This Love

This Love
Pergi untuk selamanya



Kiara baru saja selesai mandi saat ponselnya berdering. Ia mengerutkan dahinya saat melihat 10 panggilan tak terjawab dari Alan dan Quin.


Dam.....!


mata Kiara melebar saat Ia mengingat Ayahnya.


"Jangan-jangan." batin Kiara.


Kiara segera memakai pakaian dengan terburu, tanpa memikirkan apapun Kiara berlari ke luar rumah tanpa alas kaki untuk mencari taksi. teriakan dari pelayanan pun tidak diindahkan oleh Kiara.


Kini Kiara sudah sampai di jalan raya, tapi sama sekali Ia tidak menemukan taksi. Kiara terus berlari sampai akhirnya Ia menemukan angkot yang mau mengantarkannya kerumah sakit.


Sampai di gerbang rumah sakit dengan dada bergetar Kiara masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ruangan ICU sang Ayah.


hos


hos


Kiara merasa nafasnya hampir habis, Ia menghentikan langkahnya saat tiba di depan ruang rawas Jaya. di depan sana sudah ada Paris, Diana, dan Juga Asya.


Dada Kiara semakin bergemuruh saat Paris mendekati dirinya.


Grep


Paris menarik Kiara ke dalam pelukannya.


"Mereka sudah berusaha keras Ki, tapi Tuhan berkehendak lain. " ucap Paris dengan suara serak.


Kiara terdiam, dia masih mencerna apa yang di katakan Paris. Sampai Ia melihat brankar keluar dari ruangan ICU, memperlihatkan seorang yang telah ditutupi kain putih.


Kiara melepaskan pelukan Paris, mendorongnya dengan perlahan. Kiara berjalan mendekat ke arah brankar itu dengan langkah lemah dan tatapan kosong.


Alan ingin mendekati istrinya itu tapi di tahan oleh Quinn. Gadis itu menggeleng, memperingatkan Alan agar membiarkan Kiara.


Tangan Kiara gemetar saat ia mulai membuka kain yang menutupi tubuh yang sudah terbujur kaku.


Saat wajah Jaya terlihat, seketika Kiara berteriak. Kakinya lemas melihat semua itu.


"Aaaaa.... hiks. Ayahhhhhh. " teriak Kiara


"Kenapa ayah pergi ninggalin Kia yah, kenapa. Apa ayah sudah tidak sabar bertemu Mama? Apa Ayah tidak ingin melihat Kia bahagia. Kenapa yah, kenapa. " teriak Kiara


Asya mulai mendekati Kiara, Ia menarik Kiara ke dalam pelukannya.


"Tenanglah Kia, ini sudah jalan takdir. Kiara tidak bisa menyalahkan yang sudah di suratkan hyang kuasa. " ucap Asya sambil mengelus rambut Kiara lembu


"Tapi kenapa Bi, kenapa Semua yang Kiara sayangi harus di renggut dari Kiara. Apakah Kiara tidak pantas bahagia? apakah Kiara ini pembawa sial. hiks. " ucap Kiara di sela tangisannya.


"Astaga, istighfar nak. Kamu tidak boleh bicara seperti itu, sekarang kuatkan hatimu. Ayahmu pasti sangat sedih melihat kamu seperti ini, antarkan beliau dengan hati yang lapang nak. Beliau pasti sudah bahagia disana. Beliau pergi setelah bertemu denganmu dan bisa meminta maaf atas kesalahannya dulu padamu dan ibumu." ucap Asya


Alan mendekat, Ia menepuk pundak istrinya.


"Tenangkan dirimu Ki, Mas akan mengurus pemakaman Ayah. " ucap Alan.


"Ma, titip Kia ya. Paris akan membantu Alan. " ucap Paris


Asya mengangguk, Ia lantas membawa Kiara pulang untuk menenangkannya sekaligus mempersiapkan pemakaman Jaya .


"Ki, lo yang sabar ya. Gue juga sangat sedih atas kepergian bokap lom" ucap Dian sambil memeluk Kiara.


"Terimakasih Di, terimakasih karena lo selalu ada di samping gue selama ini. " ujar Kiara


"Hmmm, gue akan selalu ada buat lo kapanpun lo membutuhkan. " ucap Dian.


Mereka berdua saling berpelukan, saat Amel tiba di rumah Duka. Gadis itu berlari ke arah Dian dan Kiara dan langsung memeluk keduanya


"Ki, gue turut berduka cita. Maaf kalau gue gak ada di samping lo di saat lo susah seperti inu. " ucap Amel sambil menangis.


Ia tau pasti Kiara sangat terpukul atas kepergian ayahnya.


"Gak apa-apa Mel, sekarang kalian ada disini. Itu udah membuat gue sedikit lebih tenang. " balas Kiara


waktu pemakaman tiba, setelah almarhum selesai di sholat kan. Semua puan beranjak membawa Almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Kiara meminta agar Ayahnya di makamkan di sebelah Ibunya, dan disini lah mereka sekarang.


Kiara tidak berhenti menangis saat peti Zenajah mulai tertutup tanah. setelah semua selesai para pelayat pun berpulangan.


Tinggallah Kiara, Alan, Paris, Quin, Dian dan Amel disana.


"Hiks... Ayah pasti sudah bahagia disana kan. Ayah juga pasti sudah bertemu Mama. Kalian pasti sangat bahagia Disana.. Hiks. "


"Sekarang Ayah sudah tidak merasakan sakit lagi. maafkan semua kesalahan Kiara Yah, maafkan Kiara yang terlambat menemui Ayah. Maafkan Kiara yang terlalu lama membenci Ayah. Maafkan Kiara yah. " ucap Kiara sambil berurai air mata.


Semua disana hanya terdiam, mereka ingin Kiara puas melakukan apapun yang ingin Ia lakukan. Rasa sakit yang Ia rasakan tidak akan ada yang bisa mengerti, mungkin hanya dia yang bisa merasakannya.


Tiba-tiba tubuh Kiara oleh


Bruk


gadis itu terjatuh dan pingsan. Alan dan yang lainnya panik dan segera membawa Kiara ke rumah sakit terdekat.


Alan menggendong Kiara sambil berlari menuju mobilnya. Semua mengikuti mobil Alan sampai di rumah sakit.


"Suster, tolong istri saya. " Teriak Alan saat tiba di rumah sakit.


sementara itu Amel yang tidak mengetahui apapun terkejut dengan ucapan Alan.


"Istri." ucap Amel sambil menatap Dian meminta penjelasan.


"Gue ceritain nanti. " ucap Dian yang mengerti maksud Amel menatapnya.


Kiara di masukan ke ruang IGD, beberapa dokter sudah menangani Kiara.


"Keluarga Pasien Kiara Andini. " panggil dokter yang menangani Kiara


"Saya suami nya dok. " ucap Alan mendekat


"Nona Kiara baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan juga asupan dalam tubuhnya sangat kurang. Saya sarankan agar beliau di opname sampai kondisinya membaik. " ucap dokter yang tag namenya Fiko.


"Baik Dok, silahkan lakukan yang terbaik. " ucap Alan.


"Tolong isi formulir dulu pak. " ucap Fiko


Alan mengangguk, Ia lalu bergegas mengisi formulir yang ada. Tapi sayangnya Ia tidak tau identitas istrinya dengan lengkap.


Paris yang melihat kebingungan Alan pun mendekati pria itu.


"Biar aku bantu mengisinya. " ucap Paris


Alan menatap Paris lalu mengangguk. Ia tidak cemburu karena Alan mengerti jika Paris dan Kiara sudah bersama cukup lama.


"Perlahan kau akan mengenalnya, jadi bersabarlah. Mungkin setelah ini perjuanganmu akan lebih berat. " ucap Paris sambil menepuk pundak Alan.


Alan mengerti maksud Paris dan Ia tidak tersinggung. Alan menyelesaikan administrasi nya lalu menyusul Kiara dan semua orang di ruang perawatan Kiara.


Setelah Alan kembali. Paris, Quin, Dian dan juga Amel berpamitan. karena lusa adalah hari pernikahan Paris dan Quinn. Alan meminta maaf karena mungkin tidak bisa menghadiri pernikahan mereka.


"Semoga acaranya lancar dan langgeng sampai maut memisahkan kalian. " Doa Alan


"Terimakasih Al. Semoga Kiara juga cepat pulih, saat dia siuman titip salam kami kepadanya." ucap Quin.


"Jaga adikku baik-baik, dan kabari kami saat Kiara sudah siuman. " imbuh Paris


"Hmmm, itu pasti. " ujar Paris.


"Kami pergi dulu, jaga diri baik-baik dan cepat kembali. " ucap asya yang lansung di angguki Alan.


"Jaga sahabt kami baik-baik, dan cepat bawa dia pulang. " ucap Amel ketus.


"Tentu." balas Alan


"Kita pamit ya kak. " ucap Dian.


Alan mengangguk. Setelah semua pergi Alan masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia duduk di kursi tepat di depan Kiara.


Tangan Alan mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Cepat siuman Sayang. Aku akan selalu melindungi mu dan berada di sisimu apapun yang terjadi. " ucap Alan lalu mencium pucuk kepala Kiara.


.


.


...----------------...


Terimakasih Atas doa dan dukungan kalian. Author akan mencoba terus bersemangat untuk bisa update setiap hari. 😊🙏