
Bintang Memra perlahan meredup, membuat kota
Nerdia kembali dalam keindahan pancaran cahaya tersimpan pada buah-buah Rouya.
Malam, bagi sebagian besar penduduk Nerdia adalah keindahan. Di sepanjang
siang, mereka mengumpulkan buah Rouya untuk ditaruh di atas atap, agar
buah-buah itu menyerap cahaya Bintang Memra. Dan ketika bahaya bintang Memra
mulai meredup, mereka menurunkan buah-buah Rouya untuk diletakkan di dalam
ruangan-ruangan kamar. Semakin matang Rouya, semakin lama dia memancarkan bias
Bintang Rouya, hingga pagi menjelang.
Mom VinGlow baru saja menutup pintu dan
jendelanya, ketika dia mendengar kepak sayap BirdNerd di luar rumahnya.
Sejenak, dia memegang gagang pintu, tak hendak membukanya. Tidak ada yang
pernah bertandang ke rumahnya bila Bintang Memra sudah meredup. Para bangsawan
lebih suka menemuinya di sekolah, bila anak-anak mereka bermasalah.
Tentu saja, karena mereka tidak ingin mendapat
masalah bertandang ke rumah seorang janda bangsawan. Istri bangsawan pasti akan
sangat mencemburui hal itu, meski Mom VinGlow sudah tidak muda lagi. Suami Mom
VinGlow adalah seorang Enya yang meninggal saat bertugas. Dia meninggalkan
kebun Rouya yang lumayan luas, namun Mom VinGlow menjual semuanya. Dia lebih
suka berada di Akademi Nerdia, menggali kekayaan dari kantong bangsawan.
Mom VinGlow tidak punya anak. Itu sebabnya -
menurut sebagian besar Guru Nerdia - Mom VinGlow terkenal disiplin. Lulusan
Akademi Nerdia, terkenal sebagai anak-anak yang disiplin.
”Mom, ada BirdNerd di luar,” ucap MeryTyn,
pembantunya.
MeryTyn mendengar suara kepak BirdNerd, lebih dari
satu. Dan dia mendapati majikannya berdiri di depan pintu, memegang handle
pintu.
”Menurutmu siapa?”
”Saya tidak tahu, Mom. Sepertinya mereka dari
kerajaan.”
Mom VinGlow membalikkan badan, menatap MeryTyn
yang sedang membawa dua buah Rouya merah matang, untuk diletakkan di ruang
tamu.
”Dari mana kau tahu kalau mereka dari kerajaan?”
”Saya tadi melihat BirdNerd mereka melakukan
atraksi di kejauhan. Kalau tidak dari kerajaan, siapa lagi yang bisa melakukan
hal itu??
Terdengar ketukan di pintu. Mom VinGlow mundur
beberapa langkah. Dia menyambar anyaman Rouya di kursi dan membelitkannya di
sekujut badannya. Anyaman ini selalu membuatnya merasa tenang, karena ini
anyaman terakhir pemberian mendiang suaminya, Dia kelihatan begitu tegang. Dia
yakin, sedang tidak dalam masalah. Terakhir Enya Moss datang ke Akademi Nerdia
adalah ketika FayLinn sedang diperebutkan oleh dua wanita yang sedang berusaha
menarik simpati Duda WinkGef. Setelah itu, tidak ada kabar dari Enya Moss,
pertanda masalah itu sudah selesai.
”Mom....”
Mom VinGlow memberi kode pada MeryTyn untuk
membuka pintu. Dia sendiri mundur beberapa langkah, menjauhi pintu depan. Dia
harus mempersiapkan diri, setidaknya bila ada kesalahan yang dia lakukan pada
kerajaan, dia bisa bersikap elegan.
MeryTyn membuka pintu, dan mendapati tiga orang di
depannya. Dengan pakaian kebesaran kerajaan. Baju mereka berkibar-kibat tertiup angin, menebarkan
aroma harum Rouya Hijau. Semua hiasan pada baju mereka mengkilat ditempa cahaya
dari Rouya di ruangan Mom VinGlow.
”Raja Orla, ” desis Mom VinGlow terperajat.
Ketiga lelaki gagah itu memasuki ruangan. Yang
paling depan adalah Raja Orla, dan di samping kanan dan kirinya, Enya Moss dan
Enya Spark.
Mom VinGlow menekuk lututnya, memberi hormat.
MeryTyn melakukan hal yang sama.
”Mom VinGlow...” ucap Raja Orla, terdengar begitu
berwibawa, menggetarkan seluruh ruangan.
Mom VinGlow menunduk dalam, ”Saya sendiri, Yang
Mulia Raja Orla.”
”Enya Moss, siapkan ruangannya.”
Enya Moss menunduk patuh, lalu meminta MeryTyn
menunjukkan ruangan yang biasa dipakai untuk menerima tamu. Di setiap rumah
bangsawan, selalu tersedia sebuah ruangan untuk menerima tamu kebesaran
kerajaan. Namanya Ruang Hoogle. Meski tidak pernah ada tamu kerajaan, tapi Ruang
Hoogle itu wajib ada dan terawat. Hal ini menunjukkan kesetiaan para bangsawan
pada Raja Orla. Dan, mereka harus memenuhi apa saja permintaan tamu kebesaran
kerajaan, atau mereka tidak akan lagi menjadi bangsawan alias mendiami penjara
bawah tanah kerajaan.
OoO
Raja Orla duduk di
singgasana tiruan, di ruang Hoogle. Tentu saja singgasana itu tidak senyaman
singgasananya di kerajaan. Raja Orla memindai Ruang Hoogle VinGlow. Ruang
Hoogle ini telah memenuhi standard ruang Hoogle bangsawan. Satu singgasana,
satu meja bundar dan pintu besar berhiaskan sulur Rouya. Juga hiasan dinding
berupa lukisan aneka jenis pohon Rouya. Enya Moss dan Enya Spark, berdiri gagah
di depan pintu yang tertutup.
Dan Mom VinGlow menekuk
lutut di hadapan Raja Orla.
“Aku mendengar kabar
kurang baik di Akademi Nerdia, apa itu benar?” tanya Raja Orla.
Mom VinGlow menelan ludah.
Kabar apa yang didengar Raja Orla dan itu menurutnya kurang baik. Mom VinGlow
salah berucap.
“Akademi Nerdia baik-baik
saja, Yang Mulia Raja Orla. Beberapa waktu terakhir, terjadi sedikit masalah,
tapi kami berhasil mengatasinya. Hal demikian sudah biasa terjadi di Akademi.
Menjadi dinamika yang membuat Akademi Nerdia tumbuh menjadi semakin baik. Semua
atas restu dari Yang Mulia Raja Orla.”
Raja Orla mendehem dan
melirik Enya Moss. Enya Moss melangkah mendekati Mom VinGlow.
“Tidak usah bertele-tele,
Mom VinGlow. Kami hanya ingin tahu tentang FayLinn Sprout. Semua hal
tentangnya.”
Mom VinGlow kembali
menelan ludah. Anak Duda WinkGef Sprout itu begitu terkenal sampai ke kerajaan.
Apa istimewanya anak itu? Hanya karena ayahnya mantan pemimpin Enya. Yang
jelas, dia adalah pintu simpati bagi ayahnya.
“FayLinn, dia anak yang
manis.”
Enya Moss menhentak
kakinya, membuat Mom VinGlow terkejut, lalu merundukkan badannya. Dia mulai
ketakutan. Sepertinya, kerajaan akan mengeksekusinya.
“Katakan, apa kau tahu
hubungan FayLinn dengan anak buahmu, DesTyn?” bentak Enya Moss.
Mom VinGlow menelan ludah.
Dia sama sekali tidak tahu kaitan FayLinn dengan DesTyn. Hanya saja, DesTyn
pernah diserang orang di rumahnya dan penyerangnya tidak ketemu. Mom VinGlow
tidak menyangka, masalah perampokan sepele itu akan sampai ke telinga Raja
Orla, hingga mereka datang ke rumahnya.
Dia harus memberikan
informasi yang benar. Tapi dari mana?
“Saya … saya menghargai
Tuan DesTyn sebagai seorang petugas perpustakaan yang professional. Dia selalu
melayani semua siswa dengan baik. Saya dengar, FayLinn pecinta buku.”
“Jawabanmu salah!”
“Enya Moss!”
Raja Orla tahu-tahu sudah
berada di sebelah Mom VinGlow. Rupanya dia mencegah Enya Moss mengeluarkan
sesuatu dari pinggangnya.
“Aku tidak ingin ada darah
menetes di ruangan ini. Jadi, sebaiknya kalian berdua keluar, biarkan aku yang
mendapat informasi darinya.”
“Tapi Yang Mulia…”
“Keluar…”
Enya Moss dan Enya Spark
menuntuk patuh, lalu langkah berat mereka keluar dari pintu. Terdengar pintu
dikunci dari luar.
Mom VinGlow merasa
hidupnya akan berakhir. Dia tahu, Raja Orla tidak akan membunuhnya, karena dia
butuh informasi. Tapi, berada di bawah tanah, bisa jadi adalah akhir hidupnya.
Akademi Nerdia tempatnya melipur duka karena kematian suaminya, akan menjadi
mimpi yang terkubur.
“Berdiri.”
Mom VinGlow berdiri
perlahan. Kini merka berdua berdiri berhadapan. Mom VinGlow menundukkan
kepalanya, tidak berani menatap wajah Raja Orla.
“Vin ….”
Mom VinGlow merasa dadanya
seakan meledak. Panggilan itu, sudah terlalu lama dilupakannya. Semasa mudanya,
panggilan itu selalu membuatnya melayang-layang. Namun semua mimpinya untuk
bersanding dengan si pemanggil nama itu hanya berupa mimpi, ketika
pelantikannya menjadi Raja, mengharuskan dia menikahi seorang bangsawan terkaya
dari Nerdia Selatan. Untuk perluasan kekuasaannya. Sedangkan dia hanya anak
bangsawan pengurus Akademi Nerdia. Siapalah dia berharap menjadi istri Raja.
Mom VinGlow mengejang
ketika tangan Raja Orla menyentuh lehernya. Dia tak kuasa menolak ketika Raja
Orla menariknya mendekat, hingga dia bisa mencium aroma Rouya Hijau yang begitu
harum dari baju kebesaran.
“Kau tahu, ketika suamimu
mati, aku satu-satunya orang yang paling gembira. Tapi sayang, istriku tidak
akan mengijinkanku memilikimu.”
Mom VinGlow merasa dadanya
begitu sesak. Raja Orla mendekatkan wajahnya, hingga hanya berjarak satu
kepalan tangan dengan wajah Mom VinGlow. Mom VinGlow bisa merasakan hembusan
nafas lembut Raja Orla. Dan pikirannya menjadi kalut. Dia tidak yakin dia atau
Raja Orla bisa menguasai diri. Masa itu begitu lama, tapi kini kembali menjelas
di pelupuk matanya
“Masalah FayLinn ini
begitu pelik, dan aku tidak ingin Nerdia dalam kekacauan.” bisik Raja Orla di
telinga Mom VinGlow.
Mom VinGlow merasakan ada
yang jatuh dari badannya. Raja Orla telah melepaskan anyaman Rouya, hadiah
terakhir mendiang suaminya, yang menyelimuti badannya. Apa yang diminta oleh
kerajaan, dia harus memberikannya, semuanya. Dan lintasan wajah Ratu Orla tak
diindahkannya.
Enya Moss dan Enya Spark
menatap ke arah pintu Hoogle yang terkunci, saat terdengar suara-suara yang
menembus dari sela-sela kayu. Lalu mereka saling berpandangan dan mengedik
bahu. Raja Orla pasti bisa mendapatkan informasi akurat tentang FayLinn. Meski
mereka berdua harus menunggu sampai pagi.