The Thistle

The Thistle
3 – Kakek dan Cucu



 


 


Bintang Memra bersinar cerah. WinkGef


berjalan di samping BirdNerd-nya yang tampak masih mengantuk, menuju pintu


gerbang Istal. Beberapa pintu kamar penginapan masih tertutup rapat. Acara


pesta air hujan semalam berlanjut dengan obrolan panjang. Entah kenapa NotchWod


mau saja meladeni banyolan-banyolan penuh omong kosong dari para petani itu.


WinkGef melirik dua BirdNerd kehijauan


yang masih tepekur di dahan pohon. Pemiliknya pasti masih tertidur. Mudah-mudahan


pemiliknya tidak mengetahui pesta air hujan semalam. WinkGef tidak ingin kabar


tentang dirinya berada di istal ini didengar para bangsawan Nerdia.


”Kau masih mengantuk, ” ucap NotchWood


menyalip langkahnya. BirdNerd putihnya mengikuti langkah NotchWood, tegap.


”Ya. Pesta air hujan semalam membuatku


tidak bisa tidur, ” sahut WinkGef menyindir NotchWood. Dia heran melihat lelaki


tua itu malah tampak segar bugar. Padahal setahunya, menjelang dini hari lelaki


itu merebahkan diri di sampingnya. Penginapan penuh, hanya tersedia satu kamar


untuk mereka berdua.


”Lihat, para bangsawan kurang kerjaan ...”


ucap NotchWood seraya menunjuk langit.


Segerombolan BirdNerd kehijauan terbang


membentuk formasi panah. Sesekali menukik serempak, setelah itu membubung


dengan cepat ke langit. Formasi berubah dengan cepat, membentuk sulur Rouya.


Suara pekik BirdNerd terdengar bersahut-sahutan. BirdNerd yang diberi makan


buah Rouya Hijau, pekikannya lebih nyaring daripada bila diberi makan buah


Rouya Merah. Beberapa orang yang keluar dari penginapan pun terpesona oleh


penampilan para bangsawan itu. Mereka bertepuk tangan dengan gembira.


”Bulan depan ada Festival. Mereka sedang


berlatih.”


NotchWood


menoleh ke arah WinkGef. Ditatapnya raut wajah WinkGef. Rupanya lelaki gagah


itu tidak secerdas penampilannya.


“Mereka tidak perlu berlatih sejauh ini.


Berita tersebar dengan cepat, secepat BirdNerd, ” ucap NotchWood.


WinkGef tertegun. Pesta hujan tadi malam.


Pasti para bangwasan itu sudah mendengar bahwa hujan turun di timur Nerdia.


”Kita harus segera pergi !”


WinkGef menaiki BirdNerd-nya lalu secepat


kilat membubung ke langit, diikuti NotchWood. Beruntung arah mereka berlawanan


dengan gerombolan BirdNerd bangsawan tersebut. WinkGef merasa harus bergegas


meninggalkan daerah itu. Apalagi melihat kostum para bangsawan itu, bukan


kostum bangsawan biasa. Mereka adalah para Enya Raja Nerdia. Pengawal setia


Raja ZorLya. Para bangsawan lebih suka tidak berurusan dengan mereka. Setiap


urusan dengan Enya, pasti banyak yang harus dikorbankan. Alasan kesetiaan pada


Raja ZorLya selalu menjadi yang utama.


”Bukankah kau dulu seorang Enya ?”


WinkGef pura-pura tidak mendengar


pertanyaan NotchWood. Dia pun tidak suka mengingat masa lalunya saat menjadi


Enya. Walau tidak dipungkirinya, sebagai juara bertahan SkyDiver di Nerdia, keahliannya


terasah saat menjadi Enya.


”Sepertinya, kau sudah lupa cara menjadi


Enya. ”


”NoctWood, cukup !” sergah WinkGef, ”sejak


kemarin, kau hanya menyindirku. Aku tidak melakukan kesalahan selama ini. Tapi


kau selalu membuat aku merasa tidak nyaman. Aku hanya ingin sampai di rumah


secepatnya. Anak dan istriku sudah menunggu. ”


”Aku tidak yakin, mantan Enya sepertimu


mampu melakukannya sebaik aku,” ucap Notchwood, merasa di atas angin.


BirdNerd NotchWood tiba-tiba melesat


dengan cepat, menukik lalu membubung secepat kilat. Dalam hitungan detik


tiba-tiba berbalik dan menyambar sayap BirdNerd WinkGef. BirdNerd


WinkGef memekik kesakitan dan oleng.


”Hei


! Itu curang !” teriak WinkGef.


Tapi NotchWood tidak peduli. Dia kembali


melesat dengan cepat. WinkGef geram. Dia pun memacu BirdNerd-nya mengejar NocthWood.


BirdNerd putih itu dengan lihai berkelit dari kejaran WinkGef.


Sesekali NotchWood berbalik dengan


tiba-tiba dan mengagetkan BirdNerd WinkGef. Tapi bukan WinkGef the SkyDiver


bila tidak berhasil mengelak dan mengendalikan BirdNerd-nya dengan cekatan. Dia


menukik tajam lalu membubung tinggi. BirdNerd NotchWood terkecoh. Dia pun


melesat mengejar. Tak disangka WinkGef membalikkan BirdNerd-nya dengan jalan


membubung tinggi dan memutar ke belakang. Lalu tiba-tiba menyambar sayap


BirdNerd NotchWood.


NotchWood lelaki tua yang masih kuat. Dia


sempat terpelesat, tapi tangannya masih mampu menggelantung di leher


BirdNerd-nya. WinkGef sempat was-was melihat NotchWood menggantung di lehar


burungnya. Tapi tak lama kemudian dia lega melihat mertuanya itu dengan cekatan


melompat ke atas  BirdNerd-nya, lalu


menyuapinya sesuatu. BirdNerd NotchWood kembali melesat.


WinkGef bergegas melesat jauh. Ada


gerombolan BirdNerd hijau di depannya yang sedang terbang perlahan, tertutup


pandangannya oleh segumpal awan putih.. Rupanya anak para bangsawan yang hendak


berangkat ke akademi. Bulu-bulu hijau mengkilat BirdNerd mereka sudah tampak


dari kejauhan, memantulkan cahaya Bintang Memra yang mulai meninggi.


WinkGef menukik ke bawah sebelum mencapai


awan di depannya, lalu membubung tiba-tiba di hadapan gerombolan itu.


Gerombolan BirdNerd itu terkejut dan tercerai berai seperti buah Rouya masak


yang jatuh ke tanah. Sekejap kemudian WinkGef berbalik dan melesat pergi.


Terceraiberainya gerombolan anak sekolah


itu membuat BirdNerd NotchWood yang baru saja melewati gumpalan awan terkejut. Tak


dapat dihindari menabrak salah satu BirdNerd. Terdengar teriakan kesakitan


BirdNerd. WinkGef tersenyum simpul, melihat kekacauan di belakangnya. Tidak ada


yang bisa mengalahkan SkyDiver terbaik di Nerdia.


OoO


FayLinn berlari menyambut kedatangan


ayahnya. Di belakangnya, para pelayan mengikuti langkah mungilnya. Sepertinya,


gadis itu telah mempersiapkan penyambutan ayahnya. Dia menjalin rambut indahnya


dengan aesoris dari kulit kayu Rouya kuning, yang mengikat ulir rambutnya.


Belum lagi bros dari ukiran kulit kayu Pohon Rouya Hijau, yang disematkannya di


ujung krah bajunya yang menjuntai ke perutnya. Dia berdandan layaknya


gadis-gadis remaja Rouya yang hendak memikat lelaki. Untunglah dia tidak


memakai penghijau bibir.


”Ayahhh !” teriaknya penuh rindu.


WinkGef menyerahkan BirdNerd-nya pada


LisTyn, asistennya yang menyambutnya di pintu gerbang.


”Selamat Datang, Tuan, ” sapa LisTyn


seraya membungkuk hormat.


”Dia kelelahan, mandikan dia dengan Rouya


Hijau hangat lebih dulu!” perintah WinkGef seraya menepuk kepala BirdNerdnya. BirdNerd


pun diserahkan pada pelayan lain yang dengan setia menunggu di belakang LisTyn.


FayLinn sudah memeluk kaki WinkGef,


memaksa WinkGef berjongkok dan mengelus rambut hijau mengkilat yang


dirindukannya. Semerbak Rouya Hijau menyeruak dari balik lebatnya rambut


FayLinn.


”Siapa yang menghias rambutmu ?”


FayLinn tidak menjawab. Para pelayan


menundukkan muka hormat sebagai jawaban. Gadis itu gelisah sejak kemarin, maka


mereka berusaha menghiburnya dengan mendandaninya. Semula FayLinn menolak, tapi


para pelayan membujuknya bahwa ayahnya akan suka bila melihat dia lebih cantik


dari biasanya. Tapi kegembiraan di raut wajah FayLinn hanya sekejap saja saat


bertemu ayahnya. Sejurus kemudian, dia pun berceloteh tentang kondisi ibunya.


”Ibu memanggil-manggil ayah setiap hari.”


Raut muka WinkGef berubah cemas, namun


berusaha ditutupinya di hadapan anak gadisnya. NotchWood sudah berdiri di


sampingnya. Pipinya tergores dan beberapa tetes darah segar menodai janggut


putihnya. Pasti terkena kepakan sayap BirdNerd.


”Maaf ...” ucap WinkGef merasa bersalah,


”pelayan akan segera mengobatimu.”


”Tidak perlu, ini hanya luka biasa.”


sergah NotchWood seraya mengamati tubuh mungil di hadapannya.


NotchWood berjongkok dan menatap sepasang


mata bulat FayLinn. Benar-benar mata milik ZinLinn.


”Siapa namamu ?” tanya NotchWood ramah.


”FayLinn Sprout. Fay namaku, Linn nama


ibuku dan Sprout nama ayahku. Apakah kamu kakekku ?”


NotchWood tersenyum. FayLinn begitu lucu


saat berbicara. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, membuat rambut hijau


mengkilatnya bergerak-gerak dan menebarkan aromanya. Dan asesoris kulit kayu


Rouya di rambutnya ikut menari saat kepalanya terayun. Siapapun yang melihatnya


pasti gemas. Anak itu begitu manis dan menyenangkan.


”Ya, aku kakekmu. NotchWood Dwar.


Seharusnya kamu bernama FayLinn Dwar. ”


WinkGef berdehem. Bukan saat yang tepat


membahas nama keturunan saat ini. Dan WinkGef merasa berhak memprotes kalimat


terakhir NotchWood.


Tanpa berbasa-basi lagi, WinkGef pun


mengajak NotchWood menemui ZinLinn, NotchWood tidak beranjak. Dia masih


terpesona oleh sosok mungil di hadapannya. Sosok yang mengingatkannya pada masa


lalunya bersama ZinLinn.


”Aku ingin bersama cucuku sebentar, ”


pintanya.


WinkGef mengangguk dan meninggalkan mereka


berdua. FayLinn mengajak kakeknya duduk di pohon Rouya Hijau yang menjulang


tinggi tepat di tengah-tengah halaman yang luas. Di bawah pohon itu ada sebuah


bangku panjang, terbuat dari batang pohon Rouya Hijau. Sementara di dahan-dahan


Rouya itu bertengger beberapa BirdNerd milik WinkGef, sedang menikmati


buah-buah Rouya.


”Kakek,


aku membuat Whim untuk kakek. Kakek pasti suka. Aku sudah mempersiapkannya


sejak kemarin, “ ucap FayLinn yang tiba-tiba merasa begitu mengenal kakeknya


yang seumur hidup baru pertama kali dilihatnya.


“Kamu persis seperti ibumu, “ kata


NoctWood seraya mengelus rambut FayLinn.


”Iya, semua orang mengatakan hal itu


padaku. ”


NotchWood memandang ke sekeliling halaman.


Hamparan rumput hijau tampak basah.


”Apa kemarin hujan turun ?”


”Iya. Kata ibu, bila aku sedih, maka


Zinnia ikut sedih.Makanya hujan pun turun.”


NotchWood tertegun. Kalimat terakhir itu


hampir tidak bisa dipercayanya. Apakah FayLinn ...


”FayLinn, coba tengadahkan tanganku.


Lihat, seperti kakek. ”


FayLinn mengikuti perbuatan kakeknya.


Mereka duduk berhadapan di bangku panjang itu dan menadahkan tangan.


”Apa


yang membuatmu bersedih sayang ?” tanya NotchWood lembut.


“Semua orang bilang, ibuku akan meninggal.


Aku tidak mau ibuku meninggal. Aku sangat sayang pada ibu, ” ucap FayLinn


dengan suara serak. Matanya mulai berkaca-kaca. Dan langit mulai tertutup awan


tipis.


”Kenapa ?”


”Karena bila ibu meninggal, aku tidak akan


bisa lagi bertemu dia. Tidak ada yang mengajakku terbang ke langit, tidak ada


yang mengajakku berlari di air. Aku akan sendirian. ”


Bulir-bulir air mata mengalir di pipinya


yang gemuk. NotchWood merasakan kesedihan hati cucunya.


”Kau tidak akan sendiri, sayang. Ada


kakek.”


”Tidak, kakek pasti juga akan pergi. Semua


orang akan pergi dan meninggalkan aku sendiri. Aku tidak mau sendiri.”


FayLinn semakin tergugu. Sejurus kemudian,


gerimis turun. Makin lama makin deras. BirdNerd yang semula bertengger di atas


mereka satu per satu meninggalkan pohon Rouya dan masuk ke dalam Istal, tidak


jauh dari rumah WinkGef.


NotchWood tertegun. FayLinn benar-benar


ZinLinn. Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam pelukannya.


”Kakek akan selalu melindungimu, sayang.


Kakek berjanji.”


WinkGef menatap kedua orang itu dari balik


jendela kamarnya. Entah kenapa, hatinya begitu pilu menyaksikan mereka. Hujan


semakin deras.


OoO


Isu beredar di istal-istal di seantero


Nerdia. Bahwa Zinnia akan diambang paceklik bila musim panas tak kunjung


berhenti. Hujan hanya turun sekali, itu pun tidak cukup membasahi tanah Nerdia.


Tanah paling subur di Planet Zinnia.


Kota Nerdia adalah ibukota dari Kerajaan


Nerdia, satu-satunya kerajaan di Planet Zinnia. Raja ZorLya adalah penguasa


mutlak di Zinnia, planet yang menghidupi dirinya dengan bertani aneka jenis


Rouya.


Raja ZorLya sendiri tak kuasa menghentikan


isu akan mengeringnya Zinnia. Bila hujan tidak turun sampai bulan depan, maka


pohon-pohon Rouya di istal-istal akan mulai layu. Para petani tidak lagi bisa


menanam bibit Rouya. Mereka tidak mau menimba sumur untuk menyiram kebun karena


toh percuma saja. Air itu tidak akan membuat Rouya berbuah, hanya akan


membuatnya bertahan hidup saja. Yang bisa membuat Rouya tumbuh, berbunga dan


berbuah hanyalah air hujan.


”Bagaimana dengan Thistle ?” tanya Raja ZorLya


gundah.


Para Enya saling berpandangan. Legenda itu


begitu mempengaruhi rakyat Nerdia, bahkan sampai ke telinga Raja ZorLya.


”Itu hanya legenda, Tuanku Penguasa Zinnia.


Tidak terlalu dipikirkan, ” sahut salah seorang Enya seraya menunduk dalam.


Ruangan Bundar, ruang pertemuan agung di


lagi mengkilat. Dia harus menghemat menggunakan Rouya Hijau untuk mengelap


singgasananya. Kursi berukiran sulur-sulur Rouya dengan ukiran wajah sang raja


itu pun tampak begitu kusam. Bahkan Raja ZorLya tidak lagi merasa nyaman duduk


di singgasananya.


Ke sembilan pemimpin Enya yang duduk


melingkar, hanya tertunduk di kursi masing-masing. Walau masih tampak gagah


dengan kostum khas Enya berwarna jingga dengan ornamen sulaman sulur-sulur


Rouya berwarna merah, mereka kelihatan putus asa.


”Apakah karena sekarang aku hanya punya


sembilan Enya ? Makanya kerajaanku sekarang di ambang kekeringan ?”


Enya Moss, ketua para Enya, lelaki


bertubuh paling tinggi dan kekar, berdiri dari kursinya.


”Bekurangnya satu Enya tidak akan


mengurangi kemuliaan Tuanku. Kami siap melayani Tuanku Penguasa Zinnia, dengan


jiwa dan raga kami.”


Raja ZorLya mendengus. Kemarin dia


mengutus beberapa Enya untuk menyelidiki isu tentang turunnya hujan di tepi


hutan Rouya Biru. Sekarang dia ingin mendengar laporan lengkapnya untuk sekedar


menenangkan hatinya. Setiap Enya yang mengabdi padanya memiliki keahlian


sendiri-sendiri. Dan keahlian terpenting yang dibutuhkan saat ini justru dimiliki


Enya yang sudah mengundurkan diri.


”Ah, andai Enya Sprout masih di sini. Dia


selalu tahu tentang cuaca. Sekarang


sungguh tak pantas untuk meminta bantuannya. Aku adalah penguasa Nerdia. Rakyat


bergantung padaku. ”


”Tuanku Penguasa Zinnia, kami siap melayani


dengan segala kemampuan. Demi Zinnia. ”


”Demi Zinnia !” seru semua Enya.


”Hmm...”


Enya Moss mengangguk pada Enya Spark, Enya


termuda dan terlincah. Terkenal pandai dalam urusan mengintai, menyelidiki dan


menginterogasi. Enya Spark membalas anggukan Enya Moss, lalu berdiri.


”Enya Spark minta ijin melaporkan


pengintaian ke area timur, Tuanku Penguasa Zinnia, ” ucap Enya Spark hormat.


Raja ZorLya menoleh pada anak muda yang


berdiri di sebelah kirinya, memberi ijin berbicara dengan anggukan.


”Dua hari yang lalu, ada kabar hujan turun


di Area Timur Nerdia. Tepatnya di tepi hutan Rouya Biru, daerah yang jarang


didatangi penduduk. Kemarin, saya dan beberapa prajurit Enya mengintai ke sana


sambil melakukan latihan SkyDive untuk persiapan Festival Rouya bulan depan. ”


”Kurasa kamu tahu kalau aku tidak suka


bertele-tele...” sela Raja ZorLya kesal.


”Maafkan saya, Tuanku Penguasa Zinnia.


Dari hasil penyelidikan kami, ternyata ada pesta air hujan di sebuah Istal di


desa Ringnia. Seorang lelaki tua membagikan air hujan gratis di Istal itu. ”


”Siapa dia ?”


”Seorang pengembara. Mereka pergi sesaat


sebelum kami datang. Sepertinya, mereka menuju kota ini. ”


”Hm, jadi lelaki tua itu mendapatkan air


hujan dari Hutan Rouya Biru ? Siapa dia ?”


”Para petani menjuluki dia Thistle. ”


Raja ZorLya menegakkan duduknya mendengar


kata Thistle.


”Jadi legenda itu benar ?”


Enya Hork, Enya yang ahli dalam sejarah,


tiba-tiba berdiri.


”Mohon ijin Enya Hork berbicara, Tuanku


Penguasa Zinnia.”


”Apakah ini tentang Thistle ?” tanya Raja ZorLya


penasaran.


“Benar, Tuanku Penguasa Zinnia. Thistle


adalah legenda Zinnia yang sudah turun temurun. Dia mengendalikan cuaca di


Nerdia. Menurut legenda, saat ini,


Thistle sedang dalam proses pewarisan generasi. Thistle yang ada sedang


sekarat, karena tidak ada generasi yang mewarisinya. Rakyat juga sedang gelisah


dengan kehadiran BirdNerd Black beberapa waktu yang lalu. Dia muncul di salah


satu istal di tepi kota Nerdia. Rakyat khawatir, bila BirdNerd Black


merebut pengendalian Thistle, maka Zinnia tinggal menanti kehancuran. ”


“BirdNerd


Black ? Apakah bulunya benar-benar hitam ? Hhh … aku benci warna hitam !” sergah Raja ZorLya.


Suasana hening. Masalah yang cukup pelik,


karena tidak ada yang tahu siapa Thistle sebenarnya. Satu-satunya cara adalah


mendapatkan lelaki tua itu.


”Kumpulkan semua lelaki tua yang sesuai


dengan ciri-ciri Thistle itu, ” perinta Raja ZorLya, ”dari dia kita akan tahu


apa sebenarnya yang telah terjadi di Zinnia. Dan, tangkap BirdNerd Black !


Rakyat akan lebih tenang bila dia dikurung di bawah tanah.”


”Baik, Tuanku Penguasa Zinnia!” seru para


Enya seraya berdiri dan membungkukkan badan.


Raja ZorLya meninggalkan ruangan,


menyisakan aroma Rouya Hijau yang manis. Para Enya mulai kasak kusuk.


”Kita tidak boleh begitu saja percaya pada


legenda, Enya Spark !” sergah Enya Trot.


Enya Spark menjawab dengan tegas, ”Tapi


legenda ini telah menguasai rakyat di Zinnia. Mau tidak mau, kita harus membuat


mereka tenang. Demi Zinnia. ”


Enya Moss bangkit dari duduknya dan


menenangkan para Enya yang mulai bersitegang.


”Tenang semua, ” ucapnya dengan nada


berwibawa, ”kita kerjakan dulu perintah raja. Kita lihat hasilnya sampai


Festifal Rouya bulan depan. Semoga bukan Festival terakhir di Nerdia. Kalian


sudah tahu tugas kalian semua. Aku akan mengunjungi WinkGef.”


”Enya Moss, tidak patut meminta bantuan


pada rakyat !” cegah yang lain.


”Aku tidak meminta bantuannya. Aku hanya


akan mengunjungi istrinya. Istrinya sedang sakit. ”


Para Enya tidak lagi membantah. Enya Moss


adalah Enya tertua dan paling bijaksana. Raja ZorLya tak pernah segan meminta


saran dan nasehat darinya. Dalam kondisi seperti ini, Raja ZorLya akan sangat


bergantung pada Enya Moss.


OoO


WinkGef mempersilahkan NotchWood memasuki


kamarnya untuk melihat ZinLinn, setelah sebelumnya WinkGef menemui istrinya


terlebih dulu. FayLinn dengan riang menuntun kakeknya.


NotchWood menatap sosok kurus dan ringkih


di atas ranjang mewah itu. Semerbak harum Rouya Hijau menyambutnya. Beberapa


pelayan keluar dengan sopan, meninggalkan mereka bertiga.


”Ibu, aku membawa kakek. Lihatlah !”


FayLinn mengelus pipi ibunya, lembut.


ZinLinn membuka mata perlahan. Sorot mata lemahnya beradu dengan pandangan sayu


NotchWood.


”Anakku ...”


”Ayah ...”


NotchWood tidak berani melangkah mendekati


ranjang anaknya. Sekuat tenaga dia menahan air matanya. ZinLinn menatap keluar


jendela dan dia tahu bahwa ayahnya sedang berduka melihat dirinya. Hujan


kembali turun.


”Mendekatlah ayah, sudah saatnya. ”


NotchWood menggeleng kuat-kuat. Mendekati


ZinLinn sama dengan mempercepat perpisahannya. Baginya sudah cukup melihat


gadisnya itu menderita. Sama dengan kejadian malam itu, saat dia mengintip dari


jendela besar di kamar itu, melihat ZinLinn meregang nyawa melahirkan FayLinn.


Bahkan bila mau, saat itu dia mampu menghadirkan badai yang sanggup menghancurkan


WinkGef. Lelaki yang telah merebut ZinLinn dari hidupnya.


”Ayah ...”


FayLinn melompat dari ranjang ibunya, dan


menarik tangan kakeknya. Menyeretnya mendekati ranjang ZinLinn.


”Kakek malu karena sudah lama tidak


bertemu ibu !” ucap FayLinn riang, ”kakek berjanji akan menyembuhkan ibu. Ya


kan, Kek ?”


NotchWood mengangguk-angguk,


mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, berharap bulir-bulir bening itu tidak


membasahi janggutnya.


ZinLinn mengulurkan tangannya, NotchWood


menyambutnya dengan gemetar. Begitu tangan mereka bersentuhan, ZinLinn


tiba-tiba meregang. NotchWood panik, lalu berusaha melepaskan tangannya dari


gengaman ZinLinn. Tapi ZinLinn memegangnya begitu kuat. NotchWood merasakan


genggaman ZinLinn yang dingin seperti es.


”ZinLinn, minum ini !”


NotchWood mengeluarkan botol kecil berisi


sari Rouya Biru dan meneteskannya ke mulut ZinLinn. Sejenak, ZinLinn tidak lagi


meregang. Tubuhnya mengendur dan lemas, tapi semakin dingin.


”Ibu kenapa, Kek ?” tanya FayLinn cemas.


”Kakek sudah memberi ibumu obat, sayang. Ibumu


akan baik-baik saja. Sekarang, kakek ingin berdua saja dengan ibumu. Boleh ?”


FayLinn mengangguk. Dia keluar dari kamar


dan mendapati ayahnya di balik pintu.


”Stt, ayah jangan berisik, ya. Kakek


sedang mengobati ibu. Ayo kita pergi !”


WinkGef tersenyum mendengar celoteh


FayLinn. Dia lalu menggendongnya, menjauhi pintu kamar. Hari ini akan menjadi


hari yang menyedihkan baginya. Sebelum bertemu NotchWood, ZinLinn telah


mengucapkan perpisahan dengannya. Pertemuan dengan ayahnya akan mengakhiri


semua kisah indah di antara mereka.


”Ayah,


aku ingin naik BirdNerd sendiri.”


“Bulan depan sayang, saat Festival. Kau


akan melihat ayah menjadi SkyDiver terbaik di Nerdia. ”


”Aku juga akan menjadi SkyDiver terbaik.


Aku akan seperti ayah !”


”Oh ya ? Itu namanya anak ayah. ”


NotchWood mendengar sayup-sayup tawa kecil


FayLinn. Dia menatap wajah ZinLinn yang semakin memutih. Andai, dulu dia tidak


melepas ZinLinn untuk winkGef, semua ini tidak akan terjadi.


“Kau memiliki anak yang hebat, “ ucap


NotchWood pilu.


“Dia luar biasa, ayah !”


ZinLinn


semakin pucat dan lemat. Detik demi detik berjalan. Mereka berdua sama-sama


memahami, kepergian ZinLinn tak akan lama lagi.


“Seharusnya aku tidak di sini. Aku hanya


semakin membuatmu menderita. Apa yang kau rasakan, anakku ?”


”Dingin. Aku membeku, ayah ...”


NotchWood kembali meneteskan Rouya Biru.


Rouya Biru terkenal pahit, tapi digunakan untuk obat berbagai macam penyakit.


”Rouya Biru tidak akan menyembuhkan aku


...”


”Aku tahu, Zin. Tapi setidaknya, akan


meringankan sakitmu. Katakan padaku, apakah ini semua karena BirdNerd Black ?”


ZinLinn mengangguk lemah.


”Jadi dia sudah menemukanmu ? Tidak lama


lagi dia akan menemukan aku. Juga FayLinn.”


ZinLinn menggenggam erat tangan ayahnya.


”Bawa pergi dia, ayah. Selamatkan dia. Dia


dalam bahaya.”


NotchWood tepekur.


”Bawa dia begitu aku pergi.”


”Anakku ...”


NotchWood memeluk tangan pucat ZinLinn.


Sekujur tubuh anaknya itu sudah memutih dan semakin dingin.


”Aku harus pergi sekarang, ZinLinn. Aku


akan mencari BirdNerd Black. Akan kubawa dia ke hadapanmu untuk menyembuhkanmu.


Kita serahkan apa yang dia inginkan, dan kau akan hidup bersama anakmu,


WinkGef, dan semua yang kauidamkan selama ini. ”


”Tidak, ayah. Tidak ! Demi Zinnia, lakukan


apa yang kuminta. Bawa FayLinn pergi.”


NotchWood tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dia tahu, tak ada yang bisa menyelamatkan ZinLinn. Dia sudah memilih takdirnya


dan dia akan memenuhi takdirnya sekarang. Terbayang di pelupuk matanya, saat


ZinLinn kecil menari-nari di bawah hujan. Dia begitu mencintai hujan


sebagaimana dia mencintai Zinnia. Takdir menyeretnya untuk terikat janji dengan


WinkGef dan melahirkan FayLinn.


”Seharusnya kau menuruti kata-kataku,


anakku. Seharusnya kau tidak menikahi lelaki itu, ” bisik NotchWood.


ZinLinn tersenyum.


WinkGef dan FayLinn tiba-tiba menyeruak


masuk. Gadis kecil itu, merasakan ibunya hendak meninggalkannya. Dia memaksa


masuk ke dalam kamar ibunya, walau WinkGef sudah berusaha untuk mencegahnya.


”Ibuuu !” teriak FayLinn histeris sambil


mengguncang-guncang tubuh ibunya.


ZinLinn menoleh dan tersenyum lemah pada


FayLinn.


”Ibu mencintaimu sayang, melebihi Zinnia


dan semua isinya. ”


”Ibuuu ! Aku sayang ibu ! Ibu jangan


pergiii !”


WinkGef mendekati istrinya dan terkejut


ketika menyentuhnya. ZinLinn begitu dingin. Sekujur tubuhnya pucat dan


memutih, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Takdir itu telah dijemputnya.


WinkGef menatap NotchWood. NotchWood


menggeleng-geleng putus asa. Air mata membanjiri wajah dan janggut lebatnya. ZinLinn


telah pergi.


Dan NotchWood dan WinkGef pun hanya mampu


membiarkan FayLinn menangisi jasad ibunya. Hujan menderas di Nerdia, bahkan


diiringi petir bersahut-sahutan.


OoO