This Love

This Love
Surat undangan



Satu minggu berlalu, kiara masih belum memutuskan apapun. dan hari ini ia mendengar jika Paris akan menikah 1 bulan lagi. rencana pernikahan mereka Kiara dengar dari Diana.


Beruntung orang yang menerornya tidak pernah ada lagi. mungkin itu hanya sebuah peringatan saja.


"Ki, gue perhatiin belakang ini lo sering ngelamun. kenapa? lo ada masalah? cerita deh sama gue. " ujar Sinta


Kiara tersenyum ke arah Sinta yang berdiri di depan meja kasir.


"Gue gak apa-apa, cuma lagi gak enak badan aja. "


"Lo sakit? ijin pulang aja. "


"Gak kok, gue masih bisa kerja. lagian gak enak sama yang lain, udah jam 2 juga. Bentar lagi juga pulang. " bls Kiara.


Sinta mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama seseorang datang dan langsung menuju meja kasir.


"Permisi nona. "


Kiara terpaku melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.


Quinn " gadis itu datang dengan senyum ramah di wajahnya. Kiara bahkan sampai kesusahan menelan ludahnya sendiri.


"Kia, bisa kita bicara? " tanya Quinn saat melihat Kiara hanya menatapnya saja.


"Ehhh, oh. saya cari pengganti dulu. " ucap Kiara kikuk


"Ok, saya tunggu di meja sana ya. " ujar Quinn sambil menujuk meja paling ujung


Kiara mengangguk lalu segera mencari pengganti dirinya. Quinn juga sudah duduk di tempat biasa jika ia kesini.


Kini keduanya sudah duduk berhadapan, Kiara sangat gugup. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang pucat.


"Apa kau sakit Kiara? " tanya Quinn


"Tidak, hanya sedikit tidak enak badan. " jawab Kiara


"Perlu aku belikan obat? " tanya Quinn lagi.


"Ehhh tidak usah kak, tidak separah itu. " ujar Kiara sambil meremas ujung roknya.


"Kiara, maafkan aku jika aku mengejutkan mu. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu takut. " ujar Quinn yang mencoba mengakrabkan diri.


"Aku hanya ingin bertanya, apa besok kau sibuk? " tanya Quinn


"Ya maaf, besok saya harus pergi ke sebuah desa. " ujar Kiara


"Oh begitu ya. "


"Memang ada apa ya, apa kakak perlus suatu? " tanya Kiara


Kiara mengira jika Quinn tidak tau apapun tentang dirinya dan Paris. Itu hanya tebakan Kiara saja, karena dilihat dari gelagatnya yang begitu santai.


"Apa Paris memberitahu Quinn? tapi kenapa? " batin Kiara


"Kiara, you ok? " tanya Quinn sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Ahhh ya, aku ok. " jawab Kiara.


"Emmm, masalah pertanyaan kakak. Sebenarnya sejak awal saya dan Paris hanya berteman_


" Tapi kau adalah cinta pertama Paris. Benar?


"Kakak tau? " Kiara sungguh terkejut


"Ya, Paris sudah menceritakan semuanya. "


"Tapi bagaimana dengan kamu Kia? apa kamu tidak mencintai Paris? "


Kiara menggeleng, hatinya sudah mati untuk Paris. Jika memang Paris mencintainya, dan terbaik untuknya. maka tidak mungkin Tuhan menjauhkan pria itu darinya


"Tidak. Mungkin dulu ia, tapi sekarang kamulah yang terbaik untuk Paris. Jangan merasa tidak enak padaku kak, berbahagialah. Karena aku juga sudah bahagia. " ucap Kiara dengan senyum tulus.


Quinn menatap kedalam mata gadis di depannya. begitu polos dan manis, sangat terlihat di mata indahnya ia sedang tidak baik-baik saja. Benarkah gadis di depannya ini begitu kuat? benarkah ia bisa baik-baik saja?


begitu banyak pertanyaan yang membuat Quinn ragu. tapi akhirnya Quinn percaya, ia tidak ingin memikirkan hal buruk untuk orang lain. Quinn mengambil sebuah kartu undangan di dalam tasnya dan menyodorkan nya ke pada Kiara.


"Ini bukan bermaksud untuk menyakitimu Kiara, tapi undangan ini aku berikan khusus untukmu. Kau memanggilku kakak, maka aku akan menganggapmu sebagai adikku. Datanglah sebagai saudariku Kiara, karena aku tidak memiliki kakak maupun adik, jadi aku akan sangat bersyukur jika kau mau datang sebagai adikku. " ujar Quinn penuh harap


Kiara tersenyum hangat sambil menerima undangan itu. "Tentu saja kak, aku akan datang. Kau bisa percaya padaku." ujar Kiara


"Baiklah, terimakasi Kiara. Kau gadis yang sangat baik, menjadi kakakmu adalah anugrah bagiku. Jaga dirimu baik-baik.Aku harus pergi dulu. " Kiara mengangguk


"Ohhh ya Kiara, tolong jangan hindari Paris lagi. setidaknya temui dia sekali saja. dia sudah seperti orang gila karena kau terus menghindar. tidak apa-apa, aku tidak akan marah. " Quinn tersenyum lalu berlalu meninggalkan Kiara dengan pandangannya.


Kiara menarik nafas panjang, ia menggenggam erat surat undangan yang di berikan Quinn untuknya.


Pukul 3 sore, Kiara sudah bersiap untuk pulang. Ia memasukkan barangnya ke dalam tas lalu bergegas keluar dari cafe. Hari ini Kiara sangat lelah, kepalanya terasa sangat sakit. Kiara juga merasakan sedikit demam. Ia ingin segera sampai di rumah dan tidur. Beluan lagi besok Ia harus pergi ke desa tempat ayahnya dulu tinggal. Kiara ingin tau keadaan ayahnya, meski Kiara sangat membenci nya tapi setidaknya dia tetap ayah yang pernah merawat nya.


tin...!


suara klakson mobil sedikit mengagetkan Kiara, hampir saja ia terjatuh karena tersandung batu kecil.


"Kamu baik-baik saja Ki? " tanya Alan yang sudah turun dari mobilnya.


"Badanmu panas, kau sakit! Kenapa tidak menelpon Mas, kan bisa jemput kamu. " omel Alan


"Tidak, hanya tidak enak badan sedikit. tiduran bentar juga sembuh. " ujar Kiara


"Gadis konyol, selalu saja seperti ini. Masuklah, biar Mas antar. " Alan menuntun Kiara masuk ke dalam mobil.


"Mas mau kemana? " tanya Kiara saat mereka sudah berada di dalam mobil


"Baru pulang dari rumah skit. " jawab Alan dengan pandangan fokus ke depan


"Ohhh."


Kiara hanya ber oh Rian, Ia tidak ingin bertanya apapun lagi karena kepalanya terasa berdenyut.


Belakangan ini Alan selalu menggunakan mobil kemana pun ia pergi, bukan tanpa alasan. saat bertemu Kiara ia tidak mungkin mengabaikannya. seperti saat ini.


Mereka sampai di rumah Kiara. Alan dengan sigap menuntun Kiara masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya istirahat.


"Mas sudah memesan makanan, sebentar lagi datang. kamu tidur saja, Mas akan menjaga di depan. " ujar Alan


Saat Alan ingin pergi, tiba-tiba tangan Kiara menghentikan langkah Alan.


Alan menoleh ke arah Kiara, wajah gadis itu begitu pucat dan sendu.


" Bisa Mas duduk disini sampai aku tidur. " ucap Kiara dengan suara lemah. Tangannya pun terasa sangat panas. Kiara tidak pernah merasa ada yang memperhatikan nya beberapa tahun terakhir. dan Kiara ingin merasakan itu lagi.


Alan duduk di sebelah Kiara. " tidurlah, Mas akan menemanimu. " ujar Alan.


Mata Kiara mulai memejam, tangannya masih menggenggam erat tangan Alan. Gadis itu sepertinya begitu lelah. Alan membiarkan saja tangannya masih di genggam.


Tapi anehnya perasaan lain muncul, bukan rasa sayang terhadap seorang adik. Tapi mungkin lebih dari itu. Ya, Alan mulai menyukai Kiara, mungkin lebih tepatnya mencintai. Tapi apakah Alan mampu, karena bagaimanapun Kiara pernah mencintai Paris.


.


.