The Thistle

The Thistle
14 - Rahasia FayLinn



 


 


Bintang Memra sudah mulai meredup. Perlahan-lahan,


buah-buah Rouya yang sudah masak di pepohonan di seluruh Nerdia mulai


mengeluarkan cahaya. Siap meredupi Nerdia di kala malam. Penduduk Nerdia sudah


banyak belajar tentang keseimbangan alam antara Rouya dan Memra. Bahwa, tidak


semua pohon Rouya matang harus mereka makan. Dalam kegelapan malam Nerdia,


buah-buah Rouya membantu penduduk Nerdia mendapat penerangan.


Rumah-rumah bangsawan adalah rumah-rumah yang


paling terang di malam hari, karena mereka sanggup menyediakan banyak buah


Rouya di dalam rumah mereka. Beraneka warna. Itulah sebabnya, mayoritas


bangsawan di Nerdia mempunyai perkebunan yang luas dan menanam aneka buah


Rouya.


Enya Moss menemukan BirdNerd FayLinn di depan


rumah DesTyn. Dia sudah berputar-putar mengelilingi Nerdia, ternyata FayLinn


berada tidak jauh dari Akademi. Rupanya dia mengunjungi sahabatnya.


Enya Moss turun dari BirdNerd-nya dan memasuki


rumah DesTyn. LesTyn menyambutnya di depan pintu. Wajahnya sedikit cemas, tapi


dia berusaha menyembunyikannya.


”Enya Moss, ” sapa LesTyn hormat sembari sedikit


membungkuk.


”Kamu, anak DesTyn? Aku pernah melihatmu.”


”Di perkebunan Tuan Sprout. Saya bekerja di sana.”


”Oh, ya. FayLinn di sini?”


LesTyn mengangguk, mengarahkan pandangannya ke


sebuah pintu yang terbuka, tepat berseberangan dengan pintu di mana Enya Moss


berdiri.


”Dia di sana?”


”Bersama ayah saya. Kondisi ayah tidak semakin


membaik...”


Enya Moss mengernyit, ”Bukankah...”


”Seseorang menyerangnya tadi siang.”


Enya Moss bergegas menuju pintu yang terbuka itu.


Dia terkejut mendapati WinkGef dan FayLinn duduk di tepi ranjang DesTyn. DesTyn


tampak sangat payah. Nafasnya sudah satu-satu, tapi dia berusaha untuk selalu


tersenyum pada FayLinn.


WinkGef berdiri begitu melihat Enya Moss masuk ke


dalam kamar.


”Kau sudah menemukan FayLinn sejak tadi?”


WinkGef mengangguk, lalu menggamit Enya Moss untuk


keluar kamar. Membiarkan FayLinn bersama DesTyn, ditemani LesTyn. WinkGef


mempersilahkan Enya Moss duduk di sebuah kursi panjang, di dekat sebuah lemari


yang tingginya mencapai langit-langit dan penuh dengan buku. DesTyn sangat


mencintai buku. Dia lebih pandai dari guru sejarah manapun tentang Nerdia.


Semua buku di lemari itu, sudah dilahapnya. Setiap anak di Akademi Nerdia,


sangat dekat dengan DesTyn, terutama anak yang gemar bermain di perpustakaan.


Tanpa diminta, bila ada setiap anak meminjam buku, DesTyn akan memberitahu


ringkasan buku itu.


Tentu saja, FayLinn sangat menyukai DesTyn.


Kamarnya nyaris menyamai ruang tamu DesTyn. Penuh buku.


Tangan WinkGef menyentuh buku-buku DesTyn.


”Dia menjadi tidak aman karena seluruh isi Nerdia


ada di kepalanya.” ucap WinkGef perlahan, ”seseorang menyerangnya lagi, aku


tidak yakin dia bisa bertahan kali ini. Dia tidak mau memanggil EmbEr.”


EmbEr adalah dokter yang ada di Nerdia, tidak


banyak jumlahnya. Mereka ahli obat-obatan dengan meracik buah Rouya dengan


tanaman lain yang tumbuh di seluruh penjuru Nerdia.


”Aku tahu, ” sahut Enya Moss, ”Raja Orla pernah


melamarnya untuk menjadi Enya. Tapi dia menolak. Dia lebih cinta pada


anak-anak.”


”Dan, ini semua ada kaitannya dengan FayLinn, apa


benar begitu Enya Moss?” tanya WinkGef dengan mata penuh selidik.


Dia harus berhati-hati berbicara dengan Enya Moss.


Dia adalah kaki tangan kerajaan. Sedekat apapun hubungan baik mereka, Enya Moss


tetap harus menjalankan tugasnya sebagai Pemimpin Enya. Menjaga keberlangsungan


kehidupan di Nerdia. Apapun yang mengancam Nerdia, harus siap berhadapan dengan


Enya Moss. BirdNerd-nya adalah BirdNerd paling tangguh di seluruh Nerdia. Tidak


ada yang bisa menjatuhkannya.


”Sepertinya begitu. Sejak ZinLinn meninggal,


sepertinya kehidupan keluargamu dalam ancaman, ” ujar Enya Moss, kalimatnya


lebih berhati-hati lagi daripada WinkGef.


”ZinLinn separuh hidupku, Enya Moss. Kau tahu itu.


Aku sekarang harus bertahan hidup, mengasuh anak kecil tanpa seorang ibu. Anak


kecil yang kakeknya juga menginginkannya untuk mengasuh. Menurutmu apa yang


harus aku lakukan supaya FayLinn tidak lagi hilang lagi? Aku tidak mungkin


mengurungnya di rumah. Aku sudah melakukannya dengan mendatangkan guru dari


Nerdia, tapi itu pun tidak berhasil.”


”Menikahlah.” saran Enya Moss datar.


WinkGef menatap Enya Moss, ”Itu tidak ada dalam


rencana hidupku. Bagiku, hanya ZinLinn.”


Enya Moss tersenyum pendek, ”Ada SpiiTaim, bangsawan


dari Nerdia Selatan yang mengejar-ngejarmu. Juga guru perawan tua itu. Apa


istimewanya ZinLinn? Dia seorang Zinnia?”


WinkGef berusaha bersikap wajar mendengar


pertanyaan Enya Moss. Dia tidak ingin segala sesuatunya berakhir buruk, hanya


karena salah tindak tanduk. Mustahil dia bertanya darimana Enya Moss mengetahui


hal itu. Dia Enya. Dia bisa mendapatkan informasi apa saja dari seluruh Nerdia.


Tidak ada seorangpun yang bisa berkilah di depannya. Sebagaimana dulu WinkGef


saat menjabat menjadi Pemimpin Enya.


”Tuan ....” panggil LesTyn panik, dari balik pintu


kamar DesTyn.


Enya Moss dan WinkGef bergegas masuk ke pintu


kamar. Tampak nafas DesTyn semakin terengah. Dia sudah mendekati ajal. FayLinn


tampak panik di sebelahnya.


”FayLinn, ke mari sayang,” ucap WinkGef sembari


menarik tangan anaknya. Tapi FayLinn mengibaskan tangan WinkGef, dia malah


memeluk DesTyn.


”Tuan DesTyn, jangan mati. Kau belum mengatakan


padaku di mana buku itu.”  FayLinn mulai


menangis.


Enya Moss menarik LesTyn mendekat, ”Panggil EmbEr


terdekat. Setidaknya, jangan biarkan dia pergi kesakitan.”


Baru saja LesTyn hendak beranjak, FayLinn semakin


kencang menangis. WinkGef tak kuasa meredakannya.


”Tuan DesTyn ... huhuhu. Jangan mati, tuan. Aku


tidak punya teman lain nanti di Akademi. Tuan DesTyn, mana bukunya? Mana?”


Enya Moss melirik WinkGef yang hanya bisa mengelus


rambut hijau mengkilat FayLinn. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini.


Kondisi DesTyn sudah payah. Nafasnya semakin susah. LesTyn mendekati ayahnya.


Lebih baik menemani dia sebelum pergi.


”Ayah, ini aku LesTyn. Mungkin ada pesan terakhir


yang ingin kau sampaikan pada FayLinn.”


Wajah DesTyn menunjukkan dia menahan sakit yang


sangat hebat. Penyerangnya tadi sore telah menghantam dada dan perutnya.


Pastinya, dia mengalami pendarahan dalam yang hebat. Hidung dan telinganya


mulai mengeluarkan darah. DesTyn mengangkat tangannya dengan gemetar, lalu


menepuk dada dan mengelusnya hingga ke perutnya.


LesTyn membuka baju ayahnya. FayLinn menjerit


ketika melihat dada DesTyn berwarna hitam hingga ke perut, dan ada yang


bergolak di dalam perutnya. Enya Moss, LesTyn dan WinkGef bergerak mundur. Ada


apa di perut Destyn? Dia tampak begitu kesakitan dengan sesuatu yang bergerak


dalam perutnya, naik turun. DesTyn hanya bisa melenguh menahan sakit.


Enya Moss mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya.


Sabuk Enya. Sabuk itu langsung menegang, menjadi kaku ketika Enya Moss


menghunusnya. Senjata Pemimpin Enya. WinkGef merasa harus mengeluarkan FayLinn


dari kamar ini. Enya Moss tidak akan segan membunuh DesTyn - meski di hapadan


FayLinn - bila apa yang ada di dalam perutnya melesak keluar dan membahayakan


semua orang.


”FayLinn, ayo keluar.” perintah WinkGef sembari


menarik tangan FayLinn, tapi gadis itu meronta.


Enya Moss menghunus pedangnya yang berwarna hijau


menghilat. Rupanya FayLinn membaca situasi genting itu, dia lalu melepaskan


diri dari WinkGef dan berlari menuju DesTyn. Sementara Enya Moss sudah mengayun


pedang ke perut DesTyn yang semakin bergolak.


”FayLinnnnnnn....” teriak WinkGef. Dia tahu, situasi


ini tidak akan berpihak pada FayLinn. Siapapun yang berada di depan pedang Enya


Moss akan ditebas. WinkGef mendorong pinggang Enya Moss ke samping, hingga Enya


Moss nyaris kehilangan keseimbangan. Lalu dia berusaha melindungi badan FayLinn


dari ayunan pedang Enya Moss.


Sejurus kemudian, tangannya mengeluarkan asap putih, yang menyelimuti dada dan


perut DesTyn.


Enya Moss siap mengayunkan pedang lagi, tapi


tangan WinkGef terbuka lebar.


”Enya Moss, tahaaaan!” teriaknya.


Kedua tangan FayLinn berada di atas dada dan perut


DesTyn. Asap semakin tebal keluar dari tangannya, menyelimuti  badan DesTyn. Hawa dingin mulai terasa dalam


ruangan. DesTyn semakin payah bernafas.


”Tidak Tuan DesTyn ... tidak... kau tidak boleh


mati... Aku harus menemukan buku Thistle itu... jangan mati Tuan DesTyn...”


FayLinn menangis. Terdengar suara petir


menyambar-nyambar di luar dan hujan menderas.


Enya Moss dan LesTyn sampai terkejut dengan hujan


yang mendadak turun. WinkGef hanya berdiri, tak percaya dengan apa yang


dilihatnya. Asap tebal dari tangan FayLinn, yang menyelimuti DesTyn, dan


perlahan membuat nafas DesTyn menjadi teratur. Asap tebal itu mengeluarkan hawa


dingin yang bisa dirasakan oleh semua orang yang berada di dalam ruangan. Lalu perlahan


asap mencair, membasahi badan DesTyn.


Dan ketika air itu mengalir turun dari badan DesTyn,


bekas hitam di dada dan perutnya menghilang. ”


”Tuan DesTyn ... huhuhu...” FayLinn memeluk DesTyn


sembari menangis tergugu. Wajah DesTyn tidak lagi menampakkan kesakitan. Nafasnya


teratur, matanya terbuka perlahan. Saat ditatapnya wajah FayLinn yang berurai


air mata, DesTyn tersenyum.


”Srinkkkkk”


Enya Moss terkejut.


Pedang di tangannya tahu-tahu sudah berpindah ke


tangan WinkGef, dan ujungnya sudah berada di leher Enya Moss.


”WinkGef... apa yang....”


”Tidak ada seorangpun di ruangan ini, yang


membocorkan hal ini keluar dari ruangan ini. Semua yang kita lihat tadi, tidak


pernah terjadi. Kau mengerti?”


Enya Moss menelan ludah. Mengancam Enya adalah melawan


kerajaan. Tapi Enya Moss tidak akan bisa mengalahkan WinkGef Sprout, mantan


pemimpin Enya. Dia, seperti biasa, selalu lebih hebat dari Enya Moss.


”Enya Moss, kau mendengarku?”


Enya Moss merasakan ujung dingin pedangnya


menyentuh kulit lehernya. Saat ini, lebih baik menuruti kemauan WinkGef.


”Aku mengerti.”


”Lestyn?” tanya WinkGef tanpa melepaskan pedangnya


dari leher Enya Moss.


”Say... saya mengerti tuan.”


”DesTyn?”


”Aku mengerti, ” Sahut DesTyn parau.


WinkGef menurunkan pedangnya dan pedang itu


langsung melunak, kembali menjadi sabuh. Dia pun menjulurkan sabuk itu pada Enya


Moss.


”Lain kali, kau harus lebih waspada,” ujar WinkGef,


sembari menarik tangan FayLinn membuat gadis itu melepaskan pelukanya pada DesTyn.


”FayLinn, kita harus bicara,” ucap WinkGef sembari


mengenggam tangan FayLinn dan membawanya keluar dari rumah DesTyn.


FayLinn menurut, sejenak menoleh pada Enya Moss. Lelaki


itu tampak sangat kesal.


OoO


Malam di Nerdia sangat indah. Hujan yang baru saja


membasahi pepohonan, menguarkan aroma segar. Dari ketinggian, cahaya-cahaya redup


buah Rouya menghidupkan malam di Nerdia. WinkGef dan FayLinn menunggangi BirdNerd


milik FayLinn. WinkGef mendudukan FayLinn di depannya, dia tidak ingin anaknya


kembali hilang bila duduk di belakanngya. Mereka tidak langsung menuju ke


rumah. WinkGef membawa FayLinn berkeliling Nerdia.


”FayLinn, bagaimana cara agar ayah tidak selalu


kehilangan kamu?” tanya WinkGef, mulai membuka pembicaraan dengan FayLinn. Diciumnya


rambut putri terkasihnya, dan FayLinn bisa merasakan ayahnya tidak lagi marah.


”Aku harus menghindari sesuatu dan mencari


sesuatu.”


”Kau bisa memberitahu ayah. Ayah bisa membantumu.”


”Aku bukan anak kecil lagi, Ayah. Aku bisa


melakukan semuanya sendiri. Lagipula, ayah sangat sibuk di perkebunan.”


WinkGef mendesah.


”Oke, katakan pada ayah apa yang kauhindari?”


”Guru LouElla dan Nona Birch.”


”Ada apa dengan mereka?”


”Mereka selalu memperebutkan aku, seolah aku milik


mereka. Aku tidak suka.”


”Bagaimana kau bisa tahu mereka memperebutkan kamu?”


”Mereka bertengkar di Akademi. Di hadapan semua


guru dan murid. Makanya aku pergi ke rumah Tuan DesTyn.”


”Dan kamu menemukan Tuan DesTyn sudah terluka di


ruang tamunya?”


”Iya, makanya aku memanggil ayah memakai BirdNerdku.”


”Tindakanmu sudah benar.”


”DesTyn yang menyuruhku.”


”Hm, apa yang kaulakukan pada Tuan DesTyn tadi,


ayah tidak ingin kamu melakukannya lagi.”


FayLinn diam. Hening di antara mereka, hanya kepak


BirdNerd yang terdengar. WinkGef memeluk FayLinn. FayLinn diam saja.


”FayLinn?”


”Kenapa? Aku menyelematkan Tuan DesTyn dari


penyakit jahat itu.”


”Ayah tidak


melarang kamu menyelematkan siapa saja, asalkan tidak ada seorang pun yang


tahu. Meski Enya Moss itu sahabat baik ayah, tapi ayah tidak yakin dia akan menyembunyikannya


dari Raja Orla. Kau paham maksud ayah?”


”Ayah tidak ingin aku bekerja di kerajaan, menjadi


Enya.”


”Ya, seperti itu. Ayah belum pernah bercerita ya,


kenapa ayah berhenti dari Enya?”


”Belum.”


”Suatu saat ayah akan menceritakannya.”


Mereka berdua sudah memasuki perkebunan milik WinkGef.


WinkGef akan memutari perkebunan, sembari memeriksa pekerjanya. Beberapa orang


dipekerjakan di malam hari, untuk menjaga perkebunan. BirdNerd liar hanya


mencuri Rouya di siang hari. Di malam hari, terkadang manusia yang


melakukannya. Meski sangat jarang terjadi. Terutama Rouya hijau. Makanya WinkGef


mengatur pola tanam di perkebunannya, bahwa Rouya Hijau yang berharga mahal


ditanam di tengah-tengah perkebunan. Akan sulit mencapainya dengan berjalan


kaki. Harus mengunakan BirdNerd.


”Kau belum bercerita, apa yang kau cari?”


”Thistle.”


”Thistle?” WinkGef menelan ludah. Pasti ini ulah NotchWood,


meracuni isi kepala cucunya, sebelum tiba saatnya.


”Iya.”


”Kau tahu Thistle itu apa dan siapa?”


FayLinn mengedik bahu, ”Makanya aku harus bertanya


pada DesTyn. Tapi DesTyn malah sakit.”


”Kau melihat siapa yang memukuli DesTyn?”


FayLinn menggeleng. Waktu aku sampai, Tuan DesTyn


sudah tengkurap di lantai, dan mulutnya keluar darah. Lalu tak lama kemudian, LesTyn


datang, membawa banyak obat. Katanya dia sudah berkeliling Nerdia untuk


mendapatkan obat untuk masa penyembuhan DesTyn.


”Oke, makanya lain kali, kalau belum waktunya


pulang dari akdemi, tidak boleh ke mana-mana. Mulai besok, ayah akan


perintahkan orang di perkebunan menjemputmu. Juga mengantarmu berangkat


perempuan. Kamu paham?”


FayLinn mengangguk.


”Siapa yang akan mengantar dan menjemputku nanti?”


”OzzHog.”


FayLinn menoleh ke belakang, mendapati wajah


ayahnya sedang menatap ke depan. Sebentar lagi mereka akan turun.


”Ayah yakin?”


”Tentu saja. Kenapa? Kamu tidak percaya pada OzzHog?”


FayLinn diam.


BirdNerd mereka perlahan turun. Ekor mata WinkGef


menatap gestur yang mulai dikenalnya, mengamati mereka berdua dari kejauhan. Yang


dimintanya menghadap khusus di ruangannya sehari setelah FayLinn kembali dari kakeknya.


Dia terbiasa bekerja di malam hari, siapapun dan apapun, pasti dapat diintainya


dalam remangnya malam.