This Love

This Love
Firasat



Hari ini hari ke 5 Kiara berada di rumah sakit. Kiara juga sudah mengundurkan diri dari cafe tempatnya bekerja. Kiara ingin fokus merawat ayahnya meski ia tidak tau sampai kapan.


clak..!


Pintu ruang ICU terbuka, terlihat Alan masuk dengan jas kebanggaan nya.


"Kau sudah makan? " tanya Alan mendekati Kiara


"Hmmm." jawab Kiara mengangguk tanpa menatap suaminya


Alan menghela nafas panjang, beberapa hari ini Alan tidak pernah lagi melihat senyum istrinya itu. Bahkan Kiara sangat jarang berbicara kepadanya.


"Mas mau pulang sebentar untuk mandi, jika perlu sesuatu telpon saja Mas. Akan Mas belikan. " ujar Alan


Kiara mengangguk tanpa melihat ke arah Alan. Alan pun pergi meninggalkan Kiara untuk pulang.


Di perjalanan Alan selalu memikirkan kondisi istrinya itu, beberapa hari ini Kiara semakin murung, bahkan ia juga tidak mau makan. Alan khawatir jika istrinya akan sakit jika terus seperti ini. Sesampainya di rumah Alan membersihkan tubuhnya, ia cukup lama berada di dalam kamar mandi dan pada akhirnya keluar juga.


Alan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil, saat ia menatap ponselnya ia memiliki ide lalu langsung menyambar ponselnya.


Alan mengubungi Paris dengan cepat.


"Halal Al, ada apa? " tanya Paris di sebrang sana.


"Apa lo sibuk? " tanya Alan


"Tidak. Ada apa? " tanya Paris


"Begini Ris, belakangan Ini Kiara sangat murung, bahkan ia juga tidak mau bicara. Makanpun dia sangat sulit, aku takut dia sakit karena terlalu larut dalam kesedihan. " ucap Alan


"Lalu apa yang bisa aku bantu? " tanya Paris


"Bisakah kamu menemui Kiara untuk memberinya pengertian, setidaknya dia harus menjaga kondisinya agar terus bisa menjaga Ayah. "


Paris menghela nafas panjang."Jika Lo gak keberatan, gue akan melakukannya dengan senang hati. Karena gue juga udah berjanji akan menjaga Kiara pada tante Adel. " ucap Paris


"Aku sama sekali tidak keberatan Ris, dan aku ucapkan Terimamasih. Maaf jika aku merepotkanmu lagu. " ucap Alan


"Hmmmm, tidak masalah. Kapanpun lo membutuhkan bantuanku, aku akan selalu siap. Kalau begitu aku tutup telponnya. " ucap Paris.


Paris meletakan ponselnya saat Quinn datang mendekatinya.


"Kenapa dengan wajahmu? apa ada masalah? " tanya Quinn


Saat ini Paris sudah membuka hatinya, ia sudah 100% menutup hati untuk Kiara. Ia sudah iklas dengan jalan takdir dan menganggap Kiara sebagai adiknya sendiri.


Paris bangkit dari tempatnya duduk, ia memutari badan Quinn dan memeluk gadis itu dari belakang dan meletakan dagunya di pundak mulus Quinn.


"Apa boleh aku bertanya? " ucap Paris.


"Hmmm, ada apa? " tanya Quinn sambil menggenggam tangan Paris yang melingkar di perutnya.


"Apa kau sangatt mencintai ku? "


"Tentu saja. " jawab Quinn


"Apa kau percaya padaku? "


"Hey, sebenarnya ada apa denganmu? aku jadi curiga. " ucap Quinn


"Aku sudah memutuskan untuk melindungi Kiara sebagai adikku sendiri. Aku juga sudah bersumpah di depan makan mama Kiara jika aku tidak akan pernah meninggalkan dia saat ia mendapat kesulitan. " Paris menjeda ucapannya dan Quinn hanya mendengarkan dengan diam


"Tadi Alan menelpon ku, dia mengatakan jika Kiara semakin murun dan bahkan tidak mau makan. Alan ingin aku membantunya untuk membuat Kiara lebih baik. " lanjut Paris


Quinn mengerti maksud Paris, ia tau jika Paris pasti menyangka jika dia akan cemburu dan marah.


Quin menangkup wajah pria yang sebentar lagu akan sah menjadi suaminya itu. Quin sedikit berjinjit lalu mencium bibir Paris dengan sedikit *******. Parsi yang tidak mungkin menolak menerima aksi calon istrinya hingga keduanya tidak sadar sampai hampir kehabisan nafas.


"Aku mencintaimu, dan aku percaya padamu. Kiara sudah menikah dengan Alan, dan aku percaya jika Alan sudah membuat keputusan maka itu yang terbaik. Aku juga bisa mengerti kesedihan yang Kiara rasakan, takut akan kehilangan lagi. Maka pergilah sayang, bantu dia sebagai kakak yang baik. Aku akan sangat senang jika Kiara bisa tersenyum lagi." ujar Quin.


greppp


Paris menarik Quinn ke dalam pelukannya. Ia sungguh beruntung mendapatkan calon istri yang begitu baik dan pengertian.


"Terimakasih sayang, aku memang sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu. " ucap Paris penuh harus


"Hmmm, tentu saja. Kau saja yang bodoh baru menyadari nya. " ucap Quinn sambil terkekeh


"Iya aku memang bodoh, bahkan sangat bodoh. " ucap Paris sambil mengeratkan pelukannya.


"Kapan kamu akan kerumah sakit? " tanya Quinn saat pelukan mereka sudah terlepas


"Besok pagi aku akan kesana untuk melihat kondisinya dulu, mungkin setelah pernikahan kita baru aku akan kesana lagi. " ucap Paris yang mendapat anggukkan dari Quin.


...****************...


Sementara itu Alan baru saja tiba di rumah sakit pukul 7 malam. Pria itu langsung ke ruangan Jaya untuk melihat istrinya. Tapi saat masuk ke dalam Alan tidak mendapati Kiara di dalamnya


"Dimana dia. " batin Alan


Alan mencari Kiara di setiap sudut ruangan tapi istrinya itu tidak ada. Sampai saat ia ingin keluar dan berbarengan dengan pintu ruangan itu juga terbuka.


"Ki, kamu darimana? kenapa tidak menunggu aku datang dulu. " tanya Alan sambil menutup pintu ruangan itu


"Aku hanya ingin mencari udara segar. " jawab Kiara.


"Apa kau lelah? kau bisa pulang untuk mandi dan beristirahat sejenak. Aku akan menggantikan mu menjaga ayah. " ucap Alan sambil duduk di sofa tidak jauh dari Kiara


"Baiklah, aku titip ayah. " ucap Kiara bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.


Alan menghala nafas panjang sambil matanya terarah pada tubuh Jaya yang terbaring tidak berdaya. Alan sungguh kasihan kepada istrinya itu, tapi apalah daya Alan yang hanya seorang dokter dan bukan Tuhan yang bisa melakukan segalanya.


Selagi menunggu Kiara datang, Alan membuka ponselnya dan mencari beberapa bahan materi yang bisa ia pelajari untuk menambah wawasan. Itu juga Alan lakukan agar tidak bosan di ruangan itu sendiri tanpa ada yang bisa diajak mengobrol.


Kiara baru saja sampai di rumah Alan, mereka sudah pindah sejak tiga hari yang lalu. Rumah Alan cukup besar bahkan sangat besar bagi Kiara, rumah itu memiliki tiga lantai dan luas tanah sekitar 3000 meter. Sangat besar untuk ukuran tinggal yang hanya dua orang saja.


Kiara menghepas tubuhnya di tempat tidur, sambil meringkuk air mata gadis itu mulai menetes. Rasa sesaknya kembali datang, Kiara sungguh tidak sanggup jika harus kehilangan ayahnya.


Tapi entah kenapa beberapa hari ini ia selalu memimpikan Ibunya. Bahkan semalam Kiara bermimpi jika Ayahnya sudah bersama dengan ibunya dan berbahagia, Itu bagai sebuah Firasat untuk dirinya jika tidak lama lag ia akan kehilangan sang ayah. Tapi Kiara tidak ingin memikirkan itu, Karena jika Kiara memikirkan itu ia merasa beban di pundaknya bertambah. Ia bingung apa yang harus ia lakukan, apakah ia harus merelakan ayahnya. atau terus bertahan meski apapun asil akhirnya.


.


.


.