The Thistle

The Thistle
Ramuan Kematian



 


 


Wanita bila disakiti, balas dendamnya lebih mengerikan. Tidak terkecuali


dia seorang Ratu. Seluruh Nerdia selama ini mengetahui Ratu mereka seorang


wanita cantik jelita yang sedikit bicara. Selalu ramah dan tersenyum pada


rakyatnya. Sering memberikan bantuan sosial pada anak-anak Nerdia yang menjadi


yatim. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Ratu bukan wanita yang berambisi


merebut hati rakyat dengan segala cara. Dia melakukan semunya secara alami. Dia


juga terbuka menerima nasehat dari utusan rakyat yang berkunjung di istana. Demi


kebaikan Nerdia.


Tapi di balik kejadian tertangkap basahnya perselingkuhan Raja, ternyata Ratu


bisa bertindak mengerikan. Para Enya baru mengetahui hal itu, dan membuat


mereka bergidik ngeri.


Kondisi Mom VinGlow semakin mengenaskan. Satu per satu pelayannya


meninggalkan rumah Mom VinGlow. Mereka tidak sanggup melayani majikan yang


tidak membayar mereka. Apalagi, dengan pelayan Ratu berkeliaran di rumah Mom VinGlow,


mengawasi gerak gerik mereka. Tubuh Mom VinGlos yang semula begitu padat


berisi, kini hanya tinggal tulang berbalut kutit. Mengenaskan. Satu-satunya


makanan yang masuk ke mulutnya adalah ramuan dari Ratu. Itupun dipaksa masuk


dengan memasang corong di mulutnya, dan dituangkan seperti menuang air. Para


pelayan tahu, ramuan dari Ratu bukan semakin membuat Mom VinGlow sembuh. Ramuan


itu membunuh Mom VinGlow perlahan. Wanita itu hanya bisa membanting badannya ke


kanan dan ke kiri, menekuk lutut, menggelung dengan erangan kesakitan yang


menyayat hati. Suaranya menembus sampai keluar kamar, dinikmati oleh pelayan Ratu


sembari tersenyum sinis.


Tidak ada yang tahu, apa penyakit Mom VinGlow. Sementara dari hidungnya tak


henti-hentinya mengeluarkan darah.


”Ini ramuan terakhir, kirimkan ke rumah janda itu, ” ucap Ratu pada


pelayannya, yang menerima botol dari Ratu dengan penuh hormat.


Setelah pelayannya pergi, Ratu berdiri di jendela kamarnya. Menghembus


nafas lega, sengaja dipanjangkannya. Sebentar lagi, dia akan terbebas dari


janda gila itu. Ramuan yang diberikannya adalah ramuan pamungkas yang akan


mengakhiri hidup Mom VinGlow setelah menyiksanya dari dalam. Mom VinGlow akan


merasakan sekujur tubuhnya disayat-sayat, karena ramuan itu akan menyebabkan


luka-luka seperti irisan pisau tipis di sekujur tubuhnya. Meneteskan darah


perlahan dan menimbulkan sakit luar biasa yang menghujam hingga ke tulang.


Ratu membalikkan badan, menyadari ada yang berkelabat di belakangnya. Raja Orla.


Dia baru saja selesai menggelar pertemuan dengan para Enya.


”Apa yang kau kirimkan untuk Mom VinGlow?” tanya Raja Orla.


”Ramuan, seperti biasa.”


”Kudengar ramuanmu membuat dia semakin menderita.”


”Aku Ratu yang baik. Aku memberi dia obat untuk melepaskan penderitaaannya.”


Ratu tersenyum lebar, kepuasan terpancar jelas di wajahnya. Terlihat mengerikan


bagi Raja Orla, apabila dia mengingat laporan para Enya di ruang bundar tadi,


tentang kondisi Mom VinGlow.


Raja Orla menelan ludah. Istrinya adalah Ratu yang menunjukkan bahwa tidak


ada seorangpun yang bisa macam-macam dengan dia. Atau nasibnya akan sepeti Mom VinGlow.


Baru kali ini, Raja mengetahui kalau Ratu bisa membuat ramuan  yang mengerikan seperti itu. Ratu mulai


menunjukkan kekuasaannya. Dia adalah orang Nerdia Selatan yang terkenal


tangguh. Dan bila Raja tidak menempatkannya sebagai Ratu sebagai istri dalam


kekuasaannya, situasinya bisa jadi berbalik. Ratu yang akan menguasai Raja.


Membayangkan itu semua, Raja merasa ada yang bergetar dalam jiwanya. Tentu


saja, dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia punya para Enya yang


mendukungnya. Dan Enya Moss yang setia padanya. Dan bila dia bisa mendapatkan Thistle


untuk menjadi Enya di bawah kekuasaaannya, maka seluruh Zinnia akan tunduk


padanya. Tidak ada yang bisa menggoyahkan kekuasaannya. Meski Ratu sudah


mencengkeramkan kukunya ke penjuru Nerdia.


Raja mulai mengevaluasi dirinya, bahwa selama ini dia selalu mabuk kepayang


bila bersama Ratu. Dibutakan oleh asamara hingga tidak bisa melihat Ratu dari


sisi berbeda. Dari nasehat para Enya dalam pertemuan di ruang bundar, Raja


menyadari bahwa Ratu perlahan-lahan mulai menunjukkan ambisinya. Menguasai Nerdia.


Raja belum terlambat menyadarinya, jadi dia bisa ...


”Ah ...”


Raja merasakan seluruh tubuhnya tiba-tiba memanas dan bergetar. Ratu sudah


berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan sepasang mata yang kini menjadi


begitu tajam, tidak melankolis seperti biasanya. Dan kedua tangannya


menggenggam erat tangan Raja, tanpa Raja mengetahui kapan dia melakukannya


begitu cepat.


”Kau milikku ...” bisik Ratu.


OoO


kaget ketika kakinya ditendang oleh pelayan Ratu yang baru datang membawa


ramuan.


”Hei, bangun!”


Satu orang dengan rambut merah, melompat dan langsung menghunus tongkat. Matanya


merah karena terkejut. Dia terkejut menyadari bahwa dia ternyata tertidur.


”Bagaimana mungkin kau tidur sesiang ini? Bintang Memra sudah tinggi, ” sergah


pelayan dari Istana sembari menyerahkan botol dari Ratu, ”ini, ramuan untuk janda


itu.”


”Ramuan apa ini?”


”Seperti biasa. Kata Ratu, ini ramuan terakhir. Ratu tidak punya lagi.”


Pelayan yang satunya masih terlelap bahkan mendengkur.


”Kau tahu, ” ucap pelayan berambut merah sembari menggosok matanya yang


masih berat, ”kurasa Ratu ingin membunuh janda itu.”


”Itu sudah pasti. Ratu tidak mungkin melakukannya kecuali dia telah


melakukan kesalahan yang fatal. Kau tahu, semua yang dilakukan Ratu adalah demi


kebaikan Nerdia. Sudah, cepat minumkan pada janda itu. Ratu menunggu botolnya


kembali.”


”Tapi, masyarakat hanya tahu kalau Ratu kita sedang berusaha menyembuhkan Mom


VinGlow dari penyakitnya. Aku dengar sendiri dari orang-orang yang lewat. Mereka


memuji Ratu yang begitu baik, memberi penjaga di rumah ini dan mengirim ramuan


setiap hari.”


”Sudah, tak usah kau pikirkan ucapan orang. Yang penting kita menjalankan


tugas demi kemuliaan Ratu. Cepat, aku tunggu.”


Pelayan itu membangunkan temannya, kemudian masuk ke dalam rumah. Beberapa saat


kemudian, terdengar keributan di dalam.


Pelayan dari Istana tersenyum-senyum. Pastinya, nasib Mom VinGlow sudah


berakhir. Ramuan terakhir Ratu telah menyelesaikan semuanya.


Pelayan berambut merah keluar dengan mata terbelalak.


”Ada apa? Dia sudah mati?”


”Dia hilang!”


”Apa?”


Pelayan istana berlari masuk ke dalam rumah Mom VinGlow. Mendapati ranjang Mom


VinGlow kosong. Mereka bertiga berlarian masuk dan memeriksa setiap kamar. Tidak


ada siapapun di dalam. Bahkan tidak ada satupun pelayan Mom VinGlow yang mereka


temukan. Tadi pagi, tidak, tadi malam, masih ada dua pelayan. Sekarang tidak


ada lagi.


”Kau tidur mulai kapan?” bentak pelayan istana panik, dengan nafas


terengah.


”Aku tidak ingat.... tadi pagi ... apa tadi malam?”


”Ratu pasti menggantungmu!”


Pelayan berambut merah mengacak rambutnya. Dia tahu, nasibnya pasti akan


berakhir di ujung tali gantungan bila Mom VinGlow tidak berhasil ditemukannya. Dia


tidak bisa mengingat kapan dia terlelap. Seingatnya, tadi malam, pelayan Mom VinGlow


memberi dia makanan. Setelah itu, dia tidur.


”Pelayan Mom VinGlow. Dia pasti menaruh sesuatu di makanan.”


”Kita harus menemukan Mom VinGlow, atau  kita semua pasti akan digantung.”


Ketika pelayan itu hilir mudik, panik. Keringat sudah membasahi baju


mereka. Teringat, nafas mereka pasti tidak akan sampai pada Bintang Memra


tenggelam. Mereka berpikir keras, bagaimana memberikan melaporkan hal ini pada Ratu.


”Kau kembalilah ke istana, buang isi botol itu. Katakan pada Ratu kalau Mom


VinGlow sudah meminumnya, ” ucap pelayan berambut merah, gemetar.


”Dia pasti bertanya bagaimana Mom VinGlow setelah minum ramuannya, ” ucap


pelayan istana semakin panik, ”aku tidak bisa pura-pura kalau aku ketakutan.”


”Katakan saja, dia mendelik, lalu mati seperti tercekik. Dan kita


membereskan mayatnya.”


”Apa seperti itu akibat minum ramuan ini?”


”Kamu mau mencobanya.”


Pelayan istana menggeleng.


”Kita kabur saja, bagaimana?” saran pelayan satunya.


”Itu bukan ide bagus. Dia akan menemukan kita, apalagi kalau kita kabur ke Nerdia


Selatan.”


”Kita ke Nerdia Timur.”


”Siapa yang akan ke Nerdia Timur?” Sebuah suara berat tiba-tiba menyela.


Ketiga pelayan itu bergidik ngeri melihat siapa yang baru saja menyela


pembicaraan mereka. Seorang lelaki bertubuh gagah, seluruh badannya menutupi


cahaya Bintang Memra dari pintu depan. Pakaiannya memantulkan kilau Bintang Memra.


Dan lelaki itu menghunus benda panjang mengkilat di tangannya.


Enya Moss.