
2 jam sudah Alan menunggu Kiara datang, tapi sampai detik ini gadis itu tidak kunjung sampai. Entah kemana perginya.
Brum...! suara deru mobil terdengar jelas di indra pendengaran Alan. Ia melihat Paris turun dari mobilnya lalu memutar dan membuka pintu samping. Paris terlihat mengeluarkan Kiara dari dalam mobil, gadis itu terlihat tertidur.
Saat Paris menampakan kakinya sampai di depan pintu rumah Kiara langkahnya terhentikan oleh Alan yang sengaja mencegahnya.
"Berikan dia padaku. " ucap Alan dengan tatapan tajam
"Cihhhh, memang kau siapa hehhh. meminta Kiara, memang Kiara ini barang. " balas Paris tidak kalah sengit
"Apa pendengaran mu itu kurang jelas, atau memang otakmu sedikit bermasalah pada ingatan. Bukankah Kiara sudah jelas mengatakan jika aku ini kekasihnya. " ucap Alan dengan senyum sinis.
"Aku tidak perduli, lebih baik kau segera minggir. "
"Tidak akan sebelum kau menyerahkan Kiara padaku. "
"Kau ini tidak tahu malu sekali, minggir cepat. " ujar Paris semakin kesal.
Mereka berdua berdebat sampai Kiara terbangun. Kiara merasa tubuhnya melayang dan sedikit bergoyang-goyang akibat aksi saling dorong yang di lakukan Paris dan Alan.
"Aaaaaaaa." Kiara berteriak sampai Alan dan Paris terkejut.
"Ihhh, turunkan Aku. " ucap Kiara sambil melompat dari gendongan Paris.
"Hey, kenapa Mas bisa ada disini? dan kenapa kalian bertengkar? Lalu kau Paris, kenapa kau menggendongku? " tanya Kiara
"Mas disini karena kau tidak memberitahu Mas jika kalian pergi bersama. " jawab Alan.
"Dan Aku menggendong mu karena saat tiba kau tertidur. " jawab Paris.
"Lalu kenapa kalian bertengkar? " tanya Kiara penuh selidik
"Karena dia sudah lancang menggendong kekasihku. "
"Hey siapa yang lancang, bahkan Aku pernah tidur sekamar dengan Kiara dulu. " ucap Paris tak mau kalah.
Kiara menyeritkan dahinya mendengar ucapan kedua pria di depannya itu. Terutama ucapan Paris, bisa-bisanya dia membongkar masa lalu.
"Kalian ini sudah dewasa, kenapa bertengkar karena hal kecil. Harusnya kalian itu berfikir dulu sebelum berbicara. " ucap Kiara kesal.
Gadis itu mengambil kunci rumahnya sambil menggerutu. Sementara Paris dan Alan masih dalam mode diam tapi tatapan matanya terlihat saling mengejek.
Kiara berbalik ke arah belakang saat pintu rumahnya terbuka
"Kenapa masih disini. Pulang sana. " usir Kiara. Ia tidak ingin melihat perdebatan lagi karena dia sangat lelah.
"Tapi Ki, aku ingin_
" Pulang Ris, apa kau tidak lelah. " potong Kiara
"Tuh pergi sana. " ejek Alan
"Mas juga pulang, Kiara capek Mas. " ucap Kiara yang di sertai tawa Paris.
Kiara menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Dua pria itu sambil masuk ke dalam rumah. Paris dan Alan pun akhirnya mengalah, mereka pulang secara bersama-sama.
...****************...
Cahaya pagi memang begitu indah, bahkan akan semakin indah jika kehidupan yang kita jalani bahagia.
Kiara sedang bersiap pagi ini, Ia sudah memutuskan untuk pergi ke desa Ayahnya. Kiara sudah tidak bisa menunda lagi, karena ia juga harus cepat kembali karena pernikahan Paris dan Quinn sudah dekat.
Kiara melihat barang yang di bawanya, sepertinya sudah lengkap. Kiara pun membawa barangnya keluar. Tapi saat Kiara ingin bersiap pergi Alan tiba-tiba datang.
"Ki, kamu mau kemana? " tanya Alan saat melihat barang bawaan Kiara.
"Ada hal penting yang harus aku urus Mas." jawab Kiara
"kemana kau pergi hingga harus membawa ransel sebesar itu? ".
" Aku akan pergi ke desa ayah untuk mencarinya. Bagaimana pun dia, tetap saja dia itu ayahku" ucap Kiara
"Berapa lama? "
"Mungkin satu minggu atau lebih. Tapi aku pasti pulang untuk menghadiri pernikahan Paris dan Kak Quinn. " jawab Kiara
Alan mengambil ransel milik Kiara tanpa berkata atau bertanya apapun.
"Mas, kau mau apa? " tanya Kiara
"Aku akan ikut denganmu. " ucap Alan singkat
"Tapi Mas, kau kan harus bekerja. Mana mungkin kau meninggalkan pekerjaan mu begitu saja. " ujar Kiara menahan lengan Alan.
Alan berbalik menatap Kiara. " Kau adikku, tanggungjawab ku. Jadi tidak akan aku biarkan kau pergi sendiri. "
" Jangan membantah, karena aku tidak suka di bantahan. Cepat masuk. " ucap Alan sambil membuka pintu mobilnya.
Kiara menarik nafas panjang, ia tidak mungkin menghentikan pria keras kepala seperti Alan. Kiara merasa seperti kembali ke waktu dulu, dimana ia harus menghadapi keras kepala Paris.
Di dalam perjalana Kiara hanya diam membisu. Fikirannya tertuju pada satu titik masalah. Dimana saat ia bertemu ayahnya apa yang harus dia lakukan? apa ekpresi yang harus Kiara tunjukan pada pria yang pernah menyakitinya.
"Ki, jika kau lelah tidur saja. Perjalanan Kita masih sangat jauh. " ujar Alan.
Kiara tersenyum ke arah Alan yang sedang fokus menyetir. " Aku tidak lelah Mas. Mungkin Mas yang akan lelah menyetir sendiri dengan jarak yang cukup jauh. Tapi jika Mas ingin beristirahat, cari saja tempat. Tidak usah terburu-buru. " ucap Kiara
Alan membalas senyuman Kiara sambil mengangguk. Entah kenapa jantung Alan selalu berdegup kencang saat melihat wajah cantik Kiara.
Apa benar Alan mulai mencintai Kiara? Atau ini hanya rasa suka sesaat? entahlah! Alan hanya akan mengikuti jalannya waktu dan takdir.
7 jam perjalanan dari tempat tinggal Kiara menuju Desa ayahnya. Akhirnya Kiara dan Alan sampai di tempat tujuan.
"Ki, kau yakin ini desanya? " tanya Alan saat melihat kondisi Desa yang Sepi.
Kiara mengangguk. " Iya Mas, Mama yang memberitahukan nama Desa ayah. " jawab Kiara.
"Tapi sepertinya desa ini Sepi. " ucap Alan lagi
"Kata Mama desa ini memang penghuninya sedikit, anak muda disini kebanyakan pergi ke kota untuk mencari nafkah ataupun melanjutkan pendidikan. Dan Mas bisa melihat kan, Desa ini masih asri. " ujar Kiara
Alan mengangguk setuju, Desa itu memang terlihat sangat asri nan indah. Belum tergerus jaman yang sudah sangat modern ini.
"Lalu kita kemana sekarang? " tanya Alan
"Mas berani meninggalkan mobil Mas disini? " tanya Kiara
"Hmmm, tentu. Tapi sebaiknya kita mencari penginapan saja dulu. " ujar Paris.
Ia takut tidak bisa mencari penginapan saat hari mulai gelap.
"Ohhh ya, kata Mama di ujung jalan itu ada satu penginapan. Kita coba pergi kesana saja. " ujar Kiara sambil menunjuk arah jalan yang di maksud.
Alan mengangguk, keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi ke arah yang di tunjuk Kiara. Dan benar saja, disana ada sebuah penginapan yang cukup bagus. Mungkin memang disediakan untuk tetamu yang berkunjung dan ingin menginap di desa itu.
"Permisi pak. " Sapa Alan saat melihat seorang pria tengah membersihkan halaman.
"Ia den, ada yang bisa saya bantu? " tanya si bapak.
"Kami dari Kota A, kami kesini ingin menginap beberapa hari. Apa ada kamar kosong? " tanya Alan.
"ohhh iya Den ada. masih ada sisa 4 kamar Den. " ucap si bapak
"Kalau begitu saya pesan dia yang Pak. "
Si bapak menoleh ke arah Kiara lalu tersenyum. " Kenapa dua Den, bukannya ini istri aden? "
"Ohhh, bukan pak. Dia adik sepupu saya. " jawab Alan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ohhh begitu, baiklah den. Mari silahkan masuk. "
Si bapak langsung menunjukan kamar yang tersisa disana. memang benar ada beberapa kamar yang sudah terisi, mungkin itu tamu pengunjung desa.
"Banyak juga yang berkunjung ya pak. " ucap Alan saat melihat kamar banyak yang terisi.
"Panggil Mamang saja Den, nama saya ujang. "
"Ohhh, iya Mang. " ucap Alan
"Desa ini memang sepi den, tapi lumayan banyak pengunjung yang datang kesini. Mereka ingin melihat air terjun yang ada di ujung bukit sana. " ujar Ujang
"Dan aden beruntung datang kesini saat pengunjung tidak terlalu ramai. Karena jika sangat ramai mungkin aden tidak akan kebagian kamar. "
"Memang penginapan disini hanya ini saja mang? " tanya Kiara
"Iya neng, cuma ini saja. " ujar ujang.
"Ohhh ya den, jadi mau kamar yang mana? " tanya ujang
"Yang ini sama itu saja mang, biar dekat. " ujar Alan memilih kamar yang berdekatan.
"Baik Den, kuncinya sudah ada disana. silahkan beristirahat ya non, den. Mamang lanjut bersih-bersih duluan. "
Kiara dan Alan mengangguk. Mereka lalu masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Kiara yang lelah akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tapi fikirannya masih melayang kemana-mana.
"Yah, Kiara datang. Semoga ayah masih ada disini. "
.
.