adik ku mulai saat ini. Dan yah, jika sampai suamimu itu menyakiti mu nanti, dia harus berhadapan denganku. " ucap Paris sambil memandang Alan dengan tatapan sinis.


Sementara Alan yang berdiri di dekat jendela terlihat tidak perduli dengan ucapan Paris. Karena ia tidak mungkin menyakiti Istrinya sendiri.


"Ohhh ya Kiara, Bibik tidak bisa memberimu apa-apa untuk pernikahan mu. Tapi. " Asya melepas satu cincin yang ia kenakan." Ini adalah cincin pemberian Ibu Bibik dan ini sangat berarti untuk Bibik. Bibik berharap kau bisa menerima ini nak. " ucap Asya sambil meletakan cincin itu di tangan Kiara


"Kiara tidak bisa menerima ini Bik. "


" Terimalah Kia, bibik akan sangat senang."


"Tapi Bi_


" Kau putri Bibik, jadi kau berhak. " ucap Asya


Kiara menatap ke arah Quinn, ia merasa tidak enak.


Quin yang menyadari tatapan Kiara pun tersenyum. " Kia, kau adalah putri dari ibu mertuaku. Dan aku adalah menantunya. Jadi kau berhak mendapat peninggalan dari nenek Paris. Jadi jangan Terlalu khawatir. " ucap Quinn


"Nak, cincin ini peninggalan dari ibu Bibi. dan Bibi berhak memberinya pada siapapun. Jika untuk Quinn, dia akan mendapat warisa dari Ibu ayah Paris. Jadi itu adil kan. " ucap Asya


Kiara tersenyum, ia sangat beruntung di keliling orang-orang yang begitu baik dan perhatian kepadanya.


"Terimakasih Bi, trimakasih juga untukmu kak. " ucap Kiara


Asya dan Quinn memeluk Kiara bersamaan. Mereka tau jika saat ini Kiara sangat butuh dukungan dari semua orang.


Selesai berpelukan Asya berjalan mendekati Alan.


"Nak, bibik titip putri bibik padamu. tolong jangan sakiti dia, dan bibik juga memberikl selamat untukmu. Jaga Kiara baik-baik, ratusan dia dan selalu menjadi suport sistem untuknya. " ucap Asya


Alan mencium punggung tangan Asya untuk meminta restu. "Saya tidak bisa berjanji untuk itu Bi, tapi dengan kesadaran dan sekuat tenaga saya akan menjalankan perintah itu. Mohon doa nya agar saya bisa menjadi imam yang baik untuk Kiara. " ucap Alan.


Asya mengangguk, ia sangat senang karena Kiara mendapat Pria yang baik dan seperti bertanggung jawab. Asya berdoa semoga tidak ada lagi tangis dalam kehidupan Kiara..


.


.