
Tok... tok... tok...
Aku memerjapkan mataku . Lalu kembali tidur sungguh mataku berat sekali .
Tok... tok... tok...
Aku menghembuskan nafasku . Lalu menutup telingan ku dengan bantal.
Tok... tok... tok...
Cukup! Ini menganggu .
Aku berdiri lalu berjalan menuju cermin. Ugh... sungguh aku begitu menyeramkan dengan gaun merah semalam mataku yang sembab dan rambut yang seperti singa . Aku berjalan menuju toilet untuk sekedar mencuci muka .
Tok... tok... tok...
"Iya sebentar". Teriakku
Lalu aku berjalan membuka pintu kamarku . Aku mendapati sesosok wanita yang seumuran denganku menenteng kotak make up dan menenteng sebuah koper.
aku menyeritkan alisku.
"Maaf kamu siapa?". Tanyaku dengan sopan.
Dia melihatku dari bawah hingga ke mataku.
"Matamu sembab. Kau habis menangis? ".
"Emm... anu... saya... aku.. mm". Tuhan Apa yang harus aku jawab.
"Tak usah di jawab aku tau jawabanmu". Dia tersenyum padaku .manis
"Bolehkah aku masuk?". Tanyanya .
"Tentu". Aku mengeserkan badanku mempersilahkan dia untuk masuk kedalam. Aku mengeluarkan setengah kepalaku keluar pintu aku . Aku menyipitka mataku . Aku melihat bara dan seorang lelaki sedang berbincang bincang.
"Ekhem". Aku tersadar lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
"Kau siapa?" . Tanya ku
Dia mengulurkan tangannya dan berkata.
"Aku lira ".
Aku membalas jabatannya.
"Aku dara".
"Mulai sekarang kita berteman?". Tanyanya
"Tentu kenapa tidak". Jawabku dengan tulus
"Kau harus mengompres matamu dulu dengan air dingin, tunggu sebentar aku akan mengambikannya untukmu". Ia beranjak keluar kamar ku. Ia wanita yang sungguh baik.
Ia datang dengan membawa baskom dan sapu tangan untuk mengompres mataku. Aku mulai mengompres mataku .Segar.
Setelah sudah mengompres maraku ia berkata
"Kau mandi dulu . Aku akan menunggumu". Aku bergegas mandi di bawah guyuran shower. 20 menit berlalu aku keluar menggunakan bathtore dia berkata
"Mari ikut aku". Ia menarikku kemeja rias.
Lalu ia mulai mengoleskan bedak. Aku menyeritkan alisku
"Untuk apa ini semua?".
Iya hanya tersenyum . ia mulai melukis wajahku dengan alat alat make up ini. Cukup lama . Aku harap aku tidak seperti ondel ondel nanti. Semoga saja.
Ia mengoleskan lipstik di bibirku dan berkata
"Coba kau pakai ini".
Ia menyodorkan gaun selutut yang simple namun elegan berwarna hitam . Dan sepatu platshoes berwarna senada.
Aku pergi menuju ruang ganti baju . Lalu menganti bajuku . Aku melihat pantulan tubuhku di depan cermin . Sungguh natural namun cantik. Aku tersenyum Lalu berkata pada pantulanku di cermin "siapa kau?"
"Aku dara zeroun". Aku tertawa karena aku seperti orang gila berbicara dengan cermin.
Perlahan aku membuka pintu ruang gantiku dengan perlahan . Gerakan tanganku terhenti karena di tengah kamarku terdapat seorang lelaki. Bara
"Sedang apa kau?". Tanya ku
"Ini rumahku aku bebas melakukan apapun". Jawabnya.
Tunggu dulu. Dia mengenakan jas hitam senada denganku. Lalu rambutnya diberi sedikit pomade dan disisir kebelakang. Tampan
"Aku tau aku tampan". Katanya membuyarkan lamunanku
"Siapa yang bilang kau tampan". Aku berbohong kepadanya
"Matamu yang memberi tahu ku". Aku secara spontan menutup mataku dengan kedua tanganku. Dia tertawa menertawaiku. Sial.
Ku dengar derap langkahnya mendekatiku. Aku perlahan menurunkan tanganku dari mataku. Wangi maskulin menyeruak masuk dihidungku.
"Mau apa kau". Ia berhenti tepat didepanku . Lalu ia menundukan badannya mensejajarkan tinggi nya dengan tinggiku.
"Aku mau bibirmu". Aku tersentak .
"Hahaha ... kau... haha wajahmu sangat lucu".
Seketika perasaanku terasa sakit . Ia selalu saja seperti ini mempermainkanku.
"Ayo". Katanya setelah puas tertawa. Aku menatap uluran tangannya.
"Kenapa hanya di pandangi . Ayo". Ia menarik tanganku . Jujur ingin sekali aku memukulnya dan berteriak bahwa ini tidak lucu.
Hanya hening yang tercipta didalam mobil ini . Aku malas berbicara dengan bara. Bara selalu mengajaku berbicara namun aku hanya diam . Aku tau bara sesekali melirikku dari ekor matanya aku tak peduli.
"Sudah sampai". Aku tersadar lalu mengedarkan pandanganku . Aku berada di halaman rumah yang begitu besar dan mewah . Seperti istana.
"Dimana kita?". Tanyaku
"Hah... kau akhirnya mengeluarkan suaramu . Kita berada di rumah kakekku" .
Apa?! Dia bilang rumah kakeknya. Apa dia sinting atau gila atau bodoh. Kenapa dia tidak bilang dari tadi. Akh... aku benar benar kesal dengan dia.
Aku menghela nafas . Sabar dar sabar .
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi". Teriakku kepada bara
Ia menutup telingannya.
Lalu membuka seltbelt dan keluar dari mobil . Dan meninggalkan aku. Sungguh aku kesal dengan dia . Ingin sekali aku mencincang cincangnya dan membuatnya menjadi baso lalu membakarnya . Aku jamin wajahku sudah memerah akibatnya . Aku turun dari mobil . Lalu berjalan perlahan menuju pintu masuk . Ada dua bodyguard yang dengan gagah berdiri di depan pintu.
"Kemana bara pergi". Tanyaku pada satu bodyguard .
"Dia berada dimeja makan . Kau pergi saja kesana".
Dasar bodyguard bodoh . Memangnya aku tau dimana meja makan itu berada . Suruh saja meja makan itu kemarih . Eh.
"Siapa kau?". Aku menoleh ke asal suara . Aku melihat sosok lelaki yang mirip dengan ... bara .
"Aku... tadi datang dengan bara . Tapi...".
"Aku mengerti. ". Dia menarik tanganku dengan lembut. Ia menuntunku kedalam rumahnya . Aku terpaku pada hiasan di dalam rumah sungguh.mewah pasti barangnya sangat mahal.
"Maaf nona. Kita sudah sampai". Aku menatapnya . Lalu ia tersenyum padaku . Aku tersenyum padanya
"Terimakasih".
Aku tersentak ketika ada tangan yang menarikku dengan kasar. Aku menatapnya. Bara.
"Apa yang kaulakukan dengannya?". Tanyanya membentakku
"Aku hanya...".
"Aku tidak berbuat apa apa kak . Tenang saja dia milikmu". Kata lelaki tadi .
"Diam kau!". Bentak bara kepada lelaki itu.
"Kalau kau melukainya aku tidak akan tinggal diam kak!". Jawabnya tak kalah hebat. Bara mendekati lelaki itu lalu menarik kerah baju lelaki itu.
"Kau! Jangan menguji kesabaranku arian chaiden".
"Aku selama ini diam kak! Aku selalu jadi pihak yang disalahkan . Ini sudah menjadi takdir mereka kan!".
"Kau membunuhnya!".
"Aku tidak membunuhnya kak!".
Jujur aku takut bila ada pertengkaran seperti ini . Tubuh gemetar dan pucat pasih.
"Apakah sudah selesi bertengkarnya?". Suara pria paruh baya menghentikan ini semua. Aku melihat para maid yang ada disini menundukan kepalanya.
Aku menoleh ke asal suara
"Maafkan aku pak". Aku aku menunduk hormat.
"Kau tidak salah nona. Tapi para pria bodoh ini yang salah ". Ia menghampiriku .lalu tersenyum padaku.
"Mari kita duduk". Ia menuntunku duduk di meja makan.
"Kau para pria duduk lah dulu". Kata kakek bara
Posisi tempat duduk . Kakek berada di kepala meja makan. Lalu aku di sebelah kiri kakek dan bara di sebelah ku . Lalu rian berada di hadapanku. Lalu kakek memberi aba aba kepada para maid untuk mengeluarkan makananya.
Para maid sibuk menata makanan di atas meja makan. Aku melihat bara dan rian saling melempar tatapan benci entahlah . Sementara kakek menatap keduanya dengan was-was . Sebenarnya ada apa dengan mereka?.
"Apakah kau kesini ingin membuat keributan saja?!". Tanya kakek degan sinis
"Lihatlah wanita ini". Ia menunjukku
"Dia sampai ketakutan dan pucat". Kakek memarahi mereka.
"Maafkan ian kakek". Kata rian
"Maafkan aku juga...". Ia menatapku
"Dara". Sambungku
Bara hanya terdiam. Ku lihat wajahnya merah padam. Giginua bergemelutuk. Kurasa ia sedang menahan marah