
Walau para bangsawan pusing memikirkan
cuaca, tak ada pengaruhnya bagi FayLinn. Saat ini, FayLinn tidak peduli dengan
cuaca Nerdia. Entah itu sedang hujan, panas atau turun salju. Padahal dia
adalah gadis kecil yang selalu gembira bila hujan mengguyur Nerdia, sebagaimana
anak-anak kecil Nerdia lainnya. Dia akan berlari mengelilingi rumah mewahnya.
Rumah bangsawan terkaya di Nerdia. Membiarkan tubuhnya belepotan lumpur dan
menyusahkan semua pelayan.
Semua kegembiraan itu meredup karena
ZinLinn, ibunya terkasih sedang terkapar sakit. Warna rambutnya semakin hari
semakin memudar, membuat ayahnya semakin gelisah. Kulit merah mudanya yang
masih kencang pun mulai memucat dan berkerut. ZinLinn tidak lagi mau makan dan
minum. Tubuhnya semakin lemah.
”Ayah, panggilkan kakek ! Ibu ingin
bertemu kakek !” rengek FayLinn seraya menarik-narik baju ayahnya.
WinkGef, lelaki berbadan gagah dan kekar
itu tertunduk dalam. Wajah tampan dengan rahang kuat itu tampak begitu kuyu. Rambutnya
acak-acakan, karena sudah beberapa hari dia tidak sempat mengurus dirinya. Bahkan,
baju setelan khas bangsawan Rouya dengan sulaman benang emas berbentuk
sulur-sulur pohon Rouya tidak tampak gagah membalut tubuhnya.
Sakitnya ZinLinn membawa perubahan besar
pada dirinya. Apalagi bulan ini adalah bulan paling sibuk. Para pekerja di
perkebunan resah dengan cuaca yang semakin panas. WinkGef terpaksa memasok
makanan dan air berlebih pada para pekerja, walaupun mereka sama sekali tidak
bekerja. Hanya membolak-balik tanah dan tidak berani menanam benih. Beberapa asistennya
mengusulkan untuk membeli air, tapi WinkGef menolak. Air sumur berbeda dengan
air hujan, tidak akan menumbuhkan benih dengan optimal.
Kebimbangan melanda hati WinkGef mendengar
permintaan anaknya. Mustahil membawa ayah ZinLinn ke rumah ini. Mendekatkan
mertuanya pada ZinLinn akan membuat istrinya semakin menderita.
”Ayah tidak bisa, sayang, ” jawabnya dengan
lidah kelu.
FayLinn mulai menangis. Mata bulatnya
memerah lalu basah. Bulir-bulir bening mengalir di kedua pipinya yang halus. WinkGef
mendekati putri semata wayangnya dan mengelus rambut hijaunya yang keemasan dan
mengkilat. Bau harum nan lembut Rouya Hijau menyeruak dari rambut FayLinn. Rambut
khas para putri bangsawan, yang selalu terawat.
”Sayang, kita tidak bisa memanggil kakek
ke rumah kita. Bila kakek menemui ibumu, ibu akan bertambah sakit, sayang !”
”Ayah bohong ! Ibu rindu pada kakek,
makanya dia sakit !”
Tangis dan jeritan FayLinn terasa begitu
menyayat hati. Dia mengibas-ngibaskan rambutnya seraya memukul-mukul dada
bidang ayahnya. WinkGef tak bisa berbuat apa-apa selain memeluk anaknya
erat-erat.
Beberapa pelayan bergegas masuk ke dalam
ruangan, tapi WinkGef menyuruh mereka pergi. Bukan saat yang tepat melayani
semua keinginan FayLinn. Gadis kecil ini memang terbiasa dilayani oleh pelayan.
Ada puluhan pelayan di rumah mewahnya, dengan tugas yang berbeda-beda dalam
melayani FayLinn. Tapi untuk menghadirkan kakeknya, tak ada yang bisa melakukannya
selain WinkGef.
”Rumah kakekmu di sisi timur Nerdia. Perlu
dua hari untuk sampai ke sana. ”
”Ayah bohong ! Ayah hanya sibuk memikirkan
kebun ayah. Ayah tidak sayang pada ibu lagi !” pekik FayLinn semakin keras.
WinkGef mendesah. Tidak mudah menjelaskan
pada FayLinn. Anak itu sedang bersedih dengan kondisi ibunya. WinkGef pun
membisikkan sesuatu ke telinga putri terkasihnya, sebuah janji.
Tangis FayLinn mereda, tapi isaknya masih
tersisa. Dia menatap wajah ayahnya dengan mata bulatnya. Mata yang begitu indah
bagi WinkGef. Betapa sepasang mata itu begitu jernih dan bersih. WinkGef
melihat gambaran ZinLinn pada anaknya. ZinLinn yang telah dengan setia dan
penuh cinta menemani hari-harinya. Dan hari-hari itu akan segera berlalu,
seperti yang pernah diucapkan ZinLinn dulu.
OoO
Raut muka ZinLinn semakin pucat. Rambut
hijaunya tak lagi keemasan dan mengkilat seperti dulu. Namun baik WinkGef
maupun FayLinn tak peduli pada kehormatan bangsa Nerdia. Kehormatan bangsawan
Nerdia ada pada rambut hijau keemasan mereka. Semakin mengkilat menunjukkan
mereka semakin kaya dan terhormat. Hanya bangsawan-bangsawan kaya yang mampu
membeli Rouya hijau untuk merawat rambut mereka setiap hari. Bahkan ada
mempunyai pohon Rouya Hijau raksasa yang buahnya tidak mereka makan, tapi hanya
untuk merawat tubuh mereka dan BirdNerd yang mereka miliki. Seperti yang
dimiliki WinkGef di halaman depan rumahnya.
Apabila bangsawan lain melihat kondisi
ZinLinn maka dalam hitungan detik mereka pasti akan memutuskan hubungan
persahabatan begitu saja, tak peduli seberapa besar jasanya sebelumnya. Tidak
lagi berambut hijau keemasan adalah sebuah kehinaan. Setara dengan masyarakat
Nerdia kelas bawah, para petani dan pekerja kasar yang berambut merah kusam.
Sekusam kulit mereka. Karena mereka hanya merawatnya dengan buah Rouya Merah.
Buah yang sangat murah dan tidak berbau harum. Hanya terasa sedikit manis
dengan banyak air. Pohon-pohon Rouya Merah banyak tumbuh liar di seluruh
Nerdia, siapa pun boleh memetik buahnya.
”Ibu ....”
FayLinn menenggelamkan wajahnya di dada
ibunya. FayLinn masih mencium sisa aroma Rouya hijau dari rambut ibunya. Samar-samar.
Kini baunya lebih mirip bau tanah Nerdia bila tersiram hujan. Segar dan manis.
ZinLinn perlahan membuka matanya. Kedua
matanya semakin meredup dan senyumnya tak lagi seindah saat dia masih segar dan
sehat.
”Ibu, ayah akan memanggil kakek ke rumah kita.
Fay tahu kalau ibu rindu pada kakek. Ya kan, Bu ?”
ZinLinn memaksa tersenyum, menutupi rasa
sakit di sekujur tubuhnya. Bibirnya gemetar dan matanya mulai mendung.
Ditatapnya wajah suami tercintanya yang duduk di belakang FayLinn. Ini pasti
gara-gara kemarin dia bercerita tentang kakek FayLinn. Seorang lelaki tua yang
bijaksana. Seluruh bangsa Nerdia menghormatinya, tapi tidak ada yang tahu di
mana dia berada, tidak ada yang tahu bagaimana rupanya. Bangsa Nerdia hanya
bisa merasakan bahwa dia ada untuk Zinnia.
”Panggil dia kemari, suamiku....” pinta
ZinLinn seraya meraih tangan WinkGef.
”Tapi ..”
”Jangan pikirkan aku, aku tidak punya
banyak waktu. ”
WinkGef
menatap wajah sayu istrinya. Kini
wajah itu memohon dengan sangat padanya. WinkGef sangat mengingat tatapan itu.
Tatapan mata yang sama dengan tatapan saat dia memohon agar ayahnya
meninggalkannya. Hidup terpisah dan tak lagi bertemu, hingga maut menjemput.
”Sayang ...”
ZinLinn meraih FayLinn dalam pelukannya.
Dia memeluk anaknya, erat. Seolah, waktu berpisah itu tak akan lama lagi.
Sejenak dia mengangkat wajahnya, menghirup aroma Rouya Hijau dari rambut FayLinn.
WinkGef tak kuasa menahan air matanya. Bergegas dia membalikkan badan dan
meninggalkan kedua wanita terkasihnya. Dia tahu, hari itu akan tiba. Hari di
mana dia harus melepaskan ZinLinn pergi selamanya. Meninggalkannya berdua
dengan FayLinn.
Langkah kakinya membawanya ke ruang kerja.
Ornamen ruang kantornya adalah ornamen termahal di Nerdia. Gambar lukisan Rouya
berbagai jenis menggantung indah di sekeliling ruangan. Dan gambar terbesar
tentu saja Rouya Hijau, Rouya termahal di Nerdia. Ruangan besar itu hanya
berisi meja besar berbentuk bundar di tengahnya. Di sekeliling meja besar ada
sebelas kursi. Sebuah kursi dengan ukiran perdu Rouya, adalah kursi miliknya.
Bila dia duduk di kursi itu, maka latar belakang gambar Rouya Hijau seolah
memberi kekuasaan padanya.
”Black BirdNerd, Tuan, ” kata LesTyn Root,
kepala asistennya seminggu yang lalu.
Hampir dia tidak mempercayai ucapan LesTyn
bila tidak melihat kondisi ZinLinn dan hasil pemeriksaan tim dokternya. ZinLinn
terkena sihir Black BirdNerd. BirdNerd yang selalu bertengger di Pohon Rouya
Hitam. Satu-satunya Rouya yang tidak ada gambarnya di ruangan kerjanya. Karena
memang tidak ada satu pelukis pun yang berani menggambar pohon Rouya Hitam.
Pohon yang konon cuma ada satu di Zinnia dan hanya penunggang Black BirdNerd
yang tahu dimana letak pohon itu.
”Dia menghendaki sesuatu yang dimiliki
ZinLinn, ” kata LesTyn, ”dan sesuatu itu akan terlepas bila ZinLinn mati. Dan
hanya ZinLinn dan Black BirdNerd yang tahu apa yang diinginkan Black BirdNerd.
”
WinkGef duduk di kursinya. Di hadapannya
ada sebuah buku tebal. Buku kuno yang
tampak usang. Kertasnya terbuat dari serat daun Rouya. Begitu buku itu dibuka,
WinkGef langsung mengenali baunya. Daun Rouya merah, yang mudah tumbuh
tanpa siraman air hujan. Makanya tidak heran bangsa Nerdia memanfaatkannya
untuk membuat kertas.
Tidak mudah mendapatkan buku Black
BirdNerd. LesTyn memburunya ke seluruh penjuru Nerdia dan berhasil membeli
koleksi seorang penulis tua. Black BirdNerd ternyata bukan mitos sebagaimana
yang beredar di kalangan pekerja. Bahwa apabila panen Rouya gagal, itu dikarenakan Black BirdNerd kembali datang ke
Nerdia, merusak cuaca dan memburu sesuatu. Setelah dia mendapatkan apa yang
diinginkannya, maka dia akan pergi, entah kemana. Hujan yang tak kunjung tiba,
adalah karena aura Black BirdNerd yang sudah mengelilingi Nerdia.
WinkGef memutuskan untuk menuntaskan
membaca buku itu setelah kepulangannya dari menjemput NotchWood. Pastinya,
kakek itu juga mengetahui tentang Black BirdNerd. Ada banyak hal yang harus dia
perbincangkan dengan lelaki tua itu, setelah sebelas tahun berlalu.
OoO
NotchWood memandangi pintu pondoknya. Satu
lagi engselnya telah terlepas. Tinggal menunggu satu tiupan angin atau kibasan
sayap BirdNerd, maka dia tidak akan memiliki pintu lagi untuk pondoknya.
Kapak di tangannya terasa begitu berat.
NotchWood tidak yakin mampu memotong batang pohon dan mengubahnya menjadi pintu
baru. Akan memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk melakukannya.
Sementara, dirinya tidak akan tahan selama itu berada di pondok tak berpintu.
Apalagi bila malam hari. Dia akan menggigil kedinginan. Sementara jubah yang
dipakainya, dari daun-daun Rouya Biru yang dianyamnya sendiri, mulai terlepas
satu per satu. Semakin membuat dia kedinginan di malah hari. Dia pun berencana
menguliti beberapa pohon Rouya Biru, untuk disisir halus, dan dianyam menjadi
”Setidaknya, aku akan berusaha. Semoga ada
lelaki gagah yang datang dan membantuku memotong kayu, ” gumamnya putus asa,
”dan semoga dia datang hari ini, tidak sampai berbulan-bulan. ”
Notchwood meraih tongkatnya yang selama
ini membantu tubuh rentanya untuk berdiri dan berjalan. Dia berharap, tongkatnya
tidak akan mengalami nasib seperti pintu pondoknya. Atau dia tidak akan bisa
kemana-mana lagi. Terpuruk di pondoknya dan hanya menanti BirdNerd-nya
mengantar makanan.
Baru beberapa langkah dia berjalan,
tiba-tiba hembusan angin yang tidak diinginkannya itu benar-benar datang.
Kepakan sayap BirdNerd. Notchwood menoleh ke arah pintu pondoknya dengan cemas.
Pintu itu semakin miring akibat hembusan tadi. Tapi setidaknya, doanya
terkabul. Seorang lelaki gagah turun dari BirdNerd berbulu hijau keemasan itu.
Seorang bangsawan.
”Notchwood, ” sapa lelaki itu.
Notchwood terperangah. Seakan melihat
iblis datang menyapanya. Bergegas dia membalikkan badan menuju pondoknya. Lebih
baik dia memperbaiki sendiri pondoknya daripada lelaki itu yang mengerjakannya.
”Kapan terakhir kali hujan turun ?” tanya
lelaki itu, membuat Notchwood menghentikan langkahnya yang tertatih-tatih.
Notchwood bergeming. Melihat lelaki itu
sama halnya dengan menyayat luka di hatinya. Luka lama sudah lama berlalu, akan
timbul luka baru lagi. Dan NotchWood sudah mulai merasakan sebuah luka baru
mengiris hatinya. Matanya mulai membasah.
WinkGef menatap tubuh renta di hadapannya.
Sedikit bungkuk dengan jubah yang sudah merumbai di sana sini. Di Kota Nerdia,
NotchWood sudah pasti akan dianggap gelandangan pemalas. Dan pondok reyot di
tepi hutan dengan pintu yang hampir lepas, membuat hati WinkGef teriris.
Sungguh, hatinya sendiri tak tega melihat mertuanya tinggal di pondok itu.
Betapa ingin dia melangkah dan memeluk tubuh renta itu. Bahwa dia mampu
memberikan segala materi demi kebahagiaannya. Tapi, seperti yang sudah-sudah,
WinkGef tak pernah berani melangkah. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, saat
mengabarkan kelahiran FayLinn, Notchwood memunggunginya selama dia bicara. Tapi
WinkGef tahu, lelaki itu bersimbah air mata. Karena hujan gerimis kemudian
turun perlahan.
WinkGef menatap langit. Awan putih tipis
perlahan datang dan menurunkan butiran-butiran air halus. WinkGef tersenyum
getir.
”ZinLinn
memintaku membawamu, ” ucap WinkGef seraya menadahkan tangannya, menampung
butiran-butiran air dari langit, ”aku yakin kau sudah tahu, kenapa sudah enam
bulan ini tidak hujan. ZinLinn sakit. ”
WinkGef menjilat tangannya yang basah
terkena gerimis. Air hujan yang manis yang dirindukan semua orang di Zinnia. NotchWood
tidak bergeming, tapi gerimis semakin menderas. Kesedihan begitu terasa di
antara mereka berdua.
”NotchWood, tolonglah. Waktu kita tidak
banyak, ” ucap WinkGef memohon.
Dia melangkah perlahan mendekati
NotchWood. Berusaha membujuk lelaki renta yang pernah terluka hatinya bukanlah
hal mudah. Sudah bertahun-tahun dilakukannya, tapi dia hanya mendapati punggung
NotchWood. Sebenarnya, semua tidak harus berakhir dengan saling diam seperti
yang sudah-sudah. Semua bisa dibicarakan dengan duduk bersama. Tetapi kepala
NotchWood lebih keras dari batang Pohon Rouya.
NotchWood
melangkah menuju pondok reyotnya. WinkGef menatapnya putus asa. Dia harus
membawa NotchWood ke rumahnya.
”Ini
tentang Black BirdNerd...” seru WinkGef, “bila kau peduli …”
WinkGef
pun membalikkan badan dan menaiki BirdNerd-nya. Ditatapnya sekali lagi NotcWood yang mulai basah kuyup seperti dirinya. Tidak
ada reaksi, maka WinkGeff pun menepuk leher BirdNerd-nya. Sejurus kemudian,
BirdNerd-nya melebarkan sayapnya dan terbang meninggalkan tepi hutan Rouya
Biru.
”Ternyata dia sudah tak peduli lagi pada
ZinLinn, hatinya benar-benar keras. Bahkan ZinLinn meregang nyawa pun, dia tetap
bergeming !”
WinkGef mengumpat sepanjang jalan. Menatap
ufuk yang mulai menguning. Sebentar lagi malam, dia dan BirdNerd-nya harus
beristirahat. Dua hari perjalanan, sudah dua istal dia kunjungi. Dia berencana
mengunjungi istal yang sama dalam perjalanan pulang. Dia berharap, rasa
kecewanya akan sikap NotchWood tidak membuatnya menendang pintu penginapan
istal.
”Ada Istal BirdNerd disewakan, tidak jauh
dari sini ...”
WinkGef terkejut mendengar suara itu.
NotchWood dan BirdNerd-nya tiba-tiba sudah menjajarinya. BirdNerd-putih,
seputih rambut dan jenggot lebat NotchWood. NotchWood memakai tudung kepala,
menyembunyikan rambut putihnya. WinkGef melempar senyum lega. Tapi seperti
biasa, NotchWood tak peduli. Sejurus kemudian, BirdNerd NotchWood menukik. Di
bawah sana ada
Istal BirdNerd, dengan pohon Rouya Merah. Murah. Tapi lumayan untuk beristirahat
dan memulihan energi.
WinkGef pun berbisik pada BirdNerd-nya,
“Kita turun ke sana. Istal Rouya Meah. Jangan khawatir, aku membawa Rouya
Hijau. ”
Istal BirdNerd milik rakyat jelata.
Sungguh nyata perbedaannya ketika WinkGef masuk ke ruangan tempat semua orang
menikmati makan malam di bawah Rouya Merah yang menjulang tinggi. Sementara
BirdNerd mereka yang berbulu kemerahan bertengger di dahan-dahan pohon dan
sesekali menyantap buah Rouya Merah.
Wajah kurang bersahabat dari para
pengunjung Istal. Wajah-wajah kasar petani berambut merah kusam. Mereka
mengamati WinkGef dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan WinkGef
langsung mengundang perhatian dan tanda tanya besar. Sungguh tak biasa, ada
bangsawan berkunjung di istal rakyat jelata. WinkGef berusaha bersikap wajar.
Tidak jauh dari Rouya Merah itu, ada pohon
Rouya Hijau yang lebih pendek, tapi dijaga oleh pemiliknya. Hanya ada dua
BirdNerd bertengger di situ, dengan bulu kehijauan. WinkGef lega melihat ada
tempat istirahat yang sesuai untuk BirdNerd-nya. Dia pun menuju pohon Rouya
Hijau itu dan menyerahkan BirdNerd-nya pada sang penjaga.
”Hm, begitulah pada bangsawan,” gumam NotchWood,
”padahal mereka menikmati hujan yang sama di Zinnia.”
WinkGef pura-pura tidak mendengar gumaman
NotchWood. Para bangsawan dan petani tidak pernah berseteru. Hanya nasib yang
membedakan penampilan mereka. Bila para petani iri, itu sudah hal yang biasa.
WinkGef
memesan dua porsi Whim Rouya Hijau. Whim adalah makanan khas Nerdia, berupa buah Rouya jenis apa saja
yang sudah tua, dihancurkan dan dimasak bersama sayuran dan diberi madu. Whim
Rouya Hijau adalah Whin yang paling lezat, dan tentu saja mahal.
“Whim
itu hanya akan membuatmu tidur sepanjang malam, “ ucap NotchWood.
“Aku
lelah, aku butuh istirahat.”
NotchWood mengeluarkan sesuatu dari tas
yang sejak tadi diselempangkan di bahunya.
”Makanlah ini.”
NotchWood mengeluarkan Rouya Biru dan
meletakkannya di atas meja. Buah itu sudah dibelah, tinggal dinikmati. WinkGef
meringis. Seumur hidupnya, dia tidak pernah memakan Rouya Biru yang terkenal
pahit.
”Kau tidak tahu apa yang akan terjadi
besok.”
WinkGef mengambil sedikit isi buah Rouya
biru di hadapannya, menggigitnya sedikit dan menelannya dengan terpaksa.
NotchWood pura-pura tidak melihat. Dia menikmati minumannya, sebotol besar air
hujan.
Pelayan Istal datang membawakan dua porsi
Whim Rouya Hijau. Dia tertegun melihat NotchWod menikmati air hujan.
”Dapat dari mana air hujan ?” tanya
pelayan itu dengan suara agak keras, membuat beberapa pengunjung Istal menoleh
ke meja WinkGef dan NotchWood.
WinkGef mencium aroma kurang bersahabat.
Air hujan sedang langka di Zinnia. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Di
Nerdia, air hujan yang ditampung para bangsawan sering dicuri. WinkGef tidak
mau mencari gara-gara, walau di tas kantongnya ada beberapa botol air hujan.
Dia membutuhkannya untuk persediaan selama di perjalanan. Tapi, tingkah laku
NotchWood telah memancing perkara yang sudah diantisipasinya.
”Tadi di timur hujan, ” sahut WinkGef,
pura-pura tidak peduli, tapi mulai waspada. Apalagi dilihatnya beberapa lelaki kekar
mendekati mereka.
”Kalian mau ? Gratis !” teriak NotchWood,
tidak mendukung sama sekali skenario WinkGef.
Kontan beberapa orang berebut mendekati
NotchWood sambil membawa gelasnya masing-masing. NotchWood sampai kewalahan
menuang air hujan dari botolnya ke gelas mereka. Suasana menjadi berisik, tapi
dipenuhi tawa gembira. Semetara NotchWood sudah menghabiskan tiga botol air
hujan untuk dibagikan.
”Kau memang lelaki tua yang baik hati !”
ucap seseorang.
”Ya,
kau layak jadi Thistle.”
“Ya, benar ! Kau sudah memberi kami air
hujan.”
”Hidup
Thistle !”
”Hidup
!”
”Ayo,
siapa mau tambah ?” teriak NotchWood senang. Senyum menghias wajahnya.
WinkGef mengamati kerumunan orang di
hadapannya. Senyum gembira NotchWood. Wajah riang para petani. Pemandangan yang
tak pernah dia lihat sebelumnya. Kegembiraan hanya karena air hujan.
OoO