
Bintang Memra dengan leluasa bersinar,
bahkan cahayanya seakan menembus tanah Planet
Zinnia. Cahayanya yang kuat, menelisik ke dalam setiap rumah warga Kota Nerdia,
menguapkan bau batang Rouya yang menjadi dinding-dinding rumah. Awan tidak
berarak di langit seperti biasa. Langit yang biru tampak begitu lapang. Hujan
sudah lama tidak membasahi tanah Nerdia. Para bangsawan mulai resah. Musim
tanam tahun ini akan tertunda. Entah sampai kapan.
Para bangsawan sudah mulai sibuk
menghitung timbunan kekayaan mereka yang mulai menurun. Buah-buah Rouya mulai
dihemat. Tak mudah diberikan sebagai hadiah. Menjadi bangkrut adalah kehinaan
bagi bangsawan. Tapi, cuaca yang tak bersahabat tak mau mengerti. Para
bangsawan Nerdia adalah manusia-manusia yang mampu membeli apa saja dengan uang
emas mereka. Bahkan andai cuaca bisa dibeli, maka mereka tak segan mengorbankan
apa saja untuk mendapatkannya.
Jalanan kota Nerdia, ramai oleh peramal
dadakan. Suasana yang selalu sama bila musim hujan lama tidak datang. Walau
mereka hanya memberi ramalan, bukan hujan seperti yang diharapkan, tapi sudah
cukup melegakan hati para bangsawan. Maka tidak heran bila banyak petani miskin
memanfaatkan kegelisahan para bangsawan. Dandanan mereka beraneka ragam. Ada
yang memakai kostum dengan hiasan sulur-sulur Rouya, ada yang berbaju compang
camping, ada yang berdandan ala bangsawan dengan baju murahan. Berlagak menjadi
peramal dan berucap satu dua patah kata, maka uang atau buah Rouya sudah di tangan.
LouElla, seorang perawan tua sedang
berjalan-jalan di jalanan Nerdia. Seperti biasa, dengan dandanan ala bangsawan.
Setidaknya, dia tahu bagaimana para bangsawan Nerdia berdandan dan
berjalan-jalan di kota Nerdia dengan elegan, memamerkan asesoris yang menempel
di badannya. Mengangkat kepala penuh arogan. Rambut merahnya berhias
pernik-pernik asesoris kayu Rouya yang diukir berbentuk sulur-sulur Rouya.
Hiasan terindahnya adalah sebuah bros dari kulit buah Rouya yang berbentuk
bunga, disematkannya di ujung krah bajunya yang menjuntai hingga ke perut.
”Lou ! Mana BirdNerd-mu ? Sakit lagi ?”
sapa seorang penjual Rouya Merah, seorang lelaki sebayanya yang sering
mengejeknya dengan sinis.
”Bukan urusanmu !” sergah LouElla kesal.
Dia paling tidak suka bila ada yang
menanyakan BirdNerd-nya. BirdNerd-nya sering sakit karena memang jarang diberi
makan. Biaya hidup semakin tinggi di musim kemarau. Lebih utama memberi makan
manusia daripada burung. Si penjual Rouya Merah terkekeh, sambil memandang tubuh
ceking LouElla yang berlalu dengan langkah genitnya. Dia geleng-geleng,
menyumpahi LouElla dalam hatinya. Gadis itu begitu arogan, padahal bukan
bangsawan. Dia hanya seorang guru di Akademi Nerdia, yang mengajari anak para
bangsawan. Gajinya tidak cukup untuk membuatnya hidup ala bangsawan. Tapi dia
selalu berlagak seolah dirinya bangsawan. Berdandan dan berpakaian ala
bangsawan, menghadiri pesta-pesta ulang tahun anak bangsawan. Sementara
BirdNerd-nya kelaparan di rumahnya. LouElla sendiri tidak begitu peduli pada
BirdNerdnya. Apabila tidak ada urusan
yang sangat penting, dia tidak perlu menunggangi BirdNerd-nya, karena para
pelayan bangsawan selalu datang dan mengantarnya pulang. Birdnerd-nya sering
dilepasnya untuk mencari makan sendiri di pokok-pokok Rouya di jalan-jalan
Nerdia. LouElla kadang ingin menjualnya saja, pada
peternak pacuan BirdNerd. BirdNerd yang dipakai pacuan, biasanya diatur pola
makannya, dibuat sering lapar agar dia beringas dan bisa terbang lebih cepat
untuk mengejar makanan. Tapi, setelah masuk pacuan, BirdNerd akan sulit diambil
lagi. Terutama bila dia adalah BirdNerd yang selalu memenangkan taruhan para
bangsawan yang ingin menghabiskan uang.
LouElla menghentikan langkahnya di depan sebuah
istal BirdNerd tebesar di Kota Nerdia. Sangat ramai di hari libur sekolah.
Anak-anak bangsawan yang sudah diperkenankan menunggang BirdNerd sendiri, sibuk
memilih-milih BirdNerd yang sudah dijinakkan.
LouElla selalu bersemangat mendatangi
Istal BirdNerd milik salah seorang kenalannya itu. Siapa tahu, ada anak
bangsawan yang menjadi salah satu muridnya, membeli BirdNerd. Dan, dengan sikap
lemah lembutnya, yang sudah dia pelajari selama mengajar di Akademi, anak-anak
bangsawan itu akan dengan mudah menyerahkan bekalnya.
”Hmm, sebentar. Tahun ini, yang sudah
boleh naik BirdNerd siapa ya ? FayLinn. Ya, hanya dia yang belum punya. Aku
yakin, dia ada di sana sekarang. ”
LouElla melangkahkan kakinya dengan riang.
Bayangan gadis bernama FayLinn yang dermawan membuatnya tersenyum lebar,
semakin membuat nyata keriput di sudut mata dan bibirnya. Umur yang tidak muda
lagi adalah masalah besar baginya yang selalu ditutupinya dengan bermuka ramah
pada anak para bangsawan. Mempunyai suami adalah impian setiap gadis, karena
setidaknya ada yang menjamin hidupnya. Bagi LouElla, dia sendiri yang harus
menjamin dirinya. Selalu berdekatan dengan anak bangsawan yang polos dan lugu,
kerap mendatangkan keuntungan baginya.
Beberapa pegawai istall tak mempedulikan
kedatangan LouElla. Seperti biasa, mereka lebih memilih sibuk melayani para
bangsawan yang membawa anak mereka, memilih BirdNerd. LouElla mendapati sosok
yang dikenalnya. Duduk seorang diri di bawah pokok Rouya Hijau raksasa, tempat
BirdNerd-BirdNerd milik istall bertengger. Menatap pucuk pohon Rouya Hijau itu
begitu menyilaukan mata. Karena istall tidak punya atap, sehingga Bintang Memra
leluasa menyinari. Di sekeliling pohon Rouya Hijau ada pohon-pohon Rouya Hijau
yang lebih pendek, mengitari pohon tertingi. Aneka BirdNerd yang sudah jinak,
bertenggeran di cabang-cabang pohon, sambil menikmati buah Rouya.
LouElla mendongak dan menghitung beberapa
BirdNerd yang bertengger, seraya menikmati Rouya. Tidak banyak. Pemilik istall
ini pasti sudah memperkirakan, musim ini para bangsawan tidak akan banyak
membeli BirdNerd baru.
”Hai, WerBolg, apakah kamu hendak membeli
BirdNerd hari ini ?” sapanya ramah dengan mata berbinar. Seorang anak kecil
gendut, salah seorang muridnya di Akademi, menoleh seketika. Dan sebuah senyum
terkembang di bibirnya.
Sebuah taman selalu ada di dalam istall,
berada di sekeliling pohon Rouya. Berisi bangku-bangku bahkan ayunan. Biasanya
setiap istall dilengkapi dengan penginapan. Karena,
untuk mendapat BirdNerd saja, kadang para bangsawan rela menjelajah beberapa
kota. Menghabiskan waktu dan uang, hanya untuk sebuah kendaraan, biasa
dilakukan para bangsawan. Istall dengan penginapan banyak berada di tepi kota. Bahkan
bisanya tandem dengan rumah makan. Tapi istall-istall di pasar Kota
Nerdia biasanya tidak menyediakan penginapan. Mereka hanya menjual BirdNerd.
LouElla menelan ludah, iri dengan BirdNerd
yang leluasa menikmati Rouya Hijau yang terkenal mahal. Bahkan Rouya yang biasa
dimakannya di rumah sama dengan yang dimakan BirdNerd-nya. Rouya Merah, Rouya
paling murah di Nerdia. Tak lama, bibirnya yang selalu berhias pemerah bibir
berwarna menyala tersenyum. Dia yakin bisa menikmati Rouya Hijau gratis kali
ini. Dari lelaki kecil di hadapannya.
”WerBolg, apakah kamu bersedia menerima
saran ibu ?” tanya LouElla seraya membungkukkan badannya, sehingga mukanya
sejajar dengan muka bulat WerBolg.
”Apa itu ?”
”Ibu bisa memilihkan BirdNerd yang
paliiinggg bagus ... ”
Mata WerBolg bersinar. Dia melirik pada
ayahnya, yang tampak sibuk berdiskusi dengan pemilik Istal BirdNerd. Tampaknya,
diskusi ayahnya dengan pemilik Istal akan berlangsung lama, karena tak lama
kemudian datang seorang bangsawan lain menyapanya. Dan ayahnya pun terlibat
obrolan serius. WerBolg pun menganggukan kepalanya, membuat LouElla hampir
berteriak girang. Dia tidak boleh melepaskan kesempatan
bagus ini. Maka diulurkannya tangan ke Arah Webolg dan dia tersenyum ketika
anak itu menyambut tangannya dengan mata berbinar.
”Hmm, ayo ikut aku. Ibu ajari cara memikat
BirdNerd !”
WerBlog menggenggam tangan LouElla.
LouElla mendengus senang, apalagi melihat tas anyaman berwarna hijau kecoklatan
yang menggantung di pundak WerBolg. Penuh dengan Rouya Hijau yang sudah
bekal makanan anak gendut ini melebihi jatah makan satu harinya.
LouElla mengambil sebuah bangku dan
memangku WerBlog. Dia mulai melancarkan jurus jitunya
selama ini. Sebagai guru di Akademi, semua bangsawan yang menyekolahkan anaknya
pasti menghormatinya. Semua anak bangsawan pasti menurut padanya. Selama ini,
gajinya di Akademi, tidak bisa mendukungnya untuk bergaya hidup ala bangsawan. Maka,
dia harus lebih kreatif mencari cara, agar bisa hidup laiknya bangsawan. Termasuk,
salah satunya adalah mendekati anak-anak bangsawan yang polos dan lugu.
”Hmm, coba ibu lihat isi tasmu. Rouya
Hijau ? Kita gunakan untuk memancing BirdNerd. Oke ?”
WerBolg mengangguk senang dan dengan polos
menyerahkan tasnya pada LouElla. LouElla mengambil sebuah Rouya Hijau.
Memandangi dengan bergairah buah lonjong sebesar kepalanya itu. Kulit buahnya keras
tapi halus dan mengkilat, memantulkan cahaya Bintang Memra. Membayangkan
menggigitnya saja sudah begitu menggairahkan. Menikmati manis hijaunya yang
berkelas, serasa terbang menaiki BirdNerd tergesit di Nerdia, berkelok-kelok
seperti sulur-sulur pohonnya.
”Wer !”
LouElla terkejut. Ayah WerBolg tiba-tiba
sudah berdiri di hadapan mereka berdua, membuatnya menunda menikmati Rouya
Hijau.
”Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya
sang ayah dengan pandangan mata galak.
”Dia menyapa saya, Tuan, ” sahut LouElla
seraya bangkit dari duduknya dan menunduk ramah.
”Siapa anda ?”
”Saya LouElla. Guru kesenian di Akademi
Nerdia. ”
”Benar dia gurumu, Wer ?”
WerBolg berlari mendekati ayahnya, sembari
mengangguk agak takut.
”Apa WerBolg hendak memberli BirdNerd ? Tadi
saya membantu dia memilih BirdNerd. ”
“Tidak.
Dia masih sembilan tahun. Masa anda
sebagai gurunya lupa, dia belum boleh mengendarai BirdNerd ?”
”Lalu
? BirdNerd mungil itu untuk siapa ?”
LouElla
menunjuk pada sesosok BirdNerd yang bulunya masih putih bersih, pertanda dia belum pernah dirawat oleh siapapun.
BirdNerd itu berdiri di belakang ayah WerBolg. Tampak jinak tapi masih gelisah
dengan calon tuan barunya. Dalam beberapa hari, dia akan segera akrab dengan
pemilik barunya.
“Untuk
FayLinn !” sahut WerBolg gembira.
”FayLinn ? Ah ya, dia memang sudah saatnya
memiliki BirdNerd. Tapi, kalau boleh saya tahu, apakah anda ada hubungan
kekerabatan dengan keluarga FayLinn ? Setahu saya, mereka pendatang di Nerdia.”
“Bukan urusan anda,” sahut ayah Werbolg
arogan, menunjukkan kebangsawanannya seperi yang biasa dilakukan pada rakyat
jelata, lalu berbalik meninggalkan LouElla. WerBolg berlari mendekati LouElla
dan merebut Rouya Hijau miliknya.
”Ah ...” desah LouElla kecewa.
Beberapa bangsawan memang pelit. Apalagi
ketika musim hujan lama tidak datang. Tidak mudah memberi hadiah buah Rouya,
apalagi tidak ada ikatan darah. Tapi FayLinn tidak. Dia selalu membagi Rouya
Hijaunya dengan siapa pun. Anak itu memang sudah seharusnya memiliki BirdNerd.
Menilik dari kedudukan ayah FayLinn terdahulu, pasti di hari pertama dia
diperkenankan mengendari BirdNerd, akan banyak bangsawan yang memberinya hadiah
BirdNerd. Gadis kecil yang beruntung.
LouElla menyusun rencana. Sepetinya, gadis
kecil yang tepat untuk didekatinya saat ini adalh FayLinn. Langsung ke
rumahnya. Pada saat hari jadinya yang kesepuluh, saat semua bangsawan datang ke
rumahnya untuk merayakannya. Saat beberapa BirdNerd hadiah dari mereka,
mengitari FayLinn untuk dipilih. LouElla bisa datang sebagai guru Kesenian yang
akan memberi hadiah lukisan. FayLinn menyukai lukisan. Dia sedang sekali berada
di Galery mengamati semua lukisan-lukisan yang dipajang di sana.
”Ah, sepertinya waktu itu tidak lama lagi,”
gumam LouElla.
Dia pun bergegas keluar dari Istall. Kali
ini dia harus membelokkan niat. Dia harus membeli kain untuk sebuah lukisan
terindah yang akan diberikannya pada Faylinn.
Baru saja kaki LouElla menapak, tiba-tiba
semua BirdNerd di dalam Istall berterika-teriak histeris. Mereka menjadi panik,
berusaha meninggalkan pohon Rouya, tapi kaki mereka terikat .
Pemilik Istall datang tergopoh-gopoh,
sementara teriakan BirdNerd semakin memekak telinga. Tiba-tiba, bayangan gelap
menutupi Istall. Baik LouElla maupun pemilik Istall hanya bisa mendongak. Sebuah
BirdNerd berwarna gelap pekat, melintas di atas Istall. Dan rupanya itu yang
membuat BirdNerd panik dan gelisah.
”Apa itu?” tanya LouElla pada dirinya
sendiri.
”Black BirdNerd...” gumam pemilik Istall.
Sejurus kemudian, kembali terang
benderang. Black BirdNerd itu telah pergi. Black BirdNerd, bukankah itu hanya
mitor? Mitos yang beredar di kalangan masyarakat kelas bawah, terutama para
petani Rouya. Bahwa bila dia datang, maka kesialan bagi yang melihatnya. Apalagi
bila dia mendatangi BirdNerd. Bisa-bisa, BiedNerd itu tidak berumur panjang. Tapi
apa yang dilihatnya barusan, menampik anggapannya selama ini. Black BirdNerd
itu nyata.
Pemilik Istall buru-buru mendorong LouElla
keluar dari Istall.
”Hei, tidak perlu kau dorong, aku bisa
keluar sendiri.”
”Cepatlah. Aku harus menutup Istall dan
menenangkan BirdNerd. Mereka bisa tidak makan berhari-hari bila gelisah dan
panik. Dan, sebaiknya jangan kau ceritakan pada siapapun, bila Black BirdNerd
lewat di atas Istalku.”
”Hm, kenapa?”
”Kau akan tahu sendiri nanti. Sebaiknya
jaga mulutmu.”
”Hei, coba pikir. BirdNerd sebersar itu,
pasti sudah menghebohkan semua orang di Nerdia. Semua orang pasti sudah
melihatnya. Kenapa pula aku harus menjaga mulutku. Tanpa perlu kujaga, sebentar
lagi di balik pintu, semua orang sudah membicarakan.”
Pemilik Istall mendelik, ”Kau tidak tahu
apa-apa. Pergi. ”
LouElla sampai hampir terjatuh. Pemilik Istall
mendorongnya cukup keras, lalu menutup pintu. Sejurus kemudian terdengar suara
berderak. Pasti dia menutup atap. Suara BirdNerd di Istall perlahan menghilang.
”Dasar bangsawan, ” maki LouElla dalam
hati.
LouElla berjalan menuju seorang peramal
yang ada di seberang Istall. Pasti, dia juga melihat Black BirdNerd tadi.
”Hei, katakan. Apa kau melihat apa yang
kulihat tadi? Langit tadi gelap sesaat. Ada Black BirdNerd di atap Istall itu. Kau
melihatnya?”
Peramal itu menggeleng, mengedik bahu.
”Kau tidak buta, kan?”
Peramal itu mendelik, ”Hei, dengar. Kamu
mau diramal? Tidak ada yang gratis. Tapi kau tidak perlu menghina.”
LouElla mendecih kesal. Dia memutuskan
pulang dengan tangan kosong.