
Bintang Memra sudah mulai meredup. Perlahan-lahan,
buah-buah Rouya yang sudah masak di pepohonan di seluruh Nerdia mulai
mengeluarkan cahaya. Siap meredupi Nerdia di kala malam. Penduduk Nerdia sudah
banyak belajar tentang keseimbangan alam antara Rouya dan Memra. Bahwa, tidak
semua pohon Rouya matang harus mereka makan. Dalam kegelapan malam Nerdia,
buah-buah Rouya membantu penduduk Nerdia mendapat penerangan.
Rumah-rumah bangsawan adalah rumah-rumah yang
paling terang di malam hari, karena mereka sanggup menyediakan banyak buah
Rouya di dalam rumah mereka. Beraneka warna. Itulah sebabnya, mayoritas
bangsawan di Nerdia mempunyai perkebunan yang luas dan menanam aneka buah
Rouya.
Enya Moss menemukan BirdNerd FayLinn di depan
rumah DesTyn. Dia sudah berputar-putar mengelilingi Nerdia, ternyata FayLinn
berada tidak jauh dari Akademi. Rupanya dia mengunjungi sahabatnya.
Enya Moss turun dari BirdNerd-nya dan memasuki
rumah DesTyn. LesTyn menyambutnya di depan pintu. Wajahnya sedikit cemas, tapi
dia berusaha menyembunyikannya.
”Enya Moss, ” sapa LesTyn hormat sembari sedikit
membungkuk.
”Kamu, anak DesTyn? Aku pernah melihatmu.”
”Di perkebunan Tuan Sprout. Saya bekerja di sana.”
”Oh, ya. FayLinn di sini?”
LesTyn mengangguk, mengarahkan pandangannya ke
sebuah pintu yang terbuka, tepat berseberangan dengan pintu di mana Enya Moss
berdiri.
”Dia di sana?”
”Bersama ayah saya. Kondisi ayah tidak semakin
membaik...”
Enya Moss mengernyit, ”Bukankah...”
”Seseorang menyerangnya tadi siang.”
Enya Moss bergegas menuju pintu yang terbuka itu.
Dia terkejut mendapati WinkGef dan FayLinn duduk di tepi ranjang DesTyn. DesTyn
tampak sangat payah. Nafasnya sudah satu-satu, tapi dia berusaha untuk selalu
tersenyum pada FayLinn.
WinkGef berdiri begitu melihat Enya Moss masuk ke
dalam kamar.
”Kau sudah menemukan FayLinn sejak tadi?”
WinkGef mengangguk, lalu menggamit Enya Moss untuk
keluar kamar. Membiarkan FayLinn bersama DesTyn, ditemani LesTyn. WinkGef
mempersilahkan Enya Moss duduk di sebuah kursi panjang, di dekat sebuah lemari
yang tingginya mencapai langit-langit dan penuh dengan buku. DesTyn sangat
mencintai buku. Dia lebih pandai dari guru sejarah manapun tentang Nerdia.
Semua buku di lemari itu, sudah dilahapnya. Setiap anak di Akademi Nerdia,
sangat dekat dengan DesTyn, terutama anak yang gemar bermain di perpustakaan.
Tanpa diminta, bila ada setiap anak meminjam buku, DesTyn akan memberitahu
ringkasan buku itu.
Tentu saja, FayLinn sangat menyukai DesTyn.
Kamarnya nyaris menyamai ruang tamu DesTyn. Penuh buku.
Tangan WinkGef menyentuh buku-buku DesTyn.
”Dia menjadi tidak aman karena seluruh isi Nerdia
ada di kepalanya.” ucap WinkGef perlahan, ”seseorang menyerangnya lagi, aku
tidak yakin dia bisa bertahan kali ini. Dia tidak mau memanggil EmbEr.”
EmbEr adalah dokter yang ada di Nerdia, tidak
banyak jumlahnya. Mereka ahli obat-obatan dengan meracik buah Rouya dengan
tanaman lain yang tumbuh di seluruh penjuru Nerdia.
”Aku tahu, ” sahut Enya Moss, ”Raja Orla pernah
melamarnya untuk menjadi Enya. Tapi dia menolak. Dia lebih cinta pada
anak-anak.”
”Dan, ini semua ada kaitannya dengan FayLinn, apa
benar begitu Enya Moss?” tanya WinkGef dengan mata penuh selidik.
Dia harus berhati-hati berbicara dengan Enya Moss.
Dia adalah kaki tangan kerajaan. Sedekat apapun hubungan baik mereka, Enya Moss
tetap harus menjalankan tugasnya sebagai Pemimpin Enya. Menjaga keberlangsungan
kehidupan di Nerdia. Apapun yang mengancam Nerdia, harus siap berhadapan dengan
Enya Moss. BirdNerd-nya adalah BirdNerd paling tangguh di seluruh Nerdia. Tidak
ada yang bisa menjatuhkannya.
”Sepertinya begitu. Sejak ZinLinn meninggal,
sepertinya kehidupan keluargamu dalam ancaman, ” ujar Enya Moss, kalimatnya
lebih berhati-hati lagi daripada WinkGef.
”ZinLinn separuh hidupku, Enya Moss. Kau tahu itu.
Aku sekarang harus bertahan hidup, mengasuh anak kecil tanpa seorang ibu. Anak
kecil yang kakeknya juga menginginkannya untuk mengasuh. Menurutmu apa yang
harus aku lakukan supaya FayLinn tidak lagi hilang lagi? Aku tidak mungkin
mengurungnya di rumah. Aku sudah melakukannya dengan mendatangkan guru dari
Nerdia, tapi itu pun tidak berhasil.”
”Menikahlah.” saran Enya Moss datar.
WinkGef menatap Enya Moss, ”Itu tidak ada dalam
rencana hidupku. Bagiku, hanya ZinLinn.”
Enya Moss tersenyum pendek, ”Ada SpiiTaim, bangsawan
dari Nerdia Selatan yang mengejar-ngejarmu. Juga guru perawan tua itu. Apa
istimewanya ZinLinn? Dia seorang Zinnia?”
WinkGef berusaha bersikap wajar mendengar
pertanyaan Enya Moss. Dia tidak ingin segala sesuatunya berakhir buruk, hanya
karena salah tindak tanduk. Mustahil dia bertanya darimana Enya Moss mengetahui
hal itu. Dia Enya. Dia bisa mendapatkan informasi apa saja dari seluruh Nerdia.
Tidak ada seorangpun yang bisa berkilah di depannya. Sebagaimana dulu WinkGef
saat menjabat menjadi Pemimpin Enya.
”Tuan ....” panggil LesTyn panik, dari balik pintu
kamar DesTyn.
Enya Moss dan WinkGef bergegas masuk ke pintu
kamar. Tampak nafas DesTyn semakin terengah. Dia sudah mendekati ajal. FayLinn
tampak panik di sebelahnya.
”FayLinn, ke mari sayang,” ucap WinkGef sembari
menarik tangan anaknya. Tapi FayLinn mengibaskan tangan WinkGef, dia malah
memeluk DesTyn.
”Tuan DesTyn, jangan mati. Kau belum mengatakan
padaku di mana buku itu.” FayLinn mulai
menangis.
Enya Moss menarik LesTyn mendekat, ”Panggil EmbEr
terdekat. Setidaknya, jangan biarkan dia pergi kesakitan.”
Baru saja LesTyn hendak beranjak, FayLinn semakin
kencang menangis. WinkGef tak kuasa meredakannya.
”Tuan DesTyn ... huhuhu. Jangan mati, tuan. Aku
tidak punya teman lain nanti di Akademi. Tuan DesTyn, mana bukunya? Mana?”
Enya Moss melirik WinkGef yang hanya bisa mengelus
rambut hijau mengkilat FayLinn. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini.
Kondisi DesTyn sudah payah. Nafasnya semakin susah. LesTyn mendekati ayahnya.
Lebih baik menemani dia sebelum pergi.
”Ayah, ini aku LesTyn. Mungkin ada pesan terakhir
yang ingin kau sampaikan pada FayLinn.”
Wajah DesTyn menunjukkan dia menahan sakit yang
sangat hebat. Penyerangnya tadi sore telah menghantam dada dan perutnya.
Pastinya, dia mengalami pendarahan dalam yang hebat. Hidung dan telinganya
mulai mengeluarkan darah. DesTyn mengangkat tangannya dengan gemetar, lalu
menepuk dada dan mengelusnya hingga ke perutnya.
LesTyn membuka baju ayahnya. FayLinn menjerit
ketika melihat dada DesTyn berwarna hitam hingga ke perut, dan ada yang
bergolak di dalam perutnya. Enya Moss, LesTyn dan WinkGef bergerak mundur. Ada
apa di perut Destyn? Dia tampak begitu kesakitan dengan sesuatu yang bergerak
dalam perutnya, naik turun. DesTyn hanya bisa melenguh menahan sakit.
Enya Moss mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya.
Sabuk Enya. Sabuk itu langsung menegang, menjadi kaku ketika Enya Moss
menghunusnya. Senjata Pemimpin Enya. WinkGef merasa harus mengeluarkan FayLinn
dari kamar ini. Enya Moss tidak akan segan membunuh DesTyn - meski di hapadan
FayLinn - bila apa yang ada di dalam perutnya melesak keluar dan membahayakan
semua orang.
”FayLinn, ayo keluar.” perintah WinkGef sembari
menarik tangan FayLinn, tapi gadis itu meronta.
Enya Moss menghunus pedangnya yang berwarna hijau
menghilat. Rupanya FayLinn membaca situasi genting itu, dia lalu melepaskan
diri dari WinkGef dan berlari menuju DesTyn. Sementara Enya Moss sudah mengayun
pedang ke perut DesTyn yang semakin bergolak.
”FayLinnnnnnn....” teriak WinkGef. Dia tahu, situasi
ini tidak akan berpihak pada FayLinn. Siapapun yang berada di depan pedang Enya
Moss akan ditebas. WinkGef mendorong pinggang Enya Moss ke samping, hingga Enya
Moss nyaris kehilangan keseimbangan. Lalu dia berusaha melindungi badan FayLinn
dari ayunan pedang Enya Moss.
Sejurus kemudian, tangannya mengeluarkan asap putih, yang menyelimuti dada dan
perut DesTyn.
Enya Moss siap mengayunkan pedang lagi, tapi
tangan WinkGef terbuka lebar.
”Enya Moss, tahaaaan!” teriaknya.
Kedua tangan FayLinn berada di atas dada dan perut
DesTyn. Asap semakin tebal keluar dari tangannya, menyelimuti badan DesTyn. Hawa dingin mulai terasa dalam
ruangan. DesTyn semakin payah bernafas.
”Tidak Tuan DesTyn ... tidak... kau tidak boleh
mati... Aku harus menemukan buku Thistle itu... jangan mati Tuan DesTyn...”
FayLinn menangis. Terdengar suara petir
menyambar-nyambar di luar dan hujan menderas.
Enya Moss dan LesTyn sampai terkejut dengan hujan
yang mendadak turun. WinkGef hanya berdiri, tak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Asap tebal dari tangan FayLinn, yang menyelimuti DesTyn, dan
perlahan membuat nafas DesTyn menjadi teratur. Asap tebal itu mengeluarkan hawa
dingin yang bisa dirasakan oleh semua orang yang berada di dalam ruangan. Lalu perlahan
asap mencair, membasahi badan DesTyn.
Dan ketika air itu mengalir turun dari badan DesTyn,
bekas hitam di dada dan perutnya menghilang. ”
”Tuan DesTyn ... huhuhu...” FayLinn memeluk DesTyn
sembari menangis tergugu. Wajah DesTyn tidak lagi menampakkan kesakitan. Nafasnya
teratur, matanya terbuka perlahan. Saat ditatapnya wajah FayLinn yang berurai
air mata, DesTyn tersenyum.
”Srinkkkkk”
Enya Moss terkejut.
Pedang di tangannya tahu-tahu sudah berpindah ke
tangan WinkGef, dan ujungnya sudah berada di leher Enya Moss.
”WinkGef... apa yang....”
”Tidak ada seorangpun di ruangan ini, yang
membocorkan hal ini keluar dari ruangan ini. Semua yang kita lihat tadi, tidak
pernah terjadi. Kau mengerti?”
Enya Moss menelan ludah. Mengancam Enya adalah melawan
kerajaan. Tapi Enya Moss tidak akan bisa mengalahkan WinkGef Sprout, mantan
pemimpin Enya. Dia, seperti biasa, selalu lebih hebat dari Enya Moss.
”Enya Moss, kau mendengarku?”
Enya Moss merasakan ujung dingin pedangnya
menyentuh kulit lehernya. Saat ini, lebih baik menuruti kemauan WinkGef.
”Aku mengerti.”
”Lestyn?” tanya WinkGef tanpa melepaskan pedangnya
dari leher Enya Moss.
”Say... saya mengerti tuan.”
”DesTyn?”
”Aku mengerti, ” Sahut DesTyn parau.
WinkGef menurunkan pedangnya dan pedang itu
langsung melunak, kembali menjadi sabuh. Dia pun menjulurkan sabuk itu pada Enya
Moss.
”Lain kali, kau harus lebih waspada,” ujar WinkGef,
sembari menarik tangan FayLinn membuat gadis itu melepaskan pelukanya pada DesTyn.
”FayLinn, kita harus bicara,” ucap WinkGef sembari
mengenggam tangan FayLinn dan membawanya keluar dari rumah DesTyn.
FayLinn menurut, sejenak menoleh pada Enya Moss. Lelaki
itu tampak sangat kesal.
OoO
Malam di Nerdia sangat indah. Hujan yang baru saja
membasahi pepohonan, menguarkan aroma segar. Dari ketinggian, cahaya-cahaya redup
buah Rouya menghidupkan malam di Nerdia. WinkGef dan FayLinn menunggangi BirdNerd
milik FayLinn. WinkGef mendudukan FayLinn di depannya, dia tidak ingin anaknya
kembali hilang bila duduk di belakanngya. Mereka tidak langsung menuju ke
rumah. WinkGef membawa FayLinn berkeliling Nerdia.
”FayLinn, bagaimana cara agar ayah tidak selalu
kehilangan kamu?” tanya WinkGef, mulai membuka pembicaraan dengan FayLinn. Diciumnya
rambut putri terkasihnya, dan FayLinn bisa merasakan ayahnya tidak lagi marah.
”Aku harus menghindari sesuatu dan mencari
sesuatu.”
”Kau bisa memberitahu ayah. Ayah bisa membantumu.”
”Aku bukan anak kecil lagi, Ayah. Aku bisa
melakukan semuanya sendiri. Lagipula, ayah sangat sibuk di perkebunan.”
WinkGef mendesah.
”Oke, katakan pada ayah apa yang kauhindari?”
”Guru LouElla dan Nona Birch.”
”Ada apa dengan mereka?”
”Mereka selalu memperebutkan aku, seolah aku milik
mereka. Aku tidak suka.”
”Bagaimana kau bisa tahu mereka memperebutkan kamu?”
”Mereka bertengkar di Akademi. Di hadapan semua
guru dan murid. Makanya aku pergi ke rumah Tuan DesTyn.”
”Dan kamu menemukan Tuan DesTyn sudah terluka di
ruang tamunya?”
”Iya, makanya aku memanggil ayah memakai BirdNerdku.”
”Tindakanmu sudah benar.”
”DesTyn yang menyuruhku.”
”Hm, apa yang kaulakukan pada Tuan DesTyn tadi,
ayah tidak ingin kamu melakukannya lagi.”
FayLinn diam. Hening di antara mereka, hanya kepak
BirdNerd yang terdengar. WinkGef memeluk FayLinn. FayLinn diam saja.
”FayLinn?”
”Kenapa? Aku menyelematkan Tuan DesTyn dari
penyakit jahat itu.”
”Ayah tidak
melarang kamu menyelematkan siapa saja, asalkan tidak ada seorang pun yang
tahu. Meski Enya Moss itu sahabat baik ayah, tapi ayah tidak yakin dia akan menyembunyikannya
dari Raja Orla. Kau paham maksud ayah?”
”Ayah tidak ingin aku bekerja di kerajaan, menjadi
Enya.”
”Ya, seperti itu. Ayah belum pernah bercerita ya,
kenapa ayah berhenti dari Enya?”
”Belum.”
”Suatu saat ayah akan menceritakannya.”
Mereka berdua sudah memasuki perkebunan milik WinkGef.
WinkGef akan memutari perkebunan, sembari memeriksa pekerjanya. Beberapa orang
dipekerjakan di malam hari, untuk menjaga perkebunan. BirdNerd liar hanya
mencuri Rouya di siang hari. Di malam hari, terkadang manusia yang
melakukannya. Meski sangat jarang terjadi. Terutama Rouya hijau. Makanya WinkGef
mengatur pola tanam di perkebunannya, bahwa Rouya Hijau yang berharga mahal
ditanam di tengah-tengah perkebunan. Akan sulit mencapainya dengan berjalan
kaki. Harus mengunakan BirdNerd.
”Kau belum bercerita, apa yang kau cari?”
”Thistle.”
”Thistle?” WinkGef menelan ludah. Pasti ini ulah NotchWood,
meracuni isi kepala cucunya, sebelum tiba saatnya.
”Iya.”
”Kau tahu Thistle itu apa dan siapa?”
FayLinn mengedik bahu, ”Makanya aku harus bertanya
pada DesTyn. Tapi DesTyn malah sakit.”
”Kau melihat siapa yang memukuli DesTyn?”
FayLinn menggeleng. Waktu aku sampai, Tuan DesTyn
sudah tengkurap di lantai, dan mulutnya keluar darah. Lalu tak lama kemudian, LesTyn
datang, membawa banyak obat. Katanya dia sudah berkeliling Nerdia untuk
mendapatkan obat untuk masa penyembuhan DesTyn.
”Oke, makanya lain kali, kalau belum waktunya
pulang dari akdemi, tidak boleh ke mana-mana. Mulai besok, ayah akan
perintahkan orang di perkebunan menjemputmu. Juga mengantarmu berangkat
perempuan. Kamu paham?”
FayLinn mengangguk.
”Siapa yang akan mengantar dan menjemputku nanti?”
”OzzHog.”
FayLinn menoleh ke belakang, mendapati wajah
ayahnya sedang menatap ke depan. Sebentar lagi mereka akan turun.
”Ayah yakin?”
”Tentu saja. Kenapa? Kamu tidak percaya pada OzzHog?”
FayLinn diam.
BirdNerd mereka perlahan turun. Ekor mata WinkGef
menatap gestur yang mulai dikenalnya, mengamati mereka berdua dari kejauhan. Yang
dimintanya menghadap khusus di ruangannya sehari setelah FayLinn kembali dari kakeknya.
Dia terbiasa bekerja di malam hari, siapapun dan apapun, pasti dapat diintainya
dalam remangnya malam.