This Love

This Love
Pergi atau tinggal



Mobil Alan melaju dengan kecepatan sedang. Kiara sejak tadi hanya diam membisu menatap keluar jendela. Entah apa yang dia fikirkan, tapi Alan hanya membiarkannya saja.


"Bisa kau turunkan aku disini saja. " Kiara memecah keheningan dengan suaranya yang lembut.


Senyum di wajahnya membuat Alan menjadi salah tingkah.


"Ehhh, apa katamu? Aku tidak dengar. " ujar Alan gugup


"Kenapa wajahmu begitu, apa ada yang salah? " tanya Kiara penuh selidik.


"Tidak, tidak ada yang aneh. Aku hanya kebelet. " bohong Alan


"Ohhh, kenapa gak bilang dari tadi. " ujar Kiara


"Sudah berhenti, turunkan Aku disana saja, Restonya sudah dekat kok. Nanti bocor disini lagi" ledek Kiara


"Gak usah ngeledek, lagian Aku masih bisa tahan. " ujar Alan sambil menepilan mobilnya.


Kiara membuka seatbelt nya lalu bergegas membuka pintu.


"Hmmm, terimakasih. " ucap Kiara sebelum keluar dari mobil.


"Kiara tunggu. " panggil Alan saat Kiara ingin turun


"Ya, ada apa. Apa kau mau ikut ke dalam? " tanya Kiara sedikit memasukan kepalanya kedalam


"Tidak, bukan begitu. "


"Lantas, ada apa? "


"Mmmm, Bisakah kau memanggilku Mas saja, sepertinya kau lebih muda dariku. " ucap Alan sedikit ragu


Dahi Kiara mengerut, merasa aneh dengan tingkah Alan.


" Apa itu harus? "


"Iya Tidak juga, tapi jika kau mau Aku akan sangat senang. "


"Seperti itukah. " ucap Kiara.


Ingin sekali Kiara tertawa, tapi apa yang di katakan Alan tidak lah salah. Dia memang lebih muda dari pria itu.


"Hmmm baiklah. Terimakasih Mas Alan. " ucap Kiara


Alan mengangguk sambil menatap wajah Kiara yang begitu manis, tapi sayang di ********** begitu banyak luka yang tersimpan. Alan tau jika Kiara gadis yang hebat, jika tidak mana mungkin dia bisa bertahan begitu lama.


"Alan turun dari dalam mobilnya saat Kiara masih berdiri di dekat mobil.


"Apa temanmu sudah datang? " tanya Alan menyusul Kiara


"Hmm, dia sudah menunggu di dalam. " ujar Kiara


"Apa nanti harus Mas jemput? " tanya Alan sebelum Kiara menutup pintu mobilnya


Kiara merasa Aneh dengan Alan, tapi Kiara tidak ambil pusing. Ia masih harus menyelesaikan masalahnya.


"Tidak usah. " Kiara menggeleng. " Sahabat ku akan mengantarkan aku pulang nanti. " imbuhnya


Alan mengangguk mengerti. Kiara lantas berpamitan untuk ke cafe karena Dian sudah menunggunya.


setelah Kiara menghilang di balik resto. Alan segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Hari ini Alan sangat lelah, ia ingin beristirahat. Beruntung Rio sedang pergi bersama Quinn, dan mungkin akan pulang malam. jadi ia bisa sedikit tenang.


Di dalam perjalanan Alan masih memikirkan Kiara, entah kenapa dia sangat penasaran dengan hidup gadis itu.


Sementara itu


Di dalam Cafe sudah terlihat Diana duduk di pojokan, ia terlihat asyik dengan ponselnya.


"Kau sudah lama? " tanya Kiara sambil duduk di depan Dian


"Tidak juga. Lagian lo tuh kemana aja, tadi gue samperin kerumah lo gak ada. " ujar Dian


"Tadi ada urusan mendadak, jadi gue pergi dulu sebentar. " ujar Kiara.


"Ki, di rumah lo tadi ada Paris. " ucap Diana ragu


"Hhhhhh, itu yang mau gue bicarakan. " ujar Kiara dengan nada lemas.


"Yah, gitu deh. lo tau Paris, dan lo tau bagaimana sifatnya kan! "


"Ya, lalu? "


"Entahlah, gue masih ragu. "


"Pesen dulu deh, gue haus. " ujar Dian


" hmmm, pesen deh. " ucap Kiara


Dian memanggil pelayan untuk memesan minuman dan cemilan favorit mereka berdua.


"Tadi lo kesini sama siapa? " tanya Dian


"Di antar taxi. " jawab Kiara berbohong.


Kiara tidak ingin membahas Alan dulu, karena ia ingin fokus dengan masalah nya. Menurutnya Alan hanya seseorang yang dikirim Tuhan di waktu yang tidak tepat.


"Terus, lo mau bicara apa ke gue? sampek kita harus ketemu sekarang juga.! "


"Ohhh ya, ini. " Kiara mengeluarkan barang yang di dapat semalam


"cincin? dia ngelamar lo Ki!" Diana berseru sampai semua mata melihat mereka.


"I-hhhhh, toak banget sih lo Di. " ujar Kiara saat mereka menjadi pusat perhatian


"Habis gue kaget plus kesel sama tu monyet satu, gak sadar apa dia bentar lagi nikah. " ujar Diana dengan nada kesal.


"Ihhh, gue gak tau ini yang ngirim siapa Di. Gue malah ngiranya tuh calon tunangannya Paris. " ujar Kiara


"Quinn! gak mungkin deh kayaknya. Dia itu orangnya baik tau, ramah, sopan lagi. "


"Terus siapa donk. Kok gue jadi serem ya. "


"Husss, lo gak usah fikir yang gak-gak deh Ki. Mending lo buang aja ini, dan kalau ada lagi yang ngirim sesuatu gitu, langsung aja lo buang. " pesan Dian


"Iya, lo bener juga sih. " ucap Kiara


" Ehhh, lo tau gak. Jari ini semalam tidak seperti ini. waktu gue temuin ini tuh di dalam kotak paket yang di taroh di depan rumah gue. Nah pas gue buka isinya jari ini, isi kayak darah gitu lagi. pokonya serem. nah karena gue kaget kan gue lempar tu kotak. ternyata ada suratnya gitu."


"Apa isi suratnya? " tanya Diana


Kiara mengeluarkan surat kecil yang ada di dalam kotak. Diana pun membacanya langsung.


"Ini ancaman gak sih Ki? "


"Hmmmm, yang gue artiin sih gitu. " jawab Kiara


"Gue bakal ngomong sama Paris. "


"Ehhhh jangan, nanti tambah ribet. "


"Ya tapi gak bisa gini terus Ki. Sekarang aja udah ada yang neror elo kayak gini. Kalau sampai orangnya nekat gimana. " ujar Dian


"Yah jangan nakutin napa Di. " ucap Kiara takut


"Gue bukannya nakutin, tapi Masalah ini harus selesai sebelum menjadi semakin besar dan tidak terkendali." imbuh Diana.


Kiara menata Dian. Ia merasa apakah ini solusi terbaik? haruskah ia melakukan ini? semua pertanyaan itu harus menjadi sebuah pertimbangan bagi Kiara, karena apapun keputusan yang dia ambil akan berpengaruh besar untuk kedepannya.


"Lo pikir aja deh dulu, gue cuma takut terjadi sesuatu sama lo Ki. Lo kan juga tinggal sendiri. " ucap Dian


"Atau gue pergi aja dulu ya, sampai pernikahan Paris selesai. " ucap Kiara


"Mungkin bisa juga gitu, tapi lo mau kemana cobak. nyokap lo kan anak tunggal, terus bokap lo gak tau dimana. " ujar Dian


"Ada sih satu tempat, dulu nyokap sering bawa gue kesana. Tapi gue harus nunggu rumah kejual dulu. " ucap Kiara


"Terserah lo deh Ki, yang jelas kalau Ada apa-apa lo langsung kabarin gue ya. gue akan terus aktifin ponsel gue. dan inget, kalau udah sampe rumah langsung kunci pintu dan jendela rumah lo. Jangan keluar kalau ada yang ngetik pintu malem-malem. " pesan Dian lagi


Kiara mengangguk tanda mengerti. Ia sangat bingung harus berbuat apa, kenapa masalah datang terus menerus. Kiara belum siap untuk semua ini. Dia ingin seperti dulu, sebelum Paris kembali ke dalam hidupnya. Meski rasanya berat, tapi itu lebih baik daripada di usik terus menerus.


.


.