The Thistle

The Thistle
19 - Enya Moss



Ruangan para Enya adalah sebuah ruangan bundar


dengan sebelas pintu di sekelilingnya. Satu pintu masuk utama adalah pintu


dengan ukuran terbesar, yang terhubung langsung dengan aula kerajaan. Sedangkan


sepuluh pintu lainnya adalah pintu setiap Enya, yang langsung terhubung ke


ruang Enya. Di dalam ruang Enya sendiri, ada pintu khusus menuju BirdNerd


masing-masing yang siap dinaiki kapan saja.


Ruangan bundar ini menjadi titik kumpul para Enya.


Di tengahnya ada meja bundar dengan sebelas kursi. Sepuluh kursi untuk Enya dan


satu kursi untuk Raja. Terkadang Raja Orla menggelar pertemuan dengan para Enya


di ruangan ini, tapi lebih seringnya di aula kerajaan.


Ruangan titik kumpul ini jarang dipakai oleh para


Enya. Hanya dipakai jika ada masalah genting di kerajaan, dan mereka harus


membahas strategi yang harus dilakukan. Semenjak Enya Sprout berhenti dari


kerajaan, ruangan ini nyaris tidak terpakai. Kadang-kadang saja ada Enya yang


memanfaatkannya untuk duduk setelah berkeliling kerajaan.


Enya Moss baru saja dari aula kerajaan. Raja Orla


menyampaikan sebuah instruksi padanya. Dan kal ini insinsuksi ini terasa begitu


sulit, hingga EnyaMoss minta penangguhan waktu. Namun setelah duduk di kursi


dan menatap sekeliling ruang titik kumpul, Enya Moss menyadari bahwa dia telah


membuat kesalahan dengan meminta penangguhan waktu.


Raja Orla, bukan raja yang penyabar. Jika sudah


berkehendak, maka para Enya tak kuasa menghindar. Harus mereka penuhi, kapanpun


dan apapun itu. Namun, kehendak Raja Orla sering kali terbentur dengan


keinginan Ratu Orla. Itulah sebabny, tak pernah kebijakan Raja Orla mendapat


persetujuan Ratu. Sehingga Raja kerap bertindak sendiri.


Terdengar detak langkah dari salah satu pintu yang


tertutup. Pintu Enya Spark. Enya Moss menghela nafas panjang. Sepertinya, dia


tidak bisa menjalankan instruksi Raja Orla ini seorang diri, dia perlu Enya


lain. Meski instruksi Raja Orla adalah untuk bekerja sendiri, tapi dia tidak


akan bisa melakukannya.


”Enya Moss...”


Enya Moss menoleh ke arah pintu yang terbuka. Enya


Spark melebarkan tangan sembari membuka pintunya, lalu membiarkan pintunya


terbuka. Dia berjalan menuju Enya Moss yang sedang duduk di salah satu kursi


meja bundar.


”Enya Spark, ada yang ingin aku katakan padamu.”


Enya Spark mengambil tempat duduk berseberangan


dengan Enya Moss. Enya Moss tampak tidak tenang. Manik-manik keringat mengalir


di pelipisnya. Matanya sesekali menatap lorong menuju aula kerajaan. Sebagai


ahli pengintai, Enya Spark bisa melihat jelas bahwa Enya Moss sedang dalam


mendapat tugas yang berat dari Raja Orla.


”Kita harus bicara di luar. Ayo ikut aku.”


Enya Moss melangkah menuju ruangannya. Enya Spark


hanya mengangguk dan mengikuti pemimpinnya. Sejurus kemudian mereka sudah


terbang bersama BirdNerd masing-masing ke sebuah istal di tengah kota.


Enya Misk dan Enya Wien sedang asyik menikmati


whim di halaman istana, ketika melihat mereka berdua meninggalkan istana.


”Ada masalah apa?” tanya Enya Misk pada Enya Wien.


Enya Wien hanya mengedik bahu. Setahunya, kerajaan


sedang baik-baik saja. Tidak ada masalah berat. Hanya kriminalitas biasa. Tapi


belakangan, Enya Moss tampak sedang menghadapi masalah berat. Dia sering pergi


berdua dengan Enya Spark. Enya Wien cuek saja, toh kalau mereka membutuhkan


untuk mengidentifikasi seseorang, Enya Wien akan melakukannya dengan mudah,


semudah menjentikkan jarinya.


OoO


Istal di tengah kota sedang sepi. Pelayan istal hanya


membuka separuh pintu dan mengatakan kalau BirdNerd laku keras menjelang Festival


Rouya. Jadi, bila pembeli mencari BirdNerd maka sebaiknya kembali setelah Festival


Rouya. Harga BirdNerd pasti juga akan turun drastis.


”Siapa pembelinya?” teriak pemilik Istal, ”tutup


pintunya, aku sudah capek melayani pembeli.”


Enya Moss membungkukkan badannya, menatap pelayan


istal yang lebih pendek darinya.


”Katakan padanya, aku Enya Moss.”


”Namanya Enya Moss, Tuan. Dia memaksa mau masuk!” seru


pelayan istal.


Pintu tiba-tiba terbuka lebar dan pemilik istal


membungkuk hormat mempersilahkan tamunya masuk. Sementara pelayan di


belakangnya, kebingungan tak mengerti mengapa majikannya tiba-tiba melanggar


sendiri aturannya.


”Silahkan, Enya Moss. Mohon maaf atas kelancangan


pelayan kami.”


Enya Moss dan Enya Spark melangkah masuk diikuti


kedua BirdNerd mereka. Melihat pohon Rouya menjulang di tengah istall, kedua BirdNerd


itu pun langsung terbang hingga ke pucuk pohon Rouya. Sepertinya mereka sangat


mengenal istal ini.


”Aku hanya ingin melepas lelah, ” ucap Enya Moss


santai.


”Pelayaaaan.... siapkan hidangan untuk tamu


kerajaan.”


sebuah bangku dengan meja kecil di antaranya. Sementara pemilik istall dan


pelayannya sibuk menyiapkan hidangan.


”Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Enya Spark


sembari mengamati BirdNerd-nya yang terlihat lahap menyantap Rouya di pucuk


pohon.


”Apa kau masih berhubungan dengan Tuan Sprout?”


Enya Spark mengedik bahu, ”Jarang. Sangat jarang. Kenapa?


Apa dia dalam masalah?”


Enya Moss menghela nafas, ”Dia berkali-kali


mendapat masalah, sejak istrinya meninggal. Anaknya berkali-kali hilang. Belum


lagi dia menjadi rebutan gadis. Maklum, dia sekarang duda bangsawan terkaya di Nerdia.”


Enya Spark terkekeh.


”Kalau aku perempuan, aku pasti tidak akan


melepaskan Tuan Sprout. Dia harus berada dalam pelukanku.”


Enya Moss tersenyum.


”Apa yang kau temukan di perkebunannya?”


”Perkebunan?”


”Perkebunan Tuan Sprout.”


Enya Spark terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar, ”Tidak


ada. Hanya patroli biasa.”


”Kita tidak perlu berpatroli ke perkebunan Tuan Sprout.


Dia mantan Enya, dia bisa menjaga sendiri perkebunannya, tidak sepeti bangsawan


lain yang sangat merepotkan. Katakan, apa yang kau temukan.”


Mereka berdua saling menatap. Enya Moss tersenyum


ramah, seolah menunjukkan bahwa dia sebenarnya tahu segalanya. Hanya memerlukan


konfirmasi saja. Atau, dia hanya mendengar sedikit selentingan, dan sekarang ingin


mendengar kabar besarnya.


”Tidak ada.”


Enya Moss mengeluarkan sesuatu dari lengan


bajunya. Sebuah kotak kayu. Baju para Enya didisain khusus untuk bisa menyimpan


banyak senjata. Salah satunya, di dalam lengan baju. Enya Spark menahan nafas


begitu melihat kotak kayu seukuran tangannya itu.


”Kudengar, anakmu mau lulus dari Akademi setelah Festival


Rouya. Ini hadiahku untuknya. Kurasa tidak masalah bila kutitipkan padamu lebih


awal, ya kan? Dan, hmm... sebenarnyanya kau tidak perlu memasukkannnya di Akademi


luar Nerdia. Akademi Nerdia yang terbaik di Planet ini.”


Enya Moss mendorong kotak kayu itu ke dekat Enya Spark.


Enya Spark tampak tegang. Dia hanya menatap kotak kayu itu lekat-lekat.


”Maaf aku tidak memberi hadiah untuk ibunya, terus


terang .. aku bingung yang mana ibunya.”


Enya Moss terkekeh sembari menepuk-nepuk bahu Enya


Spark. Enya Spark ikut terkekeh, menutupi ketegangannya. Enya Spark seorang


ahli pengintai, tak satupun bisa luput dari intaiannya. Tapi Enya Moss adalah


pemimpin Enya, yang mengusasai semua kemampuan Enya. Enya Spark menyadari,


bahwa kemampuannya menyembunyikan keluarga keduanya di luar Nerdia tidak


sebanding dengan kemampuan Enya Moss. Sebuah keluarga yang menghasilkan


keturunan untuknya. Seumur hidupnya, istrinya yang berada di Nerdia tidak akan


mengetahui hal itu. Selamanya. Karena istrinya adalah adik Ratu Orla. Dua


wanita yang sama-sama dikhinati oleh suaminya. Bila semua ini tetap menjadi


rahasia, maka semuanya akan baik-baik saja.


”Kau tahu, kita berdua banyak menyimpan rahasia. Bila


kita menjualnya, kita bisa kaya raya mengalahkan Tuan Sprout.”


Enya Moss terbahak, Enya Spark mengikutinya,


terbahak dengan tawa yang begitu kering. Dia tidak punya kartu As. Semua


kendali ada pada Enya Moss.


”Ada api di perkebunan Tuan Sprout.” ucap Enya Spark


setengah berbisik.


Enya Moss menghentikan tawanya. ”Api? Ini menarik.”


”Siapa pemicunya?”


”Aku masih menyelidiki.”


”Hm, apa kaitan Tuan Sprout?”


”Dia punya pemadam api. Sebuah selimut yang tidak


termakan api.”


”Mungkin aku bisa memasukkan anakmu ke Akademi Nerdia.


Kudengar di sana membutuhkan seorang petugas perpustakaan.”


”Tidak perlu. Terima kasih, Enya Moss.”


Enya Spark menunduk dalam, menghormat pada Enya Moss.


Enya Moss menepuk-nepuk bahunya, ramah. Dia tidak pernah melakukan hal ini bila


berada dalam forum resmi, di hadapan Raja atau di depan rakyat Nerdia. Sikapnya


selalu resmi. Tapi bila di luar itu semua, dia selalu hangat. Bahkan, ancaman


seperti ini pun dilakukannya dengan hangat. Padahal Enya Moss terkenal sebagai Enya


paling tegas, disiplin dan tidak mengenal kasihan.


”Kalau begitu, temukan siapa penyulut api itu. Soal


selimut, itu bukan hal penting. Pasti itu selimut buatan istrinya. Hanya seorang


Zinnia yang bisa membuat hal-hal seperti itu.”


Enya Spark menatap Enya Moss. Istri WinkGef Sprout


seorang Zinnia? Mustahil, karena mereka punya seorang anak. Tidak ada anak bisa


terlahir dari perkawinan manusia dan Zinnia.