
Pukul 7 malam Kiara keluar untuk mencari udara segar. Ia berjalan ke arah utara, disana ada sebuah kursi kosong yang terletak di taman belakang Penginapan.
Kiara menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan pelan. Pandangannya kini tertuju pada bintang-bintang yang ada di langit yang berwana hitam. Sangat indah.
Bulir bening terlihat menetes dari mata Kiara, gadis itu merindukan ibunya.
"Ma, Kia kangen mamah. " ucap Kiara suara serak.
Kiara mengusap air matanya yang sulit sekali di hentikan.
"Ma, apa ayah benar ada disini? Apakah Kiara bisa menemukan ayah! Bagaimana jika ayah tidak ada, tapi jika ada apa yang harus Kiara lakukan.?" ucap Kiara selanjutnya.
Sebuah tangan menepuk pundak Kiara. Saat Kiara menoleh terlihat Alan tengah berdiri memandangnya.
"Cuaca disini sangat dingin. Kenapa tidak memakai jaket. " Alan membalut tubuh Kiara dengan jaketnya.
"Mas belum tidur " ucap Kiara
"Aku ingin tidur, tapi tidak bisa. Jadi aku keluar untuk mencari sedikit udara segar. " ucap Alan.
Kiara membersihkan wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sangat beruntung karena Alan tidak pernah bertanya apapun saat dirinya menangis.
"Kau merindukan Ibumu? " tanya Alan
"Hmmm." jawab Kiara singkat.
Alan menatap ke atas langit sambil tersenyum. " Mungkin Ibumu dan ibuku sudah bertemu disana. " ucap Alan.
Kiara melihat ke arah pria yang tengah duduk di sampingnya dengan pandangan fokus ke atas.
"Ibuku meninggal saat aku berusia 3 Tahun, aku di rawat oleh bibikku karena ayah pergi ke negri sebrang agar aku bisa sekolah. Aku pun sudah kehilangan ayah saat usiaku menginjak 18 tahun. Saat ayah akan pulang menemuiku, pesawat yang di tumpanginya jatuh dan hancur." Alan menarik nafas panjang saat ia kembali mengingat masa lalunya yang begitu buruk.
Sementara Kiara hanya menatap Alan tanpa ekpresi. Alan tersenyum saat sadar tatapan Kiara terhadap nya.
"Kau tidak usah iba kepadaku. Setidaknya nasib kita tidak jauh berbeda. Hanya saja kau masih beruntung karena masih memiliki ayah. Sementara aku, aku masih memiliki kakak perempuan yang aku sendiri tidak tau keberadaannya. " ucap Alan.
"Kenapa? Kenapa kakakmu tidak bersama denganmu? " tanya Kiara
"Hahhhh." Alan menarik nafas lagi lalu membuangnya.
"Bibikku seorang janda da simpanan seorang pria kaya. Bibikku memiliki club dimana-mana dan sangat terkenal. Tapi sayangnya bibikku tidak seperti manusia, dia seperti binatang yang tidak punya hati."
" Ahhh tidak, bibiku bahkan lebih buruk dari itu. Dia ingin menjual kakakku ke seorang pria kaya. tapi beruntung ia bisa melarikan diri. dan sampai sekarang aku tidak tau keberadaannya. " ucap Alan.
"Apa kau tidak ingin mencari kakakmu? " tanya Kiara
Alan menatap Kiara, gadis itu benar-benar kuat dan juga tengguh. Meski baru habis menangis dia bisa langsung mengontrol emosinya.
"Aku ingin, tapi sepertinya bukan waktunya untuk saat ini. " jawab Alan
Kiara menggenggam tangan Alan sambil tersenyum.
"Saat ayahku sudah di temukan, aku akan membantu Mas untuk mencari kakak mu. " ucap Kiara.
Alan membalas senyuman Kiara dan juga membalas genggaman tangan gadis itu.
Kiara merasa canggung dan salah tingkah. Ia pun melepaskan genggaman tangan Alan.
"Mas sepertinya ini sudah larut, kita masuk yuk." Ajak Kiara yang terlihat sedikit salah tingkah
Alan tersenyum melihat Kiara yang salah tingkah terhadapnya. Alan lalu menyusul langkah Kiara masuk ke dalam penginapan. Mereka bedua pun memutuskan untuk tidur, karena besok Kiara harus masuk ke dalam desa untuk mencari ayahnya.
...****************...
Pagi menjelang, Kiara sudah selesai membersihkan badannya dan bersiap untuk pergi. Saat keluar kamar Kiara belum melihat Alan. Kiara pun memutuskan untuk menguji pintu pria itu.
"Tok.
" tok
Beberapa kali Kiara mencoba mengetuk tapi tidak ada balasan. Kiara pun membuka pintu kamar Alan dan ternyata tidak terkunci. Kiara ngintip ke dalam dan ternyata pria itu tidak ada di dalam.
Kiara masuk ke dalam kamar tanpa permisi.
"Mas." panggil Kiara
"Mas Alan. " panggilnya lagi.
Tapi tidak ada satuan sama sekali.
"Mungkin dia keluar untuk memesan sarapan. " fikir Kiara
Sambil menunggu Alan Ia membersihkan kamar pria itu dan membuka jendela kamar agar ada sinar yang masuk. Tapi saat Kiara selesai membuka jendela dan berbalik, disaat yang bersamaan Alan terlihat keluar dari kamar mandi.
Mata Kiara melebar sempurna, degup jantungnya semakin cepat memacu. baru pertama kali ini Kiara melihat seorang pria bertelanjang dada dengan rambut basah.
"Sangat tampan" batin Kiara.
"Ki, apa yang sedang kau lihat. " ucap Alan sambil tersenyum
Kiara yang tersadar langsung merasa malu, bahkan pipinya terlihat memerah.
Kiara mulai panik, ia terburu-buru berjalan ingin keluar tapi di saat berbarengan Alan pun melangkah
"Bruk."
Kiara tak sengaja menabrak Alan hingga ia terjatuh. Alan yang tidak sengaja ingin menangkap tubuh Kiara malah ikut terjatuh dan menimpa Kiara.
Keduanya saling memandang, deru nafas keduanya saling bersautan. Entah apa yang ada di benak Alan, tapi perlahan ia mulai memajukan bibirnya. Kiara merasa degup jantungnya semakin keras. Bahkan bisa di dengar olehnya.
"Cup." Bibir keduanya saling bertemu.
Mata Kiara melebar sempurna saat benda kenyal mulai terasa.
Tok..!
Tok...!
Tok... !
Suara ketukan pintu menyadarkan keduanya. Reflek Kiara mendorong tubuh Alan hingga pria itu tersungkur ke belakang.
Kiara membenahi pakaiannya lalu berlari ke arah pintu.
"Non, ini sarapannya mau di taruh di mana? " tanya Mamang ujang.
"Ehh, itu. Letakan di meja sana aja mang. " jawab Kiara sedikit gugup.
Degup jantungnya masih memacu akibat yang baru saja terjadi. otak Kiara bahkan hampir berhenti bekerja.
Alan yang baru saja selsai mengganti pakaian bergegas menyusul Kiara yang sudah lebih dulu duduk di ruang tamu Penginapan.
Keduanya terlihat sangat canggung. Alan merasa sangat tidak enak, seharusnya dia menjaga Kiara. Tapi entah setan buta mana yang memasukinya tadi.
"Mmm, Ki. Mas minta maat atas kejadian_
"Lebih baik kita segera sarapan, biar cepet naik ke desa. " ucap Kiara mencoba mencairkan suasana.
Alan memandang Kiara yang tengah menyuap nasi goreng yang di sediakan penginapan.
Setelah Selesai sarapan keduanya pun memutuskan untuk berangkat. Alan memacu mobilnya masuk ke dalam pemukiman desa .Sayangnya mobil Alan hanya bisa sampai di ujung batas desa saja, karena jalan di desa itu masih lumpur, jadi terpaksa keduanya harus berjalan kaki.
"Yakin ini ke sana? " tanya Alan saat melihat jalanan yang terjal menanjak.
"Hmmm, kenapa? Mas takut? " tanya Kiara dengan wajah mengejek
"Tentu saja tidak, Mas hanya khawatir kamu kelelahan. " ujar Alan .
"Tidak Mas, aku sudah terbiasa berjalan kaki. Apa Mas sudah lupa! " Kiara berjalan mendahului Alan.
"Ya, ya. Mas ingat dan Mas tau. " ucap Alan
Keduanya berjalan menuju rumah yang harus di kunjungi Kiara, tapi bentuk rumah disana hampir sama. Kiara pun memutuskan untuk bertanya di sebuah warung sembari beristirahat.
"Bu maaf, saya mau tanya. Rumah Pak shamad dan bu khodijah dimana ya? " tanya Kiara
"Neng dari mana? baru kali ini ada yang mencari nenek khodijah. "
"Saya dari kota bu. Saya Anak almarhum Adelia Lestari. " ujar Kiara.
Ibu itu menatap Kiara dari atas sampai bawah dan lan langsung berlari ke arah Kiara.
"Kamu putrinya Jaya? " tanya ibu itu
"Iya Buk, saya putrinya pak jaya saputra. " jawab Kiara
"Oalah nak, kamu udah besar sekali. Kenalin nama ibu Gayo, panggil saja Mak gayo. " ucap Mak gayo
"Ohhh ya Bu. Ehhh Emak gayo."
"Terus rumah Nenek khodijah yang mana ya Mak? " tanya Kiara lagi
"Oalah, Mak khodijah sudah lama meninggal nak. begitupun kakekmu." ujar Mak gayo
"Benarkah? Lalu ayah? apa dia ada disini? " tanya Kiara.
Mak gayo sedikit terdiam saat Kiara menanyakan ayahnya.
"Lebih baik kamu Mak antar ke rumah ayahmu ya nak. " ucap Mak gayo tanpa menjawab ucapan Kiara.
"Sebentar, Mak tutup warung dulu. " imbuhnya
Mak gayo membereskan dagangannya lalu bergegas menutup pintu dan jendela warungan itu. setelah selesai Mak gayo langsung mengantar Kiara dan Alan ke rumah ayahnya.
"Ini suami neng Kiara? ganteng banget ya, kalau Jaya bertemu suami neng ini,pasti dia sangat senang. " ucap MAK gayo terus nyerocos.
Sementara Alan hanya tersenyum tanpa membantah ucapan Mak gayo.
"Bu_
" Nah ini rumah ayahmu nak. " ucap Mak gayo hingga membuat Kiara mengurungkan niatnya untuk bicara.
Kiara memandang bangunan yang ada di depannya. rumah itu begitu tua dan terlihat sangat buruk, genteng di atas sudah terlihat banyak yang pecah dan berjatuhan.
"Apa ayah masih tinggal disini Mak? " tanya Kiara ragu.
Mak gayo mengangguk, Ia membuka pintu rumah itu hingga memperlihatkan isi didalamnya.
Terlihat seorang pria tengah duduk di atas kursi roda. Pakaian pria itu sangat kusam dan lusuh, badannya pun sangat kurus dengan wajah yang terlihat tua.
Kiara berjalan mendekat. Ia tau jika itu adalah ayahnya, meski Kiara sudah tidak bertemu dengan pria itu puluhan tahun, tapi Kiara tidak akan pernah melupakan wajah pria itu.
"A_ayah." ucap Kiara dengan bibir bergetar
Pria itu menoleh ke arah Kiara. ia tidak mengenali Kiara sebagai putrinya karena saat Kiara dan Adel meninggalkan rumah Kiara masih sangat kecil.
Mak gayo mendekati Jaya. "Bang, dia Kiara putrimu. " ucap Mak gayo.
Jaya terlihat sangat terkejut, ia tidak percaya jika yang ada di depan saat ini adalah putrinya. Jantung Jaya berdetak cepat, air matanya mengalir deras. Ia tidak bisa berkata apapun.
Kiara yang sejak tadi diam kini berlari dan menghambur dan memeluk ayahnya. Tangis Kiara kian pecah, rasa bencinya menghilang seketika. Kiara sudah melihat hukuman dari Tuhan kepada ayahnya yang dulu pernah memberi rasa sakit yang begitu dalam.
"Ki_ Kia. put_ri ayah. " ucap Jaya terbata.
"Hiks. Ayah, maafkan Kiara yah, maafkan Kia. " ucap Kiara sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kau sudah besar nak." Jaya mengusap air matanya yang terus mengalir."Dimana ibumu. Apa dia tidak ikut? "tanya Jaya sambil melihat keluar.
Kiara kembali menangis, ia benar-benar tidak menyangka jika kondisi ayahnya seburuk ini.
" Ibu sudah meninggal yah, beberapa tahun yang lalu. " jawab Kiara
Jaya sangat syok mendengar itu, rasa bersalahnya kian terasa. sungguh jika Jaya bisa memutar waktu, ia tidak akan berbuat kasar kepada Adel istrinya.
"Maafkan aku Adel, aku sungguh minta maaf. Bertahun-tahun aku mencarimu dan Kiara, tapi Tuhan tidak mengijinkan aku bertemu denganmu meski hanya sekali saja. Ahhhhhh, kenapa semua ini terjadi." teriak Jaya ia sangat menyesal, sungguh menyesal. meski semua tidak ada artinya.
"Yah, kenapa ayah bisa jadi seperti ini? " tanya Kiara saat air matanya bisa di kontrol.
"Ayahmu mengalami kecelakaan saat mencari kalian nak. Kakek dan nenekmu sudah berusaha mencari pengobatan untuk ayahmu, tapi Tuhan tidak mengijinkan ayahmu untuk sembuh. Jika di bawa ke rumah sakit besar pun tidak mungkin karena kakek dan nenekmu tidak memiliki uang saat itu. " ucap Mak gayo
"Lalu selama ini siapa yang merawat ayah? " tanya Kiara
"Kami para tetangga yang bergantian memberi makanan untuk ayahmu nak. " jawab Mak gayo.
Kiara menggenggam tangan Jaya, dadanya terasa begitu sesak. Ternyata rasa benci yang ia pendam selama ini berubah buruk kepada ayahnya.
"Nak, dia siapa? " tanya Jaya saat melihat Alan berdiri di ambang pintu.
"Dia_
" Itu suaminya Kiara. " jawab Mak Jaya memotong ucapan Kiara.
"Benarkah itu nak? dia sangat tampan dan cocok dengan mu. Ibumu pasti senang jika dia masih ada. " ucap Jaya.
Kiara menarik nafas panjang dan ingin memprotes ucapan Mak gayo. Tetapi Alan kembali menyela.
"Halo Om. Maaf sebelumnya tapi saya bukan suami Kiara. " ucapan Alan membuat Kiara sangat lega.
"Tapi saya calon suami Kiara Om, saya akan menikahi Kiara jika om menyetujui saya dan mau menjadi wali kami nanti. " ucap Alan selanjutnya yang membuat Kiara kesal.
Kiara menatap Alan dengan mata mendelik pertanda jika gadis itu tengah memprotes ucapan Alan. Tapi Alan terlihat tidak perduli, ia bahkan semakin melebarkan senyumnya saat Kiara menatapnya.
.
.
A**pakah Jaya akan setuju, atau bahkan sebaliknya. Tunggu kelanjutannya besok ya. untuk besok author akan up sore🙏 terimakasih ☺
Salam cinta dari author Lily**