
Malam ini Kiara tengah menunggui ayahnya yang sedang di rawat. Sore tadi ia mendapat kabar jika kondisi ayahnya tidak baik-baik saja, bahkan Jaya harus segera di operasi.
Kiara hanya Bisa berdoa dan terus berdoa untuk kesembuhan Ayahnya.
"Kau sudah makan Ki? " Paris menepuk pundak Kiara saat gadis itu tengah melamun.
"Hmm, aku sudah makan. " jawab Kiara berbohong. nyatanya sejak sore tadi ia belum makan apapun, bahkan minumpun tidak.
Paris meletakan kotak makanan si sebagai Kiara lalu ikut duduk disampingnya. " Menjaga orang yang paling kita sayangi itu juga membutuhkan tenaga Kia. Jika nanti kau sakit lalu siapa yang akan menjaga ayahmu. Kau itu harus kuat dan sehat di depannya. " ucap Paris sambil membuka kotak makannya
"Nih makan. " Paris menyodorkan makanan tepat di muka Kiara
"Aku tidak lapar Ris. " tolak Kiara
"Baiklah, biar aku suapin. " ucap Paris lalu mengambil sendok dan mengisinya dengan makanan dan menyuapi Kiara.
"Ayo lah Ki, kau harus makan. Sedikit saja. " mohon Paris
Kiara menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Ia sungguh tidak bisa melihat wajah Paris yang memelas seperti itu.
Kiara mengalah, ia pun membuka mulutnya.
"Good girl. " ucap Paris tersenyum senang.
"Sudah Biar aku saja. " Kiara merampas kotak makan dari tangan Paris lalu memakan makanan itu dengan wajah kesal.
Paris pun terkekeh melihat wajah Kiara yang terlihat lucu. Kiara selalu sukses membuatnya tertawa geli.
Tapi semua itu hanya sesaat. Saat seorang dokter dan beberapa perawatan berlari ke ruangan Jaya. Sepertinya ada keadaan darurat.
Kiara dan Paris menyusul dan ingin masuk ke dalam, tapi seorang suster menghentikan Kiara dan Paris
"Tolong kerja samanya Nona. Pasien mengalami kejang, dimohon nana menunggu di luar. " ucap suster tersebut.
Kiara sangat takut, ia tidak bisa menahan emosinya. Saat itu juga Kiara mulai menangis. Paris yang begitu terpukul melihat sahabat yang begitu ia sayangi kembali terpuruk. Paris memeluk Kiara dengan erat mencoba untuk menenangkan gadis itu.
Beberapa menit kemudian terlihat Quinn dan Alan datang, keduanya juga terlihat panik.
"Kak, sebenarnya ada apa? " tanya Kiara saat Quinn tiba di hadapannya.
"Tenanglah Kiara, ayahmu akan baik-baik saja. " ucap Quinn
"Apa ada yang terjadi? " tanya Paris kepada calon istrinya
"Iya, tadi aku dan Alan mendapat kabar jika Om mengalami kejang. Kami harus masuk untuk memastikan. " ujar Quinn
"Jaga Kiara,kami akan melakukan yang terbaik. " ucap Alan sembari mengelus pipi Kiara yang tergenang air mata.
Paris mengangguk. Alan dan Quinn pun masuk ke dalam. Di luar Kiara dan Paris tidak berhenti berdoa. Rasa khawatir yang mereka rasakan begitu dalam, terutama Kiara, gadis itu sudah kehilangan Ibunya dengan cara seperti ini juga. Apakah ia juga akan kehilangan ayahnya. Sungguh Kiara tidak bisa jika harus kehilangan lagi.
beberapa menit kemudian seorang suster keluar dari dalam ruangan. Kiara dan Paris pun segera mendekatinya
"Sus, bagaimana kondisi ayah saya? " tanya Kiara dengan suara serak.
"Maaf nona, itu biar dokter yang menjelaskannya. " jawab suster tersebut
Kiara semakin khawatir. Ia benar-benae tidak tau harus apa. Pada akhirnya Alan dan Quinn keluar dari ruangan.
"Mas, kak bagaimana? " tanya Kiara.
"Apa serius? " tanya Paris
"Maaf Kia, ayahmu harus segera kami operasi. Tapi kami butuh persetujuan darimu. " ucap Alan.
"Kiara, maafkan kami. Kami hanya seorang dokter, tidak bisa menebak kuasa yang di atas. kemungkinan operasi nya berhasil hanya 30%." imbuh Quinn
"Ki."
"Kiara."
"Kia." ucap ketiganya terkejut
"Aaaaaa." Kiara berteriak sambil meremas rambutnya.
Alan mencoba untuk menenangkan Kiara dengan membawanya ke dalam ruangannya.
"Minumlah Ki. " ujar Alan sambil menyodorkan air kepadanya.
Kiara hanya melihat air yang berada di dalam gelas itu saja tanpa berniat mengambilnya. Alan yang mengerti meletakan gelas itu di atas meja kerjanya.
"Kau harus kuat Ki, meski terkadang takdir tidak berpihak kepada kita, tapi Kiara harus tetap menjalani kehidupan ini. Ayahmu butuh kamu untuk kuat Di sisinya, jadi kuatlah meski bukan untukmu. " ucap Alan sambil menggenggam erat jemarin Kiara
Kiara menarik nafas panjang, ia ingin menguatkan dirinya. Seperti yang di katakan Alan, meski bukan untuknya. Setidaknya untuk ayahnya yang saat ini memerlukan dirinya.
Kiara tidak akan mengeluh lagi, mungkin ini memang sudah kuasa yang diatas.
"Kia, Alan. Om Jaya ingin bertemu kalian. " ucap Quinn yang baru saja tiba
Alan dan Kiara mengangguk. Sambil mencoba menguatkan Kiara, Alan menuntun Kiara masuk ke dalam ruangan Jaya.
Saat Kiara masuk satu hal yang pertama ia lihat ialah senyum Ayahnya. Kiara pun tidak bisa menahan sesak di dadanya.
"Ayah. Hiks. " Kiara menggenggam tangan Jaya dengan erat sambil menangis.
"Jangan menangis nak, Ayah tidak ingin melihat kau menangis." ucap Jaya sambil mengusap lembut kepala putri yang selama ini ia telantarkan.
"Nak Alan, bisa kamu kesini nak? "
Alan mendekat, lalu duduk di sebelah Kiara. " Ia Om. "
"Nak, Maukah kau menjaga Kiara dengan menikahinya? " tanya Jaya yang seketika membuat tangisan Kiara semakin pecah.
"Hik, Ayah. " Kiara berucap sambil menggeleng.
"Bisakah kau menjaga putriku nak. Tidak membuatnya menangis dan akan selalu ada disisinya? " tanya Jaya lagi.
Quin dan Paris sedikit terkejut dengan permintaan Jaya. Tapi mereka tidak ingin ikut campur atau memprotes permintaan Jaya. Semua keputusan ada di tangan Alan saat ini.
Quin percaya kepada sahabatnya itu, begitupun Paris. Ia cukup mengenal Alan. Dan dia adalah pria yang cukup baik untuk mendampingi Kiara.
"Saya siap Om, bahkan saat ini saya bisa menikahi Kiara. " ucap Alan penuh keyakinan.
"Terimakasih Nak Alan. " ucap Jaya lega.
"Nak." Jaya memanggil Kiara. Gadis itu mengangkat kepalanya menatap Jaya
"Menikahlah dengan pilihan Ayah dan tandatangani surat operasi Ayah. Pasrahkan semua kepada Allah, maka semua akan terasa mudah. " Pesan Jaya
Kiara mengangguk sambil terus menangis, ia tidak akan membantah apapun permintaan Ayahnya.
Saat ini sudah ada seorang penghulu. Quinn dan Paris dan beberapa suster disana menjadi saksi pernikahan keduanya. Sebelum Jaya masuk ruang operasi yang tidak tau bagaimana hasilnya , Jaya terlebih dulu menikahkan putri Satu-satunya itu. Dan dia benar-benar beruntung karena bisa menikahkan Kiara.
Takdir memang tidak bisa di tebak bagaimana jalannya hidup. Mungkin besok kita berduka, mungkin esoknya lagi kita bisa bahagia. Yang terpenting dalam menjalani hidup adalah selalu berusaha apapun hasilnya dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki.
Selalu pasrahkan diri kepada sang pencipta dan jangan lelah untuk melakukan yang terbaik.
......................
Salam cinta dari Author Lily☺😘