
Langkah kaki berjalan dengan santai, seolah tidak ada beban yang terlihat. Kiara baru saja pulang dari bekerja, seperti biasanya gadis itu selalu berjalan kaki. Mungkin tadi ia sempat berfikir keras karena Paris tidak kunjung pergi dari cafe nya bekerja. tapi syukur lah jika pria itu akhirnya pergi juga.
"Lusa bukankah ulang tahun Diana. Aku belikan apa ya. "Kiara membatin.
Ia terus berjalan sambil berfikir tanpa melihat jalan, sampai sebuah motor melaju dan tanpa sengaja menyenggol tubuh Kiara hingga gadis itu terjatuh.
" Brak. "
" Ahhhh. " Kiara berteriak keras karena reflek dan terkejut saat sebuah motor menyenggol tubuhnya.
"Awww, sial. " ujar Kiara saat tangan dan kakinya terasa sakit akibat benturan yang terjadi.
Si pengendara motor itu berhenti, pria itu membuka helmnya sebelum ia mendekati Kiara.
"Anda tidak apa-apa nona? " tanya pria itu sambil membantu Kiara berdiri.
"Ahhhh." Kiara merintih karena kakinya sangat sakit. mungkin kaki Kiara terkilir.
"Duduklah." Pria itu membantu Kiara duduk di pinggir jalan.
"Biar saya lihat. " Pria itu memeriksa kaki Kiara yang terlihat memar.
"Sepertinya kaki anda terkilir nona. " Pria itu mengambil tasnya lalu mengeluarkan alat medis.
"Mau apa kau. " ujar Kiara saat pria itu mengambil tasnya. Jelas saja Kiara takut dan waspada.
"Tidak usah takut, saya seorang dokter. " ujar pria itu mengeluarkan beberapa alat.
"mungkin ini akan sedikit sakit. " ujar pria itu sambil mengoleskan minyak pada kaki Kiara.
"Tahan sedikit, ok. " Pria itu mulai melakukan pengobatan. Ia mengurut kaki Kiara yang membuat gadis itu menjerit keras saat pria itu memulai aksinya.
"Krek."
"Ahhhh, sakit. " teriak Kiara
" Tenanglah, sakitnya akan hilang sebentar lagi. " pria itu mengeluarkan gift dari dalam tasnya lalu memasang nya di kaki Kiara.
"Kau bisa berjalan? " Kiara mengangguk
"Apa rumahmu jauh, aku tidak bisa mengantar karena aku membawa motor. " ujar pria itu.
Kiara melihat motor yang menyenggol nya tadi terparkir tidak jauh dari mereka, lalu tatapan Kiara beralih pada pria di depannya.
Mata keduanya saling bertemu, Kiara melihat kesamaan antara mata pria di depannya dan Paris.
"Are you ok nona? "
satu pertanyaan itu menyadarkan Kiara "Astaga, apa yang sedang aku fikirkan. " Kiara membatin
"Hmm, aku baik. Rumahku disana. " Kiara menunjuk ke rumahnya yang memang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Ohhh, baiklah. Biar saya antar. " pria membantu Kiara berdiri.
"Tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri. " ujar Kiara
"Jangan memaksakan kehendak, aku yakin kau tidak bisa berjalan. " ujar Pria itu.
Dan benar saja, baru sekali Kiara melangkah kakinya sudah terasa sangat sakit.
Pria itu tersenyum mengejek lalu membantu Kiara berjalan menuju ke rumahnya
Di depan rumah Kiara terdapat kursi, pria itu membantu Kiara duduk disana.
"Kau tinggal sendiri? "
Kiara menatap sini saat pria itu bertanya.
Dia yang sadar akan tatapan Kiara langsung meminta maaf. "ups sory, saya hanya bertanya. Jika kau bersama ayah dan Ibumu, atau mungkin saudara, aku bisa meminta tolong pada mereka untuk membawamu ke dalam. " ujar pria itu.
"Ohhh ya, namaku Alan. " Alan menyodorkan tangannya berharap wanita di depannya mau menyambut uluran tangannya.
"Hmm saya Kiara. Saya tinggal sendiri. "
"Ohhh, tidak masalah. maafkan saya. " ujar Alan. ia mengerti
"Kau bisa masuk sendiri? " tanya Alan hati-hati.
"Hmmm, aku bisa. " ujar Kiara
Ia mencoba berdiri tetapi ternyata kakinya sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Kiara meringis saat kakinya terasa sangat sakit.
"Hehhh." Alan tertawa kecil melihat tingkah Kiara yang menurutnya lucu. " jangan terlalu memaksakan, sembuhnya bisa lama jika kau terlalu memaksa kakimu. " ujar Alan.
"Kemarikan kuncinya. " Alam mengambil kunci rumah Kiara dari tangannya.
"Jangan." Kiara mencegah Alan membuka pintu. " Tidak usah, aku bisa sendiri. " ujar Kiara
"Jangan keras kepala. Lagi pula aku tidak akan macam-macam. Percayalah. " ujar Alan.
"Apa tampang ku terlihat begitu menakutkan, hingga kau berfikir jika aku akan bertindak buruk kepadamu. " ujar Alan sembari membuka pintu rumah Kiara.
Kiara memperhatikan Alan dari atas sampai bawah. Memang benar yang di katakannya, tidak mungkin pria setampan dirinya akan berbuat jahat. Tapi mungkin saja kan! tidak ada yang tau isi hati orang.
"Mari saya bantu. " Alan membantu Kiara tanpa rasa ragu dan sungkan. mungkin karena profesi nya sebagai seorang dokter.
Alan memperhatikan seluruh ruangan rumah Kiara, Ia tidak menyangka jika ada gadis seperti Kiara yang bisa bertahan di rumah seperti ini. Bahkan hanya seorang diri.
" Tidak usah, aku sudah makan. " ujar Kiara menolak.
"Hmmmm, tidak apa-apa. Aku kan sudah bilang itu hanya bentuk pertanggungjawaban ku kepada mu saja. "
"Tapi_
" Jangan terlalu banyak protes. " ujar Alan tegas.
"Kita ini baru mengenal, kenapa kau sangat perhatian. " ujar Kiara
"Hahahha, kau jangan baper. Aku kan sudah bilang, jika ini hanya bentuk pertanggungjawaban ku saja. " ujar Alan.
"Gadis konyol. " imbuhnya
"Cihhh, siapa yang baper. dasar pria GR. " batin Kiara
"Istirahat lah, sebentar lagi makananmu datang. Besok aku akan datang lagi untuk memeriksa kakimu, dan jangan GR. Itu hanya bentuk pertanggungjawaban ku. " ujar Alan sambil tertawa renyah. Ia keluar dari rumah Kiara tanpa menghiraukan grutuan dari gadis itu.
Kiara benar-benar kesal dengan pria yang bernama Alan itu. Kiara menyesal karena sempat Mengaguminya tadi. Bukan apa-apa, anak kecil pun tau jika Alan itu memang sangat tampan, belum lagi Ia adalah seorang dokter. siapapun akan terpesona melihatnya. Tapi apa tadi, Kiara terpesona? ohhh tidak! itu sangat tidak mungkin!
Kiara menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menolak isi fikirannya sendiri.
tok tok
suara pintu kembali di ketika, membuat Kiara menghela nafas."Pria konyol, dia memesankan makanan, padahal dia tau kakiku sangat sakit. " ujar Kiara sambil mencoba berjalan.
Dengan sangat hati-hati Kiara berjalan ke arah pintu. belum lagi ia sangat kesal pada pengantar makan itu karena tidak henti-hentinya mengetuk pintu.
"Iya sebentar. " teriak Kiara
"Astaga, dia tidak sabar sekali. " Kiara menggerutu terus menerus.
"Aduhh Mas, saya tidak tul_" Kiara menghentikan kalimatnya saat melihat bukan kurir makanan yang ada di depannya.
Kiara ingin menutup pintu lagi tapi kalah cepat dengan tangan besar Paris. Ya, pria itu datang lagi. Membuat Kiara kembali menghela nafas panjang.
Paris melihat kaki Kiara yang terbalut kain berwarna coklat.
"Kenapa dengan kakimu Ay? " tanya Paris sambil berjongkok di kaki Kiara.
"Aku tidak apa-apa. " ujar Kiara sambil menepis tangan Paris yang ingin menyentuh kakinya.
"Apa yang tidak apa-apa, sampai di balut seperti ini. " ujar Paris yang terlihat begitu khawatir.
"Hahhhhh." Kiara kembali menghela nafas. Ia mengingat kejadian di cafe tadi. Betapa Paris sangat mesra bersama tunangannya. Lalu apa ini? dia kawatir melihat keadaan Kiara?
"Pergilah Ris, Aku benar-benar tidak apa-apa. Ini hanya terkilir biasa. " ujar Kiara.
"Tapi_
"Permisi mbak. " seorang kurir masuk dan memotong ucapan Paris
"ahhh ya Mas. "
"Ini pesanan anda nona dan sudah di bayar oleh Tuan Alan. " ujar kurir
"Baiklah terimakasih Mas. "
"Sama-sama nona. "
Setelah kurir pergi
"Alan? siapa dia? " tanya Paris dengan wajah menegang. Ia tidak suka ada nama pria lain yang mendekati Kiara.
"Kau tidak usah tau, itu privasi ku. " ucap Kiara ketus.
"Ay, kau tidak bisa berbuat seenaknya begini. "
Kiara mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Paris. " Se'enaknya! benarkah!."Kiara memalingkam wajahnya sambil tersenyum sinis.
"Lalu yang kau lakukan? bagaimana denganmu! "
"Memang apa yang aku lakukan Ay? "
"cihhhh, berhenti bersandiwara seolah-olah kau pria yang jujur dan setia. " Kiara menatap tajam mata Paris. kali ini ia harus lebih tegas
"Ay, kumohon. " Paris memegan tangan Kiara.
"Berhenti memohon seolah-olah tidak terjadi apapun Ris. Aku hanya tidak ingin ada yang terluka. Kau sudah melanjutkan hidupmu begitupun denganku. Jangan menyakiti wanita lain hanya karena keegoisanmu. "
Paris menghela nafas panjang, ia tau apa yang di maksud oleh Kiara.
"Pergilah. Lepaskan aku, dan raih seluruh kebahagiaan mu. " Kiara berkata dengan tegar, karena mungkin ini jalan yang memang sudah harus terjadi.
Kiara mencoba berdiri, ia mengambil bungkusan makanan dan mencoba berjalan ke kamar, tapi sebelum masuk ke dalam Kiara berhenti lalu menatap Paris yang masih berjongkok di depan kursi.
"Dia cantik dan juga baik, aku yakin kau akan bahagia bersamanya. Lepaskan aku seperti dulu, jangan pernah berbalik lagi. " ucap Kiara lalu masuk ke dalam kamar.
Paris menarik nafas panjang, ia sangat frustasi sampai mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan. Paris sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Kiara yang seperti itu. Tapi melihat situasinya lebih baik Paris pergi terlebih dulu.
.
.