This Love

This Love
Bagian Lima



Surat pernikahan kontrak antara bara chaiden dan dara zeroun.




Pernikahan akan berlangsung selama satu tahun.




Pihak kedua mengurus pihak satu dan pihak satu akan menjaga pihak kedua.




Terlihat mesra di depan publik dan keluarga.




Dara kembali membaca surat kontrak itu kembali dikamarnya sekarang. Ia melempar surat itu di atas kasur .


Dara berjalan membuka kaca jendela besar yang menghubungkannya dengan balkon kamarnya. Dara menghela nafasnya . Lalu menatap langit yang berwarna hitam kelabu yang bertaburan bintang. Ia memejamkan matanya merasakan terpaan angin yang menabrak tubuh mungilnya yang berbalut kemeja putih yang kebesaran milik bara rambutnya pun ikut menari nari bersamaan dengan angin .


Dara tidak menyadari bahwa ada sepasang mata hazel yang memperhatikannya dari tadi .


"Hey! Kau sedang apa malam malam berada diluar kamar mu. Masuk lah nanti kau sakit".


Dara membuka matanya . Lalu menghadapkan kepalanya ke sumber suara .


"Bukan urusanmu". Jawab dara dengan jutek


"Masuklah atau aku akan pergi kekamarmu, lalu aku menarikmu kedalam kamarmu dan... kita akan melakukannya malam ini juga". Kata bara dengan jahilĀ 


Dahi dara berkerut.


"Melakukan apa?".


"Kau taukan bila lelaki dewasa dan wanita dewasa berada didalam kamar berdua mereka akan melakukan apa?".


Dara menaikan alisnya secara tidak langsung ia berkata 'apa maksudmu?' . Sungguh ia tak tau kemana arah pembicaraan ini.


Bara menghela nafas.


"Bergulat di kasur . Lalu wanita akan berkata ahh... ini sangat ini nikmat". Kata bara dengan suara meniru wanita merintih.


Dara membulatkan matanya.


"Dasar kau... tuan me.su.m". Lalu berlari kecil menuju arah kasurnya . Sampai sampai ia lupa menutup jendelanya.


.


.


.


Bara prov


Aku berdiri di atas balkon seraya menatap lurus kedepan .


Entah kenapa semenjak kejadian april mop itu aku terus memikirkanmu Wanita mungil yang sekarang akan menjadi calon istri kontrakku . Aku bersumpah aku tidak ingin menjadikanmu wanita kontrakku. Mungkin pada saat april mop itu aku adalah laki laki brengsek bagimu , sungguh itu hanyalah tantangan dari teman temanku aku tidak berniat sedikit pun menyakitimu. Setelah april mop itu kamu menjauhiku jujur merasa sangat bersalah , sekarang akan ku tebus rasa bersalah itu sekarang.


Krek


Perlahan jendela besar itu terbuka . Lalu kau keluar dengan anggun menuju balkon kamarmu . Aku sengaja menaruh kamarmu di samping kamarku agar aku bisa memantaumu .


Aku terpaku melihatmu memakai kemeja kerjaku yang kebesaran itu . Kau sungguh sangat menggoda dibawah sinar bulan. Kau cantik dan.... seksi .


Aku menatap pergelangan tanganku yang berbalut jam mahal ini menunjukan angka 23.25 . Mengapa ia belum tidur? angin malam tidak baik untuknya.


"Hey! Kau sedang apa malam malam berada diluar kamar mu. Masuk lah nanti kau sakit". Kataku


Dia membuka matanya . Lalu menghadapkan kepalanya ke arahku .


"Bukan urusanmu". Jawab dara dengan jutek


Terbesit niatan jahil di kepalaku


"Masuklah atau aku akan pergi kekamarmu, lalu aku menarikmu kedalam kamarmu dan... kita akan melakukannya malam ini juga". Kataku


Ia mengerutkan dahinya.


"Melakukan apa?".


"Kau taukan bila lelaki dewasa dan wanita dewasa berada didalam kamar berdua mereka akan melakukan apa?".


Aku menghela nafas.


"Bergulat di kasur . Lalu wanita akan berkata ahh... ini sangat ini nikmat". Kataku meniru suara wanita keenakan.


Ia membulatkan matanya. Sudah mengertikah dia (?).


"Dasar kau... tuan me.su.m". Lalu ia berlari kecil masuk kedalam kamarnya . Sampai sampai ia lupa menutup jendelanya. Dasar ceroboh .


Eh tunggu dia bilang aku tuan mesum? Haha dasar wanita ceroboh. Ia yang membuatku tergoda . Hey... ayolah aku masih normal .


*


Aku terbangun dipagi hari kerena mencium wangi masakan . Siapa yang memasak makanan pagi pagi seperti ini? Atau jangan jangan ada maling yang menumpang masak di rumah ku .


Aku berdiri lalu mengambil stik baseball ku ini . Dan jalan perlahan menuruni anak tanggan dan berjalan menuju arah dapur.


"Malinggggg........" . Teriakku


"Aww....". Eh tunggu itukan sura dara . Oh ya dasar bara kau ***** sekali kau kan sekarang tinggal bersama dara . Aku menjatuhkan stik baseball ku


"Aww... sakit". Rintihnya . Dia kenapa aku kan gak memukul nya pake stik baseball .


Aku menghampirinya . Ku melihat darah di jemarinya .tangannya tergores pisau karena aku . Untuk kedua kalinya aku membuat dia terluka .


Aku mematikan kompornya lalu menuntunnya duduk di meja pantrie . Dan aku pergi mengambil kotak p3k . Dan mengobati luka di jari nya.


"Aw... pelan pelan bara ini sakit".


" maaf". Kataku tulus dan menetesi obat merah di jarinya


"Kalau kamu gak teriak maling aku gak akan kayak gini". Ocehannya


"Aku tau aku salah tapi aku gak segaja. Serius deh".


"Yasudah gakpp ". Ucapnya dengan tulus.


"Semudah itukah dia memaafkanku?". Tanyaku penasaran . Jansen saja tidak akan semudah ini memaafkan aku sebelum aku membelikannya barang mewah


Dia menaikan alisnya.


" baiklah... aku berubah pik..."


"Ehh... tunggu tunggu. Oke oke kau memaafkanku". Celah ku memotong perkataannya.


"Jadi kau sedang memasak apa? Biar ku bantu". Tanyaku padanya


"Kau bisa memasak?". Tanyanya, jadi dia meremehkanku ya .


"Jadi selama ini aku makan bagaimana?".


Aku berdiri lalu melanjutkan masakan milik dara . Dara menghampiriku .


"Biar aku saja ". Pintanya


"Duduk lah ,jarimu kan masih sakit".


"Kan hanya satu ja...".


" gak ada bantahan". Kataku sudah final.


*


"Tada... nasi goreng ala chef bara sudah siap". Kata ku meniru chef ala ala di TV.


Aku meletakan masakanku dengan bangga di hadapan wanitaku.


"Masakkanmu? Kau hanya melanjutkan masakanku". Katanya membenarkan perkataan ku .


"A..apa". Kataku tidak percaya


Aku menghela nafas dan berkata "makanlah siapa yang memasak itu tidak penting".


Ia mulai memakan nasi goreng itu. Aku memperhatikan bibirnya yang sedang mengunyah itu. Apakah rasa bibirnya manis?. Aku meneguk salivaku dengan susah payah. Tahan bara tahan .


"Apa yang kau lihat. Makan makananmu". Katanya dengan judes .


"Ah... tidak ada". Kataku tergagap gagap.


kami melanjutkan makanan kami dengan hening yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring.