
Pernikahan yang di jalani Kiara dan Alan sudah menginjak Tahun pertama. Tetapi sikap Kiara pada Alan masih sama.Ternyata Alan salah menilai sikap Kiara selama ini. Kiara memang melakukan tugasnya sebagian seorang istri, tapi kewajibannya belum Kiara lakukan.
Alan tidak pernah memaksa jika memang Kiara tidak ingin melakukannya.
Pagi ini seperti biasa Kiara sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapan untuk Alan. Kiara tidak pernah membiarkan pelayanan membuat makanan untuk suaminya itu.
"Apa Tuan sudah bangun? " tanya Kiara pada salah satu pelayanan
"Belum Nona. " jawab pelayan itu
"Em." Kiara mengangguk
ia menyelesaikan masakannya lalu pergi ke atas untuk membangunkan Alan. Tapi sayangnya pria itu tidak ada di tempatnya. Kiara mencoba mencari di dalam kamar mandi, tapi disana pun tidak ada.
Kiara membuka pintu balkon rumahnya tapi Alan juga tidak ada disana. Tapi samar-samar Kiara mendengar suara percakapan di balkon kamar sebelah.
"Aku tidak bisa bertemu dengan mu untuk saat ini. "
"Tolong mengertilah jika aku sudah memiliki istri. "
"Baiklah, besok akan aku kabari jika bisa. "
Suara percakapan itu sedikit mengusik hati Kiara. ia tidak bodoh saat mendengar percakapan itu. mungkinkah Alan memiliki kekasih? atau dia sudah bosan karena sikap yang di tunjukan Kiara selama setahun ini.
Kiara menyandarkan tubuhnya di tembok, jantungnya berdebar seolah menolak apa yang baru saja dia dengar. Belakangan ini Kiara sering berfikir apakah dia harus menyerah dengan pernikahan ini, atau membuka hati untuk suaminya.
"Kia, ada apa? " tanya Alan saat melihat istrinya termenung sendiri
"Emm, tidak. tidak ada apapun. " kolah Kiara
"Ohhh ya Mas, sarapan sudah siap di bawah. kalau Mas sudah selesai turunlah. " ucap Kiara lalu berlalu begitu saja.
Kini keduanya sudah berada di satu meja yang sama. Kiara sejak tadi hanya diam begitupun dengan Alan, seolah keduanya memiliki beban masing-masing.
"Ki." panggil Alan lembut
Kiara mengangkat kepalanya, menatap suaminya yang memperhatikan dirinya sejak tadi.
"Ya Mas, Mas ingin sesuatu? " tanya Kiara
"Tidak, Mas hanya ingin bilang jika besok Mas ada tugas keluar kota. Apa kamu tidak apa-apa jika Mas tinggal sendiri? " tanya Alan sedikit ragu
Deg....!
jantung Kiara berdetak cepat. bayangan percakapan suaminya dan orang di telepon itu mengusik hati Kiara. Entah mengapa Kiara menjadi takut.
"Emmm, tentu Mas. Besok juga Aku ada rencana mau ke makam ayah dan Ibu. " ucap Kiara
"Kenapa mendadak Kia, kenapa tidak bilang ke Mas dulu. Kan Mas bisa mengatur jadwal untuk mengantarkan mu. " ucap Alan
"Tidak apa-apa Mas. Kiara mengerti Mas belakang ini sibuk, jadi Kiara pergi sndirian saja. " ucap Kiara
Memang belakangan ini Alan terlihat sangat sibuk, terkadang ia pulang larut, terkadang juga ia datangnya subuh. Kiara pun selama ini tidak pernah bertanya, tapi setelah ia mendengar percakapan tadi Kiara yakin ada yang di sembunyikan suaminya itu.
"kalau begitu kamu di antar supir saja. " ucap Alan
"Tidak usah Mas, Kiara naik Bus saja. "
"Tapi itu berbahaya Kia, Mas takut terjadi hal yang buruk padamu. " ucap Alan
"Hal yang buruk akan selalu terjadi pada kehidupan manusia Mas. Tapi selagi kita berfikiran baik, maka pasti semua akan baik. " ucap Kiara
Alan menatap istrinya yang terlihat sedikit berbeda, entah hanya prasaan Alan saja.
"besok berangkat jam berapa Mas? " tanya Kiara
"jm 8 pagi. " jawab Alan
"baiklah, Kiara akan Mempersiapkan perlengkapan Mas. " ucap Kiara
"3 hari saja. " jawab Alan
Kiara mengangguk, ia membersihkan piringnya saat selesai sarapan.
Setelah selesai sarapan Alan berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.
Kiara merasa gelisah, ia takut jika suaminya menduakan dirinya. Tapi Kiara memang masih belum bisa mencintai Alan.
"Apa aku terlalu egois. " batin Kiara
Kiara menarik nafas dalam, ia tidak bisa seperti ini terus. mungkin Alan merasa pernikahannya begitu gambar, sehingga ia mencari sebuah pelarian.
Jika semua memang benar, Kiara akan memaafkan Alan jika itu hanya sekedar iseng. Kiara juga akan mencoba mencintai suaminya itu.
Hari ini Kiara memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk membawakan makan siang untuk Alan. Kiara ingin memulai hubungan yang labih baik lagi, ia tidak ingin rumah tangganya hancur karena kebodohannya sendiri.
Dengan hati senang Kiara pergi kerumah sakit dengan di antar supir. Sesampainya di rumah sakit ia menatap bangunan yang sudah cukup lama tidak pernah ia kunjungi lagi.
Kiara menarik nafas panjang lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Kiara bersenandung Ruang menuju ruangan suaminya.
sampai di depan ruangan Alan, Kiara menyunggingkan senyumnya karena Alan pasti terkejut melihat dirinya pertama kali datang kesini.
Clak...!
Kiara menekan handle pintu ruangan suaminya. Perlahan pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan isi didalamnya.
Prang....!
Rantang yang di pegang Kiara jatuh, makanan yang ada di dalamnya habis berserakan. Alan dan seorang wanita di dalamnya menoleh sumber suara itu. Betapa terkejutnya Alan saat melihat Kiara dengan mata mulai berkaca-kaca tengah berdiri di ambang pintu.
"Kiara." ujar Alan dengan jantung berdegup kencang.
posisi Alan dan wanita di dalam itu sangat intim, Alan yang terkejut langsung mendorong wanita di depannya. Kiara yang sudah tidak tahan langsung berlari sekuat tenaga untuk menghindar.
Alan yang syok segera berlari mengejar Kiara.
"Kiara tunggu. " teriak Alan. tapi Kiara tidak mengindahkannya sama sekali. gadis itu terus berlari sampai ia menemukan taksi dang langsung masuk ke dalamnya.
Alan yang melihat istrinya sudah masuk ke dalam taksi langsung mengumpat.
"Ahhhhh, kenapa aku begitu bodoh. " ucap Alan sambil meremas rambut nya hingga berantakan.
Alan yang sangat khawatir akan keadaan Kiara langsung mengambil mobilnya. Ia kembali ke rumah untuk mengecek apa Kiara sudah pulang.
Tapi sayang, ISTRINYA tidak ada di rumah. Alan pun mencoba menghubungi Paris dan Quin, tapi Kiara juga tidak ada disna.
Hampir pukul 10 Malam Alan mencari keberadaan istrinya itu, tapi tidak kunjung Alan temukan. Alan mulai frustasi, ia tidak tau harus mencari Kiara dimana lagi
Damm....!
Mata Alan terbuka lebar saat ia mengingat ucapan Kiara pagi tadi.
"Aku juga akan ke makam ibu dan ayah. "
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Alan. Tanpa berfikir panjang Alan langsung mengambil mobilnya dan melakukannya kecang menuju malam orang tua Kiara.
Dari pukul 10 malam, Alan sampai disana pukul 1 dini hari. Alan tidak membuang-buang waktu dan langsung kesana.
Dan benar saja, istrinya tengah meringkuk di tengah-tengah malam orang tuanya.
Alan mendekat perlahan, ia melihat mata istrinya begitu sembab, pastilah ia menangis seharian sampai tertidur. Perlahan Alan menggendong tubuh istrinya, membawa Kiara masuk ke dalam mobil.
Alan merasakan tubuh Kiara begitu dingin, ia sangat khawatir jika Kiara sampai jatuh sakit. Alan pun memutuskan untuk menginap di hotel dekat sana agar Kiara bisa beristirahat.
.
.