This Love

This Love
Bagian Enam



Aku menghembuskan nafasku menatap berkas berkas yang ada di atas mejaku . Aku berdiri dari kursiku lalu berdiri di depan jendela yang mengnyajikan pandangan kota dari atas gedung ini.


Tok... tok... tok...


"Masuk".


"Tuan ini ada undangan dari nyonya jansen".


Aku membalikan tubuhku menatap Sekrtarisku -alex- yang sedang menundukkan kepalanya .


"Taruh itu di atas meja". Ia mengangkat kepalanya menampilkan ekspresi 'apa kau baik baik saja'. Yang pasti aku tidak dalam keadaan baik baik saja. Aku menyanyagi jansen tapi ia menghianatiku.


"Apa kau di undang lex?". Tanyaku padanya .


"Menurut mu?".


Aku mengganguk mengerti . Pasti ia di undang . Alex menghampiriku lalu menepuk bahuku


"Hey ayolah bung. Aku kau dalam keadaan tidak baik baik saja".


Aku menghela nafas .


"Kau selalu tau perasaan ku dude, lagi juga itu undangan keduaku".


"Maksudmu?".


Aku mengangkat bahuku.


Aku berjalan menuju sofa yang ada di ruanganku . Dan di ikuti oleh alex


"Apakah kau akan datang?".


"Aku akan datang". Jawabku dengan mantap


"Bersumpahlah kau tidak akan menghancurkan pernikahan jansen". Katanya


Aku tertawa pelan


"Akan aku usahakan".


Ia menghela nafasnya.


"Bagaimana denganmu, Kau akan datang dengan siapa?". Tanyaku padanya


"Dengan lira". Seketika ia seperti ABG yang baru merasakan jatuh cinta setelah menyebut nama lira


"Kau beruntung bung. Mendapatkan lira". Kataku . Aku tau bagaimana ia bertemu lira dan perjuangan alex untuk lira. Suatu saat apakah aku akan seperti itu?.


Ia mengangguk sambil tersenyum.


"Lalu kau datang dengan siapa?". Tanyanya


"Dengan dara".


Dia mengerutkan dahinya


"Dara? Siapa dia? Tunggu dulu. Dara zeroun?".


"Ya". Jawabku singkat


Aku kan sudah bilang alex tau hal terkecil hingga terbesar dari hidupku.


"Kau sudah gila dude". Ia menonjok pelan lengan ku


"Kau tau kan jansen sangat membenci dara". Lanjutnya


"Aku tak perduli". Jawabku acuh


"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?".


"Kau pura pura bodohya ?".


Alex hanya mengangkat bahunya dan terkekeh.


*


Dara prov


Aku duduk di atas sofa seraya menonton film kesukaanku dengan serius.


Tingnong....


Tingnong....


"Iya tunggu sebentar". Teriakku


Aku berjalan menuju pintu . Dan membuka pintu perlahan . Oh ternyata tukang pos . Tukang pos itu melihatku dari bawah hingga atas aku risih dilihatnya seperti itu.


"Ada apa ya pa?".


"Ini ada kiriman untuk anda".


Ia menyodorkan kotak besar kepadaku.


"Tolong tanda tangan disini". Aku tanda tangan di atas kerta penerimaan itu.


"Kau sungguh seksi nona". Aku membelakakan mataku . Tukang pos kurang ajar itu langnsung pergi. Aku baru tersadar aku menggunakan kemeja bara . Sial. Cepat atau lambat aku barus membeli baju wanita.


Aku kembali masuk kedalam rumah denga keadaan dongkol. Aku duduk di sofa lalu membuka kotak itu.


Berdandanlah aku akan menjemputmu jam 19.00. Temani aku ke pesta pernikahaan temanku. Dan dandan yang cantik.


-bara.c-


Dara mengedarkan pandangannya seraya mencari jam dinding . Ia melihat jam menujukan pukul 18.25. Masih ada waktu


Aku bergegas menuju kamarku untuk mandi dan berdandan.


*


Aku melihat pantulan tubuhku di depan cermin . Lalu memoleskan lipstik dengan tipis . Aku hanya dandan seperlunya saja.


Tin... tin... tin...


Aku langsung memakai highheels ini . Dan langsung pergi keluar rumah .


Mobil bugatti merah bercampur hitam terparkir indah di depan gerbang . Lalu sang pemilik mobil itu menurunkan kaca jendelanya dan berkata


"Cepat naiklah". Titahnya


Aku bergegas menaiki mobil ini.


*


Aku dan bara sampai di sebuah gedung yang sangat mewah ini . Aku melihat keluar kaca mobil banyak wartawan yang menanti . Huh... dasar pengusaha.


"Kamu cantik malam ini".


"Terimakasih". Kataku lalu tersenyum padanya.


"Kamu juga seksi malah ini . Ayolah jangan menggodaku".


"Dasar kau tuan mesum . Kau yang memberiku baju ini. Lagi pula aku bukan wanita pengoda!". Teriakku


"Baiklah... kamu siap". bara menatapku


"Entahlah". Jawabku dengan ragu.


"Tak apa , kau hanya perlu tersenyum saja". Dia mengengam tanganku


"baiklah".


Ia keluar .lalu membukakan pintu untukku . Ia mengulurkan tangannya lalu aku menerima ulurannya. Kamera wartawan pun tak mau rugi . Cahaya blits pun menghujani kami . Aku pasang senyum terbaikku . Bara merangkul pinggangku agar merapat padanya.


Aku kini tengah berada di ballroom gedung mewah ini . Sungguh nuansa putih dan emas terasa kental disini . Ku mengedarkan pandanganku . Ku lihat tamu yang hadir menampilkan senyuman bahagia mereka . Akankah pernikahanku akan seperti ini?.


"Ayo ikut aku". Bara menarik tanganku .


"Hay...". Sapa bara kepada jansen


Jansen menoleh kepada kami. "Bara aku kira . Kau tidak akan datang". Jansen memeluk bara erat sehingga genggaman tangan bara perlahan mulai terlepas. Ada perasaan perih di dada melihat ini . Oh ayolah aku ini siapa. Mereka dulu adalah sepasang kekasih. Aku memundurkan langkahku dua langkah memberikan mereka celah.


"Ehem". Deheman keras membuat mereka melepaskan pelukan ini


Aku menoleh ke asal suara . Dan seketika tubuhku mati rasa. Otakku tak mampu bekerja. Kenagan kenangan manis namun pahit berputar di otakku seperti kaset rusak. Ayah... ibu... kematian. Air mataku mulai mengisi sela sela mataku.


Namun ada tangan yang merangkulku . Aku menoleh pada pemilik tangan itu . Tangan bara.


"Perkenalkan dia adalah suamiku". Kata jansen


Yanuar mengulurkan tangannya pada bara . Namun bara hanya menatap tangan itu . Yanuar kembali menarik tangannya dan berkata.


"Aku yanuar. Su.ami dari jansen". Yanuar merangkul pinggang jansen dengan mesra. Jansen menatapku sinis .


"Apakah dia wanitamu?". Tanya yanuar. Dasar lelaki brengsek.


Bara hanya terdiam


"Aku tau dia wanita semalam-mu kan?". Tanya jansen pada bara.


Sungguh. Aku tak sanggup menahan air mata ini. Tapi dengan sisa sisa kekuatanku aku menahan tangisan ini . Aku berani taruhan mataku pasti memerah menahan tangis.


"Dia wanitaku . Calon ibu dari anak anak-ku". Kata bara dengan wajah datar.


Jansen tertawa .


"Kau tidak mencintainya bara, aku tau itu". Kata jansen dengan penuh keyakinan . ya kau benar jansen dia tidak mencintaiku


Sedangkan Yanuar terus menatapku dengan tatapan 'kau akan mati'.


"Ayo jansen kita pergi . Tamu kita masih banyak".yanuar mengecup bibir jansen lalu mereka pergi dari hadapan kami.


Aku melihat wajah bara yang mengeras dan memerah . Aku tau ia marah bukan karena aku dihina karena wanita semalamnya . Tapi karena yanuar mengecup bibir jansen . Aku tau cintanya bara hanya untuk jansen .


"Aku akan pulang". aku beranjak pergi . Namun tangan bara menahanku


"Aku juga akan pulang".


Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil ini . Aku dan bara larut dalam pikiran masing masing . Bagaimana bisa jansen dan yanuar menikah. Jujur aku merasa sakit hati akan ini semua.


"Kita sudah sampai. Turunlah". Aku turun dari mobil . Lalu bara meningalkanku sendirian di depan rumahnya .  Aku menatap mobil bara yang dibawa ngebut itu hilang di belokan.


Aku memasuki rumah besar ini sendiri. Hampa. rumah ini terasa hampa dan dingin. Aku pergi menuju kamarku . Lalu menguci kamarku. Lalu mematikan lampu kamarku.


Aku membuka highheels lalu menaruhnya asal.  Aku berjalan menuju balkon kamar ku. Aku menatap lurus kedepan angin malam menusuk tubuhku hingga ketulang. Tak terasa air mataku terjatuh. Mengapa aku selemah ini. Dasar wanita bodoh!. Aku terduduk di atas lantai balkon yang dingin ini . Aku memukul dadaku yang terasa sesak dan sakiti ini .


Ya tuhan mengapa ini begitu pedih.