This Love

This Love
Bagian Tiga



Aku memainkan cincing mewah nan mahal ini di atas mejaku


"Temui aku di restoran biasa"


".........."


" ada hal penting yang inginku sampaikan"


"......."


"Baiklah".


Aku menekan tombol merah yang tertera di layar ponselku. Aku memasukan cincin itu kedalam kantong celanaku. Aku menyambar kunci mobil dengan cepat . Lalu berlari keluar ruanganku dengan buru buru.


"Tuan kau ingin kemana? 10 menit lagi kita rapat dengan kolega dari amerika". Ucap alex  -asisten pribadiku- .


Aku berhenti berlari lalu membalikan badan untuk menatap alex.


"Batalkan semua jadwal meetingku hari ini". Jawabku dengan tegas


"Tap..."


"Lakukan saja!".


"Baiklah tuan". Alex menunduk beri hormat padaku.


Aku berlari menuju parkiran .lalu menaiki mobil bugatti yang berkombinasikan warna merah dan hitam ini.  Lalu menyalakan mesin mobil .dan melesat menuju tempat favoritku.


.


.


.


aku memasuki area restoran bintang lima yang berada di pusat kota jakarta . Tertampang jelas nama restoran dengan aksen yang elegan ' amore eterno resto' .


Aku mengerdakan pandanganku ke setiap penjuru restoran ini . Ada wanita yang melambaikan tangannya padaku . Aku tersenyum lalu menghampiri wanita itu.


"Hay sayang". Wanita itu berdiri lalu mencium pipiku .


"Hay jansen". Ya dia jansen kekasih ku . Kami telah menjadi pasangan kekasih selama 2 tahun .


Kami duduk berhadapan . Setelah kami duduk kami tak mengeluarkan sepatah kata pun . Baiklah tepat atau tidak aku akan melamarnya sekarang.


"Aku....".


"Bara".


Ucap kami secara bersamaan .


"Ladies first". Aku tersenyum kepadanya.


Ia menatap ku dengan tatapan yang sulit di artikan . Aku menunggu penuturannya dengan perasaan cemas. Ia merogoh tasnya .


"aku ingin memberikan ini".


lalu menyodorkan benda pipih .


Aku menyeritkan alisku.


"Undangan apa ini?". Aku menatap undangan yang di taruhnya terbalik .


"Baca saja".


Dengan perlahan aku mengambil undangan itu. Dan membukanya . Di sana tertera nama jansen barac dan...


Degh!.


Dan yanuar ahmad.


"Kalau kau ingin membuat leluco. Jangan sekoyol ini sungguh ini tak lucu". Aku menatapnya .


"Ini bukan lelucon . aku akan menikah. Tak ada lelucon dalam hal pernikahan". Ucapnya


Ingin sekali aku membanting barang yang ada disekitarku . Oh ayolah kendalikan dirimu bara. Aku meremukan undangan ini lalu menaruhnya di atas meja dengan sedikit mengebrak.


Aku menatapnya datar.


"Kenapa kau melakukan ini?!". Kendalikan emosimu bara


"......."


"Jawab aku!". Aku mengebrak meja sehingga aku menjadi pusat perhatian penggunjung disini. Sungguh kesabaran ku sudah habis, jangan kira aku manusia sabar aku tak semunafik itu.


"........"


"Atau jangan jangan kau telah tidur dengannya lalu kau hamil anaknya. Sudah berapa bulan anakmu hah?". Aku menaikan alisku


Plakk


Ia berdiri di hadapanku.


Ia menyambar tasnya lalu pergi meninggalkanku.


Dan sekarang kau tau, aku tak percaya cinta .cinta itu bullshit . Dia bilang dia mencintaiku tapi dia sendiri yang meninggalkanku. Aku tertawa dalam hati menertawakan diriku sendiri.


Mungkin aku harus menenangkan diriku dulu. Aku harus pergi ke pantai pribadiku . Aku bukan tipe cowok yang suka dengan minuman keras .


Aku berjalan keluar . Diiringi dengan tatap 'kasihan sekali dia' oleh para penggunjung. Aku tak peduli.


Aku memaiki mobilku . Aku memukul stir mobil dengan keras . Yanuar ahmad aku akan mencarimu lalu membunuhmu . Lihat saja nanti. Hidupmu takkan tenang bila berurusan denganku. Aku menyalakan mesin mobilku .


Drrttrttt


Oh siapa lagi ini! . Aku menatap layar ponselku . Aku menyeringai . Untuk apa pria tua ini menghubungiku .


"........"


"Ada apa".


"......."


"to the point. aku tak punya waktu".


"........"


Aku memutuskan panggilanku secara sepihak . Aku melajukan mobilku.


.


.


.


Aku memasuki pekarangan rumah mewah ini . Lalu memarkirkan mobilku . Ku akui pria ini sungguh hebat tapi aku membencinya.


Aku memasuki rumah ini dan di sambut oleh bodyguard yang menundukan kepalanya memberi hormat .


" tuan muda anda telah di tunggu di meja makan".


Aku berjalan menuju meja makan . Terlihat di ujung meja makan terdapat pria tua dan seorang lelaki muda dan beberapa maid yang menunduk. Aku mendekatkan diriku menuju meja makan.


"Ada apa ? Aku tak punya banyak waktu". Aku menatap datar pria itu


"Duduk dulu. Ini perintah tak boleh di bantah!". Titahnya aku benci ini


Lalu pria tua ini memberi kode pada para maidnya untuk pergi dari tempat ini.


Aku duduk bersebrangan dengan adikku . Aku menatapnya sengit ia pun menatapku dengan datar . Cih! Dasar bocah.


"Baiklah tuan tuan". Aku menatap kakek


"Kau tau kan aku sudah tua . Tak mungkin aku memimpin perusahaan besar itu sendirian .aku butuh penerus salah satu dari kalian akan menjadi penerus itu".


Aku menyeritkan alisku


"Bukankah aku keturunan pertama dari keluarga ini".


"Lalu?". Kakek menyeritkan alisnya


"Bukankah keturunan pertama yang akan meneruskan perusahaan itu".


" mau kau keturunan pertama atau kedua aku tak peduli aku melihat kalian sama ".


"Kalau kau ingin mendapatkan perusahaan itu. Kalian harus menikah terlebih dahulu". Lanjutnya .


Shit! Aku saja baru saja diputusin oleh jansen. Ah tak apa wanita mana yang tak ingin denganku pria kaya dan tampan.


"kakek tak sayang pada kami, apa kau ingin memecah belah kami sebagai kakak dan adik ". Kata adikku


"Bukankah kita . Maksudku keluarga chaiden sudah terpecah belah". jawabku dengan santai


"Percakapan sudah selesai tuan tuan aku permisi. Kalian tau pintu keluar ada dimana kan ?". Kata kakekku lalu meninggalkan kami berdua.


Aku lipat tanganku di atas dada ku dan menatap sengit adikku .


"Kakak". Ia menatap ku datar


"Jangan sebut aku kakak".


Ia menghela nafasnya.


"Kak, sampai kapan kau akan membenci ku ?"


"........"


" aku tidak senggaja melakukan itu".


"Walaupun kau membenciku ayah dan ibu takkan kembali". Lanjutnya dengan lirih dan menundukan kepalanya


Aku menggebrak meja dengan keras. Rahangku mengeras menahan amarah. Ia menatapku sendu


" cukup! Aku muak dengan mu!" . Aku pergi meninggalkan adikku yang sedang menunduk itu.


.


.


.


Kini ku berada dipantai pribadi milikku.


Ku berdiri di bibir pantai menatap laut yang begitu tenang dan damai . Aku memejamkan mataku yang terdengar hanyalah deburan ombak. aku membuka mataku lalu mengadakan pandanganku ke langit . Ku lihat warna langit sudah mulai menggelap . Aku menatap kembali ujung pantai yang dihiasi warna kuning berkombinasikan oren . Aku sudah terbiasa melihat sunset sendiri bahkan jansen pun tak pernah melihat sunset bersamaku. Ku akui aku menyukai sunset . Aku merogoh saku celanaku dan mendapatkan cincin berlian itu . Aku mentapanya lalu melemparnya ke laut dengan perasaan emosi dan sakit hati yang membuncah.


Setelah melihat sunset . Aku melirik jam mahal yang bertenger manis di tanganku .   Aku berjalan menuju tempat parkir mobilku . Aku menusuri jalan yang mulai gelap ini . Aku mengendarai mobilku dengan perlahan karena penerangan disini sangat minim . Mungkin nanti aku akan menaruh lampu di sepanjang jalan ini.


Krrriiiiitttttttttt


Suara decitan ban mobilku yang bergesekan dengan aspal ini. Ini lah yang ku takutkan. Aku turun dari mobilku dan