
Bintang Memra bersinar lembut, menembus tirai halus yang melingkupi tempat
tidur. Tepat tidur mewah dengan ukiran kayu Rouya, berhias sulur-sulur Rouya
yang mengkilap keemasan. Angin lembut dari jendela yang terbuka menerpa tirai,
membuatnya mengayun halus.
Raja Orla membuka mata dan memandangi wajah istrinya, yang terbaring di
sisinya. Bahkan dalam tidurnya, Ratu Orla begitu cantik dan menawan. Membuatnya
mengakui bahwa tidak ada siapapun yang bisa menggantikan wanita itu dalam hatinya.
Kecantikannya merajai seluruh kerajaan Nerdia. Setiap menyentuh dan menggenggam
tangannya, Raja Orla selalu lupa bahwa dia adalah seorang Raja. Dia hanya ingat
bahwa dia hanya memiliki Ratu Orla. Itulah sebabnya, di depan rakyatnya, dia
tidak pernah menggandeng Ratu Orla. Sebab begitu dia menggenggam tangan
istrinya, getaran cintanya begitu hebat dan membuatnya mabuk kepayang. Raja
Orla tidak lagi peduli dia berada di mana, dia hanya ingin menyatukan raga
dengan istrinya.
Sudah puluhan kali selama mereka menjadi Raja dan Ratu, Raja Orla sering
melakukannya tanpa sadar, di depan pengawal dan pelayan. Terkadang hanya karena
tidak sengaja mengenggam tangan Ratu Orla. Pengawal dan pelayan yang tahu diri,
biasanya akan langsung menggelar tabir untuk menutupi mereka berdua. Mereka
maklum, bahwa Raja mereka selalu dibuat mabuk kepayang oleh Ratu mereka yang
luar biasa cantik jelita.
Perlahan Raja Orla mengangkat tangannya dan mengelus rambut hijau istrinya
yang halus dan mengkilat, berhati-hati.
“Kau mencintaiku?” bisik Ratu Orla. Rupanya dia terbangun karena elusan
Raja Orla.
“Aku mencintaimu, melebihi Nerdia dan seisinya, ZorLya.”
Ratu Orla tersenyum, masih belum membuka mata. Setiap Raja Orla
memanggilnya dengan nama asli, pertanda lelaki itu akan turun dari ranjang dan
meninggalkannya untuk urusan kerajaan. Meski hati dan tubuhnya masih ingin
berada dalam dekapan Ratu Orla.
“Ada apa di Nerdia, yang membuatmu terburu pergi?”
“Ada kamu, “ bisik Raja Orla menggoda.
Ratu Orla membuka mata dan sepasang mata indahnya menatap penuh cinta. Raja
Orla mengecup kening istrinya. Dia menahan diri untuk tidak menyentuh yang
lain, karena Bintang Memra semakin terang. Dia tidak ingin kembali dibuat mabuk
kepayang oleh Ratu Orla. Dia yakin para Enya menunggu di ruang bundar. Pagi
ini, ada Pengumuman Kelulusan di Akademi Nerdia. Akademi mengundang Raja dan Ratu untuk menghadirinya.
Ratu Orla mengeluarkan tangannya dari balik selimut, dan mengelus pipi Raja
Orla. Raja Orla sampai menjengit karena tubuhnya mendadak gemetar karena elusan lembut istrinya.
“Hari ini, kita harus menghadiri pengumuman kelulusan Akademi Nerdia. Kita
harus memakai baju kebesaran, dan itu akan memakan waktu lama. Dan ...”
Tanpa disadari Raja Orla, Ratu Orla sudah mengenggam tangannya sembari
tersenyum nakal. Raja Orla mendelik. Badannya mulai terasa panas, jantungnya bersicepat, dan nafasnya menjadi sulit dikendalikan. Asmara menggelegak dalam dadanya.
“Oh tidak, kau tahu Zor..... aku...”
Ratu Orla tertawa kecil, membuat Raja Orla tidak lagi dapat menahan
dirinya. Aliran magis getaran cinta dari tangan Ratu Orla, menggetarkan seluruh
tubuhnya. Membuatnya lupa pada para Enya yang menunggunya.
“Ratuku, kau memang.....” bisiknya sembari memeluk istrinya, dengan nafas terengah, semakin tak karuan. Tubuhnya semakin memanas, membuatnya melempar selimut yang semula menutupi istrinya.
“Ada apa di Nerdia Selatan?” bisik Ratu, semakin meremas tangan Raja,
membuat Raja semakin lupa diri, nafasnya semakin menderu, “kudengar ada pasukan memasuki Nerdia?”
“Hanya serombongan orang liar...” bisik Raja.
“Apa mereka mengancam keamanan negeri kita?”
“Mereka perampok, golongan bawah, hanya mencari makan.”
“Mereka membawa api?”
“Hanya untuk penerangan.”
“Enya Moss ke sana dalam rangka itu?”
“Enya Moss akan mencari siapa pembuat apinya.”
“Apalagi tugas Enya Moss?”
“Membawa anak Enya Spark ke Nerdia.”
“Anak Enya Spark? Bukannya dia tidak punya anak?”
“Dia punya istri lagi di Nerdia Selatan. Kudengar anaknya punya kemampuan
khusus. Aku memerlukan kemampuannya.”
“Oh ya? Apa kemampuan khususnya.”
“Aku belum tahu.”
Ratu Orla tersenyum puas. Dia sudah mendapatkan informasi yang
diinginkannya. Dalam kondisi kasmaran seperti ini, Raja Orla akan menjawab
apapun pertanyaannya. Dan setelah semua selesai, Raja Orla tidak akan pernah
mengingat apa yang sudah dibisikkannya di telinga Ratu Orla dengan nafas
memburu.
Pengumuman Kelulusan Akademi Nerdia bisa menunggu.
OoO
Raja Orla sudah memakai pakaian kebesarannya dan keluar dari kamarnya
ketika Bintang Memra sudah di atas kepala. Dia tidak ingat lagi, kenapa bisa
sesiang ini dia menuju ruang bundar. Pastinya karena Ratu Orla sudah membuatnya
mabuk kepayang.
Para Enya sudah menunggu di ruang bundar. Tanpa Enya Moss dan Enya Spark.
“Kita berangkat?” tanya Raja sembari menatap wajah para Enya yang menunduk
hormat padanya.
“Oh, Ratu. Kalian tahu kan kalau pakaian kebesaran lama sekali
memakainya.”
“Kami siap menunggu, Yang Mulia?”
Raja Orla berpikir sejenak. Sebenarnya, dia tidak ingin bersama Ratu
mendatangi Akademi. Bila Ratu membuatnya mabuk kepayang, bisa gawat bila dia
melakukannya di depan semua siswa. Meski para pelayan di sekelilingnya akan
segera membuat barikade pengaman dan para Enya mengambil alih kendali.
“Kita berangkat saja dulu.”
Semua Enya mengangguk hormat.
“Enya Wien, kamu bertugas mengantar Ratu ke Akademi.”
Enya Wien mengangguk hormat. Setelah Raja dan para Enya terbang dengan
BirdNerd, dia menuju ke kamar tempat Ratu biasa berhias dengan baju kebesaran. Dua
pelayan menunggu di depan pintu kamar.
“Apakah Ratu sudah selesai?” tanya Enya Wien.
“Sudah, Tuan.”
“Buka pintunya.”
Dua pelayan itu membuka pintu, dan Enya Wien mendapati Ratu dalam pakaian
kebesarannya. Dia tampak luar biasa cantik jelita. Seperti Bintang Memra,
bersinar memenuhi seluruh Nerdia. Begitu melihat Ratu, Enya Wien menundukkan kepalanya dengan hormat. Tapi sepasang mata mereka sempat beradu.
“Yang Mulia Ratu, Raja memerintahkan saya mengantar Yang Mulia Ratu ke
Akademi.”
“Enya Wien? Ah, biasanya Raja memerintah Enya Moss. Dia sedang ke Nerdia
Selatan.”
“Benar, Yang Mulia. Apabila Yang Mulia sudah siap, saya akan menyiapkan
BirdNerd.”
Ratu berjalan mendekati Enya Wien yang menunduk hormat.
“Enya Wien, bisakah kau membaca pikiranku? Dari dulu aku selalu penasaran
dengan kemampuanmu. Bagaimana Raja menggunakan kemampuanmu, aku tidak pernah
tahu. Aku ingin mencobanya.”
“Saya tidak berani, Yang Mulia.”
Ratu melongok ke pintu, “Pelayan, tutup pintunya. Enya Wien akan membaca
pikiranku.”
Pintu tertutup. Enya Wien merasa kikuk, lalu menekuk satu lutut, memberi
hormat.
“Hm, kau kuijinkan membaca pikiranku. Lakukan sekarang.”
“Saya tidak berani, Yang Mulia.”
“Ah, Enya Wien. Sebentar saja. Apa yang harus kulakukan?”
“Saya harus memegang tangan Yang Mulia.”
Ratu Orla membelalak gembira, “Benarkah? Itu mudah saja.”
Ratu Orla mengulurkan tangannya, dan Enya Wien menyambutnya. Ratu Orla
menggenggam tangan Enya Wien, semakin lama semakin erat. Dan dia merasakan tangan lelaki itu bergetar. Enya Wien merunduk dalam. Ratu Orla tersenyum. Dia tahu, Enya Wien berusaha menahan hasrat yang bergolak dalam jiwanya.
Perlahan Ratu Orla menarik tangan Enya Wien membuat lelaki itu berdiri begitu dekat dengannya.
“Begini sepetinya lebih nyaman, Enya Wien. Sekarang katakan. Apa yang ada dalam pikiranku. Tunjukkan kehebatan kemampuanmu Enya yang kau miliki.”
Enya Wien menatap sepasang mata Ratu Orla. Hal yang tak pernah berani dia lakukan
sebelumnya. Sekujur tubuhnya gemetar, badannya terasa panas, dan nafasnya memburu
karena menahan yang bergolak di dadanya. Enya Wien mencurigai sesuatu. Apakah Ratu
memiliki kemampuan Enya? Kemampuan yang membuatnya mabuk kepayang. Dan dia tidak tahu
bagaimana cara menolaknya. Getaran hebat aliran magis dari genggaman tangan Ratu Orla, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
“Ratu ... saya ...” ucap Enya Wien gemetar.
Ratu mengembangkan senyum. Enya Wien, tak ubahnya seperti Raja Orla. Mereka
adalah lelaki yang tak akan bisa menahan diri terhadapnya.
Enya Wien menarik Ratu Orla dalam pelukannya dengan cepat. Lelaki itu menenggelamkan
wajahnya di leher terbuka Ratu Orla, dengan nafas semakin tidak teratur. Aroma harum dan manis dari Ratu Orla, membuatnya lupa, siapa wanita yang direnggutnya.
“Kemarin Mom VinGlow datang ke istana, apa yang dia perlukan?”
“Dia menyampaikan surat, “ bisik Enya Wien dengan nafas memburu.
“Surat undangan untuk hari ini?”
“Ya. Pengumuman Kelulusan Akademi.”
“Ada lagi?”
“Surat ancaman.”
“Apa itu?”
“Pelayannya diancam. Dia akan mati bila tetap berada di rumahnya.”
“Wow, kenapa?”
“Masih dalam penyelidikan.”
“Kau membaca pikirannya?”
“Aku ...”
Ratu Orla menyadari Enya Wien mulai ragu. Sepertiya lelaki itu mulai mengusasi
diri. Ratu Orla lalu membuka sebagian baju kebesarannya. Enya Wien semakin menggila. Ratu menjatuhkan mereka berdua di lantai. Nafas Enya Wien semakin memburu, menggema ke seluruh ruangan. Ratu membiarkan Enya Wien mensesap sekujur tubuhnya.
“Apa yang dipikirkan janda itu?”
“Bersama Raja, di kamarnya.”
Ratu Orla tertawa, kering. Seseorang berusaha merebut suaminya dan memilikinya.
“Apa lagi?”
“Mereka sudah tiga kali melakukannya. “
Ratu Orla merasa emosinya naik ke ubun-ubun. Raja Orla telah mengkhianatinya. Dan hal itu membuat hatinya serasa terbelah-belah ribuan kali. Dia yakin, apapun yang diucapkan Enya Wien adalah kebenaran. Lelaki itu telah membaca pikiran Mom VinGlow. Sebuah erangan panjang dari lidahnya, adalah keputusan untuk tidak
datang ke Akademi. Sampai dengan Raja Orla datang, dia akan menguras informasi
dari Enya Wien. Lelaki itu harus sanggup melakukannya berkali-kali bersama
Ratu Orla.