This Love

This Love
Ada apa dengan Attar dan Dian



Hujan yang sebelumnya begitu deras kini mulai berangsur-angsur reda. empat orang yang sedang asyik berbincang itu sampai tidak sadar jika mentari sudah hampir condong ke barat.


"Ohhh astaga, ini sudah sore. " ucap Attar saat melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya.


"hmm, kau benar. kita terlalu asyik mengobrol. " imbuh Rio


"bagaimana jika kita pulang. " usul Attar


"Hmmm, ide bagus. aku juga harus mengurus beberapa pekerjaan. " imbuh Rio yang langsung di angguki oleh Alan.


"Jadi kalian akan pulang? tidak mnunggu makan malam dulu? " tanya Kiara


keduanya pria yang ada di depan Kiara sontak saling menatap lalu mereka pun tersenyum dan kompak menggeleng. Hal itu membuat Alan merasa lega saat para sahabatnya akan pulang dan tidak menerima tawaran Kiara. Tapi saat mereka akan beranjak tiba-tiba bel rumah Akan kembali berbunyi


ting


nong...!


Suara bel rumah Alan kembali berbunyi, ke empatnya reflek menoleh ke arah pintu.


"Siapa lagi yang datang? perasaan gue gak ngundang orang kesini. " ucap Alan


Plak...!


Kiara memukul lengan suaminya. perkataan yang keluar dari bibir Alan itu sungguh tidak jelas.Masak ia orang bertemu harus menunggu diundang! yang benar sana.


"Jika orang lain mau bertamu ,apa mesti harus nunggu undangan dulu Mas. Kamu ini ada-ada saja. " saut Kiara sambil beranjak dari tempatnya, dengan kepala menggeleng pelan.


"Kami sekalian pamit saja. " Attar dan Rio kompak bangkit membuat Kiara menghentikan langkahnya.


"Ohhh, kalian pergi sekarang. Kalau begitu sekalian aku antar ke depan. " ucap Kiara.


"Aku juga akan mengantarkan kalian ke depan. " imbuh Alan.


Ke empatnya berjalan ke arah pintu utama.


"Semoga saja bukan rentenir. " Kiara terkekeh sendiri dengan fikiran nya yang konyol.


"Lo itu aneh Al, masak orang mau bertamu harus nunggu undangan. " cetus Rio


"Ya kan siapa tau. " balas Alan.


"Ada-ada aja lo, mentang-mentang pengantin baru. " ledek Rio


"ya makanya, buruan nikah sono. biar lo tau nikmatnya surga dunia. "


"Cihhh, nikmat dunia yang mana. Sudah setahun brow, belum tek dung juga. " Rio membalas ledekan Alan


"Yah sabar, masih proses. "


Attar dan Rio menggelengkan kepala, menurut mereka setelah menikah sahabatnya itu menjadi Aneh. Kiara pun hanya bisa menggeleng melihat tingkah absurd suaminya dan para sahabatnya.


Clak....!


Kiara membuka pintu rumahnya, saat pintu itu terbuka. Dua orang gadis konyol berteriak hingga membuat Kiara kaget setengah mati.


"Kiaraaaaaaaaaa!. "


Dian dan Amel langsung memeluk Kiara berbarengan. Kiara sampai mematung di tempatnya karena kaget akan kedatangan kedua sahabatnya itu.


begitupun dengan tiga orang pria yang berdiri di belakang Kiara.


"Gue kangen lo. " ucap Amel seraya mengeratkan pelukannya.


"Hmmm, gue juga kangen banget sama lo. " Timpal Dian sambil mengangguk. mengiyakan ucapan Amel.


Kiara mengerjapkan matanya, mengembalikan separuh nyawa yang entah pergi kemana saat kedua sahabatnya itu berteriak sangat kencang tadi.


"Kalian kapan pulang? " tanya Kiara yang masih tidak percaya jika mereka saat ini ada di depannya.


Dian dan Amel melepas pelukannya mereka sambil terkekeh melihat Kiara begitu syok.


"Semalam. dan kami sengaja gak ngasi tau lo, soalnya mau beri kejutan. " jawab Amel sambil menoel pipi Kiara dengan gemas.


"Ki, masuk yuk. Dingin tau. " Dian mulai kedinginan karena hawa setelah hujan cukup dingin menusuk sampai ke tulang.


"Iya Ki, entar kita mati kedinginan lagi. " imbuh Amel


"Ehhh, ohh. " Kiara menoleh ke belakang karena ingat dengan suaminya dan sahabat suaminya yang akan pulang.


satu pandang mata bertemu. rasa terkejut tidak bisa di sembunyikan dengan baik oleh Dian. gadis itu itu benar-benar terkejut melihat sosok yang tengah menatapnya dengan sendu


Deg...!


detak jantung keduanya mungkin bisa terdengar, Attar dengan wajah sendu dan Dian dengan wajah penuh tekanan.


"Kalian akan pergi sekarang ? " tanya Amel.


"Ahhh, ya. Kami harus pergi sekarang. " jawab Attar gugup


"Baiklah, kalian hati-hati. lain kali mampir lagi. " ucap Alan


Rio dan Attar mengangguk. Rio berjalan mendahului Attar yang masih memandang Dian. Entah masa lalu apa yang mereka miliki, tapi sepertinya serius.


"Ayo masuk, kalian pasti lelah. " ucap Kiara. pada Dian dan Amel.


"Hmmm tentu saja kami lelah, benar kan Dia_


Amel menghentikan langkahnya saat Dian tidak mengikuti langkah mereka masuk ke dalam.


" Di, ngapain disana. Ayo masuk " ucap Amel sambil menarik lengan Dian.


"Kita pulang aja. " ucap Dian dengan nada dingin. sontak Amel dan Alan terkejut melihat sikap Dian yang aneh.


Alan juga sejak tadi memperhatikan tingkah Attar.


"Lo kenapa Di, baru juga nyampek. "


"Gue mau pulang Amel. " bentak Dian.


Amel begitu terkejut mendengar suara Dian yang meninggi tanpa hal yang jelas. Sementara itu wajah Attar seketika menunduk lemah.


"Di, lo kanapa sih? perasaan tadi lo baik-baik aja. "tanya Amel.


Tapi Dian tidak menggubris pertanyaan yang keluar dari mulut Amel. Tanpa menjawab atau menjelaskan Dian langsung berlari keluar. Bahkan gadis itu meninggalkan Amel sendiri di rumah Kiara.


" Mel, Dian kenapa? tiba-tiba berubah? " tanya Kiara yang bingung


"Gak tau! gue susul ya. " Amel pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan lebih memilih mengejar Dian.


"Dian kenapa ya Mas! tadi dia gak apa-apa. " ucap Kiara yang terlihat sangat khawatir.


"mungkin dia lelah sayang. Kamu naik gih, istirahat. "


"Tapi Mas, Dian_


" Nanti pasti Amel ngasi kabar. Aku harus mengerjakan sesuatu di ruang kerja. kamu naik terus istirahat. jangan terlalu banyak berfikir, ok. "


Kiara menghela nafas panjang lalu mengangguk. ia berharap tidak terjadi hal serius pada sahabatnya.


Alan mencoba untuk sedikit tenang agar fikirannya bisa dia jar berfikir jernih. Ia jelas melihat keraguan pada Attar.


"Mungkinkah Dian dan Attar memiliki hubungan? tapi sejak kapan? kenapa aku tidak tau? " begitu banyak pertanyaan dalam kepala Alan dan ia tidak bisa bertanya sekarang.


Alan memutuskan untuk bertanya besok saja.


Pukul 9 malam.


Dian sejak pulang tadi tidak ada niat untuk keluar dari kamarnya. bahkan Paris sudah membujuk dan bahkan mengancam gadis itu, tapi ia tidak bergeming.


"Lo pulang aja Mel, besok gue kabarin lo kalau si neng Fatimah sudah mau keluar kamar. " ucap Paris pada Amel.


"Gue khawatir Ris, tiba-tiba gt dia bentak gue. padahal selama ini dia gak pernah sedikitpun meninggikan suaranya. " ucap Amel.


"Besok lo bakalan tau jawabannya. gue akan interogasi dia. Sekarang lo pulang, cewek pulang terlalu malam tidak baik. " bujuk Parsi.


"Baiklah, maaf jika aku merepotkan mu " ucap Amel.


"Tidak masalah, besok lo bisa datang lagi. " Amel mengangguk


"Titip salam buat Quin dan jagoan lo. gue pamit. " kini Paris yang mengangguk.


Amel pulang dengan perasaan khawatir. tapi ia berharap esok ia akan tau yang terjadi pada sahabatnya itu.


.


.