
Brak....!
lemparan Kiara menimbulkan suara yang cukup keras karena ketidak sengajaan nya. Bagaimana tidak, orang iseng telah mengirimkan nya sebuah jari tangan boneka dengan berisikan cincin dengan di lumuri darah atau entah apa lah itu, yang jelas terlihat seperti darah.
Kiara yang masih terkejut sementara menenangkan degup jantungnya. Setelah mulai tenang Kiara mendekati barang itu yang ternyata hanya sebuah cairan yang terlihat seperti darah.
Kiara menemukan selembar kertas kecil lalu membukanya.
...----------------...
"Tidak usah takut, itu hanya simbolis untuk hubungan yang hampir hancur karenamu. Aku hanya berharap kau bisa mengerti jika cinta tidak bisa di paksa, saat hati sudah memilih siapa pemiliknya "
...----------------...
Kiara melemparkan surat yang baru saja ia baca. entah apa yang Pengirim itu pikirkan, Kiara sangat takut.
Kiara mengambil ponselnya lalu mencari nomer Diana.
"Semoga dia belum tidur." ujar Kiara sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya untuk menghubungi Diana.
sayang beberapa kali mencoba Kiara gagal, ia menulis pesan pada Diana agar segera menemuinya karena ini sangat mendesak.
Kiara menghempas tubuhnya di tempat tidur saat selesai mengirim pesan kepada kedua sahabatnya. Malam ini ia pasti tidak bisa tidur, sesekali mata Kiara melihat ke arah kotak itu, memikirkan apa maksud dari pesan itu
"Apa tunangan Paris? tapi kenapa? " batin Kiara
Tapi seketika hatinya menolak fikiran nya itu, kepala Kiara menggeleng keras. Tidak mungkin dia setega itu, tapi bukan tidak mungkin juga kan!
"Ahhhhh."
Kiara mengerang keras, ia sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Ia pun mulai menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, berharap malam ini cepat berlalu agar ia bisa segera menyelesaikan masalah yang terus bermunculan..
...----------------...
mentari pagi mulai kembali bersinar, entah apa yang terjadi semalam. tapi pagi ini, tanah, daun dan pepohonan terlihat basah. Mungkin hujan turun tanpa Kiara sadari.
dor...!
dor....!
Ketukan pintu terdengar begitu nyaring. Kiara yang baru saja membuka mata terlihat sangat kesal. Hari ini Kiara tidak bekerja karena memang jatah hari liburnya.
"Huahemm." Kiara berjalan ke arah pintu sambil menguap dengan kaki masih pincang.
Saat ia memegang tuas pintu, ia tersadar akan kejadian semalam. matanya seketika terbuka lebar. Kiara mulai waspada.
"Apa di luar itu Paris. " gumam Kiara takut.
Dor...!
dor...!
pintu semakin keras di ketuk.membuat Kiara semakin panik.
"Astaga baimana ini. " ujar Kiara mondar-mandir
Clak...!
Kiara terkejut saat pintunya terbuka sendiri, otaknya mulai berputar mencari jawaban. saat pintu itu terbuka Kiara berlari mendekati pintu dan langsung menahannya agar tidak terbuka. Bahkan Kiara sampai melupakan kakinya yang sakit
"Maling ya?" Kiara bertanya dengan konyol
dan tanpa sadar membuat orang yang berada di depan pintu seketika terbahak.
Kiara pun tersadar, ia seperti mengenal suara itu. Kiara langsung membuka pintu itu sedikit dan melihat sosok pria yang ia tidak harapkan.
"Kau! " Kiara berseru
"Hahaha, iya aku. Kenapa? " Alan berhenti tertawa saat melihat wajah cemberut Kiara.
"Gadis konyol, bertanya yang tidak masuk akal. " ujar Alan sambil duduk di kursi yang ada di sebelah pintu.
"Untuk apa kau datang kesini! Aku kan sudah bilang, Aku sudah tidak apa-apa. dan ya, kenapa kau masih membawa kunci rumahku? " ujar Kiara dengan nada kesal.
"Cuci mukamu dulu, dan jangan lupa gosok gigi yang bersih." celetuk Alan tanpa perduli ucapan Kiara
"kalau aku tidak mau? "
Alan memutar kepalanya melihat ke arah Kiara dengan senyum tipis.
"Baik, kalau begitu biar aku yang melakukannya. Atau sekalian mau aku mandikan. " Ujar Alan dengan senyum mengejek.
Seketika itu Kiara merasa kesal, Kiara mendengus sambil memutar badannya masuk kedalam rumah, tidak lupa sambil mengupati Alan yang menurutnya mengesalkan.Hal itu seketika Membuat Alan tertawa melihat ekpresi wajah Kiara yang terlihat sangat lucu.
Setengah jam kemudian Kiara terlihat keluar dengan wajah segar. Sepertinya gadis itu mandi, padahal Alan hanya ingin Kiara mencuci mukanya.
"Sudah siap, ayo kita pergi. " Alan bersiap bangkit dari tempatnya saat Kiara memprotes dirinya.
"Pegi? kemana? kau tidak mengatakan apapun dan aku tidak menyetujui apapun bukan. Jadi jangan se enaknya! " ujar Kiara
"Jangan terlalu banyak bertanya, ikut saja. Lagi pula ada hal penting yang ingin aku tanyakan. "
"Bisa di tanyakan disini kan. "
"Tidak bisa, ini hal sensitif. "
Kiara semakin penasaran, tapi ia juga sudah berjanji bertemu Dian pukul 1 siang ini.
"Aku tidak bisa, aku sudah ada janji. " tolak Kiara
"Dengan siapa, apa seorang pria? " tanya Alan penuh selidik
"Tidak usah kepo, itu bukan urusanmu. "
"biar aku antar. " Alan siap menarik tangan Kiara, tapi Kiara menariknya kembali
"kenapa kau tidak mengurus urusanmu sendiri saja! kita ini tidak ada hubungan apapun. jika ingin bicara ya bicaralah, tapi aku mohon jangan mengganggu Frivasi ku. " ujar Kiara mulai dengan mode serius.
"Baiklah, kalau begitu ikut denganku. " Alan mulai tidak sabar. Ia menarik tangan Kiara dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"aduh bisa pelan gak sih, kakiku masih sakit. " protes Kiara saat Alan menarik nya tanpa perasaan
Hari ini Alan sengaja membawa mobil karena ingin berbicara dengan Kiara. Tanpa perduli teriakan Kiara, Alan langsung menancap gas mobilnya menuju ke tempat dimana tujuannya.
Mobil yang di kendarai Alan tiba di sebuah tempat. Tempat itu seperti sebuah perkebunan teh, tapi Kiara tidak pernah tau ada tempat seindah ini di sini.
clak...!
"Keluar."
Suara Alan beriringan dengan terbukanya pintu mobil. Kiara yang tidak tau harus berbuat apa hanya bisa diam. Sejujurnya ia sangat takut, karena ia tidak lama mengenal Alan dan tidak tau karakternya seperti apa.
"Pakai ini, kalau tidak Aku akan menggendong mu. " ucap Alan sambil menyodorkan tongkat milik kakaknya dulu
Alan berjalan mendahului Kiara berharap gadis itu akan mengerti dan mengikutinya. Tapi sayangnya Kiara terlalu takut dengan apa yang akan terjadi sehingga ia memilih diam di tempatnya.
Alan yang merasa Kiara tidak mengikutinya pun berbalik. Dengan perasaan kesal ia menarik tangan Kiara dan menuntun gadis itu untuk mengikuti dirinya
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana? " tanya Kiara sambil melihat sekelilingnya.
"Tidak usah takut. Apa kau tidak melihat banyak pemetik daun teh di sekitar sini, aku tidak akan berbuat macam-macam. " ujar Alan.
Kiara memang melihat beberapa orang, tapi ia masih ragu. bisa saja itu orang suruhannya kan.
"Duduklah." ujar Alan saat mereka sampai di tepi danau.
"Wahhh, tempatnya indah sekali. " ujar Kiara takjub
"Ya, tempat seindah ini juga bisa membuat nyawa orang melayang. "
ucapan Alan seketika membuat Kiara mundur dua langkah. Kakinya sudah bersiap untuk lari jika Alan berbuat macam-macam kepadanya.
"Hahahaha, dasar gadis konyol. kau fikir apa? aku akan membunuhmu disini. Astaga Kia, aku tidak akan setega itu membunuh gadis cantik sepertimu. dan ya, untuk apa, aku bahkan tidak memiliki dendam apapun kepadamu. " ujar Alan sambil duduk bersila di sebuah batu besar.
Kiara menarik nafas panjang. Ia mulai sedikit tenang, karena memang benar jika mereka tidak memiliki masalah apapun. bahkan mengenal pun baru.
"duduklah, jangan takut. aku tidak akan memakanmu. " ujar Alan sambil menepuk tempat di sebelahnya
Kiara mulai duduk di sebelah Alan, meletakan tas kecil yang ia bawa di sebelahnya.
"Kia, apa kau sudah memiliki pacar?" tanya Alan sambil menatap lurus ke depan.
Sementara Tangan Kiara yang baru saja meletakan tasnya seketika terhenti di tempat. Kiara menoleh ke arah Alan dengan mimik wajah terkejut.
Alan membalas tatapan Kiara, ia tau jika ini tidak pantas. tapi ini tepat untuk memulai pembicaraan.
"Kenapa? apa pertanyaan ku aneh? " tanya Alan
Kiara menggeleng lemah. Sejujurnya ia tidak ingin membahas hal seperti ini. Kiara sudah sangat lelah, sebelum ini hidupnya baik-baik saja. Meski hidup di dalam kekurangan, setidaknya Kiara baik-baik saja.
"Kenapa tidak menjawab, apa terjadi sesuatu? " tanya Alan lagi.
Kini Kiara menarik nafas panjang, mungkin ia bisa mempercayai Alan untuk cerita hidupnya.
"Tidak, aku tidak memiliki pacar atau apapun yang berhubungan dengan itu. " jawab Kiara
"Tapi semalam aku melihatmu bersama seorang pria, dan sepertinya kalian sedang bertengkar. " Kiara menatap Alan sesaat lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Kiara tidak terkejut, karena ia bertemu Paris di depan umum.
"Dia sahabat lamaku, pria yang bersamaku selama 6 tahun dari sejak kami SMP. " Jawaban Kiara membuat Alan terkejut, tetapi ia mencoba untuk tenang. mungkin ini akan menarik.
"Lalu, kenapa kalian terlihat tidak akrab jika kalian sudah bersama selama itu? "
"Paris. namanya Paris. Kami berteman sejak baru menginjak di usia 13 tahun. persahabatan kami baik-baik saja sampai kami kls 2 SMA. Paris mengetahui semua tentang kehidupanku, karena aku selalu jujur dengan apapun masalah yang aku miliki. "
"Kau bilang persahabatan kalian baik-baik saja sampai kls 2 SMA. itu berarti?.
" dulu usia ku masih sangat kecil, saat ayah selalu menyakiti mama. Ayahku seorang pen*udi dan pe*abuk berat, ia juga suka membawa pac*rnya ke rumah kami. Mama selalu di siksa oleh ayahku setiap mereka bertengkar. Sampai saat dimana Mama memutuskan untuk pergi membawaku ke sebuah kota. Kami tinggal disana dengan aman dan damai, sampai akhirnya aku bertemu Paris. Paris tau jika aku memiliki ke traumaan terhadap laki-laki, dia juga tau aku sangat membenci yang namanya hubungan. entah itu pacaran ataupun pernikahan. "
Kiara menghentikan ceritanya, menarik nafas dalam untuk mengumpulkan sedikit oksigen. entah mengapa dadanya terasa sangat sesak, Kiara bagai kembali ke masa lalu, dimana ada Paris di sampingnya saat ia bercerita.
"Kau ingin menangis? menangislah sekencang-kencangnya. tidak akan ada yang mendengarmu. " ucap Alan sambil tersenyum ke arah Kiara.
Alan tau betapa besar luka yang gadis ini simpan, sangat terlihat jelas dalam matanya.
Kiara tersenyum getir, air matanya pun mulai menetes tanpa bisa ia cegah. bahunya mulai bergetar, pertanahan Kiara runtuh di depan pria yang baru ia kenal satu minggu ini. Kiara mulai terisak.
Alan yang berada di sampingnya hanya bisa diam, ia membiarkan Kiara menangis semaunya. mungkin itu akan membuat gadis itu lebih baik.
saat Kiara mulai sedikit tentang, gadis itu terlihat lebih baik.
"Maafkan aku karena aku tidak tau malu. " ujar Kiara dengan suara serak. tangisannya masih belum mereda.
"Hmmm, tidak masalah. kau ingin pulang? " tanya Alan.
Mungkin cerita hari ini cukup, Alan tidak akan memaksa Kiara untuk bercerita lebih dari itu.
Kiara menggeleng, ia masih ingin di tempat ini.
"Saat Kami kls 3 SMA semester akhir, Paris menyatakan perasaannya padaku yang membuat persahabatan kami hancur. Aku tidak tau saat itu ia akan pergi jauh meninggalkan aku. Mungkin jika aku tau, aku akan membuang semua rasa trauma yang aku miliki dan menerima nya. Tapi tidak, Paris pergi dengan rasa bencinya terhadapku. semua karena dia egois."
Kiara sudah mulai tenang. Memang benar, jika Paris tidak egois dan mengerti jika Kiara memiliki kekurangan, maka semua tidak akan seperti ini.
"Lalu apa yang kalian lakukan semalam? " tanya Alan hati- hati.
"Aku tau dia kembali saat sepupunya Diana kembali ke sini, aku juga tau dia sudah memiliki tunangan dan akan menikah. Tetapi aku juga tau Paris belum melupakan aku, jadi aku ingin Paris bahagia bersama pilihannya. Karena sepertinya gadis itu baik. aku yakin Paris tidak salah memilih pasangan hidup. " ujar Kiara sambil mengusap sisa air matanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika ia menolak? " tanya Alan yang seketika membuat Kiara melihat kepadanya
"Jika seperti itu aku akan memaksanya. Aku akan bilang, aku sudah memiliki kekasih, yaitu kau. " ujar Kiara sambil bangkit dari duduknya dan tertawa renyah.
Tawa itu terdengar garing di telinga Alan, tapi candaan Kiara membuat nya memikirkan sesuatu.
"Hey, ayo antara aku pulang. Aku harus bertemu teman-teman ku. " ujar Kiara yang mulai terlihat baik-baik saja.
Alan menatap punggung gadis yang baru saja menangis gemetar, dan sekarang gadis itu sudah bisa tertawa lagi. sungguh hebat, Alan sangat kagum pada Kiara. Bagaimana bisa seorang bisa sekuat itu.
Alan tersenyum simpul lalu beranjak dari tempatnya dan menyusul langkah Kiara yang sudah sedikit jauh darinya.
Seorang gadis sederhana dengan banyak luka. Tapi Alan masih melihat ada luka lain. Ia sangat ingin tau seberapa dalam luka yang dimiliki gadis di depannya itu.
.
.