The Thistle

The Thistle
8 - Whim Dingin



FayLinn merasa kebebasannya mulai terpenjara. Baru


saja dia menikmati menunggangi BirdNerd ZinLinn yang kini menjadi miliknya,


kini dia tidak lagi berangkat sekolah. Ayahnya meminta Guru LouElla mengajarnya


di rumah. Beberapa guru lain juga datang bergantian, tapi tidak sesering


LouElla. Tentu saja LouElla dengan senang hati mendatangai rumah WinkGef.


Setiap hari dia mendapatkan whim Rouya Hijau untuk makan siang. Dan yang


terutama adalah sapaan ramah WinkGef yang semakin mempesona dirinya.


”Bu Lou, kapan aku boleh naik BirdNerd ?” keluhnya


mulai bosan dengan tugas-tugas yang diberikan LouElla.


Ruangan belajarnya yang luas dan hanya berisi


dirinya dan LouElla membuatnya semakin tidak betah. Apalagi jendela besar


ruangannya di lantai dua itu, tepat berhadapan dengan dahan Pohon Rouya Hijau


di depan rumahnya tempat BirdNerd-nya sedang bertengger.


”Lihat, dia sudah menungguku, ” seru FayLinn


seraya menunjuk ke luar jendela.


LouElla mendekati jendela, dan menutup daun


pintunya.


”Kau hanya ingin bermain FayLinn. Ingat, semester


ini kau harus memperbaiki nilaimu. Tentunya kau tidak ingin ayahmu


menyekolahkanmu di rumah selamanya kan ?”


FayLinn menggeleng.


”Nah, sebaiknya kerjakan semua tugas dengan baik. Setelah


selesai, ada guru lain yang akan menggantikan Bu Lou. ”


FayLinn menutup bukunya dengan kesal. Dia bangkit


dari duduknya dan menuju pintu.


”FayLinn ! Selesaikan tugasmu lebih dulu !”


”Aku mau makan dulu. ”


”Belum waktunya makan !” ucap LoElla tegas seraya


berkacak pinggang, ”kau bisa makan whim di sudut sana.”


FayLinn meoleh ke sudut ruangan. Ada dua mangkok


whim di sana. Untuknya dan untuk LouElla.


”Tapi aku mau whim dingin !”


LouElla melangkah mendekati FayLinn yang sudah


siap membuka pintu.


”FayLinn, tidak ada whim dingin. Kau sendiri yang


mengatakan kalau yang bisa membuat hanya ibumu.”


Sebuah ketukan terdengar cukup keras di pintu.


LouElla menatap FayLinn tajam, mencegahnya membuka pintu. Tapi sejurus


kemudian, pintu dibuka dari luar. Seraut wajah asing bagi LouElla, muncul


dengan senyum manisnya.


”Nona SpiiTaim...” ucap FayLinn spontan. Dia


merasa diselamatkan dari LouElla, walau sang penyelamat bukanlah orang yang


diharapkannya.


”Siapa anda ?” tanya LouElla berusaha menunjukkan


wibawanya, ”maaf, saya dan FayLinn ...”


”SpiiTaim Birch. Aku teman FayLinn. ”


”Dia bukan temanku !” sahut FayLinn, ”dia teman


ayah.”


Kening LouElla berkerut, semakin menampakkan usia


dia sebenanya. Dipandanginya sosok SpiiTaim, sosok mempesona seorang gadis


bangsawan. Rambut hijau mengkilatnya tergerai sampai hampir menyentuh tumitnya.


Sepertinya, rambut benar-benar andalannya kali ini. Di telinganya tersemat


bunga berkelopak satu. Bau harumnya sangat dikenali LouElla. Hanya para gadis


yang suka menyematkan bunga berkelopak satu di telinganya. Seolah menunjukkan


pada Zinnia, dia sedang mendamba pasangan hidup.


”Jadi, anda teman Tuan Sprout ? Ada keperluan apa


anda mencari FayLinn. Anak ini sedang belajar.”


”Aku hanya ingin menyapa dia, ” sahut SpiiTaim


ramah, ”aku merasa tidak nyaman bila berkunjung ke sini dan tidak menyapa dia.



”Jadi, anda sering berkunjung ke sini,


Nona Birch ?” tanya LouElla penuh selidik.


Sepasang matanya tak henti mengamati SpiiTaim dari


ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya menderu, merasa mendapat pesaing di


rumah mewah ini. Ciut hatinya melihat kenyataan bahwa SpiiTaim lebih muda dan


cantik. Dan juga bangsawan.


”Aku membawakanmu bunga Tier, sayang, ” ucap


SpiiTaim seraya mengulurukan sekuntum bunga Tier berwarna merah cerah.


”Anda dari Nerdia Selatan. ”


”Tentu saja. Bunga Tier hanya tumbuh di sana. Wah,


bu guru ternyata orang yang sangat pintar. ”


LouElla mendengus. Dia tahu kalimat itu bukan


kalimat pujian.


FayLinn menyambar bunga Tier dari tangan SpiiTaim,


lalu menerobos di antara kedua wanita di hadapannya. Berlari menuruni tangga


dengan tergesa. Sebuah kesempatan yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja.


Dan LouElla hanya mampu berteriak-teriak memanggilnya.


”Hm, aku permisi. FayLinn pasti sudah menungguku


bermain. Senang berkenalan dengan guru terbaik Akademi Nerdia, ” ucap SpiiTaim


seraya menundukkan kepaala, mulai terkesan arogan.


LouElla menutup pintu dengan kesal. Sementara


SpiiTaim tersenyum penuh kemenangan. Merebut hati FayLinn sama dengan merebut


hati WinkGef. Dan SpiiTaim tak akan membiarkan perawan tua seperti LouElla


melakukannya.


OoO


WinkGef hanya diam mendengar penuturan LouElla.


Bahwa dia merasa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik bila SpiiTaim


setiap hari mengunjungi FayLinn. SpiiTaim selalu punya seribu cara untuk


mengeluarkan FayLinn dari dalam ruangan. Entah itu mengirim pelayan, membuat


BirdNerd-nya berteriak-teriak, atau melemparkan kelopok-kelopak Tier ke dalam


jendela. Dan herannya, WinkGef tak pernah ada di rumah untuk memergoki hal itu.


”Saya tidak yakin Nona Birch sengaja melakukan hal


itu, ” sahut WinkGef.


Dia tahu, SpiiTaim wanita terhormat. Akhir-akhir


ini dia memang sering berkunjung ke rumahnya, itu pun tanpa sepengetahuan


WinkGef. WinkGef hanya mendapat laporan dari pelayan bahwa SpiiTaim telah


menemani FayLinn berkendara BirdNerd sampai sore, hampir setiap hari.


”Anda tidak melihatnya sendiri. Bahkan para


pelayan tidak ada yang bisa mencegahnya. FayLinn harus mengejar ketinggalan


nilainya. Tapi bila dia terus bermain, percuma saja Akademi mengirim saya ke


sini. Dan, sekedar mengingatkan saja, bahwa FayLinn pernah hilang dan anda


begitu sibuk mencarinya.”


WinkGef menatap LouElla.


”Baik, saya akan berbicara langsung pada Nona Birch



LouElla bernafas lega. Dari jendela besar ruang


kantor WinkGef, dia bisa melihat dua BirdNerd menukik turun di halaman depan.


WinkGef juga melihatnya, dan dia tersenyum.


”Tuan Birch memberi hadiah BirdNerd pada FayLinn,


untuk mengobati kesedihannya. Maka tidak heran bila Nona Birch berkenan


mengajari FayLinn mengendarai BirdNerd. Orang-orang Nerdia Selatan lebih piawai


mengendarai BirdNerd dari orang-orang kota Nerdia. Lagipula, Nona Birch yang


menolongnya saat dia menghilang hari itu, Bu LouElla. ”


LouElla mengangguk. Gadis bangsawan itu memang


pandai mencari kesempatan.


WinkGef keluar dari ruangan kerjanya, diikuti


LouElla. Mereka berjalan melintasi aula menuju pintu utama. SpiiTaim dan


FayLinn sudah turun dari BirdNerd.


”Bagaimana hari ini FayLinn ?” tanya WinkGef


menyambut mereka.


LouElla bisa melihat wajah gembira SpiiTaim


tatkala melihat WinkGef datang. Gadis itu langsung sibuk membenahi rambut hijau


mengkilatnya yang acak-acakan. FayLinn berlari ke pelukan ayahnya.


”Ayah, Nona SpiiTaim akan mengajariku cara terbang


di malam hari !” seru FayLinn senang.


”Oh ya ? Tapi gadis kecil tidak boleh keluar di


malam hari. ” sahut WinkGef seraya melempar senyum ke arah SpiiTaim. SpiiTaim


merasa di atas angin. Seraya melirik LouElla yang berdiri di belakang WinkGef


seperti seorang pelayan, dia pun melangkah dengan anggun mendekati WinkGef.


“Tuan Sprout,


maafkan bila saya mengganggu, “ ucapnya kemudian seraya membungkuk hormat,


membuat LouElla muak melihatnya.


“Tidak apa-apa,


Nona Birch. Saya baru tahu dari Bu LouElla bahwa anda sering mengajak FayLinn


keluar rumah saat pelajaran privatnya. Apa itu benar ?”


LouElla


tersenyum senang. WinkGef bukan tipe lelaki yang penuh basa basi, bahkan pada


wanita bangsawan sekalipun. Tapi bukan SpiiTaim namanya kalau tidak pandai


mencari akal.


“Maafkan saya,


Tuan Sprout. Tapi, FayLinn sangat gembira, jauh lebih gembira dari pertama kali


saya mengenalnya. Lagipula kami bermain setelah dia selesai menjalankan


tugasnya. Benar, kan Fay ?”


FayLinn


mengangguk-anggu. WinkGef agak terkejut mendengar SpiiTaim memanggil FayLinn


dengan nama Fay.


“Tidak ada yang


memanggil FayLinn dengan Fay, selain ZinLinn. Saya harap Nona mengerti, “ucap


WinkGef, nada bicaranya terdengar tegas, “dan mulai besok, FayLinn tidak lagi


bermain BirdNerd selain hari libur. Mengerti FayLinn ?”


FayLinn


menangguk. Dia melepas bunga Tier yang disematkan di telinganya dan


menyematkannya di telinga ayahnya.


“Ayah, kata


kakek, dulu ibu suka memakai bunga Tier di telinganya. Kanan dan kiri. Apa ayah


tahu ?”


WinkGef


menggeleng. Dia menggendong FayLinn masuk ke dalam rumah, meninggalkan LouElla


dan SpiiTaim berdua.


“Lalu, darimana


ibumu mendapatkan bunga Tier ? Nerdia Selatan itu sangat jauh. Kamu harus


belajar hari ini.“


SpiiTaim


mengeluarkan dua bunga Tier dari kantong bajunya, lalu menyematkannya di kedua


telinganya. LouElla semakin muak melihatnya. Dia segera berbalik dengan langkah


panjang, mengikuti WinkGef dan FayLinn. Setidaknya dia sudah memenangkan hari


ini. Berhasil mengusir dan manjauhkan gadis itu dari FayLinn dan WinkGef.


OoO


Akademi Nerdia


tidak lagi ramah pada FayLinn. Teman-temannya enggan bergaul dengannya, hanya


karena rambutnya yang mulai memerah. SpiiTaim berkali-kali menawarkan merawat


rambut FayLinn, tapi FayLinn menolak dengan keras. WinkGef tak bisa memaksanya


lagi untuk datang ke tempat perawatan rambut NixWatt. FayLinn masih saja takut


melihat NixWatt.


“FayLinn,


sebenarnya aku ingin bermain bersamamu. Tapi ibuku melarang, “ ucap salah


seorang temannya.


sedang bermain ayunan diam saja. Beberapa anak datang lagi mendekatinya. Tapi


tak ada yang mau benar-benar mendekat. Mereka seolah jijik melihat rambutnya


yang mulai kemerahan. Seperti rambut para petani dan pekerja perkebunan.


“FayLinn, apa


kamu tidak pernah merawat rambutmu ?”


FayLinn


menggeleng.


“Mengapa kamu


tidak meminta ibu baru pada ayahmu ?”


“Aku tidak mau


ibu baru !” ucap FayLinn, mulai ketus.


“Lalu, kau akan


membiarkan rambutmu memerah seperti para petani ?”


“Biarkan, aku


tak peduli, “sungut FayLinn.


Teman-temannya


saling berpandangan.


“Kami tidak mau


berteman lagi denganmu, FayLinn !”


“Iya, ibu kami


melarang berteman dengan orang-orang berambut merah. Biasanya mereka kasar !”


FayLinn


meninggalkan ayunannya. Hatinya sungguh kesal pada teman-temannya. Tidak


dihiraukannya panggilan mereka.


“Mungkin kami


mau berteman denganmu bila kamu membawa whim dingin lagi !”


FayLinn tidak


peduli. Dia berlari menuju gedung Akademi. Tempat yang ditujunya adalah


perpustakaan. Satu-satunya tempat di mana dia tidak akan menemui teman-temannya


yang cerewet. Hanya Tuan Destyn orang yang selalu menyambutnya dengan senyum


ramah.


Dan seperti


perkiraannya, DesTyn langsung menghulurkan buku Thistle padanya.


“Buku


kesayanganmu, “ ucap DesTyn.


“Tuan DesTyn,


maukah kau menemaniku membaca ?”


DesTyn


mengangguk dan mengambil sebuah kursi dengan ukiran sulur Nerdia. Mereka duduk


berdampingan. FayLinn membuka lembar demi lembar buku Thistle dan DesTyn


membacakan beberapa paragraf.


“Thistle adalah kebijaksanaan. Seluruh Zinnia


sangat menghormati dia. Karena dia, Rouya tetap tegak dan memancarkan cahaya


Bintang Memra di malam hari. Tunas-tunas muda Rouya dan sulur-sulur indahnya,


senantiasa mendambakan Thistle dan kebijaksanaanya.”


“Tuan DesTyn,


apa aku boleh bertanya ?”


“Silahkan Nona


manis, apa saja boleh kautanyakan padaku. “


“Apa Tuan DesTyn


pernah melihat Thistle ? Seperti apa dia ?”


DesTyn diam. Dia


menerawang. Pertanyaan sulit, tapi harus dijawabnya. Beberapa orang Nerdia,


katanya pernah melihat Thistle. Tapi tak ada yang bisa membuktikan keberannya.


“Dia seorang


yang bijaksana. Seorang Zinnia murni. Rambutnya putih dan dia suka makan Rouya


Biru. “


“Itu ada di Bab


I. Aku bertanya apa kau pernah bertemu dengannya ?”


DesTyn


menggeleng.


“Jika Thistle


itu bijaksana dan rambutnya putih, kakekku pasti seorang Thistle. Apalagi dia


suka makan Rouya Biru.”


DesTyn terkekeh.


Setiap anak Nerdia pasti beranggapan kakeknya adalah Thistle. Dan herannya, para


kakek pun sering berdandan ala Thistle. Berambut putih, dan menunggangi


BirdNerd putih. Tapi kebiasaaan itu biasanya tak bertahan lama. Terutama bila


sang cucu memintanya makan Rouya Biru.


“Hm, pasti


kakekmu orang yang sangat sehat dan kuat. Rouya Biru sangat bagus untuk


kesehatan.”


“Tentu saja


kakek orang yang sangat kuat. Dia bisa terbang dari rumahku ke Hutan Rouya Biru


tanpa berhenti. Dia orang yang sangat hebat. “


“Hmm, apa lagi


kehebatan kakekmu ?”


DesTyn menatap


mata bulat FayLinn. Anak itu mulai kelihatan cerah wajahnya saat bercerita


tentang kakeknya. Kemurungannya saat memasuki perpustakaan telah lenyap dengan


cepat. DesTyn pun tak ingin membuat gadis itu kembali gundah. Maka,


dibiarkannya FayLinn bercerita tentang kakeknya.


“Kakek juga bisa


membuat whim dingin. Tapi bukan whim dingin seperti yang dibuat ibuku. Apa tuan


DesTyn pernah memakan whim dingin ?”


DesTyn


menggeleng. Sepertinya, celotehan FayLinn mulai menarik.


“Lalu ?


Bagaimana kakekmu membuatnya ?”


“Sst… ini


rahasia. “


DesTyn melirik


ke sekeliling perpustakaan. Sepi, tidak ada orang. FayLinn tidak ingin ada


orang lain mendengar ceritanya tentang whim dingin.


“Hm, kenapa


harus rahasia ? Bukankah kau membagi whim dingin dengan teman-temanmu ?”


“Iya. Aku hanya


ingin mereka mencicipinya. Tapi mereka terus meminta. Karena, ibu mereka tidak


ada yang percaya bahwa ada whim dingin. “


“Apa aku harus


percaya ?”


FayLinn menatap


DesTyn. Lelaki itu sebaya kakeknya.


“Ya, Tuan DesTyn


harus menjaga rahasia ini. Nanti akan aku perkenalkan Tuan dengan kakekku. “


DesTyn


mengangguk-angguk. FayLinn mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantongnya. Dia


membukanya perlahan. Sepotong whim merah.


“Kau selalu


membawa whim merah ?”


FayLinn tidak


menjawab. Diletakkannya sepotong whim merah itu di telapak tangan DesTyn.


“Semula kakek


tidak tahu cara membuat whim dingin. Lalu aku memberitahu dia cara yang biasa


ibu lakukan. Setelah itu, dia mengajariku. Seperti ini. “


FayLinn


mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna biru. Pasta Rouya Biru. Lalu


menuangkannya di telapak tangannya sendiri. Cairan kental itu meleleh di


sela-sela jarinya. Destyn hampir saja tertawa melihat tingkah FayLinn. Dia


merasa sedang meladeni anak bodoh yang mencari perhatian. Tapi, sejurus


kemudian dia hanya bisa memelotokan matanya. Perlahan, cairan itu mengeluarkan


asap dan mulai mengental. Seluruh telapak tangan FayLinn mulai membiru. DesTyn


mulai merasakan hawa dingin di sekeliling tangan FayLinn.


“Lihat, aku


sudah bisa. “


DesTyn menatap


FayLinn tak percaya. FayLinn menuang pasta Rouya Biru kental itu ke atas whim


merah di telapak tangan Destyn. Pasta dingin itu perlahan meresap dan merubah


warna whim merah menjadi kebiruan. DesTyn merasa tangannya mulai dingin.


“Sudah jadi,


silahkan dimakan !”


Dengan ragu,


Destyn mendekatkan whim merah itu ke mukanya. Mengendus-endus bau Rouya merah


bercampur Rouya biru.


“Tidak apa-apa.


Rasanya enak. “


FayLinn tanpa


ragu mengulurkan ujng telunjuknya dan mencicipi whim dingin di tangan DesTyn.


DesTyn mengamati FayLinn. Menikmati whim dingin itu dengan nikmatnya, sampai


lidahnya menjilati ujung telunjukknya. Gadis itu tak berhenti mencicipi hingga


whim dingin itu tinggal separuh.


“Kalau Tuan


DesTyn tidak suka, aku habiskan ya ? Tapi ini kurang enak. Nomer satu punya ibu


yang paling lezat, nomer dua buatan kakek. Punyaku nomer tiga. Hehehe.”


DesTyn menelan


ludah. Sejenak dia ragu untuk mencicipi. Rouya Biru terkenal pahit, dan Rouya


merah tidak begitu enak. Bagaimana anak bangsawan seperti FayLinn yang terbiasa


memakan Rouya Hijau yang nikmat itu bisa begitu menyukai padauan Rouya Merah


dan Biru ini ?


DesTyn akhirnya


mengambil sedikit whim di tangannya, untuk mencari jawaban atas pertanyaannya


sendiri. Memasukkan telunjukknya yang sudah dicolekkannya di whim dingin,


dengan hati-hati ke mulutnya. FayLinn berhenti makan, menanti reaksi DesTyn.


Air muka DesTyn mencerah. Dia sama sekali tak menyangka, kelezatan whim dingin


itu melampaui whim Rouya Hijau.


“FayLinn, ini


luar biasa. “


FayLinn


tersenyum. Sejurus kemudian, mereka berebut memakan whim itu sampai tandas. Bahkan


sampai remahan terakhir, DesTyn masih merasakan hawa dinginnya.


“FayLinn,


bagaimana kau bisa melakukanya ?”


FayLinn


mengangkat bahu.


“Entahlah. Kakek


yang mengajariku, tahu-tahu aku bisa. “


DesTyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba dia melihat sekelebat


bayangan di pintu perpustakaan yang sedikit terbuka. DesTyn bergegas mendekati


pintu. Sosok itu baru saja lenyap di ujung lorong. Ada orang yang sejak tadi mengintip mereka.


“FayLinn, sebaiknya kau segera pulang. Aku akan ke rumahmu nanti malam. Dan, jangan


bilang pada siapapun tentang Whim dingin lagi ya ?”


FayLinn mengangguk-angguk. DesTyn mencium aroma bahaya menguntit gadis itu. Gadis itu


tidak menyadari siapa dirinya. DesTyn bergegas meraih buku Thistle di atas meja


dan membuka sebuah bab. Dan dia pun terkesiap. FayLinn telah melakukannnya


dengan benar.