
FayLinn merasa kebebasannya mulai terpenjara. Baru
saja dia menikmati menunggangi BirdNerd ZinLinn yang kini menjadi miliknya,
kini dia tidak lagi berangkat sekolah. Ayahnya meminta Guru LouElla mengajarnya
di rumah. Beberapa guru lain juga datang bergantian, tapi tidak sesering
LouElla. Tentu saja LouElla dengan senang hati mendatangai rumah WinkGef.
Setiap hari dia mendapatkan whim Rouya Hijau untuk makan siang. Dan yang
terutama adalah sapaan ramah WinkGef yang semakin mempesona dirinya.
”Bu Lou, kapan aku boleh naik BirdNerd ?” keluhnya
mulai bosan dengan tugas-tugas yang diberikan LouElla.
Ruangan belajarnya yang luas dan hanya berisi
dirinya dan LouElla membuatnya semakin tidak betah. Apalagi jendela besar
ruangannya di lantai dua itu, tepat berhadapan dengan dahan Pohon Rouya Hijau
di depan rumahnya tempat BirdNerd-nya sedang bertengger.
”Lihat, dia sudah menungguku, ” seru FayLinn
seraya menunjuk ke luar jendela.
LouElla mendekati jendela, dan menutup daun
pintunya.
”Kau hanya ingin bermain FayLinn. Ingat, semester
ini kau harus memperbaiki nilaimu. Tentunya kau tidak ingin ayahmu
menyekolahkanmu di rumah selamanya kan ?”
FayLinn menggeleng.
”Nah, sebaiknya kerjakan semua tugas dengan baik. Setelah
selesai, ada guru lain yang akan menggantikan Bu Lou. ”
FayLinn menutup bukunya dengan kesal. Dia bangkit
dari duduknya dan menuju pintu.
”FayLinn ! Selesaikan tugasmu lebih dulu !”
”Aku mau makan dulu. ”
”Belum waktunya makan !” ucap LoElla tegas seraya
berkacak pinggang, ”kau bisa makan whim di sudut sana.”
FayLinn meoleh ke sudut ruangan. Ada dua mangkok
whim di sana. Untuknya dan untuk LouElla.
”Tapi aku mau whim dingin !”
LouElla melangkah mendekati FayLinn yang sudah
siap membuka pintu.
”FayLinn, tidak ada whim dingin. Kau sendiri yang
mengatakan kalau yang bisa membuat hanya ibumu.”
Sebuah ketukan terdengar cukup keras di pintu.
LouElla menatap FayLinn tajam, mencegahnya membuka pintu. Tapi sejurus
kemudian, pintu dibuka dari luar. Seraut wajah asing bagi LouElla, muncul
dengan senyum manisnya.
”Nona SpiiTaim...” ucap FayLinn spontan. Dia
merasa diselamatkan dari LouElla, walau sang penyelamat bukanlah orang yang
diharapkannya.
”Siapa anda ?” tanya LouElla berusaha menunjukkan
wibawanya, ”maaf, saya dan FayLinn ...”
”SpiiTaim Birch. Aku teman FayLinn. ”
”Dia bukan temanku !” sahut FayLinn, ”dia teman
ayah.”
Kening LouElla berkerut, semakin menampakkan usia
dia sebenanya. Dipandanginya sosok SpiiTaim, sosok mempesona seorang gadis
bangsawan. Rambut hijau mengkilatnya tergerai sampai hampir menyentuh tumitnya.
Sepertinya, rambut benar-benar andalannya kali ini. Di telinganya tersemat
bunga berkelopak satu. Bau harumnya sangat dikenali LouElla. Hanya para gadis
yang suka menyematkan bunga berkelopak satu di telinganya. Seolah menunjukkan
pada Zinnia, dia sedang mendamba pasangan hidup.
”Jadi, anda teman Tuan Sprout ? Ada keperluan apa
anda mencari FayLinn. Anak ini sedang belajar.”
”Aku hanya ingin menyapa dia, ” sahut SpiiTaim
ramah, ”aku merasa tidak nyaman bila berkunjung ke sini dan tidak menyapa dia.
”
”Jadi, anda sering berkunjung ke sini,
Nona Birch ?” tanya LouElla penuh selidik.
Sepasang matanya tak henti mengamati SpiiTaim dari
ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya menderu, merasa mendapat pesaing di
rumah mewah ini. Ciut hatinya melihat kenyataan bahwa SpiiTaim lebih muda dan
cantik. Dan juga bangsawan.
”Aku membawakanmu bunga Tier, sayang, ” ucap
SpiiTaim seraya mengulurukan sekuntum bunga Tier berwarna merah cerah.
”Anda dari Nerdia Selatan. ”
”Tentu saja. Bunga Tier hanya tumbuh di sana. Wah,
bu guru ternyata orang yang sangat pintar. ”
LouElla mendengus. Dia tahu kalimat itu bukan
kalimat pujian.
FayLinn menyambar bunga Tier dari tangan SpiiTaim,
lalu menerobos di antara kedua wanita di hadapannya. Berlari menuruni tangga
dengan tergesa. Sebuah kesempatan yang tidak bisa dilewatkannya begitu saja.
Dan LouElla hanya mampu berteriak-teriak memanggilnya.
”Hm, aku permisi. FayLinn pasti sudah menungguku
bermain. Senang berkenalan dengan guru terbaik Akademi Nerdia, ” ucap SpiiTaim
seraya menundukkan kepaala, mulai terkesan arogan.
LouElla menutup pintu dengan kesal. Sementara
SpiiTaim tersenyum penuh kemenangan. Merebut hati FayLinn sama dengan merebut
hati WinkGef. Dan SpiiTaim tak akan membiarkan perawan tua seperti LouElla
melakukannya.
OoO
WinkGef hanya diam mendengar penuturan LouElla.
Bahwa dia merasa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik bila SpiiTaim
setiap hari mengunjungi FayLinn. SpiiTaim selalu punya seribu cara untuk
mengeluarkan FayLinn dari dalam ruangan. Entah itu mengirim pelayan, membuat
BirdNerd-nya berteriak-teriak, atau melemparkan kelopok-kelopak Tier ke dalam
jendela. Dan herannya, WinkGef tak pernah ada di rumah untuk memergoki hal itu.
”Saya tidak yakin Nona Birch sengaja melakukan hal
itu, ” sahut WinkGef.
Dia tahu, SpiiTaim wanita terhormat. Akhir-akhir
ini dia memang sering berkunjung ke rumahnya, itu pun tanpa sepengetahuan
WinkGef. WinkGef hanya mendapat laporan dari pelayan bahwa SpiiTaim telah
menemani FayLinn berkendara BirdNerd sampai sore, hampir setiap hari.
”Anda tidak melihatnya sendiri. Bahkan para
pelayan tidak ada yang bisa mencegahnya. FayLinn harus mengejar ketinggalan
nilainya. Tapi bila dia terus bermain, percuma saja Akademi mengirim saya ke
sini. Dan, sekedar mengingatkan saja, bahwa FayLinn pernah hilang dan anda
begitu sibuk mencarinya.”
WinkGef menatap LouElla.
”Baik, saya akan berbicara langsung pada Nona Birch
”
LouElla bernafas lega. Dari jendela besar ruang
kantor WinkGef, dia bisa melihat dua BirdNerd menukik turun di halaman depan.
WinkGef juga melihatnya, dan dia tersenyum.
”Tuan Birch memberi hadiah BirdNerd pada FayLinn,
untuk mengobati kesedihannya. Maka tidak heran bila Nona Birch berkenan
mengajari FayLinn mengendarai BirdNerd. Orang-orang Nerdia Selatan lebih piawai
mengendarai BirdNerd dari orang-orang kota Nerdia. Lagipula, Nona Birch yang
menolongnya saat dia menghilang hari itu, Bu LouElla. ”
LouElla mengangguk. Gadis bangsawan itu memang
pandai mencari kesempatan.
WinkGef keluar dari ruangan kerjanya, diikuti
LouElla. Mereka berjalan melintasi aula menuju pintu utama. SpiiTaim dan
FayLinn sudah turun dari BirdNerd.
”Bagaimana hari ini FayLinn ?” tanya WinkGef
menyambut mereka.
LouElla bisa melihat wajah gembira SpiiTaim
tatkala melihat WinkGef datang. Gadis itu langsung sibuk membenahi rambut hijau
mengkilatnya yang acak-acakan. FayLinn berlari ke pelukan ayahnya.
”Ayah, Nona SpiiTaim akan mengajariku cara terbang
di malam hari !” seru FayLinn senang.
”Oh ya ? Tapi gadis kecil tidak boleh keluar di
malam hari. ” sahut WinkGef seraya melempar senyum ke arah SpiiTaim. SpiiTaim
merasa di atas angin. Seraya melirik LouElla yang berdiri di belakang WinkGef
seperti seorang pelayan, dia pun melangkah dengan anggun mendekati WinkGef.
“Tuan Sprout,
maafkan bila saya mengganggu, “ ucapnya kemudian seraya membungkuk hormat,
membuat LouElla muak melihatnya.
“Tidak apa-apa,
Nona Birch. Saya baru tahu dari Bu LouElla bahwa anda sering mengajak FayLinn
keluar rumah saat pelajaran privatnya. Apa itu benar ?”
LouElla
tersenyum senang. WinkGef bukan tipe lelaki yang penuh basa basi, bahkan pada
wanita bangsawan sekalipun. Tapi bukan SpiiTaim namanya kalau tidak pandai
mencari akal.
“Maafkan saya,
Tuan Sprout. Tapi, FayLinn sangat gembira, jauh lebih gembira dari pertama kali
saya mengenalnya. Lagipula kami bermain setelah dia selesai menjalankan
tugasnya. Benar, kan Fay ?”
FayLinn
mengangguk-anggu. WinkGef agak terkejut mendengar SpiiTaim memanggil FayLinn
dengan nama Fay.
“Tidak ada yang
memanggil FayLinn dengan Fay, selain ZinLinn. Saya harap Nona mengerti, “ucap
WinkGef, nada bicaranya terdengar tegas, “dan mulai besok, FayLinn tidak lagi
bermain BirdNerd selain hari libur. Mengerti FayLinn ?”
FayLinn
menangguk. Dia melepas bunga Tier yang disematkan di telinganya dan
menyematkannya di telinga ayahnya.
“Ayah, kata
kakek, dulu ibu suka memakai bunga Tier di telinganya. Kanan dan kiri. Apa ayah
tahu ?”
WinkGef
menggeleng. Dia menggendong FayLinn masuk ke dalam rumah, meninggalkan LouElla
dan SpiiTaim berdua.
“Lalu, darimana
ibumu mendapatkan bunga Tier ? Nerdia Selatan itu sangat jauh. Kamu harus
belajar hari ini.“
SpiiTaim
mengeluarkan dua bunga Tier dari kantong bajunya, lalu menyematkannya di kedua
telinganya. LouElla semakin muak melihatnya. Dia segera berbalik dengan langkah
panjang, mengikuti WinkGef dan FayLinn. Setidaknya dia sudah memenangkan hari
ini. Berhasil mengusir dan manjauhkan gadis itu dari FayLinn dan WinkGef.
OoO
Akademi Nerdia
tidak lagi ramah pada FayLinn. Teman-temannya enggan bergaul dengannya, hanya
karena rambutnya yang mulai memerah. SpiiTaim berkali-kali menawarkan merawat
rambut FayLinn, tapi FayLinn menolak dengan keras. WinkGef tak bisa memaksanya
lagi untuk datang ke tempat perawatan rambut NixWatt. FayLinn masih saja takut
melihat NixWatt.
“FayLinn,
sebenarnya aku ingin bermain bersamamu. Tapi ibuku melarang, “ ucap salah
seorang temannya.
sedang bermain ayunan diam saja. Beberapa anak datang lagi mendekatinya. Tapi
tak ada yang mau benar-benar mendekat. Mereka seolah jijik melihat rambutnya
yang mulai kemerahan. Seperti rambut para petani dan pekerja perkebunan.
“FayLinn, apa
kamu tidak pernah merawat rambutmu ?”
FayLinn
menggeleng.
“Mengapa kamu
tidak meminta ibu baru pada ayahmu ?”
“Aku tidak mau
ibu baru !” ucap FayLinn, mulai ketus.
“Lalu, kau akan
membiarkan rambutmu memerah seperti para petani ?”
“Biarkan, aku
tak peduli, “sungut FayLinn.
Teman-temannya
saling berpandangan.
“Kami tidak mau
berteman lagi denganmu, FayLinn !”
“Iya, ibu kami
melarang berteman dengan orang-orang berambut merah. Biasanya mereka kasar !”
FayLinn
meninggalkan ayunannya. Hatinya sungguh kesal pada teman-temannya. Tidak
dihiraukannya panggilan mereka.
“Mungkin kami
mau berteman denganmu bila kamu membawa whim dingin lagi !”
FayLinn tidak
peduli. Dia berlari menuju gedung Akademi. Tempat yang ditujunya adalah
perpustakaan. Satu-satunya tempat di mana dia tidak akan menemui teman-temannya
yang cerewet. Hanya Tuan Destyn orang yang selalu menyambutnya dengan senyum
ramah.
Dan seperti
perkiraannya, DesTyn langsung menghulurkan buku Thistle padanya.
“Buku
kesayanganmu, “ ucap DesTyn.
“Tuan DesTyn,
maukah kau menemaniku membaca ?”
DesTyn
mengangguk dan mengambil sebuah kursi dengan ukiran sulur Nerdia. Mereka duduk
berdampingan. FayLinn membuka lembar demi lembar buku Thistle dan DesTyn
membacakan beberapa paragraf.
“Thistle adalah kebijaksanaan. Seluruh Zinnia
sangat menghormati dia. Karena dia, Rouya tetap tegak dan memancarkan cahaya
Bintang Memra di malam hari. Tunas-tunas muda Rouya dan sulur-sulur indahnya,
senantiasa mendambakan Thistle dan kebijaksanaanya.”
“Tuan DesTyn,
apa aku boleh bertanya ?”
“Silahkan Nona
manis, apa saja boleh kautanyakan padaku. “
“Apa Tuan DesTyn
pernah melihat Thistle ? Seperti apa dia ?”
DesTyn diam. Dia
menerawang. Pertanyaan sulit, tapi harus dijawabnya. Beberapa orang Nerdia,
katanya pernah melihat Thistle. Tapi tak ada yang bisa membuktikan keberannya.
“Dia seorang
yang bijaksana. Seorang Zinnia murni. Rambutnya putih dan dia suka makan Rouya
Biru. “
“Itu ada di Bab
I. Aku bertanya apa kau pernah bertemu dengannya ?”
DesTyn
menggeleng.
“Jika Thistle
itu bijaksana dan rambutnya putih, kakekku pasti seorang Thistle. Apalagi dia
suka makan Rouya Biru.”
DesTyn terkekeh.
Setiap anak Nerdia pasti beranggapan kakeknya adalah Thistle. Dan herannya, para
kakek pun sering berdandan ala Thistle. Berambut putih, dan menunggangi
BirdNerd putih. Tapi kebiasaaan itu biasanya tak bertahan lama. Terutama bila
sang cucu memintanya makan Rouya Biru.
“Hm, pasti
kakekmu orang yang sangat sehat dan kuat. Rouya Biru sangat bagus untuk
kesehatan.”
“Tentu saja
kakek orang yang sangat kuat. Dia bisa terbang dari rumahku ke Hutan Rouya Biru
tanpa berhenti. Dia orang yang sangat hebat. “
“Hmm, apa lagi
kehebatan kakekmu ?”
DesTyn menatap
mata bulat FayLinn. Anak itu mulai kelihatan cerah wajahnya saat bercerita
tentang kakeknya. Kemurungannya saat memasuki perpustakaan telah lenyap dengan
cepat. DesTyn pun tak ingin membuat gadis itu kembali gundah. Maka,
dibiarkannya FayLinn bercerita tentang kakeknya.
“Kakek juga bisa
membuat whim dingin. Tapi bukan whim dingin seperti yang dibuat ibuku. Apa tuan
DesTyn pernah memakan whim dingin ?”
DesTyn
menggeleng. Sepertinya, celotehan FayLinn mulai menarik.
“Lalu ?
Bagaimana kakekmu membuatnya ?”
“Sst… ini
rahasia. “
DesTyn melirik
ke sekeliling perpustakaan. Sepi, tidak ada orang. FayLinn tidak ingin ada
orang lain mendengar ceritanya tentang whim dingin.
“Hm, kenapa
harus rahasia ? Bukankah kau membagi whim dingin dengan teman-temanmu ?”
“Iya. Aku hanya
ingin mereka mencicipinya. Tapi mereka terus meminta. Karena, ibu mereka tidak
ada yang percaya bahwa ada whim dingin. “
“Apa aku harus
percaya ?”
FayLinn menatap
DesTyn. Lelaki itu sebaya kakeknya.
“Ya, Tuan DesTyn
harus menjaga rahasia ini. Nanti akan aku perkenalkan Tuan dengan kakekku. “
DesTyn
mengangguk-angguk. FayLinn mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantongnya. Dia
membukanya perlahan. Sepotong whim merah.
“Kau selalu
membawa whim merah ?”
FayLinn tidak
menjawab. Diletakkannya sepotong whim merah itu di telapak tangan DesTyn.
“Semula kakek
tidak tahu cara membuat whim dingin. Lalu aku memberitahu dia cara yang biasa
ibu lakukan. Setelah itu, dia mengajariku. Seperti ini. “
FayLinn
mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna biru. Pasta Rouya Biru. Lalu
menuangkannya di telapak tangannya sendiri. Cairan kental itu meleleh di
sela-sela jarinya. Destyn hampir saja tertawa melihat tingkah FayLinn. Dia
merasa sedang meladeni anak bodoh yang mencari perhatian. Tapi, sejurus
kemudian dia hanya bisa memelotokan matanya. Perlahan, cairan itu mengeluarkan
asap dan mulai mengental. Seluruh telapak tangan FayLinn mulai membiru. DesTyn
mulai merasakan hawa dingin di sekeliling tangan FayLinn.
“Lihat, aku
sudah bisa. “
DesTyn menatap
FayLinn tak percaya. FayLinn menuang pasta Rouya Biru kental itu ke atas whim
merah di telapak tangan Destyn. Pasta dingin itu perlahan meresap dan merubah
warna whim merah menjadi kebiruan. DesTyn merasa tangannya mulai dingin.
“Sudah jadi,
silahkan dimakan !”
Dengan ragu,
Destyn mendekatkan whim merah itu ke mukanya. Mengendus-endus bau Rouya merah
bercampur Rouya biru.
“Tidak apa-apa.
Rasanya enak. “
FayLinn tanpa
ragu mengulurkan ujng telunjuknya dan mencicipi whim dingin di tangan DesTyn.
DesTyn mengamati FayLinn. Menikmati whim dingin itu dengan nikmatnya, sampai
lidahnya menjilati ujung telunjukknya. Gadis itu tak berhenti mencicipi hingga
whim dingin itu tinggal separuh.
“Kalau Tuan
DesTyn tidak suka, aku habiskan ya ? Tapi ini kurang enak. Nomer satu punya ibu
yang paling lezat, nomer dua buatan kakek. Punyaku nomer tiga. Hehehe.”
DesTyn menelan
ludah. Sejenak dia ragu untuk mencicipi. Rouya Biru terkenal pahit, dan Rouya
merah tidak begitu enak. Bagaimana anak bangsawan seperti FayLinn yang terbiasa
memakan Rouya Hijau yang nikmat itu bisa begitu menyukai padauan Rouya Merah
dan Biru ini ?
DesTyn akhirnya
mengambil sedikit whim di tangannya, untuk mencari jawaban atas pertanyaannya
sendiri. Memasukkan telunjukknya yang sudah dicolekkannya di whim dingin,
dengan hati-hati ke mulutnya. FayLinn berhenti makan, menanti reaksi DesTyn.
Air muka DesTyn mencerah. Dia sama sekali tak menyangka, kelezatan whim dingin
itu melampaui whim Rouya Hijau.
“FayLinn, ini
luar biasa. “
FayLinn
tersenyum. Sejurus kemudian, mereka berebut memakan whim itu sampai tandas. Bahkan
sampai remahan terakhir, DesTyn masih merasakan hawa dinginnya.
“FayLinn,
bagaimana kau bisa melakukanya ?”
FayLinn
mengangkat bahu.
“Entahlah. Kakek
yang mengajariku, tahu-tahu aku bisa. “
DesTyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba dia melihat sekelebat
bayangan di pintu perpustakaan yang sedikit terbuka. DesTyn bergegas mendekati
pintu. Sosok itu baru saja lenyap di ujung lorong. Ada orang yang sejak tadi mengintip mereka.
“FayLinn, sebaiknya kau segera pulang. Aku akan ke rumahmu nanti malam. Dan, jangan
bilang pada siapapun tentang Whim dingin lagi ya ?”
FayLinn mengangguk-angguk. DesTyn mencium aroma bahaya menguntit gadis itu. Gadis itu
tidak menyadari siapa dirinya. DesTyn bergegas meraih buku Thistle di atas meja
dan membuka sebuah bab. Dan dia pun terkesiap. FayLinn telah melakukannnya
dengan benar.