The Thistle

The Thistle
17 - Raja Orla



 


 


Bintang Memra perlahan meredup, membuat kota


Nerdia kembali dalam keindahan pancaran cahaya tersimpan pada buah-buah Rouya.


Malam, bagi sebagian besar penduduk Nerdia adalah keindahan. Di sepanjang


siang, mereka mengumpulkan buah Rouya untuk ditaruh di atas atap, agar


buah-buah itu menyerap cahaya Bintang Memra. Dan ketika bahaya bintang Memra


mulai meredup, mereka menurunkan buah-buah Rouya untuk diletakkan di dalam


ruangan-ruangan kamar. Semakin matang Rouya, semakin lama dia memancarkan bias


Bintang Rouya, hingga pagi menjelang.


Mom VinGlow baru saja menutup pintu dan


jendelanya, ketika dia mendengar kepak sayap BirdNerd di luar rumahnya.


Sejenak, dia memegang gagang pintu, tak hendak membukanya. Tidak ada yang


pernah bertandang ke rumahnya bila Bintang Memra sudah meredup. Para bangsawan


lebih suka menemuinya di sekolah, bila anak-anak mereka bermasalah.


Tentu saja, karena mereka tidak ingin mendapat


masalah bertandang ke rumah seorang janda bangsawan. Istri bangsawan pasti akan


sangat mencemburui hal itu, meski Mom VinGlow sudah tidak muda lagi. Suami Mom


VinGlow adalah seorang Enya yang meninggal saat bertugas. Dia meninggalkan


kebun Rouya yang lumayan luas, namun Mom VinGlow menjual semuanya. Dia lebih


suka berada di Akademi Nerdia, menggali kekayaan dari kantong bangsawan.


Mom VinGlow tidak punya anak. Itu sebabnya -


menurut sebagian besar Guru Nerdia - Mom VinGlow terkenal disiplin. Lulusan


Akademi Nerdia, terkenal sebagai anak-anak yang disiplin.


”Mom, ada BirdNerd di luar,” ucap MeryTyn,


pembantunya.


MeryTyn mendengar suara kepak BirdNerd, lebih dari


satu. Dan dia mendapati majikannya berdiri di depan pintu, memegang handle


pintu.


”Menurutmu siapa?”


”Saya tidak tahu, Mom. Sepertinya mereka dari


kerajaan.”


Mom VinGlow membalikkan badan, menatap MeryTyn


yang sedang membawa dua buah Rouya merah matang, untuk diletakkan di ruang


tamu.


”Dari mana kau tahu kalau mereka dari kerajaan?”


”Saya tadi melihat BirdNerd mereka melakukan


atraksi di kejauhan. Kalau tidak dari kerajaan, siapa lagi yang bisa melakukan


hal itu??


Terdengar ketukan di pintu. Mom VinGlow mundur


beberapa langkah. Dia menyambar anyaman Rouya di kursi dan membelitkannya di


sekujut badannya. Anyaman ini selalu membuatnya merasa tenang, karena ini


anyaman terakhir pemberian mendiang suaminya, Dia kelihatan begitu tegang. Dia


yakin, sedang tidak dalam masalah. Terakhir Enya Moss datang ke Akademi Nerdia


adalah ketika FayLinn sedang diperebutkan oleh dua wanita yang sedang berusaha


menarik simpati Duda WinkGef. Setelah itu, tidak ada kabar dari Enya Moss,


pertanda masalah itu sudah selesai.


”Mom....”


Mom VinGlow memberi kode pada MeryTyn untuk


membuka pintu. Dia sendiri mundur beberapa langkah, menjauhi pintu depan. Dia


harus mempersiapkan diri, setidaknya bila ada kesalahan yang dia lakukan pada


kerajaan, dia bisa bersikap elegan.


MeryTyn membuka pintu, dan mendapati tiga orang di


depannya. Dengan pakaian kebesaran kerajaan. Baju mereka  berkibar-kibat tertiup angin, menebarkan


aroma harum Rouya Hijau. Semua hiasan pada baju mereka mengkilat ditempa cahaya


dari Rouya di ruangan Mom VinGlow.


”Raja Orla, ” desis Mom VinGlow terperajat.


Ketiga lelaki gagah itu memasuki ruangan. Yang


paling depan adalah Raja Orla, dan di samping kanan dan kirinya, Enya Moss dan


Enya Spark.


Mom VinGlow menekuk lututnya, memberi hormat.


MeryTyn melakukan hal yang sama.


”Mom VinGlow...” ucap Raja Orla, terdengar begitu


berwibawa, menggetarkan seluruh ruangan.


Mom VinGlow menunduk dalam, ”Saya sendiri, Yang


Mulia Raja Orla.”


”Enya Moss, siapkan ruangannya.”


Enya Moss menunduk patuh, lalu meminta MeryTyn


menunjukkan ruangan yang biasa dipakai untuk menerima tamu. Di setiap rumah


bangsawan, selalu tersedia sebuah ruangan untuk menerima tamu kebesaran


kerajaan. Namanya Ruang Hoogle. Meski tidak pernah ada tamu kerajaan, tapi Ruang


Hoogle itu wajib ada dan terawat. Hal ini menunjukkan kesetiaan para bangsawan


pada Raja Orla. Dan, mereka harus memenuhi apa saja permintaan tamu kebesaran


kerajaan, atau mereka tidak akan lagi menjadi bangsawan alias mendiami penjara


bawah tanah kerajaan.


OoO


Raja Orla duduk di


singgasana tiruan, di ruang Hoogle. Tentu saja singgasana itu tidak senyaman


singgasananya di kerajaan. Raja Orla memindai Ruang Hoogle VinGlow. Ruang


Hoogle ini telah memenuhi standard ruang Hoogle bangsawan. Satu singgasana,


satu meja bundar dan pintu besar berhiaskan sulur Rouya. Juga hiasan dinding


berupa lukisan aneka jenis pohon Rouya. Enya Moss dan Enya Spark, berdiri gagah


di depan pintu yang tertutup.


Dan Mom VinGlow menekuk


lutut di hadapan Raja Orla.


“Aku mendengar kabar


kurang baik di Akademi Nerdia, apa itu benar?” tanya Raja Orla.


Mom VinGlow menelan ludah.


Kabar apa yang didengar Raja Orla dan itu menurutnya kurang baik. Mom VinGlow


salah berucap.


“Akademi Nerdia baik-baik


saja, Yang Mulia Raja Orla. Beberapa waktu terakhir, terjadi sedikit masalah,


tapi kami berhasil mengatasinya. Hal demikian sudah biasa terjadi di Akademi.


Menjadi dinamika yang membuat Akademi Nerdia tumbuh menjadi semakin baik. Semua


atas restu dari Yang Mulia Raja Orla.”


Raja Orla mendehem dan


melirik Enya Moss. Enya Moss melangkah mendekati Mom VinGlow.


“Tidak usah bertele-tele,


Mom VinGlow. Kami hanya ingin tahu tentang FayLinn Sprout. Semua hal


tentangnya.”


Mom VinGlow kembali


menelan ludah. Anak Duda WinkGef Sprout itu begitu terkenal sampai ke kerajaan.


Apa istimewanya anak itu? Hanya karena ayahnya mantan pemimpin Enya. Yang


jelas, dia adalah pintu simpati bagi ayahnya.


“FayLinn, dia anak yang


manis.”


Enya Moss menhentak


kakinya, membuat Mom VinGlow terkejut, lalu merundukkan badannya. Dia mulai


ketakutan. Sepertinya, kerajaan akan mengeksekusinya.


“Katakan, apa kau tahu


hubungan FayLinn dengan anak buahmu, DesTyn?” bentak Enya Moss.


Mom VinGlow menelan ludah.


Dia sama sekali tidak tahu kaitan FayLinn dengan DesTyn. Hanya saja, DesTyn


pernah diserang orang di rumahnya dan penyerangnya tidak ketemu. Mom VinGlow


tidak menyangka, masalah perampokan sepele itu akan sampai ke telinga Raja


Orla, hingga mereka datang ke rumahnya.


Dia harus memberikan


informasi yang benar. Tapi dari mana?


“Saya … saya menghargai


Tuan DesTyn sebagai seorang petugas perpustakaan yang professional. Dia selalu


melayani semua siswa dengan baik. Saya dengar, FayLinn pecinta buku.”


“Jawabanmu salah!”


“Enya Moss!”


Raja Orla tahu-tahu sudah


berada di sebelah Mom VinGlow. Rupanya dia mencegah Enya Moss mengeluarkan


sesuatu dari pinggangnya.


“Aku tidak ingin ada darah


menetes di ruangan ini. Jadi, sebaiknya kalian berdua keluar, biarkan aku yang


mendapat informasi darinya.”


“Tapi Yang Mulia…”


“Keluar…”


Enya Moss dan Enya Spark


menuntuk patuh, lalu langkah berat mereka keluar dari pintu. Terdengar pintu


dikunci dari luar.


Mom VinGlow merasa


hidupnya akan berakhir. Dia tahu, Raja Orla tidak akan membunuhnya, karena dia


butuh informasi. Tapi, berada di bawah tanah, bisa jadi adalah akhir hidupnya.


Akademi Nerdia tempatnya melipur duka karena kematian suaminya, akan menjadi


mimpi yang terkubur.


“Berdiri.”


Mom VinGlow berdiri


perlahan. Kini merka berdua berdiri berhadapan. Mom VinGlow menundukkan


kepalanya, tidak berani menatap wajah Raja Orla.


“Vin ….”


Mom VinGlow merasa dadanya


seakan meledak. Panggilan itu, sudah terlalu lama dilupakannya. Semasa mudanya,


panggilan itu selalu membuatnya melayang-layang. Namun semua mimpinya untuk


bersanding dengan si pemanggil nama itu hanya berupa mimpi, ketika


pelantikannya menjadi Raja, mengharuskan dia menikahi seorang bangsawan terkaya


dari Nerdia Selatan. Untuk perluasan kekuasaannya. Sedangkan dia hanya anak


bangsawan pengurus Akademi Nerdia. Siapalah dia berharap menjadi istri Raja.


Mom VinGlow mengejang


ketika tangan Raja Orla menyentuh lehernya. Dia tak kuasa menolak ketika Raja


Orla menariknya mendekat, hingga dia bisa mencium aroma Rouya Hijau yang begitu


harum dari baju kebesaran.


“Kau tahu, ketika suamimu


mati, aku satu-satunya orang yang paling gembira. Tapi sayang, istriku tidak


akan mengijinkanku memilikimu.”


Mom VinGlow merasa dadanya


begitu sesak. Raja Orla mendekatkan wajahnya, hingga hanya berjarak satu


kepalan tangan dengan wajah Mom VinGlow. Mom VinGlow bisa merasakan hembusan


nafas lembut Raja Orla. Dan pikirannya menjadi kalut. Dia tidak yakin dia atau


Raja Orla bisa menguasai diri. Masa itu begitu lama, tapi kini kembali menjelas


di pelupuk matanya


“Masalah FayLinn ini


begitu pelik, dan aku tidak ingin Nerdia dalam kekacauan.” bisik Raja Orla di


telinga Mom VinGlow.


Mom VinGlow merasakan ada


yang jatuh dari badannya. Raja Orla telah melepaskan anyaman Rouya, hadiah


terakhir mendiang suaminya, yang menyelimuti badannya. Apa yang diminta oleh


kerajaan, dia harus memberikannya, semuanya. Dan lintasan wajah Ratu Orla tak


diindahkannya.


Enya Moss dan Enya Spark


menatap ke arah pintu Hoogle yang terkunci, saat terdengar suara-suara yang


menembus dari sela-sela kayu. Lalu mereka saling berpandangan dan mengedik


bahu. Raja Orla pasti bisa mendapatkan informasi akurat tentang FayLinn. Meski


mereka berdua harus menunggu sampai pagi.