
Darah chaiden mengalir deras dalam tubuhku
Aku bukan satu satunya pewaris dari perusahaan golden.inc . ketika harta dan tahta di depan mata mereka memberiku syarat konyol yaitu 'siapa yang akan menikah duluan maka akan diberi hak sepenuhnya atas golden.inc'. siapa yang tak tergiur dengan perusahaan terbesar sedunia ini . Aku bara chaiden tak akan terkalah kan walau oleh adik ku sendiri.
-----------------------
hujan deras membasahi tubuhku aku terus berlari di tengah kegelapan sekuat yang aku bisa, walau kakiku terasa sangat sakit karena luka sayat ku ini aku harus terus berlari jika tidak melarikan diri maka besok aku tidak bisa melihat matahari lagi . Mereka sungguh tak punya hati . Mereka memanfaatkanku untuk mengambil seluruh aset perusahaanku walaupun perusahaan ku tak begitu besar tapi itu satu satunya peninggalan keluarga ku .Aku aldara zeroun hidup sebatang kara lalu di campakan dan di siksa oleh calon mantan suami ku.
***
Dara berlari di lorong rumah sakit dengan tergesa gesa menuju ruangan ICUÂ .
Jantungnya berdegup kencang ketika sampai di depan pintu ruangan ICU . Ia menatap kosong ke arah pintu ICU . Ia ingin mengangis namun air matanya tak kunjung tumpah.
Tak beberapa lama pintu ICU terbuka dan menampilkan sosok lelaki paruh baya mengenakan jas kebesarannya yang berwarna putih .
"Apakah anda keluarga dari ibu dan bapak zeroun ?".
"I..i..ya dok saya anak mereka" jantung dara tak hentinya berdetak cepat .kecemasan mulai menghantui dara menanti penuturan dokter yang tak ingin ia dengar
"Mohon maaf..."
Degdeg...
Degdeg....
"Mohon maaf ... tuhan telah mengambil ibu anda . Dan ayah anda mengalami kelumpuhan permanen kondisi beliau masih dalam kondisi kritis dan koma . Saya harap anda bisa berdoa untuk kesembuhan ayah anda dan saya turut berduka cita atas ibu anda".
Air mata dara mengalir deras dari mata hazelnya itu . Kaki nya melemas seakan tuhan mengambil separuh rohnya itu . Dara menangis sejadi jadinya .
Penglihatan dara mulai meremang remang . Kepalanya pun begitu berat seperti ada batu yang amat berat di kepalanya . Lalu dara jatuh tak sadarkan diri.
-----------------------
"Hey dara kau sudah sadar?".
Dara memerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya . Ia melihat sosok yang ia cintai yang telah menjabat sebagai pacarnya ini berada disampingnya.
"A..aku kenapa yanuar?".
"Kau pingsan sayang, apakah kau masih merasa pusing?".
"Ya sedikit . Tadi aku bermimpi buruk . Aku takut yanuar".
Yanuar menghela nafas
"Kau ini masih saja seperti anak kecil. Kau ini sudah dewasa!" Bentak yanuar
"Maaf". Dara menundukan kepalanya
"Dimana ayah dan ibu ku?". Dara mendongakkan kepalanya menatap yanuar
"Bukankah kau sudah mendengar perkatan dokter tadi?! Ibu mu meninggal dan ayahmu mengalami kelumpuhan dan koma". Kata yanuar denga acuh tak acuh
"Kau bohong yanuar ahmad. Jaga ucapanmu tuan ahmad!. Orang tua ku baik baik saja!". Teriak dara kepada yanuar
"kau harus bisa menerima kenyataan ini dara". Jawab yanuar menatap datar dara
Air mata mengalir kembali dari mata hazel dara. Yanuar memeluk dara lalu mengelus rambut panjang milik dara.
'Cih, aku sebenarnya jijik memeluk wanita ini ,tapi ini hanya formalitas sebagai pacar saja tak lebih'.
"Bawa aku kekamar ayah yanuar". Kata dara
--------------------
Dara membuka perlahan pintu yang bernomorkan 203 itu dengan perlahan . Terlihat sosok pria tua yang berbaring lemah di atas kasur dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuhnya .
Dengan perlahan yanuar mendorong kursi roda yang diduduki oleh dara menuju sisi ranjang zeroun -ayah dara-.
Dara hanya bisa menatap wajah ayahnya karena dara takut menyentuh tubuh ayahnya yang penuh dengan perban dan berbagai macam alat medis dimana mana.
"Kenapa ayah ku di rawat disini? Kenapa tidak dipindahkan ke ruangan VIP?".
"Itu hanya membuang buang uang dara. Walaupun ia berada di ruangan VIP ia tetap tidak akan sadar". Ucap yanuar
"Apa yang kau katakan?". dara menatap yanuar dengan penuh tanda tanya
Yanuar mengangkat bahunya
"Bukan kah hari ini pemakaman ibumu?".
"Ya... antar aku ke ketempat pemakaman".
"Bangun lah dari kursi roda. Kakimu kan masih utuh. masih bisa di pakai berjalankan? Ataukah kau juga lumpuh seperti ayahmu?!".
Dara berdiri lalu menatap yanuar dengan tatapan sedih dan tersakiti . Seharusnya yanuar tidak berkata seperti itu pada dara
'Kenapa yanuar berubah? Kenapa ia menjadi seperti ini? Ia bukan yanuar yang aku kenal . Kemanakah yanuar yang dulu'.
--------------------
Dara menatap kosong pusaran makam ibunya . Tetes demi tetes air mata dara turun dengan deras seakan tak memilik rem.
Dara berlutut di depan makam ibunya
"Ibu... kenapa ibu meninggalkanku secepat ini. Belum sempat aku membahagiakan ibu tapi ibu meninggalkanku . Bukankah ibu ingin melihatku bersanding di pelaminan nanti? Maafkan aku bu aku selalu menyusahkan mu . Maafkan aku bila aku selalu membuatmu marah. Maaf ... maaf... maafkan aku. ibu ...". Dara memeluk nisan ibunya dengan erat seakan nisan itu adalah ibunya .
rinai hujan pun turun seakan mengetahui kesedihan dara yang begitu dalam .
"Hey dara! Ayo berteduh nanti kau sakit! Kalau kau sakit siapa yang merawatmu nanti".ajakan yanuar
"Kau berteduh saja sendiri!". Bentak dara
'Sial! Wanita lajang ini berani beraninya membentakku . Lihat saja nanti'. Yanuar
Yanuar menepi di sebuah pohon yang begitu besar . Pohon ini cukup untuk melindungi tubuhnya dari serangan hujan.
Drrrrttttrt
Dddrrrrttttt
Yanuar merogoh saku dan mengambil ponselnya lalu menatap layar ponsel tersebut dengan senyum yang mengembang di wajahnya
"Bagaimana?"
"Berhasil tuan".
"Lalu pria tua itu?"
"Ia bertambah kritis tuan"
"Baiklah karena kerjamu begitu cepat dan rapih maka kau akan mendapatkan bonus seperti yang ku janjikan . Simpan berkas itu dengan baik dan temui aku sore ini di apartemenku".
Yanuar mematikan ponselnya lalu memasukannya kembali kedalam kantong . Lalu ia menatap dara yang masih menangis memeluk nisan ibunya.
"Sebentar lagi kau akan mendapatkan hadiah yang begitu indah sayangku". Gumam yanuar pelan lalu tersenyum evil menatap dara.
Yanuar berlari menerobos hujan untuk menghampiri dara
"Dara". Kata yanuar dengan panik
"Ayahmu kritis". Lanjut yanuar
.
.
"Yanuar cepat lah sedikit". Kata dara dengan nada bergetar
Yanuar tak mengubris
"Hiks....hiks.... yanuar cepatlah sedikit ! Ayahku kritis!". kata dara dengan air mata yang berlinang
"Diamlah!. Cuaca sedang hujan jalanan pun licin. Apakah kau mau kita mengalami kecelakaan?!". Bentak yanuar membuat dara diam mematung .
Dara berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa gesa . Dara masih menggunakan baju yang setengah basah dan penuh dengan tanah merah rambutnya pun berantakan .
Sedangkan yanuar berjalan santai dibelakang dara.
Dara berhenti didepan pintu ICU . tak beberapa lama dokter pun keluar dari ruangan ICU dengan wajah yang sulit di artikan
"Bagaimana dok keadaan ayah saya?". dara menatap wajah dokter dengam waswas
Dokter menunduk dan menghela nafas . Lalu dokter menatap dara
"Mohon maaf..."
'Oh ya tuhan aku benci kata kata itu'. Gumam dara dalam hati
"Dengan berat hati saya mengatakan bahwa ayah anda tak bisa kami selamatkan . Saya turut berduka cita atas ayah anda. Permisi".
Dara terduduk lemas di lantai rumah sakit lalu ia menangis sejadi jadinya .
Yanuar berdiri tepat di ujung lorong pun tersenyum penuh kemenangan . Yanuar menghampiri dara lalu berkata
"Apa yang terjadi dara?". Dengan nada yang dibuat buat khawatir
"A...ayah ku yanuar . Ia menyusul ibuku ... hiks...hiks...".
Yanuar memeluk dara . Dara menangis sedangkan yanuar tersenyum penuh kemenangan
'Ya dara... selanjutnya kau yang akan menyusul ayah dan ibumu'. Yanuar mengelus rambut dara