
Jaya menatap Kiara dan Alan secara bergantian. Pria itu terlihat sangat tua dan rapuh, sangat jauh berbeda dari yang dulu.
"Apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan? " tanya Jaya pada Alan.
Kiara mengangkat kepalanya, ia kembali menghela nafas. "Yah, Mas Alan ini bukan siapa-siapa Kiara yah." Kiara kembali mencoba meyakinkan ayahnya.
"Ayah tidak bertanya kepadamu Kia, ayah Bicara dengan Alan. " ucap Jaya.
"Lalu, apa jawaban mu? " tanya Jaya lagi
"Jika Om mengijinkan saya akan melamar Kiara secepatnya. " jawab Alan serius
Kiara memukul lengan Alan dengan keras. " Mas ini apa-apaan sih. Ayah juga, Kiara kan sudah bilang Mas Alan ini cuma teman Kiara titik. tidak pakai koma. " ucap Kiara lalu pergi meninggalkan Alan dan Jaya begitu saja.
Selepas Kiara pergi Jaya menepuk bahu Alan. " Nak, saya tau Kiara memang keras kepala. Tapi saya tidak tau harus menitipkan Kiara dimana lagi. Umur saya tidaklah panjang, karena selepas kecelakaan itu says mengalami pendarahan di otak. Tapi Saya sangat beruntung bisa bertemu Kiara saat ini, dan ada sosok pria yang baik sepertimu mendapinginya. Saya berharap kamu bisa menjaga putri saya dengan baik. Meski saya tau jika kamu tidak serius dengan ucapanmu. tapi sebagai seorang ayah, saya tetap berharap yang terbaik untuk putri tunggal saya. " ucap Jaya
"Saya mengerti Paman. Dan Paman tidak usah khawatir, besok saya akan membawa Paman ke rumah sakit. Untuk masalah biaya Paman tidak usah memikirkannya, saya adalah seorang dokter dan saya juga memiliki teman yang punya rumah sakit besar di kota. Saya berharap Paman bisa yakin untuk sembuh. Setidaknya demi Kiara, Paman. dan untuk ucapan saya, saya tidak main-main. Saya sudah jatuh cinta kepada Kiara sejak awal bertemu, tapi saya baru menyadarinya semalam. " ucap Alan.
Jaya tersenyum sambil mengangguk, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Sementara Kiara, gadis itu masih berada di warung Mak gayo, ia sangat kesal dengan Alan. Pria itu selalu seenaknya sendiiri.
...****************...
Pagi-pagi sekali Kiara dan Alan berangkat dari desa menuju Kota. Mereka berdua sebelum nya sudah berpamitan dengan Mak Gayo dan Mang ujang.
"Ayah lelah? " tanya Kiara saat mereka sudah setengah perjalanan.
"Tidak, ayah tidak lelah. Ayah hanya sedikit pusing. " ujar Jaya
"Apa ayah tadi sudah minum Obat? " tanya Kiara.
Ia lupa mengingatkan ayahnya saat mereka berangkat tadi.
Alan menatap Jaya dari kaca di atas kepalanya. Alan yang melihat Jaya sedikit pucat pun menepikan mobilnya di sebuah kadai makanan.
"Tunggu sebentar saya akan membeli air. " ujar Alan yang langsung di angguki Kiara.
"Maafkan Kia yah, Kia tidak memperhatikan ayah dengan baik. " ucap Kiara dengan nada sendu
Jaya tersenyum, ia tau putrinya sangat lembut dan mudah menangis. Dia sangat mirip dengan Adel
"Tidak usah khawatir Kia, Ayah tidak apa-apa. " ucap Jaya menenangkan putrinya.
"Om, ini makanan untukmu. Makanlah sedikit sebelum minum obatnya. " ujar Alan sambil menyodorkan makanan dan air mineral untuk Jaya.
"Terimakasih nak. " ucap Jaya sambil menerima pemberian Alan.
"Ki, kau tidak lapar? " tanya Alan
"Tidak."
"Lebih baik kita makan dulu disana sembari menunggu ayahmu beristirahat sebentar. Lagi pula perjalanan kita masih cukup jauh." ucap Alan
Kiara menatap ayahnya yang sedang menyuap makanan. Gadis menarik nafas lalu membuangnya perlahan. " Baiklah, ayo kita makan. " ujar Kiara
"Yah, Kiara kesana sebentar. ini obat ayah, jika sudah minum obat Ayah istirahat saja dulu, perjalanan kita masih jauh. " ucap Kiara yang langsung di angguki oleh Jaya.
Mereka berdua turun dari mobil lalu menuju ke sebuah rumah makan soto istimewa. Keduanya memesan makanan yang sama, padahal masih banyak menu lain yang di sediakan rumah makan itu
"Ki." panggil Alan sambil menatap gadis di depannya itu.
"Hmmm."
"Apa kau marah? " tanya Alan
"Soal ucapan Mas kepada ayahmu? "
"Hhmmm, aku kesal sedikit. Tapi aku tidak ingin memikirkan itu, karena bagiku kondisi ayah lebih penting dari apapun. " ujar Kiara
"Pikiran lah sedikit, karena aku serius dengan ucapanku. " ucap Alan
Kiara menarik nafas panjang, ia sungguh tidak mengerti dengan pria di depannya ini. Mereka bahkan belum lama saling mengenal
"Lebih baik Mas yang memikirkan lagi keputusan Mas. Supaya nanti tidak ada penyesalan. " ucap Kiara.
Alan berucap lagi, tapi pesanan mereka datang. Terpaksa Alan mengurungkan niatnya. Alan tidak ingin merusak mood Kiara karena saat ini ia sudah cukup memikirkan kondisi ayah.
Setelah selesai mengisi perut, mereka pun melanjutkan perjalanan. Jaya yang sejak di tinggal tau terlihat tertidur pulas. Kiara sesekali menatap wajah ayahnya yang begitu teduh.
"Andai Ayah sejak dulu sadar, mungkin kehidupan kita tidak akan seperti ini Yah. Tapi Kia berjanji, Kia akan merawat ayah sampai ayah sembuh. Karena Kia tidak ingin kehilangan lagi." Kiara membatin.
Gadis itu menggeser tubuhnya, mencari rasa nyaman karena ia merasa sangat mengantuk. Tidak menunggu lama Kiara pun terlelap. Sementara itu Alan fokus pada jalanan.
Pukul 01.00 Mobil Alan tiba di rumah sakit Dharma Medical.
Sebelumnya Alan sudah memberitahu Quinn tentang masalah kesehatan ayah Kiara. Dan saat ini Quinn sudah menunggu mereka di depan pintu ruang IGD.
"Kak Quinn, kau di sini! "
Quinn tersenyum. " Ya Kia, Alan sudah menelpon ku saat kalian sudah dekat. " ujar Quinn
"Ohhh, trimakasih kak. " ujar Kiara
"Hmmm, sama-sama. " ucap Quinn
"Halo Om, perkenalkan nama saya Quinn. Saya sahabat Alan dan Kia. " ucap Quinn pada Jaya.
"Halo nak. Saya tidak menyangka jika putri saya begitu banyak yang menyayangi nya. " ucap Jaya terharu. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca
"Tentu saja Om, Kiara gadis yang baik. Pasti banyak yang sayang dengannya. Mari Om kita ke ruangan yang sudah di sediakan. " ucap Quinn
Gadis itu mendoring kursi roda Jaya sendiri.
"Kak, apa ini tidak berlebihan. " ujar Kiara saat melihat kamar VVIP untuk ayahnya
"Tentu saja tidak, ayahmu harus di rawat di tempat yang baik Kia." ujar Quinn sambil mengangguk
"Tapi kak, aku tidak punya cukup uang untuk membayar ruangan ini. " ucap Kiara polos.
"Hahaha, kau ini masih memikirkan itu." Quinn menepuk bahu Kiara
"Jangan memikirkan hal itu Kia. Aku, Paris dan Alan akan mengurus semuanya. Fokuslah merawat ayahmu sampai dia sembuh, ok. " ucap Quinn
Kiara ingin sekali menangis, ia memeluk Quinn dengan erat. Sungguh ia tidak menyangka akan bertemu orang-orang yang begitu baik.
"Hike, terimakasih kak. Terimakasih. " ucap Kiara sambil menangis.
"Hus diamlah, kau akan membuat orang berfikir jika aku sudah mencubit mum" canda Quinn
Kiara melepas pelukannya lalu tertawa sambil mengusap sisa air matanya. Kiara dan Quinn masuk ke dalam ruangan Jaya untuk melihat apakah semua sudah siap. Karena hari ini Jaya harus melakukan beberapa pengecekan medis untuk mengetahui kondisinya saat ini.
.
.