This Love

This Love
Hari Bahagia. Pernikahan Paris dan Quinn



Pukul 01.00


Kiara mulai sadarkan diri, matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Kiara menghela nafas saat ia sadar tengah berada di ruang perawatan.


Ia melihat ke samping, mengarahkan pandangannya pada Alan yang sedang tertidur di samping nya dengan kepala bertumpu pada kedua tangannya yang bersilang.


Kiara merasakan kepalanya masih berdenyut, mungkin karena Ia terlalu lama menangis. Kiara mencoba untuk turun dari brankar tanpa menimbulkan suara. Ia tidak ingin Alan bangun karena Kiara tau jika suaminya itu sangat kelelahan.


Perlahan Kiara keluar dari ruang perawatan.


"Nona, anda mau kemana? " tanya salah satu suster jaga yang tidak sengaja lewat


"Saya ingin mencari udara segar sus. Boleh saya ke sana sebentar. " tunjuk Kiara pada kursi yang berada di ujung koridor


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya Nona. Kondisi Anda masih lemah, tidak baik terkena udara malam. " ucap suster


Kiara mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya. Kiara duduk di sebuah kursi yang ada di dekat koridor. Tatapannya lurus ke depan


Tes...!


satu teres air mata jatuh membasahi pipi, dada Kiara kembali sesak. Mengingat bagaimana pertemuannya dengan Jaya. Sungguh Kiara tidak pernah terfikir jika semua akan berakhir seperti ini. Tapi Kiara mulai iklas dengan semuanya, bagaimana pun Ia bersedih tidak akan mengembalikan orang tuanya. Setidaknya sekarang Ayahnya sudah tidak sakit lagi dan semoga di tempatkan di sisi terbaiknya.


Di tempat Lain Alan baru saja membuka matanya, Ia merana brankar Kiara dan


Blam...!


Mata Alan seketika terbuka saat tangannya tidak menemukan Kiara di tempatnya.


Alan bangkit dengan tergesa, Ia mencari Kiara di kamar mandi tetapi tidak ada. Alan pun berlari keluar, seperti orang kesetanan Alan berlari kesana kemari tapi tidak ketemu juga.


Alan kembali ke ruangan Kiara tapi istrinya itu masih tidak ada disana. Alan berlari ke arah Koridor, langkahnya berhenti saat melihat Kiara tengah duduk di sebuah kursi disana.


Alan menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari kesana kemari. Setelah nafasnya sudah teratur Alan mulai mendekati Kiara. Ia duduk di sebelah Kiara tanpa berkata apapun.


Kiara menoleh sekilas lalu kembali menatap ke depan. Alan masih tidak bicara, sampai akhirnya Kiara menyandarkan kepalanya di pundak Alan.


Pria itu membiarkan perbuatan Istrinya, mungkin dengan seperti itu Kiara akan lebih tenang.


Setengah jam hampir berlalu, Alan menarik nafasnya sambil membuangnya perlahan.


"Kita masuk ya, sudah terlalu lama kita disini. kamu bisa tambah sakit. " ucap Alan


Kiara mengangkat kepalanya lalu mengangguk. Alan mengambil Alih cairan infus yang di pegang Kiara lalu menuntunnya ke ruangan.


Alan membaringkan Kiara di atas brankar lalu menggantung kembali cairan infus Kiara.


"Kamu butuh sesuatu? " tanya Alan


"Tidak." jawab Kiara sambil menggeleng.


"Kalau begitu tidurlah lagi, Mas akan tidur di sofa itu. " ucap Alan.


Pria itu ingin berbalik tapi tangan Kiara menghalangi langkahnya.


"Trimakasih ya Mas, karena Mas mau mengurus Ayah sampai ke peristirahatan terakhirnya. Meski aku sudah berlaku tidak sopan padamu. " ucap Kiara dengan suara lirih.


Alan tersenyum, Ia mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Kamu adalah istriku, tanggungjawab ku. Ayahmu berarti juga Ayahku, Jadi dia juga tanggungjawab ku. Maka jangan pernah berterimakasih kepadaku. Aku sudah berjanji pada Ayah jika akan selalu menjagamu." ucap Alan di sertai senyum tulus.


"Sekarang tidurlah, agar kamu bisa lekas pulih. Emmm. " Alan mencium pucuk kepala Kiara lalu pergi ke sofa untuk beristirahat.


Kiara menarik nafas dalam lalu mulai memejamkan matanya. Semoga Kiara bisa bermimpi indah, agar hidupnya esok bisa berjalan baik.


...****************...


Dua hari berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Quin dan Paris. Semua persiapan sudah selesai. Quinn terlihat sangat cantik dengan Kebaya putih dan berbagai hiasan di kepalanya. Sementara Paris juga terlihat sangat tampan dengan setelah berwarna putih senada dengan yang Quinn kenakan.


Pria itu tengah gugup karena ia sedang berhadapan dengan penghulu. Jantung Paris bahkan berdetak semakin cepat, berharap ijab qabul nya akan berjalan lancar.


Acara di mulai semua orang terdiam saat Paris mulai mengucap ijab qabul nya.


"Bagaimana saksi, Sah...? " tanya penghulu


"SAH."


Sungguh Paris sangat bahagia.


Disisi lain Quinn juga menangis karena kini dirinya telah Sah menjadi seorang istri pria yang ia sangat cintai. Bertahun-tahun Quin sabar menunggu dan akhirnya cintanya lah yang menang.


"Duh pengantin baru, jangan nangis dong kak. Nanti cantiknya luntur lo. " ucap Dian yang baru saja masuk untuk menjemput Quinn.


"Aku sangat bahagia Di, sungguh bahagia. " ucap Quinn


"Hmmm, aku juga sangat bahagia. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai mau memisahkan. " doa Dian


"Amin." ucap Asya yang baru saja datang.


"Ayo nak kita turun, Paris dan para tamu undangan sudah tidak sabar melihat ratunya saat ini. " ucap Asya.


Quinn tersipu malu mendengar ucapan ibu mertuanya itu.


Dian dan Asya membawa Quin turun ke bawah. Seluruh mata tertuju pada Quin seorang, begitupun dengan Paris. Ia sampai tidak berkedip karena kecantikan istrinya itu.


"Ehemmmm. Kamu boleh berkedip kok nak." goda sang ayah mertua yang membuat Paris malu.


Kini Quin sudah berada di samping Paris, kedua mempelai di persilahkan untuk menyematkan cicin simbol dari perkawinan mereka. Setelah acara tukar cincin selesai Quin mencium tangan Paris untuk pertama kali.


Keduanya sama-sama memancarkan aura kebahagiaan. Setelah semua selesai,acara di lanjutkan besok untuk resepsi pernikahan mereka.


Seluruh keluarga besar Paris dan Quinn kembali ke hotel untuk beristirahat untuk persiapan esok hari. Karena mungkin besok akan lebih melelahkan.


Paris dan Quin masuk ke dalam kamar mereka. Meski keduanya sudah sering bersama tapi entah kenapa mereka seperti baru pertama kali bertemu.


"Mandilah duluan, setelah kamu baru aku. " ucap Paris


Quin mengangguk lalu mengambil handuk yang telah disediakan pihak hotel.


Di dalam kamar mandi Quin merasa jantungnya hampir meledak. Entah kenapa Ia sangat gugup. Setelah menetralkan Degup jantungnya Quinn pun bergegas untuk mandi. Ia tidak ingin membuat Paris menunggu lama.


Quin keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah segar. Ia melihat Paris sedang duduk di tepi ranjang dengan laptopnya.


"Mandilah dulu, kau juga pasti sangat lelah. " ujar Quinn sambil menutup laptop milik suaminya itu.


Paris tersenyum tipis, bahkan begitu tipis hingga Quin tidak bisa melihat nya


Grapp....!


Paris menarik Quin hingga istrinya itu jatuh di pangkuannya. Quin merasa sangat malu dan gugup, mungkin saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Aku menginginkan mu Sayang. " bisik Paris di telinga Quin.


Blus..!


Quin semakin malu, degup jantungnya bahkan semakin kencang. Mungkin Paris juga bisa mendengarnya.


"Ris." panggil Quinn lirih saat Paris mulai menyentuh tengkuknya.


"Panggil Aku Mas, Baby. " bisik Paris


"Mas, jangan sekarang. kamu belum mandi. " ucap Quinn


deer....!


Paris menjadi tidak semangat saat mendengar ucapan Quin.


"Kamu ini, tidak tau saat suasana romantis apa. " ucap Paris kesal, membuat Quin terkekeh.


Quin berbalik, lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.


"Aku akan memberikan hakmu, tapi tidak sekarang Mas. Aku tau kau lelah, dan aku juga begitu. Besok adalah hari yang paling melelahkan, jadi kita harus menjaga stamina kita. Setelah malam besok berakhir aku akan memberikan semua hakmu kepadamu. " ucap Quin lalu beranjak dari pangkuan suaminya menuju ke lemari pakaian.


Paris tersenyum, Ia tidak marah dengan perkataan istrinya. Karena hal itu memang benar.


"Baiklah sayang, setelah ini aku akan menggempurmu habis-habisan. " batin Paris yang tentunya jahil.


.


.