The Thistle

The Thistle
1 - BirdNerd



Bintang Memra dengan leluasa bersinar,


bahkan cahayanya seakan menembus tanah  Planet


Zinnia. Cahayanya yang kuat, menelisik ke dalam setiap rumah warga Kota Nerdia,


menguapkan bau batang Rouya yang menjadi dinding-dinding rumah. Awan tidak


berarak di langit seperti biasa. Langit yang biru tampak begitu lapang. Hujan


sudah lama tidak membasahi tanah Nerdia. Para bangsawan mulai resah. Musim


tanam tahun ini akan tertunda. Entah sampai kapan.


Para bangsawan sudah mulai sibuk


menghitung timbunan kekayaan mereka yang mulai menurun. Buah-buah Rouya mulai


dihemat. Tak mudah diberikan sebagai hadiah. Menjadi bangkrut adalah kehinaan


bagi bangsawan. Tapi, cuaca yang tak bersahabat tak mau mengerti. Para


bangsawan Nerdia adalah manusia-manusia yang mampu membeli apa saja dengan uang


emas mereka. Bahkan andai cuaca bisa dibeli, maka mereka tak segan mengorbankan


apa saja untuk mendapatkannya.


Jalanan kota Nerdia, ramai oleh peramal


dadakan. Suasana yang selalu sama bila musim hujan lama tidak datang. Walau


mereka hanya memberi ramalan, bukan hujan seperti yang diharapkan, tapi sudah


cukup melegakan hati para bangsawan. Maka tidak heran bila banyak petani miskin


memanfaatkan kegelisahan para bangsawan. Dandanan mereka beraneka ragam. Ada


yang memakai kostum dengan hiasan sulur-sulur Rouya, ada yang berbaju compang


camping, ada yang berdandan ala bangsawan dengan baju murahan. Berlagak menjadi


peramal dan berucap satu dua patah kata, maka uang  atau buah Rouya sudah di tangan.


LouElla, seorang perawan tua sedang


berjalan-jalan di jalanan Nerdia. Seperti biasa, dengan dandanan ala bangsawan.


Setidaknya, dia tahu bagaimana para bangsawan Nerdia berdandan dan


berjalan-jalan di kota Nerdia dengan elegan, memamerkan asesoris yang menempel


di badannya. Mengangkat kepala penuh arogan. Rambut merahnya berhias


pernik-pernik asesoris kayu Rouya yang diukir berbentuk sulur-sulur Rouya.


Hiasan terindahnya adalah sebuah bros dari kulit buah Rouya yang berbentuk


bunga, disematkannya di ujung krah bajunya yang menjuntai hingga ke perut.


”Lou ! Mana BirdNerd-mu ? Sakit lagi ?”


sapa seorang penjual Rouya Merah, seorang lelaki sebayanya yang sering


mengejeknya dengan sinis.


”Bukan urusanmu !” sergah LouElla kesal.


Dia paling tidak suka bila ada yang


menanyakan BirdNerd-nya. BirdNerd-nya sering sakit karena memang jarang diberi


makan. Biaya hidup semakin tinggi di musim kemarau. Lebih utama memberi makan


manusia daripada burung. Si penjual Rouya Merah terkekeh, sambil memandang tubuh


ceking LouElla yang berlalu dengan langkah genitnya. Dia geleng-geleng,


menyumpahi LouElla dalam hatinya. Gadis itu begitu arogan, padahal bukan


bangsawan. Dia hanya seorang guru di Akademi Nerdia, yang mengajari anak para


bangsawan. Gajinya tidak cukup untuk membuatnya hidup ala bangsawan. Tapi dia


selalu berlagak seolah dirinya bangsawan. Berdandan dan berpakaian ala


bangsawan, menghadiri pesta-pesta ulang tahun anak bangsawan. Sementara


BirdNerd-nya kelaparan di rumahnya. LouElla sendiri tidak begitu peduli pada


BirdNerdnya.  Apabila tidak ada urusan


yang sangat penting, dia tidak perlu menunggangi BirdNerd-nya, karena para


pelayan bangsawan selalu datang dan mengantarnya pulang. Birdnerd-nya sering


dilepasnya untuk mencari makan sendiri di pokok-pokok Rouya di jalan-jalan


Nerdia. LouElla kadang ingin menjualnya saja, pada


peternak pacuan BirdNerd. BirdNerd yang dipakai pacuan, biasanya diatur pola


makannya, dibuat sering lapar agar dia beringas dan bisa terbang lebih cepat


untuk mengejar makanan. Tapi, setelah masuk pacuan, BirdNerd akan sulit diambil


lagi. Terutama bila dia adalah BirdNerd yang selalu memenangkan taruhan para


bangsawan yang ingin menghabiskan uang.


LouElla menghentikan langkahnya di depan sebuah


istal BirdNerd tebesar di Kota Nerdia. Sangat ramai di hari libur sekolah.


Anak-anak bangsawan yang sudah diperkenankan menunggang BirdNerd sendiri, sibuk


memilih-milih BirdNerd yang sudah dijinakkan.


LouElla selalu bersemangat mendatangi


Istal BirdNerd milik salah seorang kenalannya itu. Siapa tahu, ada anak


bangsawan yang menjadi salah satu muridnya, membeli BirdNerd. Dan, dengan sikap


lemah lembutnya, yang sudah dia pelajari selama mengajar di Akademi, anak-anak


bangsawan itu akan dengan mudah menyerahkan bekalnya.


”Hmm, sebentar. Tahun ini, yang sudah


boleh naik BirdNerd siapa ya ? FayLinn. Ya, hanya dia yang belum punya. Aku


yakin, dia ada di sana sekarang. ”


LouElla melangkahkan kakinya dengan riang.


Bayangan gadis bernama FayLinn yang dermawan membuatnya tersenyum lebar,


semakin membuat nyata keriput di sudut mata dan bibirnya. Umur yang tidak muda


lagi adalah masalah besar baginya yang selalu ditutupinya dengan bermuka ramah


pada anak para bangsawan. Mempunyai suami adalah impian setiap gadis, karena


setidaknya ada yang menjamin hidupnya. Bagi LouElla, dia sendiri yang harus


menjamin dirinya. Selalu berdekatan dengan anak bangsawan yang polos dan lugu,


kerap mendatangkan keuntungan baginya.


Beberapa pegawai istall tak mempedulikan


kedatangan LouElla. Seperti biasa, mereka lebih memilih sibuk melayani para


bangsawan yang membawa anak mereka, memilih BirdNerd. LouElla mendapati sosok


yang dikenalnya. Duduk seorang diri di bawah pokok Rouya Hijau raksasa, tempat


BirdNerd-BirdNerd milik istall bertengger. Menatap pucuk pohon Rouya Hijau itu


begitu menyilaukan mata. Karena istall tidak punya atap, sehingga Bintang Memra


leluasa menyinari. Di sekeliling pohon Rouya Hijau ada pohon-pohon Rouya Hijau


yang lebih pendek, mengitari pohon tertingi. Aneka BirdNerd yang sudah jinak,


bertenggeran di cabang-cabang pohon, sambil menikmati buah Rouya.


LouElla mendongak dan menghitung beberapa


BirdNerd yang bertengger, seraya menikmati Rouya. Tidak banyak. Pemilik istall


ini pasti sudah memperkirakan, musim ini para bangsawan tidak akan banyak


membeli BirdNerd baru.


”Hai, WerBolg, apakah kamu hendak membeli


BirdNerd hari ini ?” sapanya ramah dengan mata berbinar. Seorang anak kecil


gendut, salah seorang muridnya di Akademi, menoleh seketika. Dan sebuah senyum


terkembang di bibirnya.


Sebuah taman selalu ada di dalam istall,


berada di sekeliling pohon Rouya. Berisi bangku-bangku bahkan ayunan. Biasanya


setiap istall dilengkapi dengan penginapan. Karena,


untuk mendapat BirdNerd saja, kadang para bangsawan rela menjelajah beberapa


kota. Menghabiskan waktu dan uang, hanya untuk sebuah kendaraan, biasa


dilakukan para bangsawan. Istall dengan penginapan banyak berada di tepi kota. Bahkan


bisanya tandem dengan rumah makan. Tapi istall-istall di pasar Kota


Nerdia biasanya tidak menyediakan penginapan. Mereka hanya menjual BirdNerd.


LouElla menelan ludah, iri dengan BirdNerd


yang leluasa menikmati Rouya Hijau yang terkenal mahal. Bahkan Rouya yang biasa


dimakannya di rumah sama dengan yang dimakan BirdNerd-nya. Rouya Merah, Rouya


paling murah di Nerdia. Tak lama, bibirnya yang selalu berhias pemerah bibir


berwarna menyala tersenyum. Dia yakin bisa menikmati Rouya Hijau gratis kali


ini. Dari lelaki kecil di hadapannya.


”WerBolg, apakah kamu bersedia menerima


saran ibu ?” tanya LouElla seraya membungkukkan badannya, sehingga mukanya


sejajar dengan muka bulat WerBolg.


”Apa itu ?”


”Ibu bisa memilihkan BirdNerd yang


paliiinggg bagus ... ”


Mata WerBolg bersinar. Dia melirik pada


ayahnya, yang tampak sibuk berdiskusi dengan pemilik Istal BirdNerd. Tampaknya,


diskusi ayahnya dengan pemilik Istal akan berlangsung lama, karena tak lama


kemudian datang seorang bangsawan lain menyapanya. Dan ayahnya pun terlibat


obrolan serius. WerBolg pun menganggukan kepalanya, membuat LouElla hampir


berteriak girang. Dia tidak boleh melepaskan kesempatan


bagus ini. Maka diulurkannya tangan ke Arah Webolg dan dia tersenyum ketika


anak itu menyambut tangannya dengan mata berbinar.


”Hmm, ayo ikut aku. Ibu ajari cara memikat


BirdNerd !”


WerBlog menggenggam tangan LouElla.


LouElla mendengus senang, apalagi melihat tas anyaman berwarna hijau kecoklatan


yang menggantung di pundak WerBolg. Penuh dengan Rouya Hijau yang sudah


bekal makanan anak gendut ini melebihi jatah makan satu harinya.


LouElla mengambil sebuah bangku dan


memangku WerBlog. Dia mulai melancarkan jurus jitunya


selama ini. Sebagai guru di Akademi, semua bangsawan yang menyekolahkan anaknya


pasti menghormatinya. Semua anak bangsawan pasti menurut padanya. Selama ini,


gajinya di Akademi, tidak bisa mendukungnya untuk bergaya hidup ala bangsawan. Maka,


dia harus lebih kreatif mencari cara, agar bisa hidup laiknya bangsawan. Termasuk,


salah satunya adalah mendekati anak-anak bangsawan yang polos dan lugu.


”Hmm, coba ibu lihat isi tasmu. Rouya


Hijau ? Kita gunakan untuk memancing BirdNerd. Oke ?”


WerBolg mengangguk senang dan dengan polos


menyerahkan tasnya pada LouElla. LouElla mengambil sebuah Rouya Hijau.


Memandangi dengan bergairah buah lonjong sebesar kepalanya itu. Kulit buahnya keras


tapi halus dan mengkilat, memantulkan cahaya Bintang Memra. Membayangkan


menggigitnya saja sudah begitu menggairahkan. Menikmati manis hijaunya yang


berkelas, serasa terbang menaiki BirdNerd tergesit di Nerdia, berkelok-kelok


seperti sulur-sulur pohonnya.


”Wer !”


LouElla terkejut. Ayah WerBolg tiba-tiba


sudah berdiri di hadapan mereka berdua, membuatnya menunda menikmati Rouya


Hijau.


”Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya


sang ayah dengan pandangan mata galak.


”Dia menyapa saya, Tuan, ” sahut LouElla


seraya bangkit dari duduknya dan menunduk ramah.


”Siapa anda ?”


”Saya LouElla. Guru kesenian di Akademi


Nerdia. ”


”Benar dia gurumu, Wer ?”


WerBolg berlari mendekati ayahnya, sembari


mengangguk agak takut.


”Apa WerBolg hendak memberli BirdNerd ? Tadi


saya membantu dia memilih BirdNerd. ”


“Tidak.


Dia masih sembilan tahun. Masa anda


sebagai gurunya lupa, dia belum boleh mengendarai BirdNerd ?”


”Lalu


? BirdNerd mungil itu untuk siapa ?”


LouElla


menunjuk pada sesosok BirdNerd yang bulunya masih putih bersih, pertanda  dia belum pernah dirawat oleh siapapun.


BirdNerd itu berdiri di belakang ayah WerBolg. Tampak jinak tapi masih gelisah


dengan calon tuan barunya. Dalam beberapa hari, dia akan segera akrab dengan


pemilik barunya.


“Untuk


FayLinn !” sahut WerBolg gembira.


”FayLinn ? Ah ya, dia memang sudah saatnya


memiliki BirdNerd. Tapi, kalau boleh saya tahu, apakah anda ada hubungan


kekerabatan dengan keluarga FayLinn ? Setahu saya, mereka pendatang di Nerdia.”


“Bukan urusan anda,” sahut ayah Werbolg


arogan, menunjukkan kebangsawanannya seperi yang biasa dilakukan pada rakyat


jelata, lalu berbalik meninggalkan LouElla. WerBolg berlari mendekati LouElla


dan merebut Rouya Hijau miliknya.


”Ah ...” desah LouElla kecewa.


Beberapa bangsawan memang pelit. Apalagi


ketika musim hujan lama tidak datang. Tidak mudah memberi hadiah buah Rouya,


apalagi tidak ada ikatan darah. Tapi FayLinn tidak. Dia selalu membagi Rouya


Hijaunya dengan siapa pun. Anak itu memang sudah seharusnya memiliki BirdNerd.


Menilik dari kedudukan ayah FayLinn terdahulu, pasti di hari pertama dia


diperkenankan mengendari BirdNerd, akan banyak bangsawan yang memberinya hadiah


BirdNerd. Gadis kecil yang beruntung.


LouElla menyusun rencana. Sepetinya, gadis


kecil yang tepat untuk didekatinya saat ini adalh FayLinn. Langsung ke


rumahnya. Pada saat hari jadinya yang kesepuluh, saat semua bangsawan datang ke


rumahnya untuk merayakannya. Saat beberapa BirdNerd hadiah dari mereka,


mengitari FayLinn untuk dipilih. LouElla bisa datang sebagai guru Kesenian yang


akan memberi hadiah lukisan. FayLinn menyukai lukisan. Dia sedang sekali berada


di Galery mengamati semua lukisan-lukisan yang dipajang di sana.


”Ah, sepertinya waktu itu tidak lama lagi,”


gumam LouElla.


Dia pun bergegas keluar dari Istall. Kali


ini dia harus membelokkan niat. Dia harus membeli kain untuk sebuah lukisan


terindah yang akan diberikannya pada Faylinn.


Baru saja kaki LouElla menapak, tiba-tiba


semua BirdNerd di dalam Istall berterika-teriak histeris. Mereka menjadi panik,


berusaha meninggalkan pohon Rouya, tapi kaki mereka terikat .


Pemilik Istall datang tergopoh-gopoh,


sementara teriakan BirdNerd semakin memekak telinga. Tiba-tiba, bayangan gelap


menutupi Istall. Baik LouElla maupun pemilik Istall hanya bisa mendongak. Sebuah


BirdNerd berwarna gelap pekat, melintas di atas Istall. Dan rupanya itu yang


membuat BirdNerd panik dan gelisah.


”Apa itu?” tanya LouElla pada dirinya


sendiri.


”Black BirdNerd...” gumam pemilik Istall.


Sejurus kemudian, kembali terang


benderang. Black BirdNerd itu telah pergi. Black BirdNerd, bukankah itu hanya


mitor? Mitos yang beredar di kalangan masyarakat kelas bawah, terutama para


petani Rouya. Bahwa bila dia datang, maka kesialan bagi yang melihatnya. Apalagi


bila dia mendatangi BirdNerd. Bisa-bisa, BiedNerd itu tidak berumur panjang. Tapi


apa yang dilihatnya barusan, menampik anggapannya selama ini. Black BirdNerd


itu nyata.


Pemilik Istall buru-buru mendorong LouElla


keluar dari Istall.


”Hei, tidak perlu kau dorong, aku bisa


keluar sendiri.”


”Cepatlah. Aku harus menutup Istall dan


menenangkan BirdNerd. Mereka bisa tidak makan berhari-hari bila gelisah dan


panik. Dan, sebaiknya jangan kau ceritakan pada siapapun, bila Black BirdNerd


lewat di atas Istalku.”


”Hm, kenapa?”


”Kau akan tahu sendiri nanti. Sebaiknya


jaga mulutmu.”


”Hei, coba pikir. BirdNerd sebersar itu,


pasti sudah menghebohkan semua orang di Nerdia. Semua orang pasti sudah


melihatnya. Kenapa pula aku harus menjaga mulutku. Tanpa perlu kujaga, sebentar


lagi di balik pintu, semua orang sudah membicarakan.”


Pemilik Istall mendelik, ”Kau tidak tahu


apa-apa. Pergi. ”


LouElla sampai hampir terjatuh. Pemilik Istall


mendorongnya cukup keras, lalu menutup pintu. Sejurus kemudian terdengar suara


berderak. Pasti dia menutup atap. Suara BirdNerd di Istall perlahan menghilang.


”Dasar bangsawan, ” maki LouElla dalam


hati.


LouElla berjalan menuju seorang peramal


yang ada di seberang Istall. Pasti, dia juga melihat Black BirdNerd tadi.


”Hei, katakan. Apa kau melihat apa yang


kulihat tadi? Langit tadi gelap sesaat. Ada Black BirdNerd di atap Istall itu. Kau


melihatnya?”


Peramal itu menggeleng, mengedik bahu.


”Kau tidak buta, kan?”


Peramal itu mendelik, ”Hei, dengar. Kamu


mau diramal? Tidak ada yang gratis. Tapi kau tidak perlu menghina.”


LouElla mendecih kesal. Dia memutuskan


pulang dengan tangan kosong.