The Thistle

The Thistle
2 - NotchWood



Walau para bangsawan pusing memikirkan


cuaca, tak ada pengaruhnya bagi FayLinn. Saat ini, FayLinn tidak peduli dengan


cuaca Nerdia. Entah itu sedang hujan, panas atau turun salju. Padahal dia


adalah gadis kecil yang selalu gembira bila hujan mengguyur Nerdia, sebagaimana


anak-anak kecil Nerdia lainnya. Dia akan berlari mengelilingi rumah mewahnya.


Rumah bangsawan terkaya di Nerdia. Membiarkan tubuhnya belepotan lumpur dan


menyusahkan semua pelayan.


Semua kegembiraan itu meredup karena


ZinLinn, ibunya terkasih sedang terkapar sakit. Warna rambutnya semakin hari


semakin memudar, membuat ayahnya semakin gelisah. Kulit merah mudanya yang


masih kencang pun mulai memucat dan berkerut. ZinLinn tidak lagi mau makan dan


minum. Tubuhnya semakin lemah.


”Ayah, panggilkan kakek ! Ibu ingin


bertemu kakek !” rengek FayLinn seraya menarik-narik baju ayahnya.


WinkGef, lelaki berbadan gagah dan kekar


itu tertunduk dalam. Wajah tampan dengan rahang kuat itu tampak begitu kuyu. Rambutnya


acak-acakan, karena sudah beberapa hari dia tidak sempat mengurus dirinya. Bahkan,


baju setelan khas bangsawan Rouya dengan sulaman benang emas berbentuk


sulur-sulur pohon Rouya tidak tampak gagah membalut tubuhnya.


Sakitnya ZinLinn membawa perubahan besar


pada dirinya. Apalagi bulan ini adalah bulan paling sibuk. Para pekerja di


perkebunan resah dengan cuaca yang semakin panas. WinkGef terpaksa memasok


makanan dan air berlebih pada para pekerja, walaupun mereka sama sekali tidak


bekerja. Hanya membolak-balik tanah dan tidak berani menanam benih. Beberapa asistennya


mengusulkan untuk membeli air, tapi WinkGef menolak. Air sumur berbeda dengan


air hujan, tidak akan menumbuhkan benih dengan optimal.


Kebimbangan melanda hati WinkGef mendengar


permintaan anaknya. Mustahil membawa ayah ZinLinn ke rumah ini. Mendekatkan


mertuanya pada ZinLinn akan membuat istrinya semakin menderita.


”Ayah tidak bisa, sayang, ” jawabnya dengan


lidah kelu.


FayLinn mulai menangis. Mata bulatnya


memerah lalu basah. Bulir-bulir bening mengalir di kedua pipinya yang halus. WinkGef


mendekati putri semata wayangnya dan mengelus rambut hijaunya yang keemasan dan


mengkilat. Bau harum nan lembut Rouya Hijau menyeruak dari rambut FayLinn. Rambut


khas para putri bangsawan, yang selalu terawat.


”Sayang, kita tidak bisa memanggil kakek


ke rumah kita. Bila kakek menemui ibumu, ibu akan bertambah sakit, sayang !”


”Ayah bohong ! Ibu rindu pada kakek,


makanya dia sakit !”


Tangis dan jeritan FayLinn terasa begitu


menyayat hati. Dia mengibas-ngibaskan rambutnya seraya memukul-mukul dada


bidang ayahnya. WinkGef tak bisa berbuat apa-apa selain memeluk anaknya


erat-erat.


Beberapa pelayan bergegas masuk ke dalam


ruangan, tapi WinkGef menyuruh mereka pergi. Bukan saat yang tepat melayani


semua keinginan FayLinn. Gadis kecil ini memang terbiasa dilayani oleh pelayan.


Ada puluhan pelayan di rumah mewahnya, dengan tugas yang berbeda-beda dalam


melayani FayLinn. Tapi untuk menghadirkan kakeknya, tak ada yang bisa melakukannya


selain WinkGef.


”Rumah kakekmu di sisi timur Nerdia. Perlu


dua hari untuk sampai ke sana. ”


”Ayah bohong ! Ayah hanya sibuk memikirkan


kebun ayah. Ayah tidak sayang pada ibu lagi !” pekik FayLinn semakin keras.


WinkGef mendesah. Tidak mudah menjelaskan


pada FayLinn. Anak itu sedang bersedih dengan kondisi ibunya. WinkGef pun


membisikkan sesuatu ke telinga putri terkasihnya, sebuah janji.


Tangis FayLinn mereda, tapi isaknya masih


tersisa. Dia menatap wajah ayahnya dengan mata bulatnya. Mata yang begitu indah


bagi WinkGef. Betapa sepasang mata itu begitu jernih dan bersih. WinkGef


melihat gambaran ZinLinn pada anaknya. ZinLinn yang telah dengan setia dan


penuh cinta menemani hari-harinya. Dan hari-hari itu akan segera berlalu,


seperti yang pernah diucapkan ZinLinn dulu.


OoO


Raut muka ZinLinn semakin pucat. Rambut


hijaunya tak lagi keemasan dan mengkilat seperti dulu. Namun baik WinkGef


maupun FayLinn tak peduli pada kehormatan bangsa Nerdia. Kehormatan bangsawan


Nerdia ada pada rambut hijau keemasan mereka. Semakin mengkilat menunjukkan


mereka semakin kaya dan terhormat. Hanya bangsawan-bangsawan kaya yang mampu


membeli Rouya hijau untuk merawat rambut mereka setiap hari. Bahkan ada


mempunyai pohon Rouya Hijau raksasa yang buahnya tidak mereka makan, tapi hanya


untuk merawat tubuh mereka dan BirdNerd yang mereka miliki. Seperti yang


dimiliki WinkGef di halaman depan rumahnya.


Apabila bangsawan lain melihat kondisi


ZinLinn maka dalam hitungan detik mereka pasti akan memutuskan hubungan


persahabatan begitu saja, tak peduli seberapa besar jasanya sebelumnya. Tidak


lagi berambut hijau keemasan adalah sebuah kehinaan. Setara dengan masyarakat


Nerdia kelas bawah, para petani dan pekerja kasar yang berambut merah kusam.


Sekusam kulit mereka. Karena mereka hanya merawatnya dengan buah Rouya Merah.


Buah yang sangat murah dan tidak berbau harum. Hanya terasa sedikit manis


dengan banyak air. Pohon-pohon Rouya Merah banyak tumbuh liar di seluruh


Nerdia, siapa pun boleh memetik buahnya.


”Ibu ....”


FayLinn menenggelamkan wajahnya di dada


ibunya. FayLinn masih mencium sisa aroma Rouya hijau dari rambut ibunya. Samar-samar.


Kini baunya lebih mirip bau tanah Nerdia bila tersiram hujan. Segar dan manis.


ZinLinn perlahan membuka matanya. Kedua


matanya semakin meredup dan senyumnya tak lagi seindah saat dia masih segar dan


sehat.


”Ibu, ayah akan memanggil kakek ke rumah kita.


Fay tahu kalau ibu rindu pada kakek. Ya kan, Bu ?”


ZinLinn memaksa tersenyum, menutupi rasa


sakit di sekujur tubuhnya. Bibirnya gemetar dan matanya mulai mendung.


Ditatapnya wajah suami tercintanya yang duduk di belakang FayLinn. Ini pasti


gara-gara kemarin dia bercerita tentang kakek FayLinn. Seorang lelaki tua yang


bijaksana. Seluruh bangsa Nerdia menghormatinya, tapi tidak ada yang tahu di


mana dia berada, tidak ada yang tahu bagaimana rupanya. Bangsa Nerdia hanya


bisa merasakan bahwa dia ada untuk Zinnia.


”Panggil dia kemari, suamiku....” pinta


ZinLinn seraya meraih tangan WinkGef.


”Tapi ..”


”Jangan pikirkan aku, aku tidak punya


banyak waktu. ”


WinkGef


menatap wajah sayu istrinya. Kini


wajah itu memohon dengan sangat padanya. WinkGef sangat mengingat tatapan itu.


Tatapan mata yang sama dengan tatapan saat dia memohon agar ayahnya


meninggalkannya. Hidup terpisah dan tak lagi bertemu, hingga maut menjemput.


”Sayang ...”


ZinLinn meraih FayLinn dalam pelukannya.


Dia memeluk anaknya, erat. Seolah, waktu berpisah itu tak akan lama lagi.


Sejenak dia mengangkat wajahnya, menghirup aroma Rouya Hijau dari rambut FayLinn.


WinkGef tak kuasa menahan air matanya. Bergegas dia membalikkan badan dan


meninggalkan kedua wanita terkasihnya. Dia tahu, hari itu akan tiba. Hari di


mana dia harus melepaskan ZinLinn pergi selamanya. Meninggalkannya berdua


dengan FayLinn.


Langkah kakinya membawanya ke ruang kerja.


Ornamen ruang kantornya adalah ornamen termahal di Nerdia. Gambar lukisan Rouya


berbagai jenis menggantung indah di sekeliling ruangan. Dan gambar terbesar


tentu saja Rouya Hijau, Rouya termahal di Nerdia. Ruangan besar itu hanya


berisi meja besar berbentuk bundar di tengahnya. Di sekeliling meja besar ada


sebelas kursi. Sebuah kursi dengan ukiran perdu Rouya, adalah kursi miliknya.


Bila dia duduk di kursi itu, maka latar belakang gambar Rouya Hijau seolah


memberi kekuasaan padanya.


”Black BirdNerd, Tuan, ” kata LesTyn Root,


kepala asistennya seminggu yang lalu.


Hampir dia tidak mempercayai ucapan LesTyn


bila tidak melihat kondisi ZinLinn dan hasil pemeriksaan tim dokternya. ZinLinn


terkena sihir Black BirdNerd. BirdNerd yang selalu bertengger di Pohon Rouya


Hitam. Satu-satunya Rouya yang tidak ada gambarnya di ruangan kerjanya. Karena


memang tidak ada satu pelukis pun yang berani menggambar pohon Rouya Hitam.


Pohon yang konon cuma ada satu di Zinnia dan hanya penunggang Black BirdNerd


yang tahu dimana letak pohon itu.


”Dia menghendaki sesuatu yang dimiliki


ZinLinn, ” kata LesTyn, ”dan sesuatu itu akan terlepas bila ZinLinn mati. Dan


hanya ZinLinn dan Black BirdNerd yang tahu apa yang diinginkan Black BirdNerd.



WinkGef duduk di kursinya. Di hadapannya


ada sebuah buku tebal. Buku  kuno yang


tampak usang. Kertasnya terbuat dari serat daun Rouya. Begitu buku itu dibuka,


WinkGef langsung mengenali baunya. Daun Rouya merah, yang mudah tumbuh


tanpa siraman air hujan. Makanya tidak heran bangsa Nerdia memanfaatkannya


untuk membuat kertas.


Tidak mudah mendapatkan buku Black


BirdNerd. LesTyn memburunya ke seluruh penjuru Nerdia dan berhasil membeli


koleksi seorang penulis tua. Black BirdNerd ternyata bukan mitos sebagaimana


yang beredar di kalangan pekerja. Bahwa apabila  panen Rouya gagal, itu dikarenakan Black BirdNerd kembali datang ke


Nerdia, merusak cuaca dan memburu sesuatu. Setelah dia mendapatkan apa yang


diinginkannya, maka dia akan pergi, entah kemana. Hujan yang tak kunjung tiba,


adalah karena aura Black BirdNerd yang sudah mengelilingi Nerdia.


WinkGef memutuskan untuk menuntaskan


membaca buku itu setelah kepulangannya dari menjemput NotchWood. Pastinya,


kakek itu juga mengetahui tentang Black BirdNerd. Ada banyak hal yang harus dia


perbincangkan dengan lelaki tua itu, setelah sebelas tahun berlalu.


OoO


NotchWood memandangi pintu pondoknya. Satu


lagi engselnya telah terlepas. Tinggal menunggu satu tiupan angin atau kibasan


sayap BirdNerd, maka dia tidak akan memiliki pintu lagi untuk pondoknya.


Kapak di tangannya terasa begitu berat.


NotchWood tidak yakin mampu memotong batang pohon dan mengubahnya menjadi pintu


baru. Akan memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk melakukannya.


Sementara, dirinya tidak akan tahan selama itu berada di pondok tak berpintu.


Apalagi bila malam hari. Dia akan menggigil kedinginan. Sementara jubah yang


dipakainya, dari daun-daun Rouya Biru yang dianyamnya sendiri, mulai terlepas


satu per satu. Semakin membuat dia kedinginan di malah hari. Dia pun berencana


menguliti beberapa pohon Rouya Biru, untuk disisir halus, dan dianyam menjadi


”Setidaknya, aku akan berusaha. Semoga ada


lelaki gagah yang datang dan membantuku memotong kayu, ” gumamnya putus asa,


”dan semoga dia datang hari ini, tidak sampai berbulan-bulan. ”


Notchwood meraih tongkatnya yang selama


ini membantu tubuh rentanya untuk berdiri dan berjalan. Dia berharap, tongkatnya


tidak akan mengalami nasib seperti pintu pondoknya. Atau dia tidak akan bisa


kemana-mana lagi. Terpuruk di pondoknya dan hanya menanti BirdNerd-nya


mengantar makanan.


Baru beberapa langkah dia berjalan,


tiba-tiba hembusan angin yang tidak diinginkannya itu benar-benar datang.


Kepakan sayap BirdNerd. Notchwood menoleh ke arah pintu pondoknya dengan cemas.


Pintu itu semakin miring akibat hembusan tadi. Tapi setidaknya, doanya


terkabul. Seorang lelaki gagah turun dari BirdNerd berbulu hijau keemasan itu.


Seorang bangsawan.


”Notchwood, ” sapa lelaki itu.


Notchwood terperangah. Seakan melihat


iblis datang menyapanya. Bergegas dia membalikkan badan menuju pondoknya. Lebih


baik dia memperbaiki sendiri pondoknya daripada lelaki itu yang mengerjakannya.


”Kapan terakhir kali hujan turun ?” tanya


lelaki itu, membuat Notchwood menghentikan langkahnya yang tertatih-tatih.


Notchwood bergeming. Melihat lelaki itu


sama halnya dengan menyayat luka di hatinya. Luka lama sudah lama berlalu, akan


timbul luka baru lagi. Dan NotchWood sudah mulai merasakan sebuah luka baru


mengiris hatinya. Matanya mulai membasah.


WinkGef menatap tubuh renta di hadapannya.


Sedikit bungkuk dengan jubah yang sudah merumbai di sana sini. Di Kota Nerdia,


NotchWood sudah pasti akan dianggap gelandangan pemalas. Dan pondok reyot di


tepi hutan dengan pintu yang hampir lepas, membuat hati WinkGef teriris.


Sungguh, hatinya sendiri tak tega melihat mertuanya tinggal di pondok itu.


Betapa ingin dia melangkah dan memeluk tubuh renta itu. Bahwa dia mampu


memberikan segala materi demi kebahagiaannya. Tapi, seperti yang sudah-sudah,


WinkGef tak pernah berani melangkah. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, saat


mengabarkan kelahiran FayLinn, Notchwood memunggunginya selama dia bicara. Tapi


WinkGef tahu, lelaki itu bersimbah air mata. Karena hujan gerimis kemudian


turun perlahan.


WinkGef menatap langit. Awan putih tipis


perlahan datang dan menurunkan butiran-butiran air halus. WinkGef tersenyum


getir.


”ZinLinn


memintaku membawamu, ” ucap WinkGef seraya menadahkan tangannya, menampung


butiran-butiran air dari langit, ”aku yakin kau sudah tahu, kenapa sudah enam


bulan ini tidak hujan. ZinLinn sakit. ”


WinkGef menjilat tangannya yang basah


terkena gerimis. Air hujan yang manis yang dirindukan semua orang di Zinnia. NotchWood


tidak bergeming, tapi gerimis semakin menderas. Kesedihan begitu terasa di


antara mereka berdua.


”NotchWood, tolonglah. Waktu kita tidak


banyak, ” ucap WinkGef memohon.


Dia melangkah perlahan mendekati


NotchWood. Berusaha membujuk lelaki renta yang pernah terluka hatinya bukanlah


hal mudah. Sudah bertahun-tahun dilakukannya, tapi dia hanya mendapati punggung


NotchWood. Sebenarnya, semua tidak harus berakhir dengan saling diam seperti


yang sudah-sudah. Semua bisa dibicarakan dengan duduk bersama. Tetapi kepala


NotchWood lebih keras dari batang Pohon Rouya.


NotchWood


melangkah menuju pondok reyotnya. WinkGef menatapnya putus asa. Dia harus


membawa NotchWood ke rumahnya.


”Ini


tentang Black BirdNerd...” seru WinkGef, “bila kau peduli …”


WinkGef


pun membalikkan badan dan menaiki BirdNerd-nya. Ditatapnya sekali lagi NotcWood yang mulai basah kuyup seperti dirinya. Tidak


ada reaksi, maka WinkGeff pun menepuk leher BirdNerd-nya. Sejurus kemudian,


BirdNerd-nya melebarkan sayapnya dan terbang meninggalkan tepi hutan Rouya


Biru.


”Ternyata dia sudah tak peduli lagi pada


ZinLinn, hatinya benar-benar keras. Bahkan ZinLinn meregang nyawa pun, dia tetap


bergeming !”


WinkGef mengumpat sepanjang jalan. Menatap


ufuk yang mulai menguning. Sebentar lagi malam, dia dan BirdNerd-nya harus


beristirahat. Dua hari perjalanan, sudah dua istal dia kunjungi. Dia berencana


mengunjungi istal yang sama dalam perjalanan pulang. Dia berharap, rasa


kecewanya akan sikap NotchWood tidak membuatnya menendang pintu penginapan


istal.


”Ada Istal BirdNerd disewakan, tidak jauh


dari sini ...”


WinkGef terkejut mendengar suara itu.


NotchWood dan BirdNerd-nya tiba-tiba sudah menjajarinya. BirdNerd-putih,


seputih rambut dan jenggot lebat NotchWood. NotchWood memakai tudung kepala,


menyembunyikan rambut putihnya. WinkGef melempar senyum lega. Tapi seperti


biasa, NotchWood tak peduli. Sejurus kemudian, BirdNerd NotchWood menukik. Di


bawah sana ada


Istal BirdNerd, dengan pohon Rouya Merah. Murah. Tapi lumayan untuk beristirahat


dan memulihan energi.


WinkGef pun berbisik pada BirdNerd-nya,


“Kita turun ke sana. Istal Rouya Meah. Jangan khawatir, aku membawa Rouya


Hijau. ”


Istal BirdNerd milik rakyat jelata.


Sungguh nyata perbedaannya ketika WinkGef masuk ke ruangan tempat semua orang


menikmati makan malam di bawah Rouya Merah yang menjulang tinggi. Sementara


BirdNerd mereka yang berbulu kemerahan bertengger di dahan-dahan pohon dan


sesekali menyantap buah Rouya Merah.


Wajah kurang bersahabat dari para


pengunjung Istal. Wajah-wajah kasar petani berambut merah kusam. Mereka


mengamati WinkGef dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan WinkGef


langsung mengundang perhatian dan tanda tanya besar. Sungguh tak biasa, ada


bangsawan berkunjung di istal rakyat jelata. WinkGef berusaha bersikap wajar.


Tidak jauh dari Rouya Merah itu, ada pohon


Rouya Hijau yang lebih pendek, tapi dijaga oleh pemiliknya. Hanya ada dua


BirdNerd bertengger di situ, dengan bulu kehijauan. WinkGef lega melihat ada


tempat istirahat yang sesuai untuk BirdNerd-nya. Dia pun menuju pohon Rouya


Hijau itu dan menyerahkan BirdNerd-nya pada sang penjaga.


”Hm, begitulah pada bangsawan,” gumam NotchWood,


”padahal mereka menikmati hujan yang sama di Zinnia.”


WinkGef pura-pura tidak mendengar gumaman


NotchWood. Para bangsawan dan petani tidak pernah berseteru. Hanya nasib yang


membedakan penampilan mereka. Bila para petani iri, itu sudah hal yang biasa.


WinkGef


memesan dua porsi Whim Rouya Hijau. Whim adalah makanan khas Nerdia, berupa buah Rouya jenis apa saja


yang sudah tua, dihancurkan dan dimasak bersama sayuran dan diberi madu. Whim


Rouya Hijau adalah Whin yang paling lezat, dan tentu saja mahal.


“Whim


itu hanya akan membuatmu tidur sepanjang malam, “ ucap NotchWood.


“Aku


lelah, aku butuh istirahat.”


NotchWood mengeluarkan sesuatu dari tas


yang sejak tadi diselempangkan di bahunya.


”Makanlah ini.”


NotchWood mengeluarkan Rouya Biru dan


meletakkannya di atas meja. Buah itu sudah dibelah, tinggal dinikmati. WinkGef


meringis. Seumur hidupnya, dia tidak pernah memakan Rouya Biru yang terkenal


pahit.


”Kau tidak tahu apa yang akan terjadi


besok.”


WinkGef mengambil sedikit isi buah Rouya


biru di hadapannya, menggigitnya sedikit dan menelannya dengan terpaksa.


NotchWood pura-pura tidak melihat. Dia menikmati minumannya, sebotol besar air


hujan.


Pelayan Istal datang membawakan dua porsi


Whim Rouya Hijau. Dia tertegun melihat NotchWod menikmati air hujan.


”Dapat dari mana air hujan ?” tanya


pelayan itu dengan suara agak keras, membuat beberapa pengunjung Istal menoleh


ke meja WinkGef dan NotchWood.


WinkGef mencium aroma kurang bersahabat.


Air hujan sedang langka di Zinnia. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Di


Nerdia, air hujan yang ditampung para bangsawan sering dicuri. WinkGef tidak


mau mencari gara-gara, walau di tas kantongnya ada beberapa botol air hujan.


Dia membutuhkannya untuk persediaan selama di perjalanan. Tapi, tingkah laku


NotchWood telah memancing perkara yang sudah diantisipasinya.


”Tadi di timur hujan, ” sahut WinkGef,


pura-pura tidak peduli, tapi mulai waspada. Apalagi dilihatnya beberapa lelaki kekar


mendekati mereka.


”Kalian mau ? Gratis !” teriak NotchWood,


tidak mendukung sama sekali skenario WinkGef.


Kontan beberapa orang berebut mendekati


NotchWood sambil membawa gelasnya masing-masing. NotchWood sampai kewalahan


menuang air hujan dari botolnya ke gelas mereka. Suasana menjadi berisik, tapi


dipenuhi tawa gembira. Semetara NotchWood sudah menghabiskan tiga botol air


hujan untuk dibagikan.


”Kau memang lelaki tua yang baik hati !”


ucap seseorang.


”Ya,


kau layak jadi Thistle.”


“Ya, benar ! Kau sudah memberi kami air


hujan.”


”Hidup


Thistle !”


”Hidup


!”


”Ayo,


siapa mau tambah ?” teriak NotchWood senang. Senyum menghias wajahnya.


WinkGef mengamati kerumunan orang di


hadapannya. Senyum gembira NotchWood. Wajah riang para petani. Pemandangan yang


tak pernah dia lihat sebelumnya. Kegembiraan hanya karena air hujan.


OoO