This Love

This Love
Paket misteri



Mungkin semua yang sudah kita jalani selama ini tidaklah semulus yang orang lain fikirkan. Tetapi tidak juga sesulit yang kita jalani. Mungkin hanya kita belum sepenuhnya bersabar dalam menjalani semua cobaan yang datang menerpa. So, selalu berusaha dan jalani dengan ikhlas, maka semua akan terasa ringan di pundak kita.


Lily


...----------------...


Quin dan Rio masih mengobrol asyik di ruang tamu sampai Akan datang. Pria itu masuk ke dalam apartemen nya dengan raut wajah masam.


"Kenapa dia? "


pertanyaan itu datang dari mulut Rio kepada Quin yang tengah duduk di depannya.


"Entah, mungkin motornya terserempet kucing liar. " jawab Quin asal.


"Cihhhh, jawaban lo gak lucu. " ucap Rio ketus.


Sementara itu Quin hanya tersenyum geli melihat reaksi wajah Rio.


"Lo kenapa brow? bukannya sahabat datang itu di sambut dengan wajah senang, lo malah masang muka cemberut. Gue kan jadi gek enak hati. " ujar Rio sambil menatap sahabatnya itu.


Alan menggantung jaketnya di tempat biasa. Setelah itu ia langsung berjalan menuju sofa dan menghempas tubuhnya sembari menghela nafas panjang.


"Tuh kan, pasti motornya baret. " ledek Quinn lagi


"Cihh, diem lo ratu drama. gue lagi gak mood becanda. " ujar Alan dengan tatapan tajam.


"Elah, santai napa. " ujar Quinn


"Lagian lo ini kenapa sih? uring-uringan kayak baru di putusin pacar. " ledek Rio


"gpp, gue cuma capek. Lo kapan sampek, kok gak ngabarin? " tanya Alan mengalihkan pembicaraan


"Gue udah ngabarin lo monyong, lo nya aja yang keliwat sibuk." jawab Rio


"Lo tau Frovesi gue, dan gak harus gue jelasin kan. " sindir Alan


"Ya, ya. dokter Alan yang dermawan. " blas Rio.


"Cihhhh, sampai kapan lo disi? " tanya Alan sinis


"Jiahhh, kenapa? lo keberatan gue tinggal disini! ehhh gue masih bisa bayar hotel kalau lo gak suka gue make apartemen lo ini. " ucap Rio tersinggung


Bruk


Alan melemparkan bantal ke wajah Rio. "Dasar ambekan, tante Mela ngidam apa sih dulu. " ucap Alan


"Ehhh, gak usah bawa-bawa nyokap gue ya lo." kini Rio semakin nyolot


"ya habis, lo sekarang hampir sama kayak Quin, ambekan lo parah. "


"Ehhh kok jadi bawa-bawa gue sih sekarang. kalau mau ribut ya ribut aja, jangan nyenggol kesini. " ujar Quinn dengan wajah tertekuk masam.


"nih lo lihat, ngambek lagi kan. " ejek Alan sambil menahan tawa.


"Hahahaha, bener. sama kek gue. " timpal Rio


"Ihhhh kalian nyebelin tau gak sih. " Quinn semakin kesal


"Gue pulang aja, kalian gak seru tau. " ujar Quinn sambil mengambil tasnya.


"Yah gitu doang ngambek. " ujar Alan


"Ayolah Quinn, kapan lagi kita bisa kek gini. Lo mau nikah kan, jadi nikmati aja kali saat-saat sama kita ini. " bujuk Rio


Alan yang mendengar ucapan Rio seketika Diam. Ia mengingat kejadian beberapa jam lalu, dimana ia melihat Paris dengan gadis yang baru beberapa hari ini ia temui.


Flashback On


Tapi saat sampai di dekat rumah gadis itu Tanpa sengaja Alan melihat Kiara yang baru saja masuk kedalam sebuah cafe di dekat rumahnya. Alan pun mencoba memanggil Kiara tetapi gadis itu tidak mendengarnya.


Alan memutuskan untuk menunggu Kiara di sebrang jalan, ia berfikir jika Kiara hanya membeli makanan saja dan pasti cepat keluar. Tapi sampai setengah jam berlalu Kiara masih belum muncul juga. Alan yang penasaran pun memutuskan untuk menyusul Kiara ke dalam. Tanpa Alan bayangkan sebelumnya ia melihat sosok calon suami sahabatnya sedang memegang tangan seorang wanita, Alan sangat kesal, ia ingin menyusul kedalam dan menghajar Paris hingga babak belur. Tapi niatnya ia urungkan saat melihat wajah wanita itu, yang tidak lain adalah Kiara.


Otak Alan seketika berhenti bekerja, rasa marah, kesal bercampur aduk. banyak pertanyaan mengelilingi otak kecilnya. Tapi Alan tidak ingin gegabah, ia memutuskan untuk pergi saja dan akan menanyakan ini nanti.


Flashback off


Lamunan Alan tersedar saat Rio mengejutkannya dengan melemparkan bantal ke wajahnya.


"Ehhh monyet, Lo mikir apa sih dari tadi? " tanya Rio sambil menatap wajah Alan serius.


Alan mendengus kesal saat melihat wajah sok serius Rio terpampang jelas di depan wajahnya, sampai ia sadar jika Quinn sudah tidak ada di sana.


"Dimana Quinn? " tanya Alan tanpa memperdulikan pertanyaan Rio


"Dia udah pulang saat lo ngelamun tadi. " jawab Rio ketus


" masih ngambek? . "


"Gak, katanya ada hal penting yang harus di kerjakan. "


"Ohh. Gue capek. Lo kalau capek juga, kamar lo yang itu.ada kamar mandinya juga kok. " ujar Alan sambil menunjuk kamar yang ada di sebelahnya.


"Gue duluan, kalau laper lo tinggal masak di dapur. semua bahan makanan ada di kulkas. " tambah Alan sambil berjalan menuju kamarnya.


Sementara itu Rio hanya mengangguk saja. Ia mengambil ponselnya sambil bersandar di sofa. Pia itu enggan untuk ke kamar, karena ia masih belum merasa lelah.


******


Di tempat lainnya ada Kiara yang baru saja selesai memasak untuk makan malam. Kiara sudah memutuskan untuk menjauhi Paris dan itu keputusan mutlak.yah mudah-mudahan Paris bisa mengerti dirinya


tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kiara. Ia melihat jam yang bertengger di dingin yang menunjukan pukul 7 malam.


"Siapa yang datang? apa Amel! ahhh tidak mungkin, dia kan di Bali ! " Kiara berseru dalam hati sambil berjalan menuju pintu rumah.


Kiara memutar tuas pintu lalu membukanya dengan perlahan.


"Tidak ada orang. " gumam Kiara saat ia melihat keluar rumah.


Kiara membuka pintu rumahnya lebar-lebar lalu menemukan sebuah kotak kecil yang terbungkus plastik hitam seperti sebuah paket.


"Siapa yang menaruhnya disini. " ujar Kiara sambil mengambil bungkusan kecil itu.


Kiara membawa bungkusan itu masuk ke dalam tanpa ada rasa curiga dan meletakannya di atas meja ruang tamu begitu saja.


Karena sudah hampir pukul 8 malam Kiara pun bergegas makan, ia lupa jika sejak siang ia belum makan apapun, belum lagi karena bertemu Paris tadi, napsu makanya sempat hilang. tapi sekarang Kiara menjadi sangat lapar.


Setelah makan Kiara langsung membersihkan dapur, mencuci piring dan merapikan semuanya. setelah selesai Kiara ingin pergi ke kamarnya, tapi ia melihat bungkusan yang tadi. Kiara mengambil bungkusan itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Kiara mengambil gunting untuk membuka bungkusan paket tersebut. Saat Kiara berhasil membukanya seketika itu mata Kiara membulat sempurna, dengan reflek ia melempar bungkusan itu ke lantai.


"Ahhhhh" teriak Kiara


"Sial. siapa yang mengirim itu! "


.


.


.